Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 34


__ADS_3

Buah hati selalu menjadi pelengkap bagi kehidupan pasangan yang telah menikah.


Keberadaannya kerap kali ditunggu-tunggu dan digadang-gadang sebagai kebahagiaan dalam keluarga.


Namun, semua itu menjadi takdir Allah semata. Allah akan memberikan kepada siapa saja seorang anak, baik laki-laki, maupun perempuan sesuai kehendak-Nya. Serta Allah jugalah yang membiarkan seseorang mandul.


“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50).


Ayana dan Zidan saling pandang menyelami keindahan bola mata masing-masing.


Sang pianis terus termangu, mencerna semua perkataan istrinya dalam diam.


Ia terkejut sekaligus takjub atas pertanyaan juga permintaan Ayana barusan.


Zidan beranjak dari duduk, berjalan mendekati Ayana lalu bersimpuh tepat di sampingnya.


Ayana pun membalikkan badan hingga menghadap sang suami.


Dengan hangat Zidan menggenggam tangan Ayana dan memberikan kecupan pelan di punggung tangannya.


"Benarkah itu, Sayang? Apa benar kamu mau kita konsultasi ke dokter kandungan mengenai anak?" tanya Zidan mencoba memastikan.


"Itu benar, Mas. Tidak ada salahnya bukan jika kita mencari tahu apa yang terjadi di antara kita? Siapa tahu aku yang bermasalah," kata Ayana merendah.


Tentu saja hal itu membuat Zidan menggelengkan kepala, menolak perkataan sang terkasih.


Buru-buru Zidan menangkup kedua pipi Ayana hangat hingga membuatnya menatap lekat.


"Jangan berkata seperti itu. Jangan mendiagnosis sesuatu tanpa ada kepastian yang jelas. Aku yakin tidak ada apa-apa di antara kita," kata Zidan hangat nan lembut.


Ayana pun mengembangkan senyum manis.


"Em, aku minta maaf," katanya. "Baiklah kalau begitu kita tidur? Barusan aku sudah menemani Raima tidur. Kata Bintang Raima rewel, mungkin anak itu merindukan kita," lanjutnya.


"Benarkah? Ya Allah, kita terlalu sibuk akhir-akhir ini. Kita harus lebih dekat lagi dengan anak itu," usul Zidan mendapatkan anggukkan dari istrinya.


"Kalau begitu kita tidur. Aku juga ugh-" Zidan meregangkan otot-otot kakunya. "Sudah lelah, Sayang," lanjutnya.


Ayana mengiyakan dan keduanya pun beranjak dari ruangan itu seraya saling merangkul satu sama lain pergi menuju lantai dua.


...***...


Pagi menjelang, di saat matahari baru saja terbit, Ayana, Zidan, serta Raima bergegas meninggalkan kediaman mereka.

__ADS_1


Pasangan suami istri tersebut menitipkan mansion kepada Jasmine. Dengan senang hati wanita itu mengiyakan seraya melakukan kesenangannya di sana.


Sepanjang jalan, keluarga kecil Zidan terus berceloteh riang. Raima senang bisa pergi bersama kedua orang tuanya.


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian mereka tiba di area pemakaman. Zidan keluar seraya menggendong Raima dan disusul Ayana.


Mereka berjalan beriringan menuju salah satu pemakaman di sana.


"Assalamu'alaikum anak Mamah. Bagaimana keadaanmu? Hari ini Mamah, Ayah, dan juga Dede Raima datang berkunjung."


"Mamah... sangat merindukanmu, sayang. Semoga kamu tenang yah di sana. Mamah dan Ayah di sini sudah baik-baik saja. Apa kamu melihat kami di atas sana?" racau Ayana pada tumpukan tanah kecil di antara yang lain.


Zidan yang melihat interaksi istrinya bersama mendiang sang buah hati ikut terharu. Perasaannya bergetar mengingat kejadian menyakitkan yang pernah dirinya lakukan.


"Ayah benar-benar minta maaf," katanya penuh penyesalan.


Ayana yang menyadari perkataan itu menghapus jejak air mata kasar. Ia bangkit dari jongkoknya dan mengambil alih Raima.


"Ayo Sayang kita lanjutkan perjalanan," katanya senang seraya berjalan meninggalkan area pemakaman.


Zidan pun hanya bisa tersenyum singkat dan mengelus pelan batu nisan buah hatinya.


Kurang lebih tiga puluh lima menit berlalu, mereka tiba di rumah sakit keluarga Arsyad.


Setelah melakukan serangkaian prosedur Ayana dan Zidan sedang menunggu keputusan dari dokter kandungan.


"Syukurlah, kalian bisa program hamil seperti ini. Aku yakin tidak ada apa pun di antara kalian berdua," kata Danieal yang tengah bermain bersama Raima.


Saat ini mereka berada di area kanak-kanak. Banyak para orang tua yang bermain bersama buah hati mereka di sana sambil pengobatan.


Sedari tadi Ayana memandangi sekitar melihat anak-anak kecil berlarian ke sana kemari dengan gelak tawa mengiringi.


"Aku berpikir sudah seharusnya kita melakukan ini. Agar Raima bisa mempunyai adik baru. Iyakan Sayang?" Ayana mengusap sebelah pipinya penuh kasih sayang.


Raima hanya tersenyum sebagai jawaban setuju.


"Baguslah aku senang mendengarnya," kata Danieal lagi.


"Alhamdulillah, ini semua keputusan Ayana," lanjut Zidan menjelaskan.


"Syukurlah, aku turut senang untuk kalian," balasnya lagi.


Ayana maupun Zidan mengangguk mengiyakan dan mereka pun melanjutkan bermain sebentar di sana.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Zidan dan Ayana kembali ke ruang dokter kandungan.


Dengan harap-harap cemas keduanya saling berpegangan tangan menunggu keputusan yang hendak diberikan sang dokter.


Dokter Mentari yang melihat pasangan menggemaskan di depannya pun tersenyum lebar.


"Tenang saja, Ayana dan suami jangan tegang seperti itu. Tidak ada yang perlu ditakuti," kata Mentari mengetahui keberadaan adik dari Danieal, rekan sesama dokternya.


Ayana maupun Zidan hanya tersenyum canggung menimpali.


Sedetik kemudian Mentari membuka surat hasil pemeriksaan pasangan suami istri tersebut.


Bibir semerah cherry nya melengkung membentuk kurva sempurna.


"Alhamdulillah, apa yang aku katakan bukan? Tidak ada yang salah dengan kalian berdua. Jadi, kalian bisa program hamil sekarang," kata Mentari memberikan berjuta harapan bagi pasangan menikah di depannya.


"MasyaAllah, Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok." Ayana terpekik senang.


Ia pikir ada sesuatu dalam dirinya setelah kejadian keguguran tahun itu. Namun, kenyataan tidak demikian. Semua butuh waktu dan proses yang tidak mudah.


"Alhamdulillah. Baik Dok, kami akan segera melakukan program hamil," balas Zidan kemudian.


Dokter Mentari hanya mengangguk mengiyakan.


Setelah itu mereka kembali melakukan berbagai macam prosedur untuk melakukan program hamil.


Kurang lebih memakan banyak waktu di rumah sakit, keluarga kecil Zidan kembali pulang.


Sebelum ke rumah, mereka mampir terlebih dahulu ke wahana permainan untuk mengajak Raima bersenang-senang.


Balita berumur satu setengah tahun itu tertawa riang bisa menikmati waktu bersama kedua orang tua, suatu hal yang jarang sekali dilakukan bersama Kirana maupun ayah kandungnya, Ihsan.


Keberadaan Ayana dan Zidan sebagai orang tua sambung membuat Raima tidak kehilangan kasih sayang.


Kebaikan yang diberikan pasangan pelukis serta pianis itu sangat dirasakan oleh Raima.


Di sana mereka tertawa bersama-sama menikmati kebersamaan.


Sampai tidak lama kemudian seseorang mengejutkan mereka.


"Ayana." Panggilnya.


Ayana menoleh dan terbelalak melihat orang tepat di depan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2