
Kemelut dalam diri berangsur-angsur menguap dan terbang ke angkasa lepas. Lega sudah pernyataan yang ia berikan membuat sebagian besar masalah telah menghilang.
Bulan sabit berpendar di wajah cantiknya, Ayana menyapukan pandangan lagi pada semua pasang mata yang kini tengah menatapnya lekat.
Ia tahu apa yang mereka pikirkan, kala kenyataan tidak sesuai harapan hanya kekecewaan didapatkan. Para wartawan itu berharap mendapatkan berita yang sesuai pesan anonim diberikan pada masing-masing orang.
Ayana mengetahuinya dari seseorang yang memberitahu pada ponsel miliknya. Setelah membeberkan fakta tadi, ia mendapatkan pesan yang semakin membuat dirinya tersenyum lebar.
Pesan itu berisi: "Bella, sudah menyebarkan pada para wartawan jika kamu adalah seorang pelukis yang senang memanipulatif banyak orang untuk kepentinganmu sendiri. Berhati-hatilah, wanita itu kemungkinan besar akan terus mengincar mu."
"Aku tidak pernah tahu jika Bella akan melakukan segala cara untuk terus menjatuhkan ku. Aku tidak sadar kejadian kemarin ... memberikan kesempatan padanya untuk menargetkan kelemahanku. Ya Allah, terima kasih sebab Engkau sudah memberikan kekuatan pada hamba," benak Ayana dalam diam.
Samar-samar ia mendengar orang-orang di hadapannya saling berbisik. Mereka mengatakan jika pesan yang didapatkan tidak sesuai fakta.
"Baiklah, karena sesi wawancara sudah selesai saya akan pergi dulu," kata Ayana beranjak dari duduk.
Langkah demi langkah ia ambil menebarkan aura percaya diri yang semakin menguar. Semua orang memandanginya dalam diam dan seketika sadar jika sang pelukis benar-benar meninggalkannya.
Seketika itu juga mereka beranjak dari duduk hendak menyusul Ayana. Pertanyaan demi pertanyaan lain pun diberikan yang hanya diberi senyuman dan anggukan sopan dari wanita berhijab tersebut.
Sampai Ayana pun menghilang di balik kendaraannya, mereka berhenti melakukan aksi. Para wartawan tersebut saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata dan bersamaan dengan itu mobil sang pelukis melaju.
Di tempat berbeda, Bella terbelalak menyaksikan pertunjukan yang diberikan Ayana. Ia tidak menyangka jika apa yang sudah dirinya susun kini berbalik arah.
Anak panah tengah menargetkan dirinya membuat ia kalang kabut. Bella yang tengah berada di studio latihan terkejut saat mendapati pemberitaan mengenainya.
"Ba-bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin wanita itu membocorkan masa lalu keluargaku? Dan ... dan dari mana rekaman ini diambil?" Bella terus meracau sembari menenteng benda pipih berukuran sedang dalam genggaman.
Ia lalu mendongak menatap sang lawan bicara dengan pandangan serius. Elisha, wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu pun hanya bisa menunduk dalam.
"Elisha, apa kamu mendengar ku? Dari mana Ayana mendapatkan rekaman ini?" tanya Bella lagi.
__ADS_1
Elisha menggenggam kedua tangan erat masih enggan menatap lawan bicaranya.
"Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa rekaman itu bocor," katanya takut-takut.
Bella menghempaskan tablet menghasilkan suara berdentum. Ia mengusap wajah gusar lalu berkacak pinggang.
"Bagaimana bisa percakapanku denganmu bisa bocor seperti ini? Waktu itu kita sudah mematikan kamera CCTV, kan?" tanya Bella lagi yang diangguki oleh Elisha. "Terlebih hanya ada kita di ruangan ini. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini terjadi?" Bella semakin tidak karuan menyaksikan ruang latihan yang menjadi saksi ucapannya beberapa tahun ke belakang.
Pada saat itu ia mendapatkan sebuah penghargaan sebagai pianist couple terfavorit. Elisha yang tengah menggenggam piagamnya pun dibuat takjub.
Bella dan Elisha sudah berkerja bersama-sama selama bertahun-tahun. Sejak ia debut sebagai pianis, wanita itulah yang dari dulu menjadi manager sekaligus asisten pribadinya.
Ia dipercaya oleh Bella untuk mengurus semua jadwal manggung sampai kehidupannya. Elisha bisa dibilang menjadi saksi hidup apa yang sudah sang pianis itu lakukan.
"Aku senang akhirnya kamu berhasil mendapatkan penghargaan," kata Elisha hari itu.
"Iya tentu saja. Aku bisa mendapatkan penghargaan apa pun jika terus bersama mas Zidan. Karena hanya bersamanya aku bisa diakui sebagai pianis. Aku akan memanfaatkan bakatnya untuk mendongkrak popularitas. Aku tidak bisa membiarkan dia terus menerus di atas awan dan membiarkan orang tuaku dilupakan," balas Bella kemudian.
Elisha menggelengkan kepala pelan. "Aku benar-benar terkejut dengan tindakanmu. Apa kamu mau balas dendam padanya?"
Elisha hanya bisa tersenyum masam melihat kesungguhan serta sakit hati di balik sorot matanya. Ia merupakan seorang anak yatim piatu yang sudah diangkat derajatnya oleh Arsa dan Aruna.
Mereka menemukan Elisha tengah kelaparan di tengah jalan dan membantunya. Setelah berumur remaja ia pun dipertemukan dengan Bella hingga membuatnya saling terhubung.
Setelah tahun berganti tahun, wanita itu pun membalas budi dengan menjadi manager dan asisten Bella.
Elisha tidak bisa berbuat apa-apa pada saat Bella memutuskan untuk menikah menjadi istri kedua. Namun, di balik itu ia tahu apa yang tengah sang pianis rencanakan.
Dalam diam Elisha membantunya. Mulai dari menjadi penulis anonim sampai pemberi pesan kepada para wartawan untuk memalukan Ayana.
Namun, kini ia sadar jika lawan yang mereka hadapi tidak bisa dianggap remeh. Ayana selalu memberikan kejutan demi kejutan tak terduga, seperti hari ini. Wanita pelukis itu memberikan permainan mereka ke tangan sang dalang.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Elisha membuat Bella menoleh kembali padanya.
Ia tersenyum penuh makna membuat Elisha lagi-lagi harus siap atas perintah yang hendak diberikan.
...***...
Sepanjang jalan Ayana terus mendengarkan lantunan sholawat yang diputar dalam mobil. Manik jelaganya memandang lurus ke depan di mana sang raja siang bertengger nyaman di singgasananya.
Cahaya menyilaukan itu menemani kesendirian. Ayana tersenyum senang saat masalah yang datang padanya kali ini berhasil diselesaikan.
Tidak lama kemudian sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel. Ayana menghubungkannya ke mobil dan seketika suara seseorang menyapa.
"Assalamu'alaikum, sungguh pertunjukan yang luar biasa, Ayana," katanya di seberang sana.
Ayana tergelak singkat dibuatnya, "Wa'alaikumsalam, berkat bantuan siapa dulu?" tanyanya membuat orang yang ada dalam panggilan tertawa pelan.
"Kamu bisa saja, aku yakin setelah ini wanita itu tidak bisa berkutik," ungkapnya lagi.
Ayana mengangguk setuju, "Benar, kita lihat saja nanti sampai mana dia akan bertindak."
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi."
Ayana tersenyum manis mendengarnya. "Terima kasih, sampai bertemu di ibu kota."
"Baiklah, hati-hati pada serigala itu."
Mereka pun tertawa senang dan lega atas pencapaian yang sudah berhasil dilalui.
Ayana tidak menyangka jika seseorang yang di temui di tempat itu memiliki kemampuan luar biasa. Ia terus menerus bersyukur kepada Allah telah dipertemukan dengan orang-orang baik hati.
Ayana mendapatkan kekuatan serta kepercayaan diri dari sosoknya yang sudah mendukung secara penuh. Ia bisa berhasil merih kejayaan berkat bantuan yang terus menerus diberikan.
__ADS_1
"MasyaAllah, terima kasih ya Allah, atas kelimpahan rahmat yang Kau berikan pada kami," gumam Ayana memandang sekilas pada langit siang ini.
Mobilnya pun melaju kencang di jalanan ibu kota membelah angin.