
Langit bertabur bintang dengan cahaya bulan terang benderang. Bayangannya terpantul jelas di air danau buatan di halaman depan rumah.
Seorang wanita bergaun bak putri dongeng tengah duduk berhadapan langsung dengan kanvas. Guratan demi guratan tercetak jelas di atasnya.
Ayana kembali memfokuskan diri pada dunia melukis. Di tengah keramaian pesta ia mengasingkan diri ke halaman dan menggambar langit malam.
Ia melakukan itu untuk melupakan sejenak kepelikkan yang melanda. Pertemuannya dengan Lina dan Arshan kembali memberikan pukulan telak.
Ia harus berbohong pada orang baik seperti mereka dan menutupi jati diri sesungguhnya. Namun, ia juga tidak bisa mengaku hingga membuat keadaan menjadi kacau.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Suara serak nan dalam menyapa.
Ayana menoleh ke samping melihat pria itu berjalan mendekat. Senyum simpul diberikan, ia mengacungkan kuas kecil dalam genggaman.
"Melukis. Apa yang sedang Tuan Muda lakukan juga di sini? Pestanya masih berlangsung lebih baik Anda kembali ke dalam, udara malam sangat dingin," jawabnya.
"Bahkan perhatiannya masih sama seperti dulu. Ayana, tidak bisakah kamu mengaku saja? Jika dirimu adalah istriku?" benaknya penuh harap.
Ayana pun kembali pada kegiatannya dan mengabaikan keberadaan Zidan. Pria itu terus memperhatikan gerakan yang dilakukan pelukis di hadapannya.
Angin pun berhembus menerbangkan hijab panjangnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Zidan melepaskan jas yang dikenakannya lalu disampirkan ke bahu Ayana.
Sang empunya refleks mendongakkan kepala hingga pandangan mereka mengunci satu sama lain. Kehangatan masa lalu bermain dalam benak membuat keduanya teringat saat-saat menghabiskan waktu bersama.
"Katamu udaranya dingin. Kamu bisa masuk angin jadi pakai ini," jelas Zidan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Ayana hanya menganggukkan kepala dan fokus lagi pada melukis. Aroma parfum yang menempel pada jas itu pun seketika merebak ke indera penciuman.
Ayana terpaku, beberapa detik terdiam mengingat masa lalu yang tiba-tiba saja hadir. Kepala berhijabnya pun menggeleng sekilas mengenyahkan pikiran tersebut.
__ADS_1
Melihat hal itu Zidan menarik kedua sudut bibirnya pelan. "Istriku juga dulu senang sekali melukis."
"Oh yah? Apa yang sering dia lukis?" tanya Ayana tanpa mengalihkan pandangan.
"Dia-" ucapan Zidan pun seketika terhenti saat tidak tahu apa yang sering Ayana lukis. "Aku ... tidak begitu ingat."
Ayana menyeringai dibuatnya, "Ah, begitu."
Hening melanda, sesekali angin kembali berhembus menemani keduanya. Keadaan tersebut membuat Ayana canggung dan juga tidak terbiasa.
Satu tahun lebih ia menghilang mengantarkan pada perasaan asing untuk pria di sebelahnya. Bukan cinta maupun kasih sayang yang menetap di hatinya saat ini, melainkan kegelisahan. Ada rasa takut yang tiba-tiba saja melanda.
Ayana takut jika kejadian waktu itu bisa terulang kembali. Namun, ia sadar jika saat ini dirinya sudah menjadi orang asing bagi Zidan.
"Kapan kamu senang melukis?" tanya Zidan mencoba mengorek informasi.
"Sejak saya berada di luar negeri. Saya-"
Ayana menggeleng sekilas lalu mengangguk setelahnya. "Baiklah. Aku sudah tinggal di Negara N dari umur sepuluh tahun. Aku di sana bersama keluarga dari pihak ayah. Aku senang berada di sana dan mencoba melukis pemandangan beberapa kota yang menurutku sangat indah. Sejak saat itu aku jadi senang melukis," jelasnya yang menceritakan masa lalu Eliza.
Ia sempat mencari tahu dan banyak bertanya pada Danieal, Celia, dan juga Aidan mengenai Eliza semasa hidupnya.
Wanita itu kurang lebih mirip dengan Ayana. Mereka senang melukis, menghabiskan waktu dengan membaca buku, dan sering menikmati senja.
Ayana memahami bagaimana terpuruknya Eliza saat mendapatkan pelecehan dari orang kepercayaannya. Karena ia pun tidak jauh berbeda, sampai anak kedua keluarga Arsyad pun menghembuskan napas terakhir.
Ayana yang mendengar cerita itu hanya bisa diam. Ia juga berharap nasibnya bisa sama dengan Eliza. Karena waktu itu ia berpikir lebih baik mati daripada hidup dalam bayang-bayang rasa sakit.
"Begitu yah, jadi selama ini kamu tinggal di luar negeri?" tanya Zidan lagi. Dengan tenang Ayana mengangguk pelan.
__ADS_1
"Apa yang paling kamu sukai dari Negara N? Apa kamu pernah mengunjungi Kota Q?"
Mendengar pertanyaan itu Ayana terkejut. Ia diam beberapa saat mengundang rasa penasaran Zidan. Ia terus mendesaknya mencoba mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu.
Ia sudah sering bolak balik ke Negara N untuk melakukan konser dan juga perjalanan bisnis. Zidan tahu jika Ayana belum pernah berpergian ke luar negeri manapun.
"Oh Kota Q? Iya aku sudah mengunjunginya, kota itu sangat cantik dengan padang bunga sebagai ikonnya. Aku juga sempat melukis di sana, tapi sayang ... lukisanku tidak bisa dibawa ke sini. Karena terlalu besar aku menyimpannya di rumah nenek."
"Kata nenek seminggu yang lalu sudah ada yang membelinya. Ah, aku jadi ingin pergi ke sana lagi dan melukis pemandangan indah itu," ungkap Ayana.
Kini giliran Zidan mematung di tempatnya berdiri. Ia melihat dengan jelas bagaimana ekspresi gembira, seolah wanita itu sudah pernah pergi ke sana.
Zidan melebarkan pandangan menyaksikan senyum mengembang di wajah cantiknya. Ia semakin bimbang antara percaya atau tidak jika wanita itu adalah Ayana atau orang asing.
"Ja-jadi kamu benar-benar pergi ke sana?" tanyanya gugup.
Ayana menatapnya lagi dengan menautkan kedua alis tajam. "Kenapa? Apa Mas tidak percaya aku pernah tinggal di sana? Yah, meskipun kata orang-orang aku menyusahkan jika berpergian."
"Jadi, dia sebenarnya adalah orang asing yang belum pernah aku temui? Tapi kenapa? Kenapa kamu mirip sekali dengan Ayana? Bagaimana bisa aku percaya jika wanita ini orang lain?" benaknya berkecamuk.
"Halo, Mas Zidan? Apa kamu masih ada di sana?" Ayana melambai-lambaikan tangan melihat ZIdan melamun.
"Oh, maafkan aku."
Ayana mengulas senyum simpul dan mencoba menyelesaikan lukisan. "Alasan aku tinggal di sana ... karena aku suka suasana di negara tersebut. Saat usiaku beranjak delapan belas tahun, mamah dan papah memintaku untuk menjadi seorang doker juga."
"Mas tahu sendiri, kan? Jika keluarga Arsyad mayoritas anggotanya berprofesi sebagai dokter?" Tanya Ayana lihat Zidan menganggukkan kepala. "Itu sebabnya aku memutuskan untuk menetap di sana dan menjadi seorang pelukis. Karena tidak mau menjadi dokter aku bersikukuh pada pilihanku sendiri. Sampai pada tahun ini pun datang, mamah dan papah tiba-tiba saja datang dan memintaku pulang."
"Mereka tidak lagi memaksaku untuk menjadi dokter seperti keinginannya, sebab itulah malam ini aku dikenalkan," tutur Ayana panjang menjelaskan mengenai pesta yang tengah berlangsung.
__ADS_1
"Maafkan aku Eliza sudah meminjam alasanmu tinggal di sana dan ... maafkan aku juga mamah, papah telah meminjam harapan kalian jika saja Eliza masih hidup. Aku akan menjadi kebanggan kalian dengan melukis," lanjut benaknya.
Zidan masih diam mencerna baik-baik perkataan Ayana. Ia semakin bimbang dan bimbang mendapati kenyataan mendera.