Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 39


__ADS_3

Ayana terkejut bukan main melihat rekaman CCTV di salah satu gedung apartemen di ibu kota.


Beberapa saat lalu, di tengah fokus melukis, Ayana dikejutkan dengan kedatangan Bening.


Ia mengerutkan dahi dalam mendapati wanita itu ada di galeri. Pasalnya, mereka sudah berjanji untuk bertemu nanti sore.


Namun, di saat jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi Bening datang tanpa memberitahu.


Ia pun memperlihatkan penemuannya tadi pada Ayana yang sontak hal itu membuat sang pelukis merasa dijatuhi batu berton-ton beratnya.


Ia tidak menyangka sekaligus tidak menduga kejadian seperti ini mendatanginya.


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi? Be-benarkah ini Kirana?" tanya Ayana gugup tanpa memindahkan tatapan dari layar laptop.


Bening mengangguk yakin seraya menjelaskan, "pukul tujuh pagi tadi Kirana keluar dari mansion utama keluarga Ashraf. Kemungkinan semalam dia menginap di sana, mengingat kamu mengatakan kalau Zidan juga pergi ke sana untuk melihat keadaan Basima."


"Kamu juga mengatakan Raima bersama mereka dari penjelasan Zidan, dan setelah aku telusuri ke mana wanita itu pergi membawa bayi kalian-" Bening menarik napas panjang berusaha menenangkan diri sendiri yang juga ikut tidak percaya.


"Aku menemukan Kirana... menyusui Raima. Itu artinya wanita ini adalah ibu kandung dari bayi yang kalian angkat sebagai anak," jelasnya kemudian.


Ayana terpaku, terdiam beberapa saat. Ia berpikir, pantas saja wajahnya seolah tidak asing.


Ia lalu menoleh ke samping kiri di mana tatapan mereka langsung bertemu satu sama lain.


"Dan hal itu ditegaskan oleh ini." Bening mengacungkan beberapa foto yang terdapat dalam map.


Ia menyerahkannya pada Ayana yang langsung dibuka. Sang pelukis itu pun menjatuhkannya di atas meja sedang hadapan mereka membuat foto-foto tadi berserakan tak karuan.


"I-ini?" cicit Ayana tidak percaya memindai satu persatu gambar di depannya.


"Beberapa bulan lalu, Kirana Mahesa melahirkan seorang bayi perempuan di Negara I, tempatnya melarikan diri."


"Kamu tahu siapa ayah dari bayi ini?" tanya Bening lagi, dan hal itu sontak membuat Ayana lagi-lagi terkejut.


Ia kembali menoleh sembari melebarkan pandangan.


"Ja-jangan bilang pria itu-"


"Iya kamu benar-" Bening meletakan foto yang sedari tadi berada dalam saku jaketnya. "Ihsan Rauf, seorang politisi yang beberapa bulan lalu terpilih sebagai wali kota Kota V," lanjut Bening lagi.


"A-apa? Jadi, mereka masih berhubungan? Astaghfirullah, apa yang wanita itu lakukan? Apa dia tidak merasa bersalah pada mendiang Eliza? Pria itu adalah tunangannya," cerocos Ayana tidak menyangka.

__ADS_1


"Kamu salah Ayana, bahkan mereka masih berhubungan di saat Eliza depresi dan yang tahu hubungan mereka hanyalah nyonya Celia. Ibu sambungmu," jelas Bening lagi membuat manik Ayana membulat sempurna lagi.


"Itulah alasan kenapa mamah tidak menyukainya? Bahkan mamah menyembunyikan perasaan itu untuk membalas rasa sakit anaknya?" tanya Ayana, Bening hanya mengangguk mengiyakan.


"Astaghfirullah, Kirana. Wanita itu!" Ayana meremas tumpukan foto yang berserakan di atas meja.


"Apa yang akan kamu lakukan, Ayana?" tanya Bening melihat kekesalan dalam manik bulan sang adik.


"Mbak tahu apa yang akan aku lakukan," balasnya yakin.


"Aku suka kamu yang seperti ini, Ayana," jawab Bening menepuk pundaknya pelan.


...***...


Kota V merupakan salah satu kota metropolitan kedua setelah ibu kota. Kota itu dijuluki sebagai penghasil kopi terbesar di Negara Asia.


Penduduknya yang harmonis, masyarakatnya saling bergotong royong, tercatat dalam sejarah angka kekerasan di sana pun paling terendah.


Wali kota baru yaitu seorang pria tampan berusia tiga puluh dua merupakan seorang anak dari pasangan berpengaruh di negaranya.


Ayah dan ibunya merupakan seorang petinggi negara yang berhasil menduduki peringkat partai terbanyak akan peminatnya.


Hal itu menjadikan seorang Ihsan Rauf mudah masuk ke partai politik. Ia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang taat pada aturan menjadikannya pribadi luar biasa.


Setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa petinggi lain, Ihsan pun kembali ke ruangan.


Baru saja melonggarkan dasi yang terasa mencekik, iris kelamnya pun memindai ke atas meja. Di sana ia melihat amplop berwarna cokelat tua tergeletak begitu saja.


Seolah menarik perhatian untuk didekati, pria berlandang di pipi kanan itu pun berjalan mendekat. Tangan berototnya terulur membawa amplop tersebut dan membolak-balik tanpa ada tanda dari siapa pun.


Ia lalu merobeknya melihat ada teether bayi berbentuk kupu-kupu pipih yang diujung pegangannya terdapat inisial RR.


Melihat hal itu Ihsan menjatuhkan gigitan bayi tersebut dan berubah panik. Dadanya naik turun dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Tidak...tidak mungkin," racaunya.


Kurang lebih satu jam kemudian, setelah keadaannya jauh lebih baik pria itu pun meninggalkan kantor. Ia bergegas memasuki mobil yang sudah disiapkan di depan gedung.


Ia duduk di kursi penumpang seraya memindai sekitar.


"Pulang ke rumah," titahnya.

__ADS_1


"Baik," balas sang supir singkat.


Di sana Ihsan masih tidak mencurigai apa pun dan tetap memandang keluar jendela takut ada seseorang mengikutinya.


Sampai kurang lebih sepuluh menit perjalanan, dahi tegasnya mengerut dalam kala menyadari jika jalanan yang mereka lewati bukanlah ke arah rumah, melainkan ke sebuah tempat yang banyak penjual kopi.


"Hei, aku bilang pulang ke rumah. Ke mana kamu akan membawaku?" tanyanya cemas.


"Maaf Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda," balas sang supir.


Kembali, Ihsan memperhatikan supir di depannya. Ia sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat lebih jelas siapa dia, dan Ihsan sadar jika pria itu bukanlah supir pribadinya.


"Siapa kamu? Mau apa kamu dariku?" tanyanya lagi.


"Tenang saja Tuan, saya tidak akan menyakiti Anda," jawabnya yang hal itu semakin membuat Ihsan tidak karuan.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit lamanya, mereka pun tiba di salah satu daerah Kota V.


Supir itu memberitahu jika Ihsan harus berjalan di sekitar pasar yang ada di sana dan terus mengikuti jalan lurus tersebut.


Tidak ingin terjadi apa-apa, Ihsan pun mengikuti instruksinya begitu saja, sedangkan supir tadi memberitahu rekannya lewat earphone yang sedari tadi terpasang di telinga.


"Target memasuki daerah pasar," jelasnya membuat orang di seberang sana mengiyakan.


Ihsan dengan penampilan jas formalnya berjalan lurus di mana di kedua sisi itu terdapat banyak sekali pedagang menjajakan dagangan berbahan dasar kopi.


Kepala bersurai rapih itu menoleh ke segala sisi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Tidak jauh dari keberadaannya seorang wanita berhijab tengah menawar-nawar barang yang ada di sana.


Aroma kopi yang menggugah membuat ia tidak tahan untuk membelinya.


"Tidak bisakah ibu menurunkan harganya? Ini pertama kali aku datang ke sini. Karena menurut orang-orang, kopi yang di jual di sini rasanya enak sekali... tidak ada tandingannya. Jadi, bisa turunkan harganya sedikit?" pintanya kemudian.


"Ah, yah, Nona muda, Anda terlihat cantik dan luar biasa, bagaimana bisa menawar harga murah sedangkan harga serbuk kopi ini sudah sangat standar," balas ibu penjual.


Suara tawa wanita itu pun terdengar nyaring, "Anda bisa saja. Baiklah kalau begitu saya mau ini satu kilo."


Wanita tua itu pun mengiyakan dan membungkus serbuk kopi pesanan sang pelanggan.


Tidak lama kemudian ia sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Ia berbalik hendak mencari dagangan lain.

__ADS_1


Namun, baru saja berbalik ia bertubrukan langsung dengan Ihsan. Ia mendongak membuat tatapan mereka saling bertubrukan satu sama lain.


Bibir ranum itu melebar, targetnya tepat di depan mata sesuai dengan apa yang direncanakan.


__ADS_2