Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 95


__ADS_3

Menjadi seorang ibu adalah impian semua wanita yang sudah menikah dan mengharapkan keberadaan sang buah hati.


Keberadaan malaikat kecil begitu diharapkan bagi pasangan yang mendambakan buah hati.


Seorang anak yang Allah titipkan merupakan sebuah anugerah terindah. Keberadaannya mampu menghapuskan duka lara dengan kepolosan serta keimutan darinya.


Anak merupakan pelengkap kebahagiaan bagi pasangan yang mendambakan kehadirannya.


Namun, kadang kala sang buah hati yang tidak bersalah harus menanggung keburukan orang tuanya. Mereka terkadang dianggap abi dan tidak sedikit pula dibuang begitu saja oleh orang tuanya.


Bahkan mereka yang seharusnya menikmati indahnya dunia harus merelakan hidup dan dipaksa mengakhiri segalanya.


Begitulah kejamnya dunia gelap yang digilai oleh pasangan tanpa adanya ikatan pernikahan.


Sangat kejam dan tidak berperasaan orang tua membuang serta mengakhiri kehidupan seorang anak tak bersalah. Entah terbuat dari apa hati mereka, yang hanya bisa melakukan tanpa mau bertanggungjawab.


Tanpa hati nurani mereka membuang serta mengakhiri secara paksa kehidupan buah hatinya sendiri.


Seorang anak tak berdosa menjadi korban keegoisan semata. Semoga anak-anak itu mendapatkan surga terbaik dari Allah.


Setetes air mata mengalir tak tertahankan saat melihat satu tayangan yang memberitakan seorang ibu muda membuang bayi malangnya sendiri.


"Kenapa mereka harus melakukan hal itu jika tidak mau bertanggungjawab?  Kenapa harus membuang anak tidak berdosa itu? Apa salahnya?"


"Kenapa mereka sangat kejam? Astaghfirullahaladzim ya Allah."


Ayana terus berceloteh, menangis sedu sedan menyaksikan berita malam.


Ia yang masih berada di ruang televisi menonton sendirian sembari di temani sepiring buah-buahan.


Danieal yang berjalan melewati ruangan itu pun menghentikan langkah melihat sang adik meneteskan air mata. Ia tertarik dan berjalan mendekatinya lagi.


"Kamu kenapa?" tanyanya langsung.


"Itu Mas... masa iya ada seorang ibu yang tega membuang anak kandungnya sendiri! Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan anaknya?" adu Ayana sibuk mengusap air mata.


Danieal pun duduk di samping sang adik, ikut memperhatikan berita yang masih menayangkan pemberitaan menggemparkan tersebut.


"Wah... anak-anak zaman sekarang memang tidak tahu malu. Mereka hanya ingin melakukannya saja tanpa mau bertanggungjawab, itulah sebabnya Allah mengharamkan zina."


"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. Qur'an surah Al-Isra, ayat tiga puluh dua."


"Di sana jelas sekali bagaimana Allah sangat menentang hubungan sebelum pernikahan. Inikah akibatnya, astaghfirullah." Danieal mencak-mencak pada perbuatan tidak tercela mereka.


Ia juga sangat menyesal pernah menjalin hubungan tanpa dasar ridho Allah. Karena itulah ia dikhianati oleh Karina, wanita yang menjadi sahabat sejati mendiang sang adik sekaligus mantannya.


Jasmine yang sedari tadi berdiri di belakang mereka mengulas senyum lembut.

__ADS_1


Ia beruntung bisa mendapatkan suami yang sangat mengerti perihal agama.


Ia pun berjalan mendekat dan memberikan sepiring buah-buahan lagi untuk Ayana.


"Kata mamah jangan tidur terlalu malam," kata Jasmine duduk di samping sang adik ipar.


Ayana hanya mengangguk singkat dan menikmati buah-buahan nya lagi.


"Oh yah, di mana mas Zidan?" tanya Ayana kemudian.


"Mas Zidan sedang berbicara dengan orang tuanya di tempat makan," jelas Jasmine, pelukis wanita itu kembali mengangguk singkat.


"Jadi, kapan kalian akan punya anak?"


Pertanyaan mengejutkan datang dari Celia. Wanita baya itu datang lagi sembari membawa segelas susu hangat.


"Mamah." Panggil Ayana menerima susu hamil dari sang ibu.


"Iya Mah, sedang kami usahakan," balas Danieal mengulas senyum singkat.


Ayana yang pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu pun mengerti bagaimana perasaan Jasmine.


Tidak mudah memang kala mendengar pertanyaan sensitif seperti itu terutama dari orang terdekat.


"Jika sudah waktunya nanti juga Allah akan ngasih, tidak usah terburu-buru... Allah tahu kapan waktu yang tepat untuk kalian mempunyai anak. Aku juga lama menerima malaikat kecil ini," timpal Ayana mengulas senyum simpul menenangkan kedua kakaknya.


Mereka pun tidak membahasnya lagi dan mengubah topik pembicaraan.


...***...


Malam semakin larut, selepas menikmati waktu bersama keluarganya, Ayana berjalan menuju kamar yang kini berada di lantai satu.


Mereka sepakat memindahkan kamar Ayana dan Zidan di mansion itu di bawah agar ibu hamil tersebut tidak bolak-balik naik tangga.


Perlahan Ayana membuka pintu kamar dan melihat ada cahaya remang memasuki retina.


Ia terkesiap mendapati kamar dihiasi dengan lampu tumblr berwarna-warni. Nuansa hangat nan syahdu membuat Ayana terkesima dan mematung di tempat.


Ia masuk ke dalam dan langsung menutup pintu melihat banyak foto-foto dirinya dan sang suami terpanjang di sana.


Di lantai marmer tersebar kelopak bunga mawar merah menambah aroma. Pandangannya kembali menatap ke sekeliling menyaksikan banyak sekali kenangan mereka berdua.


"Wah, indah sekali," gumam Ayana menatap takjub pemandangan sekitar.


Tidak lama berselang pandangan Ayana ditutup sepasang tangan kekar dari belakang. Aroma maskulin menyebar menyapu indera penciuman.


Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantik Ayana. Ia melepaskan tangan sang suami lalu berbalik menghadapnya.

__ADS_1


"Apa sedari tadi Mas menyiapkan semua ini?" tanya Ayana penasaran.


Zidan mengangguk sekilas dan memandangi wajah cantik pasangan hidup.


"Aku ingin memberikan kejutan dan mengenang masa-masa yang pernah kita lewati bersama," ungkap sang pianis haru.


Mendengar nada suaranya yang begitu sendu, Ayana terkesiap. Ini pertama kali ia mendengar Zidan berbicara dengan nada seperti tadi.


"Apa yang Mas rasakan?" tanya Ayana lagi.


Zidan langsung menangkup wajah cantik sang pujaan dan memberikan kecupan di dahinya dalam.


"Aku... ingin menebus kesalahan yang pernah diperbuat, saat kita menikah dulu. Waktu itu aku berpura-pura bahagia."


"Padahal seharusnya, pernikahan yang terjadi seumur hidup dirasakan dengan bahagia," kata Zidan lagi.


Ayana kembali melengkungkan kedua sudut bibir membentuk kurva sempurna.


Ia pun menangkup wajah tampan prianya.


"Itu tidak masalah... karena bagiku sekarang keadaan kita sudah baik-baik saja. Jangan melihat masa lalu lagi, lebih baik sekarang kita fokus untuk anak ini,"ungkap Ayana mendapatkan anggukan dari sang suami.


"Benar apa kata orang-orang, kalau aku sangat beruntung bisa memilikimu sebagai istri ku, Ayana. Maaf jika aku pernah menyakiti mu dulu. Aku... benar-benar buta," jelasnya lagi.


Ayana terharu mendengar penuturan suami tercintanya lagi.


Dulu, ia sempat mengajukan surat perceraian dan tidak ingin kembali pada Zidan. Namun, melihat kesungguhan sang pianis dalam melindunginya Kanaya sadar jika pria itu benar-benar berubah.


"Jangan memujiku seperti itu. Aku bukanlah wanita sempurna yang layak mendapatkan semua kata-kata tadi. Aku juga manusia yang tidak luput dari dosa, maka dari itu kita... sama-sama membangun masa depan lebih baik," balas Ayana serius.


Zidan bertambah haru dibuatnya. Tanpa sadar cairan bening meluncur begitu saja di pipi mulusnya.


Ayana terkekeh pelan seraya mengusap lembut jejak air mata di sana.


Zidan tidak kuasa menahan tangis dan seketika memeluknya erat. Ayana tertawa kegirangan mendapati suaminya menangis.


"Mas seperti anak kecil saja. Aku seperti menenangkan bayi besar," kata Ayana lagi mengusap punggung Zidan perlahan.


Namun, di saat orang tuanya sedang menikmati waktu bersama, tiba-tiba saja Ayana mengaduh kesakitan.


Hal tersebut membuat Zidan terkejut dan buru-buru melepaskan pelukan dan bersimpuh di depan perut Ayana.


"Sayang, jangan menendang Mamah terlalu kencang yah. Mamah kesakitan, pelan-pelan saja yah sayang," ucap Zidan berkomunikasi dengan buah hatinya.


Ia pun memberikan kecupan mendalam di sana membuat Ayana melebarkan senyum sambil mengusap puncak kepala sang suami penuh kasih sayang.


Ia lega sangat bahagia bisa mendapatkan momen berharga seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2