
"Man Jadda Wajada"
“Barang Siapa Yang Bersungguh-sungguh Pasti Berhasil”
Itulah sebuah kalimat yang selalu Ayana ungkapkan pada dirinya.
Setiap hari, setiap waktu, setiap saat dikala kegelisahan ataupun kepelikkan membayangi kalimat tersebut menjadi sebuah kekuatan.
Bagaikan magic kata-kata itu selalu memberikan kekuatan padanya. Seperti la tahzan innallaha ma'ana yang artinya "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." merupakan sepenggal ayat dari surah At Taubah ayat 40.
Ayat tersebut mengandung arti di mana ketika mengalami kesedihan apa pun Allah senantiasa hadir dan memberikan solusi bagi setiap hamba-Nya.
Itulah yang selalu Ayana rasakan. Setelah mendapatkan musibah selama enam tahun berubah tangga ditambah dengan kejadian demi kejadian setelahnya, ia hanya bergantung kepada Allah semata.
Sampai Allah memberikan solusi berupa kekuatan serta kesabaran baginya selama ini.
Setelah mendapatkan kejadian kurang mengenakan beberapa hari ke belakang, Ayana berusaha membangun kepercayaan dirinya lagi untuk terus berkarya.
Ia menciptakan lukisan demi lukisan baru sebagai pelampiasan di kala rasa sakit datang menerjang. Namun, di tengah kesibukannya ia dikejutkan dengan pikirannya sendiri.
"Benar, aku harus segera menemui ibu Bening. Aku harus segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, sebelum Bella melakukan tindakan," gumamnya.
Ia lalu melepaskan apron melukisnya yang sudah penuh cat minyak. Ia meletakkan di atas kursi kayu dan bergegas keluar ruangan seraya menyambar tas selempang.
Setelah menitipkan galeri kepada Seruni, Ayana bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukan nya ke suatu tempat.
Di tempat yang berbeda, Zidan tengah bersitegang bersama keluarga besar. Di sana juga sang mantan istri turut hadir sebagai pembawa pengaruh besar kepelikkan tersebut.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Apa aku salah ingin bersama Ayana? Aku tidak akan mendengarkan apa pun kata kalian," ucap Zidan tinggi.
__ADS_1
"Ini untuk kebaikanmu, Zidan. Mamah tidak ingin melihatmu terus menerus terluka seperti ini," kata ibunya.
Zidan menghela napas kasar dan mengusap wajah gusar. "Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Di saat aku sudah membuka hati untuk Ayana, Mamah dan Ayah seperti ini?"
"Ayah dan Mamah jangan terus menerus memojokkan Mas Zidan. Dia sudah benar-benar menyesal dan belajar dari kesalahan. Aku yakin mbak Ayana tidak mungkin memiliki niat buruk pada Mas Zidan," ucap Gibran membela sang kakak. Ia juga yang menjadi saksi bagaimana perjalanan rumah tangga mereka.
"Apa kamu lupa? Ayana yang sudah membuat Mas Zidan mendapatkan luka besar di lengannya? Itu berarti Ayana memang mempunyai niat untuk melukai atau bahkan membunuh Mas-"
"DIAM KAMU!" Zidan geram menunjuk tepat di depan wajah Bella membuatnya terperangah. "Ayana tidak berniat mencelakai ku, justru ... aku mencegah perbuatannya untuk melukai diri sendiri dan tanpa sengaja ... pecahan kaca itu melukai lenganku," jelas Zidan menceritakan sebenarnya.
"Itu tidak mungkin, Mas membelanya untuk menutupi perbuatan Ayana. Wanita itu benar-benar sudah berubah dia bisa saja memanipulasi kejadian yang sebenarnya. Kita semua tahu jika selama satu setengah tahun ini Ayana sudah menipu kita semua dengan memalsukan kematiannya. Itu berarti dia bisa melakukan apa pun untuk mencapai apa yang ia inginkan," jelas Bella beruntun.
"Jika ucapan mu memang benar, apa kamu punya bukti untuk menguatkan spekulasi mu ini?" tanya Gibran kemudian.
"Jangan mengada-ngada lagi, aku muak harus berurusan dengan permasalahan tidak mendasar ini. Gibran bisa antar Mas ke kamar?" pinta Zidan menatap pada sang adik.
Gibran mengangguk mengiyakan dan langsung mendorong Zidan meninggalkan mereka.
Pintu dibanting kasar, Zidan kembali menghela napas berat seraya menarik kursi rodanya memasuki kamar.
Tidak lama berselang pintu di buka lagi oleh Gibran yang tadi mengambil tablet miliknya. Ia berjalan mendekati sang kakak lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Apa di ruangan ini kejadian Ayana melukai tanganmu, Mas?" tanyanya langsung.
Zidan yang semula menatap lantai marmer memalingkan wajah pada adiknya.
"Em, di sinilah kejadiannya. Aku tidak bisa meletakkan Ayana di ruangan lain. Karena di kamar ini sudah banyak kenangan kami bersama," balasnya. "Kamu percaya kan Ayana tidak mungkin mencelakai Mas?" tanyanya balik.
"Tentu saja aku sangat percaya pada mbak Ayana. Wanita itu ... wanita ular itu, kenapa Mas sampai bisa berhubungan dengannya? Bahkan Mas sudah menyianyiakan wanita sebaik mbak Ayana," ucap Gibran.
__ADS_1
Zidan menggulirkan bola matanya menatap bawah lagi. "Aku melakukan kesalahan yang sangat besar. Sekarang aku menyesal," ungkapnya penuh keyakinan, Gibran berdehem sebagai jawaban.
Tidak lama kemudian pintu kamar diketuk beberapa kali. Zidan pun mempersilakan orang itu masuk dan melihat sosok Haikal menyembul ke dalam.
Ia memandangi kedua tuan mudanya memberikan anggukan singkat.
"Di luar ada dokter Danieal, beliau ingin menemui Anda Tuan Muda," jelasnya menatap pada Zidan.
"Bawa dia masuk," titahnya. Haikal pun mengiyakan dan kembali keluar.
Beberapa menit kemudian ia datang lagi bersama Danieal. Pria berstatus sebagai kakak sambung Ayana itu pun menatap sang pianis nyalang.
"Apa yang sedang kamu mainkan sekarang? Apa kamu tidak tahu Ayana sudah dua minggu ini terus menyibukkan diri di galerinya? Ia sama sekali tidak pernah pulang lagi ke rumah dan sekarang dia entah pergi ke mana. Apa yang sudah kamu dan keluargamu lakukan? Kenapa ada berita seperti ini?'" Danieal memperlihatkan sebuah artikel dalam ponsel.
Zidan dan Gibran pun sontak terkejut membaca judul di atasnya yang berbunyi "Ayana Ghazella kembali menuai kontra dengan memberikan kejutan tak terduga"
Isinya pun menceritakan tentang Ayana yang sudah mencelakai Zidan hingga membuat sang pianis hampir kehilangan nyawa.
Kecelakaan yang menimpa Zidan pun tidak luput dari berita artikel tersebut yang terus menerus menyudutkan Ayana.
"Penulis artikel ini anonim, kemungkinan dibuat oleh suruhan seseorang agar nama Ayana semakin buruk," kata Danieal lagi. "Aku datang ke sini untuk mencari kebenaran," lanjutnya lagi.
"Siapa yang berani-berani menjelekkan Ayana seperti ini? Aku pasti menemukan orang itu dan tidak akan membiarkannya," ucap Zidan menahan emosi.
Ketiga pria yang ada di sana pun menyaksikan bagaimana perubahan mimik wajah pianis tersebut. Mereka menyadari jika kini Zidan sudah benar-benar berubah.
"Lalu apa yang ingin Mas dapatkan dari kami?" tanya Gibran kemudian.
Danieal langsung menatap padanya, "Apa kalian punya rekaman CCTV di kamar ini? Itu akan memberatkan apa yang terjadi sebenarnya pada dini hari kemarin."
__ADS_1
Gibran, Danieal, dan Haikal pun kompak menoleh pada Zidan. Mendapatkan tatapan seperti itu dari mereka membuatnya mengangguk mengerti.
"Aku menyimpan kamera CCTV dan juga alat penyadap di ruangan ini. Kita bisa ke sebuah ruangan untuk mencari tahu kebenarannya," kata Zidan mereka pun mengangguk setuju dan bergegas pergi ke sana.