
"Ghazali dan Ghaitsa, nama yang sangat bagus. Apa artinya, Mas?" tanya Ayana lagi setelah mereka mengakhiri acara haru biru.
Zidan memandangi bayi kembarnya bergantian seraya melebarkan senyum. Ia sangat terbawa suasana mendapatkan hari di mana dirinya bisa berkumpul lagi dengan Ayana dan juga buah hati mereka.
"Ghazali artinya imam yang baik. Aku harap anak ini bisa menjadi imam terbaik untuk keluarganya kelak dan membimbing ke jalan Allah semata. Juga... aku ingin dia menghargai perempuan yang benar-benar mencintainya."
Saat ini Ayana kembali terbawa arus penyesalan yang terpampang jelas di wajah tampan Zidan. Ia pun menepuk pelan lengan sang suami membuatnya menoleh sekilas.
Ia mengerti jika apa yang dikatakan Zidan mengandung makna akan perbuatannya di masa lalu. Pasangan hidupnya tidak ingin sang anak berperilaku sama seperti ayahnya.
Ayana mengembangkan senyum memperlihatkan jika semua akan baik-baik saja. Zidan hanya takut jika putranya mewarisi kelakuan bejadnya, itulah yang ia rasakan.
"Kita harus bekerja sama dalam mendidiknya agar menjadi seorang pria bertanggungjawab," ucap Ayana kemudian.
Zidan hanya mengangguk singkat dan kembali memandangi sang jagoan yang terlelap di gendongannya.
"Lalu untuk Ghaitsa?" tanya Ayana lagi.
"Ghaitsa memiliki arti awan yang menurunkan hujan. Aku berharap putri cantik kita ini membawa keberkahan pada orang-orang di sekelilingnya, seperti hujan."
"Kamu tahu, hujan bisa mendatangkan rahmat juga bencana. Aku ingin anak kita bisa menjadi manfaat bagi semua orang," balas Zidan memandangi sang putri yang tengah Ayana gendong.
Pelukis cantik itu pun mengangguk singkat, ia mengerti dan memahami kata-kata yang suaminya lontarkan.
Ayana sangat senang, sungguh bahagia Zidan menyiapkan nama untuk kedua buah hati mereka dengan sangat baik.
Bahkan jauh dari bayangan sang pelukis itu sendiri.
"Maa syaa Allah, namanya bagus sekali. Aku setuju dengan nama Ghazali dan Ghaitsa, semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah," ungkap Ayana penuh harap.
"Ghazali, Ghaitsa, Ghazella... kalian benar-benar mirip. Kalian bertiga adalah harta terindah dan tak ternilai yang aku punya," ungkap Zidan lagi, haru.
Ayana bergumam "em" mengerti seperti apa perasaan sang suami. Ia juga merasakan, betapa leganya sudah mendapatkan keluarga lagi. Kekosongan di dalam hatinya benar-benar telah tertutup oleh keberadaan mereka.
"Dan untuk nama belakangnya? Kita beri nama Ashraf, kan?" tanya Ayana kemudian.
"Eh, apa kamu tidak apa-apa?" tanya balik Zidan, bimbang.
Mendengar pertanyaan tersebut kedua alis sang pelukis saling bertautan erat. Ia bingung mendengar kata tidak apa-apa dari suaminya.
"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak apa-apa? Maksudnya?" Ayana kembali memberikan pertanyaan lain.
__ADS_1
Zidan melepaskan kontak mata dengannya. Ia berpikir jika Ayana tidak ingin menggunakan nama belakang keluarganya, mengingat kelakuan yang pernah tetua Ashraf itu lakukan kepada orang tua sang istri.
Serta, ia dan keluarga besar telah menyakitinya secara langsung.
"Ashraf, keluargaku benar-benar sudah menyakitimu, Ayana. Apa kamu masih mau menggunakan nama itu untuk nama belakang putra-putri kita?"
Suara Zidan begitu lirih, mengingat kejadian tidak diharapkan kedatangannya. Dengan kejam sang nenek telah membunuh mertuanya tanpa perasaan.
Ayana terkesiap sekilas, dan setelah itu bulan sabit muncul mengerti apa yang menjadi kegelisahan sang suami.
Ia kembali menggenggam tangan pasangan hidupnya erat.
"Lihat aku, Mas!" titah Ayana membuat Zidan kembali berpaling padanya.
"Apa pun yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa mengubah apa-apa, tetapi nama itu mengandung kebaikan yang sudah orang tua berikan."
"Jadi, tidak ada salahnya dengan nama Ashraf, toh nama dan kelakuan seseorang tidak ada hubungannya, serta jangan sama ratakan. Kelakuan orang itu dan namanya sangat berbeda jauh."
"Ashraf berarti lebih mulia. Apa kelakuan nenekmu waktu itu mulai? Jadi, jangan samakan nama yang melekat padanya dengan kelakuan buruknya," tutur Ayana hangat.
"Tapi, tetap saja jika orang-orang tahu siapa tetua Ashraf pasti mereka akan membencinya, termasuk buah hati kita... sebagai keturunannya," kata Zidan khawatir.
Ayana mendengus pelan dan terkekeh begitu saja.
"Lagi pula, tetua Ashraf yang sebenarnya kan bukan nenekmu, tetapi... kakek mu, benar?" tanya Ayana lagi.
Zidan termenung, lalu terkesiap membenarkan apa yang diucapkan Ayana barusan.
"Ah, kamu benar, Sayang. Maaf, aku terlalu banyak berpikiran negatif. Aku hanya takut dan mencemaskan masa depan mereka," ucapnya lagi.
"Em~" Ayana menggelengkan kepala beberapa kali. "Mas tidak usah minta maaf, aku tahu... Mas sangat menyayangi mereka dan sudah memperhatikan masa depannya."
"Tetapi, yang harus Mas ingat masa depan belum tentu seburuk itu. Kita bisa menciptakannya bersama-sama," kata Ayana lagi.
"Maa sya Allah, aku sangat beruntung memilikimu lagi, Sayang." Zidan kembali membubuhkan kecupan mendalam di dahi sang istri.
Ayana menerimanya dengan hangat seraya menutup mata menikmati sentuhan suaminya lagi.
Ia benar-benar bahagia dan lega bisa mendapatkan keluarga utuh lagi. Ia berharap kali ini mereka bisa sama-sama membangun keluarga kecil harmonis.
Ghazali Ashraf dan Ghaitsa Ashraf, kedatangannya memberikan kebahagiaan serta pelengkap bagi mereka.
__ADS_1
...***...
Di kamar sebelah, Jasmine sedari tadi terus mengalami muntah berulang kali. Beruntung malam ini sang suami sedang dinas dan tidak ada di rumah.
Ia tidak mengerti kenapa sejak sore tadi merasa tidak enak badan dan mual. Ia membasuh muka di wastafel dan memandangi wajah pucat nya di cermin.
"Ada apa denganku? Apa aku?" Jasmine menghentikan ucapannya dan berdiri tegak.
Ia melihat perut ratanya dan dengan tangan gemetar menyentuh permukaan nya perlahan. Manik keabuan nya tidak sedikitpun beranjak di sana.
Ia lalu mengelusnya pelan dan membangkitkan sebuah senyum simpul.
"Apa aku hamil?" tanyanya pada keheningan.
Harapan itu semakin melambung tinggi, jika gejala yang ia alami sama seperti Ayana mengalami morning sickness nya dulu.
Fajar menyingsing, pagi-pagi sekali Jasmine kembali ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening. Ini kesekian kalinya ia melakukan hal sama.
Ia benar-benar takut sesuatu telah terjadi, tetapi dirinya tidak bisa memberitahu siapa pun. Entah kenapa ia merasakan firasat tidak enak.
Seperti tadi malam, kedua tangannya bertumpu di wastafel memandangi wajah putihnya yang semakin pucat.
Jasmine menghela napas kasar dan menarik rambut panjangnya ke belakang.
"Bagaimana kalau sebenarnya aku tidak hamil? Apa mamah akan menanyaiku lagi? Apa aku bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini?" racau nya sendirian di kamar mandi.
"Tidak Jasmine... kamu tidak boleh pesimis seperti ini sebelum tahu kebenarannya. Baiklah, aku harus memeriksakannya sendiri. Aku tidak bisa memberitahu mas Danieal, apalagi Ayana. Dia sedang bahagia sekarang dengan kedua buah hatinya."
"Aku tidak boleh me-racau atau mengganggu ketenangan nya dengan ini," celoteh Jasmine lagi dan lagi.
Ia memaksakan senyum dan membasuh wajahnya untuk tetap tegar menghadapi apa pun yang terjadi.
Setelah itu ia kembali memandangi dirinya di cermin dan menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
"Baiklah, aku bisa menghadapinya," ucapnya kemudian.
Tidak lama ia pun mandi dan bersiap untuk menyambut kepulangan sang suami.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Semuanya benar-benar menjadi sebuah misteri dan hanya Allah saja yang tahu.
Apa pun yang terjadi sudah menjadi ketentuannya, sebagai hamba yang percaya jalani serta lalui sebaik mungkin agar Allah pun memberikan balasan setimpal.
__ADS_1
Jangan menyerah pada keadaan dan jangan dikalahkan oleh keadaan, hadapi dengan kuat dan bersabar untuk mendapatkan kebaikan setelahnya.
Karena Allah tahu apa yang terbaik dan sebaik-baiknya Maha Pemberi.