
"Sebelum pergi, izinkan aku menceritakan apa yang sudah aku lihat beberapa hari ini."
Setelah memasangkan infusan di tangan Ayana, Danieal kembali duduk di kursi tunggal sebelah ranjang. Ia menatap lurus ke depan menyaksikan tembok putih tanpa cacat di sana.
"Zidan ... suamimu atau mungkin mantan suami? Entahlah, pokoknya dia sudah banyak berkorban untukmu. Aku melihat jika dia benar-benar sudah menyesali perbuatannya di masa lalu."
"Ia rela kehilangan nyama untuk melindungi mu. Mulai dari kejadian di mansion Presdir Han ... aku tahu jika Zidan memukul pria tua itu dan ... pasti keberadaannya sedang diusut oleh mereka. Kamu tahu ... Presdir Han adalah orang berpengaruh di negeri ini. Pria tua itu tidak segan-segan melukai siapa pun yang tidak sejalan dengannya."
"Malam itu Zidan memberikan pukulan telak, dan ... pasti kamu tahu bagaimana selanjutnya. Namun, Zidan tidak peduli ... ia melakukan apa yang harus dilakukan untuk membalas perbuatannya padamu. Sampai, ia rela mengorbankan diri sendiri agar bisa melindungi mu."
"Iya kecelakaan inilah yang terjadi. Aku tidak tahu harus berkata seperti apa, di sisi lain ... mungkin kamu beruntung dilindungi sebegitunya oleh Zidan, tetapi di sisi lainnya aku juga ikut merasa sakit saat mendengar perlakuannya padamu di masa lalu."
Danieal menarik napas dan menghembuskannya perlahan di tengah-tengah cerita. Sekilas ia memandang Ayana yang masih kukuh pada posisinya.
Sudut bibir pria itu melengkung sempurna dengan kristal bening merembes di balik kelopak. Danieal meremas kedua tangan kuat menyalurkan pengap.
"Mas tidak ingin melihatmu terus-menerus menderita, Ayana. Sebagai seorang kakak yang sudah mengenalmu selama satu tahun lebih ini Mas ... ingin yang terbaik untukmu," ungkap Danieal tulus.
"Maafkan Mas." Setelah itu Danieal pun bangkit dari duduk dan berjalan keluar.
Mendengar pintu tertutup Ayana tidak bisa menahan lagi isak tangis. Suaranya bergema di sana meleburkan perasan hati terdalam.
Ia benar-benar hancur dengan kehidupannya saat ini. Bunga air mata kembali menitikkan kesedihan, luka yang seharusnya sembuh ditimpa lagi dan lagi.
Ayana mencoba bersabar serta bertahan dari segala kepelikkan yang datang secara beruntun.
...***...
Hari demi hari Ayana lewati dengan perasaan tak menentu. Meskipun ia satu gedung bersama sang suami, tetapi dirinya tidak bisa melihat bagiamana keadaan Zidan sekarang.
Ia enggan keluar ruangan seraya masih mengikuti pengobatan. Terapinya kali ini dilakukan oleh dokter sekaligus psikolog berbeda.
Dokter Hafiza yang kini menanganinya. Setelah malam itu Danieal meminta rekannya untuk menggantikan ia mengobati Ayana.
Dengan senang hati wanita seumuran anak pemilik rumah sakit itu pun menyanggupinya.
Sudah hampir dua minggu mereka bersama, Ayana mulai merasakan perubahan. ia sudah tidak gelisah lagi dan kembali bisa mengontrol diri sendiri.
__ADS_1
"Bismillah, tenang rileks jangan banyak memikirkan apa pun yang bisa mengganggumu," kata wanita berhijab itu hangat.
Ayana bisa lebih leluasa berada dalam penanganan Hafiza. Wanita itu memiliki tutur kata yang lembut serta penuh perhatian.
Ia memperlakukan Ayana layaknya seorang adik yang membutuhkan seseorang untuk di sampingnya.
"Bagus, kamu sudah bisa mengendalikan diri sendiri, Alhamdulillah, perkembangannya sangat baik," kata Hafiza mengulas senyum senang.
Ayana membuka mata lagi dan memandang ke samping. "Terima kasih banyak, Dok."
"Sama-sama, jangan sungkan. Jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku. Aku berteman baik dengan Dokter Danieal, kakakmu?"
"Kakak sambung. Orang tuanya mengangkat ku sebagai anak mereka," jelas Ayana kemudian.
Hafiza mengangguk sekilas dan membereskan barang-barang bawaannya.
"Aku mengerti. Aku melihat mas Danieal benar-benar menyayangimu. Dia bahkan banyak menceritakan kehebatanmu. Pelukis luar biasa, pelukis hebat, seperti itulah kira-kira." Senyum mengembang di wajah berkacamatanya.
Cekungan di bawah bibirnya menambah manis dan memberikan pesona pada dokter cantik itu membuat Ayana berpikir jika kakak sambungnya menyukai wanita ini.
"Tidak banyak hanya beberapa orang saja yang benar-benar dekat dengannya," balasnya. Ayana hanya mengangguk mengerti.
"Ah, kenapa aku jadi banyak bicara seperti ini. Maaf Ayana, seharusnya kamu beristirahat sekarang. Sebentar lagi waktunya makan siang, tidurlah sambil menunggunya." Hafiza mengusap puncak kepalanya hangat.
Ayana terperangah merasakan sentuhan tersebut. Lagi-lagi ia mengangguk sebagai jawaban dan setelah itu sang dokter pun meninggalkan ruangan.
Ayana bangkit dari berbaringnya lalu berjalan ke depan sembari menarik selang infusan yang tergantung.
Ia membuka pintu sedikit melihat keadaan sekitar. Rasa penasaran membuat ia tidak bisa berdiam diri saja.
Sudah empat belas hari berlalu, selama itu pula Ayana tidak pernah tahu bagaimana kondisi Zidan pasca kecelakaan terjadi.
Diam-diam ia keluar dari ruangan, beruntung di lorong tidak ada siapa pun membuatnya bisa bergerak bebas.
Tidak lama berselang ia tiba tepat di depan ruang inap Zidan. Ia melihat ke dalam lewat kaca kecil di pintu masuk.
Ia terkejut melihat kondisi sang pianis yang terbaring lemah di atas ranjang dengan masker oksigen menghalangi wajah tampannya.
__ADS_1
Di sebelahnya terdapat monitor pendeteksi jantung yang memperlihatkan denyutannya. Ayana semakin terkejut kala kepala, tangan sebelah kanan, dan kedua kakinya terdapat kasa putih.
Ia menyadari jika keadaan Zidan tidak bisa dibilang baik-baik saja.
"Apa Anda kerabat pasien?"
Suara seseorang di belakang mengejutkan, Ayana membeku dan diam beberapa detik sebelum berbalik.
Ia mendapati seorang pria berjas putih menatapnya lekat. Pria bername tag Abizar mengulas senyum membuat wajah tuanya semakin menonjol.
"A-ah, sa-saya-"
"Apa Anda ingin melihatnya?" tanya Abizar membuat Ayana terperangah.
"Kalau boleh tahu, pasien di dalam ... bagaimana kondisinya?" tanya Ayana kemudian.
"Beliau mengalami koma, ada kebocoran di kepalanya, tangan sebelah kanan dan kedua kakinya retak. Sampai saat ini beliau masih belum sadarkan diri," jelas dokter senior tersebut.
Ayana tidak bisa berkata-kata setelah mengetahui kondisi sang suami. "Ka-kalau begitu saya permisi."
Dengan langkah sempoyongan Ayana pergi dari hadapan Abizar. Ia menyangga diri sendiri pada tembok di sebelahnya, sembari menyeret gantungan infusan berusaha mencapai ruangannya berada.
Abizar menatap dalam diam dengan sorot mata penuh makna.
"Saya harap nona muda bisa sembuh dari trauma. Maafkan saya nona berpura-pura tidak mengenal Anda," gumam Abizar seraya terus menatap ke mana Ayana pergi.
Bak di timpa batu berton-ton beratnya, Ayana masih tidak menyangka mendengar kondisi Zidan barusan.
Ia tidak kuasa membendung air mata yang seketika itu juga mengalir di kedua pipi. Ia duduk di samping jendela besar di ujung lorong.
Hanya ada dirinya seorang di sana, ia menangis dan terus menangis mencoba melepaskan pengap yang meremas dadanya kuat.
"Ya Allah sembuhkan lah mas Zidan. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Mas Zidan koma? Itu tidak mungkin," batinnya meracau.
Bunga air mata menjadi jalan kisah kehidupan seorang Ayana. Ia yang berpikir sudah mendapatkan kedamaian nyatanya malapetaka menerjang.
Tidak ada yang harus disalahkan, Ayana menerima ujian itu dan berharap Allah menggantinya dengan kebahagiaan.
__ADS_1