Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 112


__ADS_3

Kejadian yang sudah ditakdirkan tidak bisa dihindari sejauh apa pun pergi. Bila takdir telah menentukan maka akan terjadi.


Setelah Presdir Han resmi ditahan, Bella semakin uring-uringan. Setiap saat, setiap waktu, ia akan dilanda kepanikan hebat.


Kini ia sudah pergi jauh dari ibu kota dan mengasingkan diri ke sebuah tempat terpencil. Sudah hampir satu bulan ia menetap di sana, selama itu pula Bella terus menerus merasa gelisah.


Setiap kali ada kendaraan yang lewat tubuhnya menggigil tak karuan. Ia menetap di sebuah rumah berlantai satu yang tidak begitu banyak barang di dalamnya.


Setiap harinya gorden jendela akan tertutup yang membuat ia yakin orang-orang berpikir jika rumah itu tidak berpenghuni.


"Bagaimana bisa sekarang tua bangka itu bisa ditahan di penjara? Apa yang sudah mereka lakukan?" gumamnya terus mondar-mandir di sana.


Tidak lama kemudian ponsel yang sedari tadi sedang ia genggam pun bergetar. Dengan perasaan was-was Bella melihat siapa pemanggil di dalam layar.


Tertera nama Elisha di sana, Bella ragu antara menerima panggilan tersebut atau tidak. Sampai telepon masuk itu pun terputus.


Belum sempat Bella menarik napas, ponselnya kembali bergetar. Masih nama yang sama tertera di layar, ia pun berbicara, "kenapa Elisha terus menghubungiku? Apa ada sesuatu?"


Seketika ingatannya pun berputar pada saat ia masih bertemu dengan Elisha.


"Jika ada sesuatu segera hubungi aku." Itulah yang Bella katakan terakhir kali keduanya bertemu.


Bermodalkan ingatan tersebut Bella menggeser ikon berwarna hijau dan perlahan mendekatkan benda pintarnya ke telinga.


"Kenapa lama sekali kamu mengangkat teleponnya? Hei, kamu tahu? Ayana sedang berada di perjalanan sekarang, dia-"


"APA? KENAPA KAMU BARU MEMBERITAHUKU SEKARANG?"


Bella panik setengah mati menggigit-gigit ibu jarinya kuat.


"Pokoknya secepat mungkin kamu harus segera pergi dari sana."


Tanpa mengatakan apa pun lagi Bella memutuskan sambungan. Ia tidak berpikir banyak dan langsung menyambar tas selempang seraya kunci mobil lalu bergegas keluar dari bangunan tersebut.


Baru saja ia membuka pintu, satu kendaraan beroda empat berwarna hitam mengkilap berhenti di pekarangan.


Sang pengemudi membuka jendela mobil seraya melayangkan senyum manis.


Bella terpaku, langkahnya membeku melihat penampakan wanita yang tidak ingin dilihatnya saat ini.

__ADS_1


Ia mencoba untuk tidak terlihat panik dan ketakutan. Ia berdehem pelan lalu menyibakkan rambut panjangnya acuh tak acuh.


Ia melipat tangan di ambang pintu sembari melihat Ayana keluar dari kendaraan dan melangkah mendekat.


"Oh senang melihatmu ada di sini, Bella." Suara yang sangat ingin dijauhi Bella menyapa kembali.


Wanita pianis itu pun menyeringai tajam sambil mengalihkan pandangan ke sembarang tempat.


Ayana tepat berada di depannya, manik cokelat susu itu pun memindai penampilan sang lawan bicara.


"Kamu mau pergi ke mana membawa tas selempang?" tanyanya kemudian.


"Bukan urusanmu. Aku mau pergi ke mana itu bukan urusanmu!" kata Bella mempertegas.


Ayana mengulas senyum simpul, masih menatap lekat mantan madunya ini.


"Apa kamu takut melihat kedatanganku ke sini? Atau kamu mau melarikan diri? Ah, pasti kamu sudah tahukan jika pria tua itu resmi ditahan? Aku turut sedih," kata Ayana dengan mengumbar lengkungan bulan sabit di wajah cantiknya.


"Senang kamu sekarang, hah? Senang?" kata Bella lagi.


"Bukankah itu memang seharusnya? Coba kamu pikir jika kita menanam pohon mangga pasti akan berbuah mangga, kan? Tidak mungkin berbuah apel, jadi ... apa yang kita tanam itu juga yang akan kita tuai," ucap Ayana tegas.


"Aku-"


Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Bella berlari sekencang mungkin menuju kendaraannya berada.


Ayana terbelalak, tidak menyangka Bella bisa bertindak secepat itu. Ia pun tidak bisa mencegahnya, kini sang pianis sudah menjalankan kendaraannya.


Ayana pun bergegas menuju mobilnya kembali hendak menyusul wanita itu.


Kedua wanita berbeda profesi tersebut saling kejar mengejar. Ayana tidak ingin sampai kehilangan Bella lagi.


Ia mendapatkan informasi jika Bella pergi dengan bantuan Bening lagi. Ia juga baru tahu selama mencari informasi untuk menjalankan aksinya, pihak sang suami pun membantu.


Baik itu Gibran maupun Haikal, mereka turut andil dalam membantunya. Sampai detik ini, saat ia mencari keberadaan Bella untuk bernegosiasi Zidan, Haikal, dan Gibran kembali turun tangan.


Tiga hari sebelum datang ke tempat itu, Ayana menemui Elisha yang tengah sibuk mengatur jadwal manggung Bella.


Ia datang ke tempat kerja wanita itu yang langsung menanyakan di mana keberadaan Bella.

__ADS_1


Awalnya Elisha tidak mau memberitahukan di mana anak orang yang sudah membantunya selama ini.


Namun, Ayana memegang kelemahannya, yaitu selama ini Elisha selalu melipat penghasilan Bella dengan cara menguranginya ataupun membawa barang-barang tanpa sepengetahuan sang pemilik.


Bella tidak menyadari, dirinya sudah bekerja sama dengan seseorang dengan penyakit kleptomania.


Mau tidak mau Elisha pun memberitahukan di mana Bella berada.


Di sinilah Ayana berada, tengah mencoba menyusul Bella yang melajukan kendaraannya dengan kencang.


Firasatnya tiba-tiba saja tidak enak melihat mobil berwarna merah itu berkali-kali oleng dan hampir menabrak kendaraan lain.


"Astaghfirullahaladzim." Ayana tidak henti-hentinya beristighfar melihat aksi Bella melajukan mobilnya.


Namun, sayang seribu sayang kejadian tidak diinginkan serta firasat tidak enak itu terjadi juga.


Bella mengalami kecelakaan dengan menabrak kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan.


Mobil keduanya saling bertubrukan dan terpental sejauh seratus meter. Seketika pengendara-pengendara lain pun menghentikan laju kendaraannya.


Mereka yang turut menyaksikan adegan tersebut terkejut bukan main dan seketika kemacetan pun tidak bisa dihindari.


Ayana menginjak rem sekuat mungkin melihat sendiri adegan kecelakaan yang dialami Bella.


Dadanya naik turun dengan napas memburu. Kedua maniknya melebar sempurna, bibir ranum itu terbuka, menahan pengap yang tiba-tiba saja menimpa.


Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, Ayana mencengkram kuat stir mobil dan mencoba menghindari pemandangan di depan.


Banyak orang-orang berkerumun keluar dari kendaraan untuk melihat lebih jelas bagaimana kondisi sang korban.


Ayana masih duduk di kursi kemudi menenangkan diri. Bola matanya bergerak liar membayangkan keadaan Bella saat ini.


Terlebih ia melihat darah yang mengalir tanpa henti dari dalam mobil tersebut. Air mata pun menetes tak tertahankan, Ayana merunduk dan semakin merunduk seraya mencengkram dada sebelah kiri.


Tanpa mengucapkan sepatah kata napasnya memburu hebat. Ayana tidak kuasa melihat ke depan lagi, ditambah banyak sekali perkataan orang-orang di sekitar yang tertangkap pendengaran mengenai kondisi Bella terkini.


Semua orang terlihat panik, sebagian dari mereka langsung menghubungi kepolisian dan ambulans. Kondisi di jalanan itu pun semakin tidak karuan, kegaduhan semakin tercipta menjadi backsound ketakutan seorang Ayana.


Ia terus meremas kuat dadanya menyalurkan pengap. Ia menangis sesenggukan mencoba mencari pasokan oksigen yang tiba-tiba saja terasa terhambat.

__ADS_1


__ADS_2