
Satu kali kebahagiaan tercipta maka akan mendatangkan kebahagiaan demi kebahagiaan lain. Syukuri atas rahmat yang telah Allah beri, sebab keberadaannya tidak akan datang dua kali.
Kehadirannya mengandung keberkahan serta kenikmatan tiada akhir. Begitupula dengan tulang rusuk yang tercipta.
Ia tidak akan pernah tertukar dan tetap berlabuh pada pemiliknya. Sebagaimana benang merah melilit di masing-masing jari kelingking, begitulah takdir berbicara.
Jika sudah ada ketentuan dari-Nya maka tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Sekeras apa pun seseorang melepaskannya, kalau takdir Allah yang bekerja maka tidak bisa menghancurkannya, kecuali jika seseorang yang bermain-main.
Masa akan tetap mendatangkan serta menghadirkan apa yang telah menjadi ketentuannya.
Suka cita tengah mendera keluarga kecil Ayana dan Zidan. Pasangan yang baru dikaruniai anak lagi itu pun terus menerima ucapan-ucapan selamat dari orang-orang terdekat.
Kado pun berdatangan untuk kedua bayi mungil mereka. Semua orang yang mengenal Ayana dan Zidan memberikan barang-barang terbaik.
Tidak hanya dari kerabat serta keluarga saja, tetapi banyak dari penggemar setia mereka yang memberikan kado terindah.
Bahagia, satu kata melingkupi Ayana yang kini berhasil menjadi seorang ibu. Ia telah berhasil melahirkan dua bayi kembar, lengkap nan sehat.
Ayana merasa benar-benar telah menjadi seorang wanita seutuhnya. Ia sudah menjalankan tugas sebagai istri sekaligus ibu, peran yang tidak mudah untuk dilakukan.
Terlalu banyak lika-liku terjal menapaki perjalanan hidupnya. Ayana sudah merasakan asam, pahit, manis kejadian yang telah menimpa bertubi-tubi.
Semua itu menyuguhkan pelajaran berharga yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan di manapun. Meskipun saat ini kehidupannya sudah jauh lebih baik, tetapi guratan luka di relung hati masih tetap ada.
Biarkanlah menjadi kenangan yang mendatangkan keberkahan serta pembelajaran berharga.
Karena masa lalu tidak mudah dihapuskan begitu saja. Kapan pun waktu menyetujui maka rasa sakit itu bisa saja muncul.
Di saat tengah merasakan kegembiraan, benar-benar harus disyukuri dan dinikmati sebaik-baiknya. Karena kita tidak pernah tahu kapan Allah memberikan ujian itu lagi.
Maka jangan pernah terlena atas kedamaian yang tercipta. Karena bisa saja besok hujan badai akan menimpa lagi.
Itulah yang tengah Ayana rasakan, begitu banyak jahitan luka yang harus dilakukan. Ia berusaha berlapang dada dan memberikan kesempatan kedua bagi suaminya.
Ia pikir pernikahan mereka akan kandas begitu saja kala itu. Namun, nyatanya Allah memiliki rencana lain, di balik kegetiran yang keduanya rasakan Sang Pemilik Kehidupan memberikan anugerah terindah.
Buah hati hadir di tengah-tengah keluarga kecil mereka, dan Allah tidak tanggung-tanggung memberikannya.
__ADS_1
Dua bayi sekaligus menggantikan kehamilan pertama Ayana yang keguguran.
Gelap kembali datang, setelah bertegur sapa dengan keluarga besar serta kerabat dekat di siang hari, kini waktu sendirian lagi bagi pasangan itu.
Ayana dan Zidan duduk berdampingan di tempat tidur dengan memangku kedua bayi mereka masing-masing. Wajah cantik nan tampan sang buah hati begitu mirip orang tuanya.
Baik Ayana maupun Zidan tidak pernah memudarkan raut muka berseri. Mereka juga tidak berhenti mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah Allah berikan.
"Jadi, siapa nama mereka?" tanya Ayana memandangi bayi perempuannya yang tengah terlelap dalam buaian dan pada jagoan kecilnya bergantian.
"Em... aku sudah menyiapkan nama depan mereka. Untuk si tampan ini aku beri nama Ghazali dan... untuk si cantik aku beri nama Ghaitsa, bagaimana menurutmu?" Zidan menoleh pada Ayana yang sedetik kemudian berpaling padanya lagi.
"Ghazali, Ghaitsa? Em, nama yang sangat indah, tunggu... kenapa terasa familiar?" tanya balik Ayana, penasaran.
Sang suami melengkungkan dua celah bibirnya. Dengan kehangatan serta kelembutan di wajah tampan itu, Zidan menatap haru sang pasangan hidup.
"Karena nama itu terinspirasi dari namamu, Sayang. Ayana Ghazella... bukankah nama kalian mirip satu sama lain?" tutur Zidan kemudian.
Sepasang manik jelaga Ayana melebar, tidak menyangka jika suaminya memikirkan nama sang buah hati berdasarkan nama belakangnya.
Ghazella, nama belakang yang Ayana gunakan sebagai nama depan untuk mengubah kehidupannya. Ia sudah menghilangkan nama Ayana agar Zidan tidak mengetahui identitasnya kembali.
Namun, kembali, ia hanya bisa berencana dan menentukan semuanya hanyalah Allah semata. Ia menginginkan pergi, tetapi Sang Pemilik Hati mengantarkannya pada pasangan hidupnya lagi.
"Ghazella Arsyad, sosok pelukis yang sudah menawan hatiku. Aku bisa mengenalimu sebagai pendamping hidupku."
Zidan mendekatkan tubuhnya dan memberikan kecupan mendalam di dahi lebar Ayana. Sang empunya terpaku dengan mata terbelalak lebar.
Ia merasakan jantungnya bertalu kencang, tak karuan. Aroma yang terasa begitu familiar menyapa indera penciuman.
Raksi yang menguar dari tubuh kekar Zidan membawanya ke masa lalu. Masa di mana mereka pertama kali bertemu.
Ayana mencium parfum menenangkan tersebut yang seketika membuatnya jatuh hati. Pesona serta aura positif yang dibawa Zidan meluluhlantakkan dunianya.
Ia yang begitu kehilangan orang tua merasakan kembali kehidupannya berkembang lagi. Sejak saat itu ia benar-benar menjadi budak cinta seorang Zidan Ashraf.
Ia tidak peduli bagaimana Zidan menyakitinya, bahkan memberikan ia seorang madu. Ayana masih bertahan dan menjadi istri terbaik untuknya serta berharap sang suami bisa berubah.
__ADS_1
Namun, kesalahan lain yang Zidan buat menyadarkan Ayana, jika hubungan mereka sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
Bayi yang Ayana harapkan kehadirannya agar sang suami bisa berubah, nyatanya harus pergi selamanya. Hal itu didasari oleh rencana jahat sang madu dan juga suaminya sendiri.
Ayana tidak bisa mentolerir nya lagi dan pergi begitu saja dari kehidupan mereka.
Sampai penyesalan pun datang pada Zidan. Ia disuguhkan pada kondisi di mana Ayana meninggal dunia.
Ia benar-benar terpukul dan tidak percaya bisa ditinggalkan secepat itu oleh wanita yang tulus mencintainya.
Hingga pada akhirnya, waktu memperlihatkan kebenaran. Ayana, sang istri belum meninggal dan mereka pun bisa bersama lagi.
"Sayang! Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya Zidan khawatir mendapati Ayana diam dan menangkup sebelah pipinya hangat.
Wanita berhijab itu menggeleng singkat dan menggenggam tangan besar yang berada di wajahnya. Kelopak matanya pun perlahan menutup menikmati kelembutan serta kehangatan menjalar di sana.
Sedetik kemudian Ayana memberikan ciuman mendalam di telapak tangan sang suami. Zidan terpaku, terkesiap dengan tindakan manis kekasih hatinya.
Tidak lama setelah itu Ayana membuka mata lagi memperlihatkan iris karamel yang langsung memandang prianya.
Zidan terpesona, seakan masuk ke dalam retina sang istri.
"I love you. Terima kasih sudah meyakinkan ku untuk kembali padamu, Mas."
Ungkapan isi hati terdalam seorang Ayana tercetus jua. Ini pertama kalinya setelah dua tahun mereka kembali bersama, sang istri menyatakan perasaannya lagi.
Air mata menetes membasahi pipi, Zidan benar-benar terharu sekaligus bahagia mendengar kata cinta yang Ayana katakan.
"Kenapa Mas menangis?" tanya sang pelukis langsung.
"Aku bahagia... sangat bahagia, Sayang. Terima kasih sudah mau mengungkapkan cinta lagi. aku benar-benar bahagia. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengungkapkan bahagiaku ini. Aku benar-benar bahagia." Zidan terus meracau kan kata bahagia.
Ayana yang melihatnya seperti itu pun mengembangkan senyum, ikut hanyut dalam perasaan sang suami.
Selama ini cinta memang masih bermuara di dalam relung hatinya, tetapi Ayana belum jua mengungkapkan hal tersebut.
Jujur, ia masih takut jika harus mengungkapkan perasaan terdalamnya lebih dulu. Karena saat itu Ayana yang pertama menyatakan cintanya dan pada akhirnya hanya ada kesakitan dirasakan.
__ADS_1
Namun, setelah melihat perjuangan serta kesungguhan Zidan saat ini, Ayana bisa mengungkapkannya lagi.
"Aku ingin percaya satu kali lagi padanya, semoga Mas Zidan benar-benar menjadi seorang suami dan ayah terbaik," benaknya berharap.