Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 40


__ADS_3

Di luar toko magnolia, mobil mewah yang terparkir di sana menjadi titik pertemuan satu keluarga. Orang-orang hilir mudik menjadi background kebersamaan.


Zidan duduk di jok belakang memandang lurus ke depan di mana pintu toko Ayana terpampang jelas. Jari jemarinya saling meremas satu sama lain menyalurkan keresahan.


"Apa Ayah dan Mamah mengajakku ke sini untuk membicarakan tentang Ayana?" Zidan membuka suara.


Lina dan Arshan yang sejak kedatangannya hanya duduk diam pun terperangah. Mereka saling pandang, menoleh sekilas ke belakang menyaksikan Zidan tengah menatap lekat.


"Sejak pertemuan kita di pesta keluarga Arsyad waktu itu ... Mamah dan Ayah sudah sepakat untuk bertemu dengannya lagi. Kami meyakini jika dia-"


"Ayana?" potong Zidan cepat membuat orang tuanya mengangguk.


"Apa yang sudah Ayah dan Mamah katakan padanya tadi?" tanya Zidan lagi.


"Ayah dan Mamah hanya berbicara yang sebenarnya. Kami meminta Ayana untuk jujur, tetapi dia malah tetap menjadi orang lain," jelas Arshan.


"Itu benar, Mamah dan Ayah hanya ingin Ayana jujur, itu saja," lanjut Lina.


Mendengar penuturan tersebut Zidan terkejut tidak menyangka. Ia pikir hanya dirinya saja yang menganggap jika Ghazella Arsyad adalah istrinya, Ayana.


"A-apa wanita itu mengaku jika dirinya adalah Ayana?" tanya Zidan lagi gugup.


Lina dan Arshan menggeleng kompak. Sang ibu pun berbalik menatap manik kelam buah hatinya. Ada kesedihan tersimpan apik di sana.


Selama satu tahun lebih ini, Lina sering mendapati Zidan menangis dan menyesali perbuatannya kepada Ayana.


Putra pertamanya selalu berada di kamar pengantin mereka seraya memandangi pigura foto Ayana dalam genggaman.


Lina yang waktu itu melihatnya jadi teringat Zidan pernah mengatakan, "Ayana, jika kamu masih hidup aku ingin memulai kisah kita dari awal lagi. Aku benar-benar mencintaimu dan berharap kita bisa menjadi pasangan suami istri sesungguhnya. Aku minta maaf sudah menyakitimu terlalu dalam, bahkan ... aku membunuh anak kita. Aku minta maaf."

__ADS_1


Dari sana Lina mengetahui jika jabang bayi yang tengah Ayana kandung waktu itu bukan keguguran alami, tetapi disebabkan adanya kesengajaan sang ayah.


Lina marah dan menyalahkan Zidan yang sudah membuat menantu serta calon cucunya pergi. Ia memarahi putranya habis-habisan dengan menangis, meraung, serta memukul dada bidangnya.


Zidan sama sekali tidak melawan dan membiarkan sang ibu melakukan apa yang diinginkan. Karena sakit fisik yang ia terima, tidak sebanding dengan luka yang sudah ditorehkan pada Ayana.


Orang tuanya pun jadi mengetahui jika selama ini Zidan menjalin hubungan dengan Bella. Mereka tidak percaya saat sang putra mengakui jika dirinya bermain api di belakang Ayana dan bahkan sudah menikah secara diam-diam.


Lina maupun Arshan kecewa bukan main, Gibran kembali memukul wajah kakaknya yang sudah dibutakan oleh cinta. Namun, di saat ia mengatakan ingin bercerai dengan Bella mereka sangat menyetujuinya. Hingga membuat hubungan keluarga tersebut membaik.


Namun, sejak saat itu, Lina dan Arshan pun fokus kepada penyembuhan Zidan. Mereka juga tidak bisa terus menerus menyalahkan sang buah hati.


Karena bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar kembali ke hari kemarin, semuanya telah terjadi dan menjadi kenangan paling menyakitkan.


"Jadi, Mamah dan Ayah percaya jika wanita itu adalah Ayana? Istriku masih hidupkan, Mah? Ayana masih hidup di dunia ini, kan? Aku tidak salah mengenali orang, iyakan Mah, Yah?" Zidan memandangi ayah dan ibunya lagi meminta persetujuan.


Lina yang menyaksikan luka tak kasat mata dari kedua maniknya pun hanya mengangguk singkat. Wanita yang berusia hampir kepala enam itu turun dari mobil dan bergegas ke jok belakang.


"Mamah juga pada awalnya menganggap dia sebagai Ayana. Tidak ... kami memang mempercayai dia adalah Ayana, tetapi setelah melihat hasil tes DNA dari dokter Danieal mematahkan semua itu."


"Mamah jadi ragu, jika dia memang orang lain. Ghazella Arsyad, itulah dia sebenarnya. DNA tersebut menjelaskan jika dia benar-benar anak dari keluarga dokter Celia dan Aidan," tutur Lina membuat kedua manik Zidan bergetar.


"I-itu tidak mungkin, Mamah pasti bohong. Bagaimana mungkin ada dua orang di dunia ini yang wajahnya sangat mirip? Bahkan ... sampai kebiasaan mereka juga sama," ungkap Zidan memberikan tatapan penuh harap kepada sang ibu.


Manik jelaga Lina pun melebar seketika. "Apa maksudmu kebiasaan mereka juga sama?"


"Ayana sangat suka minum teh hijau, meskipun dulu aku tidak begitu memperhatikannya, tetapi ... aku sering melihat Ayana meminumnya, dan wanita itu juga menyukainya."


"Apa ini bukan kebetulan semata? Bahkan tidak hanya wajah, kebiasaan mereka pun sama. Aku tidak pernah tahu seperti apa tujuan Ayana memalsukan identitasnya." Zidan mengucapkan hal yang diyakininya dengan menggebu.

__ADS_1


Lina maupun Arshan tidak menyangka dengan semua perkataan sang putra. Jauh dari lubuk hati terdalam, keduanya pun berharap Ghazella adalah Ayana.


"Akan lebih bagus jika dia memang, Ayana," kata Lina lagi.


"Aku sangat merindukannya, Mah. Aku benar-benar merindukannya. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Aku begitu mencintainya ... aku sangat mencintainya," oceh Zidan, kedua maniknya berkaca-kaca menahan air mata sekuat tenaga.


Melihat sosok tegap di hadapannya tengah terpuruk kembali, Lina langsung menarik Zidan ke dalam pelukan. Sentuhan lembut sang ibu seketika menenangkan dan menetralisir kepedihan di dada.


Zidan maupun Lina dan Arshan tetap meyakini jika sosok Ghazella Arsyad sebagai Ayana. Meskipun ada tes DNA yang menyatakan wanita itu adalah orang lain, tetapi ada keraguan di hati mereka.


Ketiganya berpikir jika Ayana masih hidup dan memalsukan kematian. Namun, belum adanya bukti tidak menjadikan spekulasi tersebut benar adanya.


Zidan hanya akan menunggu sampai waktu yang menunjukkan kebenaran. Ia berpikir jika suatu hari nanti pasti ada jawaban di balik semua itu.


Setelah berkutat dengan kedua orang tuanya, Zidan melanjutkan niat awal untuk menemui Ayana. Ia berdiri di depan pintu masuk seraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Bismillah, aku pasti bisa. Ya Allah bantu hamba untuk menghadapi kenyataan ini," gumamnya lirih.


Tidak lama berselang ia mendorong pintu masuk dan seketika aroma bunga magnolia merengsek ke dalam indera penciuman.


Zidan terpaku saat menyaksikan sosok sang pelukis tengah duduk membelakanginya. Hijab hitam menjuntai panjang ke bawah menutupi bahu, sesekali gerakan yang tengah ia lakukan memperlihatkan sisi wajah putihnya.


Zidan seolah terhipnotis, diam kaku melihat pemandangan yang hanya beberapa langkah di depan. Ia terpaku akan pesona aura pelukis itu.


Tepat di depan mata kepalanya, Ayana tengah melukis abstrak yang memperlihatkan gulungan serta coretan tak menentu.


Namun, bagi sang pembuat itu memiliki makna mendalam. Zidan yang tanpa sengaja melihatnya pun sekilas mengerti apa arti di baliknya.


Ia pun melangkahkan kaki mendekati Ayana. Degup jantung bertalu kencang saat raksi yang disebarkan begitu mendamaikan.

__ADS_1


"Ayana?"


Kepala berhijab itu pun menoleh ke belakang membuat pandangan mereka saling mengunci satu sama lain. Bak film drama yang di pause di tengah-tengah, kedua insan tersebut menyelami keindahan masing-masing.


__ADS_2