
Di sudut ibu kota, seorang pria baya bertubuh tinggi, langsing tengah mengadakan sebuah pertemuan.
Di ruangan kedap suara yang hanya di terangi oleh lampu dengan cahaya remang di tengah-tengah pun membersamai delapan orang di sana.
Deburan ombak terdengar nyaring menambah kesyahduan. Semilir angin pun memantau kebersamaan mereka.
Dua orang saling duduk berhadapan, di belakang pria baya itu berdiri empat orang bodyguard yang memiliki berperawakan tinggi kekar.
Di depannya seorang wanita tengah melipat tangan di depan dada sembari diapit oleh dua orang bodyguard berpakaian jas serba hitam.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan pada saya?" ucap pria baya tersebut dengan suara serak.
"Presdir Han yang terhormat terima kasih atas kesempatan ini. Saya datang menemui Anda untuk menawarkan kesepakatan," balas sang wanita.
"Oh sungguh luar biasa, pianis muda sepertimu ingin bekerja sama dengan saya? Bella Ellena, putri tunggal dua pianis kebanggan bangsa kita, ah tapi itu dulu, bagaimana keadaan Arsa dan Aruna?" tanya Presdir Han begitu saja.
Bella menghela napas pelan lalu mengangguk singkat.
"Mereka baik ... sangat baik. Saya datang ke sini bukan untuk membahas hal itu tapi-" Bella menjeda kalimatnya lalu menengadahkan tangan kanan ke samping.
Salah satu orang di belakangnya pun bergegas memberikan berkas yang diminta tanpa bersuara.
Setelah itu Bella menyebarkannya di meja bulat tengah-tengah mereka. Presdir Han melihat apa yang dibawa wanita muda ini.
"Oh, jadi kamu sudah mempersiapkan semuanya?" ucap Presdir Han terkesima atas perbuatan Bella.
"Tentu, saya sudah sangat siap," balas Bella.
Di meja itu terdapat beberapa foto saat pemilik perusahaan ternama tersebut tengah melecehkan Ayana.
Tepat saat kejadian itu berlangsung, Bella ada di sana dan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi apa yang hendak dilakukan sang tuan rumah.
Awalnya Bella tidak percaya melihat hasil yang diberikan orang suruhannya. Namun, saat ini ia memanfaatkan itu untuk membalas dendam pada Ayana.
Ia tidak terima saat mendapatkan balasan sang pelukis atas tuduhan yang dilakukan padanya. Bella semakin tersulut emosi kala mendengar keduanya kembali bersama.
"Saya tahu Anda menyukai Ayana, kan? Saya bisa memberikan dia pada Anda, asalkan-"
__ADS_1
"Tanpa bantuanmu saya bisa mendapatkannya," potong Presdir Han pongah.
"Sepertinya saya salah menilai Anda. Lalu, apa Anda tahu jika di masa lalu saya pernah menikah dengan Zidan dan menjadi madu Ayana? Sangat mudah bagi saya mendapatkan kelemahannya dan menjerat Ayana untuk lebih dekat dengan Anda." Bella memakai kartu asnya dan hal tersebut berhasil membuat Presdir Han tertarik.
Pria tua itu menegakan tubuh dan mencondongkannya ke depan. Ia menopang dagu di atas meja melihat tawaran yang diberikan.
"Apa yang bisa saya dapatkan jika membantumu?" tanya Presdir Han kemudian.
"Mudah, saya ingin bersama Zidan dan kembali menyandang predikat sebagai pianist couple lagi," balas Bella melengkungkan sebelah sudut bibir.
"Oh itu, sangat mudah. Asalkan kamu berhasil membawakan Ayana. Saya benar-benar telah jatuh cinta padanya," ungkap pria baya tersebut.
Bella mendengus pelan, "tenang saja, Tuan akan mendapatkan Ayana utuh, seutuh-utuhnya."
Pandangan mereka pun saling bertubrukan. Baik Bella maupun Presdir Han memberikan keyakinan satu sama lain.
Keduanya lalu menyusun rencana untuk melancarkan aksi. Bella semakin tersenyum lebar kala mendapatkan kubu terkuat di negaranya.
"Dengan ini aku bisa menggenggam lagi kelemahan mereka. Awas saja Ayana, sekarang aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa pun seenaknya padaku. Siapa suruh berurusan dengan Bella," batinnya tajam.
Seminggu setelah itu, pengawasan terhadap Ayana diperketat. Orang-orang kepercayaan dari pihak Presdir Han maupun Bella saling bergantian memperhatikan wanita pelukis tersebut.
Setiap hari di saat Ayana mulai beraktivitas untuk membuka galeri dua orang di sudut timur dan tiga orang di barat melihat gerak-geriknya.
Hal tersebut tentu saja membuat target langsung menyadarinya. Mereka tidak tahu jika kafe dekat galerinya adalah orang-orang Ayana.
"Sejak seminggu yang lalu mereka terus mengawasi mu, harap hati-hati," ucap Galih yang kini sudah bersikap informal.
Ayana meminta mereka semua menganggapnya sebagai teman dan bekerja sama layaknya saudara. Tentu saja orang-orang yang bekerja di kafe menyambutnya sangat baik.
Bagi mereka membantu Ayana adalah sebagai tugas yang harus di jalankan untu membalas kebaikan keluarga Arsyad.
"Baik, terima kasih informasinya, Galih. Harap kalian juga hati-hati di sana, aku yakin ... cepat atau lambat orang-orang itu menyadari jika aku bekerja sama dengan kalian. Harap tidak memakai earphone terlalu mencolok, dan gunakan saja di waktu-waktu penting seperti ini," kata Ayana seraya sibuk melukis memberikan gesture jika dirinya benar-benar berada di dunianya sendiri dan tidak berbicara dengan orang lain.
"Baik, dimengerti. Kalau begitu sampai jumpa lagi," ucap Galih mengakhiri panggilan.
Ayana kembali memfokuskan diri pada hobi yang kini telah menjadi profesi. Garis demi garis terus tertuang di atas kanvas besar itu.
__ADS_1
Ia beranjak dari duduk melihat karyanya yang masih setengah jalan.
"Alhamdulillah, lebih baik aku salat ashar dulu," ucapnya dan meletakkan kuas di dudukan kanvas.
Di rasa tidak ada siapa pun di sana, seseorang datang. Seruni yang juga ikut beribadah tidak menyadari jika ada yang masuk ke toko.
Di saat Ayana dan Seruni menjalankan ibadah, galeri tersebut selalu di kunci serta diberi tanda jika mereka tengah beristirahat di pintu masuk.
Dengan kemampuan yang dimilikinya pria itu bisa membuka akses pintu toko Ayana sangat mudah.
Seorang pria berjas hitam dengan kacamata senadanya, meletakkan kamera pengawas berukuran sangat kecil di kuas melukis Ayana.
Setelah itu ia buru-buru pergi dan melaporkannya pada sang tuan.
Beberapa menit kemudian, Ayana dan Seruni selesai melaksanakan salat ashar. Mereka kembali pada kesibukan masing-masing dan membuka toko lagi.
Di saat Ayana hendak menggapai kuas lukisnya, tiba-tiba saja firasat dalam benak mengatakan untuk tidak mengambilnya.
Tangan kanan itu mengambang di udara lalu menoleh ke samping kiri dan menyadari jika tanda di pintu sebelum ia meninggalkannya sudah berubah.
Ayana berjalan mendekat dan melihat pin rambut yang diletakkan di celah pintu sudah berada di bawah. Seseorang sudah masuk dan membukanya hingga pin itu tergeletak di lantai.
"Siapa yang melakukan ini? Apa yang mereka letakkan di sini? Apa itu kamera atau jangan-jangan penyadap suara?" Diam-diam Ayana menyapukan pandangan ke sekitaran galeri.
Tidak ada yang aneh, semuanya masih sama seperti terakhir kali ia lihat. Sampai pandangannya pun beralih ke kuas yang tergeletak di tatakan kanvas.
"Apa jangan-jangan seseorang meletakkan sesuatu di sana? Siapa dan apa tujuannya?" Ayana terus membatin.
Ia lalu berjalan mendekati Seruni yang berada di meja kasir.
"Aku akan ke ruangan sebelah dulu," ucapnya, Seruni hanya mengangguk mengiyakan.
Ayana duduk di ruangan rahasia yang berukuran sedang, di sana hanya muat untuk dua orang.
Ayana pun langsung memutar rekaman CCTV dengan kamera berukuran kecil yang diletakkan sangat terpencil dan jauh dari jangkauan.
Tanpa mereka sadari kamera itu terus memantau keberadaan orang-orang, ia berada di salah satu lukisan Ayana yang terpajang tinggi di galerinya.
__ADS_1