Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 71


__ADS_3

Dalam diam Ayana memperhatikan kondisi Zidan, setiap hari tanpa ada orang yang tahu ia akan datang ke ruang inap sang suami.


Meskipun hanya bisa melihatnya dari luar itu sudah cukup baginya. Ia tidak ingin semakin terluka kala di saat Zidan membuka mata dirinya yang pertama kali dilihat.


Ayana tidak ingin hal seperti itu terjadi dan hanya terus berdoa agar Allah bisa segera menyadarkannya.


Tepat pada satu bulan, Zidan pun mendapatkan perubahan signifikan. Kelopak mata yang semua tertutup perlahan-lahan terbuka.


Orang-orang yang saat itu tengah berada di ruangannya pun terkejut. Di sana, ada Lina, Arshan, Haikal, Danieal, Gibran, serta Bella pun turut menjadi saksi bagaimana kesadaran menyambutnya lagi.


Mereka yang tengah adu mulut berkat adanya sang pianis wanita itu pun terkejut.


Zidan menyapukan pandangan pada mereka dan tidak mendapati yang lainnya lagi.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar?" tanya sang ibu senang.


Ia pun segera menghubungi Dokter Abizar yang bertanggungjawab menangani Zidan. Tidak lama kemudian pria paruh baya itu datang dan langsung memeriksa keadaan sang tuan muda.


"Alhamdulillah, kondisi Tuan Muda sudah berangsur-angsur membaik," jelasnya sembari melepaskan masker oksigen.


Zidan berusaha berbicara lewat tatapan mata kala masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Semua orang yang ada di sana mengucap syukur akan kesadaran sang pianis.


Hari demi hari berlalu, Zidan pun melewati pengobatan secara bertahap. Mulai dari membiasakan kinerja otot-otot tubuhnya, saraf-saraf dalam dirinya, dan lain sebagainya pun ia jalani dengan rutin.


Setelah melakukan segala perawatan secara berkala, ia sudah bisa duduk di atas ranjang dan kembali memandangi orang-orang di ruangannya.


"Di mana Ayana?"


Hal pertama yang ia tanyakan setelah bisa berbicara lagi adalah keberadaan sang istri. Selama beberapa minggu ini ia tidak melihatnya di manapun.


Tentu hal itu membuat keenam orang yang setiap harinya menemuinya pun saling pandang. Mereka tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Zidan barusan.


"Aku tanya, di mana Ayana?" tanyanya lagi untuk kedua kali.


"Kamu lebih baik istirahat dulu saja, Ayana-"


"Di mana Ayana?" kata Zidan lagi memotong ucapan sang ibu.


"Ayana tidak mungkin menemui mu lagi, Mas. Dia yang sudah membuatmu seperti ini." Bella menyambar kala sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


Kedua manik Zidan terbelalak lebar dan langsung menatapnya lekat.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Ayana bukan seperti yang kamu katakan tadi," jelasnya dengan suara teredam.


"Katakan padaku di mana Ayana?" Zidan masih bertanya hal yang sama dan kali ini memandang ke arah Danieal.


Pria tampan itu pun menghela napas pelan. "Ayana sedang melakukan pengobatan, depresinya masih belum sembuh. Lebih baik kamu juga istirahatlah dulu jangan banyak berpikir."


"Itu benar, Mas. Mbak Ayana baik-baik saja, Mas tidak usah khawatir," timpal Gibran.


Zidan memalingkan wajah ke arah lain lalu membaringkan dirinya lagi dibantu Haikal. Mereka kembali saling pandang menyembunyikan fakta jika Ayana memang tidak bisa untuk menemuinya lagi.


...***...


"Jadi pianis itu sudah sadar dan sekarang sedang melakukan perawatan? Syukurlah aku senang mendengarnya," kata Ayana pada sang kakak.


Hubungan kakak beradik itu sudah membaik sejak Danieal kembali meminta maaf. Ayana tidak mempermasalahkannya dan telah melupakan hal itu.


Sekarang ia hanya ingin fokus pada penyembuhannya untuk mengembalikan kesehatan mental. Ia tidak mau terus menerus dihantui kesakitan.


"Itu benar, dan dia ... menanyakan mu, Ayana," jelas Danieal.


"Jangan katakan apa pun padanya. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi jika pada akhirnya akan seperti ini," balas Ayana membuat Danieal mengangguk setuju.


"Kalau begitu sekarang jadwalnya kamu melakukan terapi. Cepatlah sembuh dan kembali menjadi pelukis yang hebat," ucap Danieal, Ayana terkekeh pelan dibuatnya.


Zidan tidak menyangka selama hampir tiga bulan berada di rumah sakit dirinya sama sekali tidak tahu di mana keberadaan sang istri.


Setiap hari ia terus menanyakannya pada orang-orang yang dirinya kenal saat datang menjenguk. Namun, tetap saja mereka bungkam seolah menyembunyikan sesuatu.


Hari ini ia sudah bisa pulang ke rumah, dengan menggunakan kursi roda didorong oleh Haikal, ia meninggalkan rumah sakit.


Namun, di tengah perjalanan ia meminta Haikal untuk datang ke suatu tempat.


"Tapi Tuan, Anda masih harus banyak beristirahat. Kondisi Anda masih belum baik," katanya menoleh sekilas ke kaca spion.


"Tidak apa, aku sudah baik-baik saja. Bahkan kata Dokter Abizar, ayahmu ... aku sudah membaik. Bahkan aku sudah bisa berjalan beberapa langkah," jelas Zidan meyakinkannya.


Haikal hanya bisa menghela napas tidak bisa menang adu argument dengan tuannya ini.

__ADS_1


"Baiklah, ke mana Tuan ingin pergi?" tanya Haikal kemudian.


"Toko magnolia."


Seketika itu juga Haikal langsung menginjak rem membuat penumpang di belakang terantuk ke depan.


"Astaghfirullahaladzim, apa yang kamu lakukan Haikal?" Zidan tersulut emosi meninggikan nada suaranya.


Haikal menoleh ke belakang dan langsung meminta maaf.


"Maafkan saya Tuan. Saya menyesal, ta-tapi toko magnolia?" ucapnya gugup.


"Iya toko magnolia. Cepat bawa aku ke sana, apa kamu mau aku pergi sendiri ke sana naik taksi? Kamu bisa-bisa terkena omelan dokter Abizar nanti," ancam Zidan membuat Haikal tidak bisa berkutik.


Mau tidak mau ia pun menuruti permintaan sang tuan muda. Ia melajukan kendaraan roda empat itu lagi secara perlahan membuat penumpang di belakang kembali mengomel.


Dalam diam Haikal terus berdoa semoga sang pemilik toko sedang tidak ada di sana.


Namun, sepertinya harapan tinggallah harapan. Sesaat setelah mereka tiba, Haikal langsung menangkap pelukis itu tengah berjalan di dalam galerinya.


Ia terdiam kaku tidak menggubris Zidan yang sedari tadi terus memanggilnya.


"Ya! Haikal! Apa kamu tidak mendengar ku?" Zidan berteriak kencang membuatnya terperangah.


"A-ah, iya Tuan?" Haikal berbalik ke belakang melihat tatapan nyalang itu.


"Aku bilang, bantu aku turun dan bawa masuk ke toko itu," titah Zidan mutlak.


Haikal hanya bisa menggerutu dalam diam lalu mengikuti keinginan sang tuan muda. Ia membuka pintu mobil setelah menyiapkan kursi roda. Ia membantu Zidan duduk di sana lalu mendorongnya masuk ke toko.


Suara pintu berdecit seketika mengejutkan sang pemilik. Ayana yang baru saja menata ulang galerinya menoleh ke belakang.


Ia terkejut saat beradu pandang dengan seorang pria yang tengah duduk di kursi roda. Degup jantung bertalu kencang kala senyum menghiasi wajah tampan itu.


Bola matanya bergetar memandangi Haikal yang berada di belakang Zidan. Pria berlesung pipi itu mengucapkan maaf tak bersuara.


Ayana mengangguk sekilas dan kembali memandangi sang pianis. Zidan masih mengulas senyum hangat kala perasaan rindu sudah tidak bisa dibendung lagi.


Sejak dirinya sadar sampai tiga bulan ke depan ia tidak bisa menemui Ayana. Ia berpikir jika sang istri sudah pergi lagi dan tidak akan pernah bisa dirinya temui kembali.

__ADS_1


Namun, sepertinya takdir berkata lain. Mereka lagi-lagi bertemu dan dipersatukan dalam satu waktu, meskipun dalam keadaan yang sangat kacau balau.


__ADS_2