Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 28


__ADS_3

Bak lukisan hidup, pemandangan di depan mata begitu sempurna. Garis demi garis terasa memanjakan memberikan efek menenangkan.


Allah jika sudah menciptakan sesuatunya pasti sangatlah indah dan sempurna.


Layaknya berada di dunia dongeng menjelma menjadi nyata, bukit yang tengah mereka pijak menyuguhkan alam luar biasa.


Gunung-gunung dengan pepohonan hijau tumbuh subur menghadirkan udara yang begitu sejuk. Di bawahnya terdapat aliran sungai dengan berbagai jenis bunga menambah kecantikan, memberikan aroma syahdu. Ditambah kupu-kupu beterbangan semakin betah berada di sana.


Langit cerah berwarna biru terang dan gradasi awan putih berarak melengkapi kesejukan. Perlahan angin berhembus menentramkan sanubari dari segala hiruk pikuk permasalahan.


"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? MasyaAllah, sangat cantik," gumam Ayana takjub pada apa yang dilihatnya kali ini.


Jari jemarinya saling bertautan erat menyalurkan perasaan terdalam. Hatinya benar-benar bahagia, ia lega bisa datang ke Negara X menikmati ciptaan Allah yang sungguh luar biasa indah nan luas.


"Apa kamu suka di sini, Sayang?" tanya Zidan merangkulnya hangat.


Ayana menoleh sekilas dan kembali memandang lurus ke depan.


"Em, aku sangat suka," balasnya mengangguk penuh antusias.


Zidan mengulas senyum lembut lalu membalikan tubuh sang istri hingga menghadapnya. Kedua tangan itu pun mendarat di bahu sempit Ayana sembari memandangnya dalam.


"Aku minta maaf, dulu ... tidak pernah sekali pun mengajakmu bulan madu. Di awal pernikahan, aku hanya bisa menyakitimu lagi dan lagi. Aku-"


Ayana melayangkan pukulan pelan di pipi sang suami, suaranya sedikit terdengar nyaring mengejutkan. Zidan menghentikan ucapan merasakan hangat menjalar dari telapak tangan pasangan hidupnya.


"Mas tahu ... apa yang membuatku memutuskan untuk kembali dan memberikan kesempatan kedua? Bahkan ... aku juga menyetujui perceraian kita yang batal?" cerca Ayana dengan pertanyaan.


Zidan hanya menggeleng singkat, memandang lekat sepasang jelaga yang tengah memindai nya serius.


"Karena ... Mas sudah rela kehilangan nyawa untuk melindungi ku."


Setetes cairan bening pun meluncur begitu saja, Zidan mengusapnya lembut seraya menangkap bulan sabit melengkung indah di wajah cantik itu.


"Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat merindukanmu, Mas."


Iris kelam Zidan melebar, tanpa mengatakan sepatah kata ia langsung memeluk istrinya erat. Di bawah langit cerah siang itu mereka saling menyalurkan kehangatan satu sama lain.


Tidak ada siapa pun di sana, bak tempat pribadi keduanya menikmati pemandangan dengan saling melempar kasih sayang.


...***...


"Apa? Tuan Zidan mengambil cuti selama satu minggu? Kenapa? Apa beliau sedang melakukan konser?" tanya Kirana pada asistennya yang sedang istirahat di tengah pemotretan.

__ADS_1


"Bukan, aku dengar tuan Zidan pergi berbulan madu dengan istrinya. Seperti itulah desas desus yang aku dengar," jawab asisten perempuannya, Delia.


"Apa? Bulan madu?" Kirana semakin tidak mengerti.


"Em, mungkin sedang program hamil? Seharusnya tuan Zidan kan sudah punya anak," celoteh Delia sembari menikmati salad buah.


"Ah, iya kamu memang benar."


"Dia memang seharusnya sudah punya anak. Ayana ... wanita itu? Apa benar di masa lalu dia pernah di madu oleh suaminya? Dari artikel yang aku baca semalam, Ayana adalah anak dari pasangan orang kepercayaan keluarga Ashraf dan mereka menikah karena perjodohan."


"Ada wanita bernama Bella juga. Dia yang sangat dicintai mas Zidan, jadi masa lalu mereka benar-benar rumit? Entah kenapa ini sangat menarik. Jika rumah tangga mereka didatangi orang ketiga lagi ... apa yang akan terjadi? Wah, ini sangat menyenangkan, aku tidak bisa membiarkan wanita itu terus menerus bahagia setelah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku!" monolog Kirana dalam diam.


"Hei, KIRANA!" Delia berteriak tepat di samping telinganya membuat sang empunya terlonjak kaget.


"Apa yang kamu lakukan?" keluh Kirana mengusap-usap telinga yang terasa berdengung.


"Habisnya aku panggil sedari tadi tidak di respon juga. Cepat! Sebentar lagi pemotretan kedua di mulai," ungkapnya.


Kirana mengangguk pelan melihat kepergian sang asisten.


Di tempat berbeda, Danieal yang baru saja menyelesaikan operasi mendapatkan kabar menggembirakan.


Ia dikirimi banyak sekali foto dari adik kecilnya. Di dalam potret demi potret itu Ayana nampak bahagia bersama Zidan.


Selepas itu Danieal memasukan kembali ponsel ke dalam saku dan berjalan di lorong rumah sakit.


Baru beberapa langkah berjalan, kakinya kembali terhenti. Ia melihat pria seusianya tengah memandang lurus memberikan sorot mata penuh makna.


Dahi tegas Danieal pun mengerut tidak biasanya orang suruhannya datang langsung menemuinya.


"Chen? Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang sakit?" tanyanya berjalan mendekat.


Chen, merupakan anak buah Danieal yang selama ini telah mengawasi keberadaan Kirana.


Selama delapan tahun pria blesteran tersebut menjadi kaki tangan sang dokter. Namun, mereka tidak menyangka jika Kirana akan kembali ke tanah air.


Kepulangannya itu tidak terdeteksi mendatangkan keterkejutan luar biasa.


"Tidak, ini tentang K," jelas Chen menggunakan inisial.


Manik jelaga Danieal membulat tidak percaya. Buru-buru ia membawa pria itu ke ruangan pribadinya menghindari curiga dari yang lain.


Sesampainya di sana, mereka duduk saling berhadapan dan mulai membuka obrolan rahasia.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan lagi?" tanya Danieal penasaran.


Chen mengeluarkan sesuatu di balik saku mantel dan meletakannya di atas meja tengah-tengah mereka.


Danieal yang mengikuti pergerakannya pun dibuat terkejut sekaligus heran.


"Foto apa ini?" tanyanya.


"Ini-" Chen pun menjelaskan semuanya.


Kata demi kata yang keluar dari mulut menawan pria itu semakin membuat degup jantung dokter tampan tersebut bertalu kencang.


Ia tidak menduga dan menyangka jika permasalahan demi permasalahan terus mendatangi. Ia tak percaya selama bertahun-tahun waktu sudah banyak merubah seseorang.


"Jadi ... maksudmu kedatangan dia kembali ke tanah air untuk-"


"Untuk menagih janji almarhumah sekaligus menghancurkan keluarga kalian. Sebenarnya dari awal dia sudah tahu keberadaan nona Ayana," ungkapnya lagi.


"Benarkah?" tanya Danieal tidak percaya.


"Itu benar, sejak saya masih mengawasinya di Negara R beliau tidak lepas memantau keluarga Anda," tuturnya.


Danieal semakin membola, selama delapan tahun dirinya pikir Kirana sudah menghilang, layaknya angin, keberadaan wanita itu tidak bisa diprediksi. Fakta mengatakan menghilangnya Kirana disebabkan ada udang di balik batu.


...***...


"Sayang, jadi kamu mau kan mengadopsi Raima sebagai anak kita?" Zidan memperlihatkan bayi berusia lima bulan di ponselnya.


Di dalam layar menayangkan video Raima yang tengah tertawa. Hati siapa tidak tergerak meyaksikan bayi menggemaskan, terutama bagi wanita yang pernah kehilangan buah hati.


"Aku-"


"Ah, Mas tidak bermaksud-"


"Aku mengerti Mas." Ayana menoleh pada suaminya yang tengah duduk di sebelah.


Saat ini mereka tengah beristirahat di kamar hotel setelah seharian menikmati tempat-tempat menyenangkan di negara tersebut.


"Baiklah, ayo kita anggap Raima seperti anak kita sendiri. Sepulang dari sini kita langsung menemuinya," lanjut Ayana membuat Zidan melebarkan pandangan.


Ia langsung memeluk istrinya hangat sembari tersenyum haru.


"Terima kasih, Sayang. Ini juga buat kebaikan kita, aku tidak ingin kamu kesepian," lirihnya.

__ADS_1


Ayana mengangguk mengerti dan membalas pelukan itu tak kalah erat.


__ADS_2