Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 19


__ADS_3

Kata demi kata terus mendatangi dan memberikan luka ke relung hati. Dari dulu sampai sekarang masih belum ada tempat bagi Ayana di keluarga terpandang tersebut.


Ia masihlah seorang anak dari keluarga sederhana yang dijadikan bahan olok-olokan semata.


Sudah hampir satu tahun berlalu ia kembali pada sang suami, tetapi nyatanya keadaan tidak bisa diubah semudah membalikan telapak tangan.


Ia tetap pada posisinya sama layaknya dua tahun lalu.


Semua pasang mata kini tengah memandang ke arahnya. Para orang tua terus menerus memberikan ucapan menyakitkan yang tidak mudah dihapuskan.


Kata-kata itu bak anak panah yang melesat tepat sasaran, menimbulkan lubang, mengantarkan pada kepedihan.


"Sudahlah Nek, Tante Mega, Tante Daniyah, Tante Ghana, jangan terus menerus memojokkan Mbak Ayana." Gibran mencela membuat keempat orang itu menatapnya lekat.


"Itu benar, aku dan Ayana sedang berusaha. Nenek dan Tante semua tidak usah khawatir, aku-"


"Saya mohon maaf sebelumnya, apa kalian sudah selesai bicara?" Ayana memotong ucapan suaminya.


Zidan menggenggam pergelangan tangan sebelah kiri sang istri. Ayana tidak sedikit menoleh padanya dan terus memandang ke arah anggota keluarga satu persatu.


"Sepertinya sudah, karena tidak ada yang menjawab pertanyaan saya tadi. Maaf, bukan maksud saya tidak menghormati tetua Ashraf dan Tante semuanya, tetapi masalah anak bukan hak kita untuk membicarakannya. Karena Allah lah yang menentukan semua ... kita tidak bisa melangkahi keputusan takdir yang telah Allah berikan," kata Ayana membuat keadaan menjadi hening seketika.


Mega mendengus kasar mendengar kata-kata dilontarkan dari keponakan iparnya. Ia melipat tangan di depan dada seraya menatap lekat lagi pada pelukis di depannya.


"Kita juga harus berikhtiar, jangan hanya diam saja. Benar yah, uang bisa mengubah seseorang, termasuk kepribadiannya," ucap Mega lagi setengah menyindir.


Ayana semakin meremas tali tas sekuat yang dirinya bisa. Ia tidak peduli jika luka di telapak tangannya akan terbuka kembali.


"Saya tahu dan kami sudah berikhtiar sebaik mungkin, jika Allah belum memberikan, apa yang bisa kita lakukan? Menyalahi kehendak Allah?" balasnya lagi dan lagi.


Atmosfer di sana semakin memanas dan menegang, Zidan tahu saat ini suasana hati sang istri sedang tidak baik-baik saja.


Ia merasakan tubuh Ayana gemetar menahan amarah. Wajah putihnya sedikit memerah dengan sorot mata tajam.


"Ah, lihat semuanya aku tadi melihat bayi cantik sekali. Apa Nenek dan Tante semua mau lihat?" Zidan berusaha mengalihkan perhatian mendekati mereka.


Sontak aksinya itu pun membuat atensi keluarga beralih. Mereka melihat bayi berusia lima bulan di dalam ponsel Zidan.


Mereka terkagum-kagum betapa imut dan cantik bayi bernama Raima tersebut.

__ADS_1


Dalam diam Ayana menyaksikan senyum bahagia di wajah tampan sang suami. Adik ipar, kedua mertua, serta keluarga besar memberikan tatapan hangat.


Namun, ia tidak menyadari jika perbuatannya itu sangat berdampak pada diri Ayana.


"Sangat disayangkan, Zidan harus memamerkan anak yang bukan darah dagingnya. Seharusnya kamu malu, Ayana ... lihat suamimu! Dia menginginkan anak sendiri." Di tengah-tengah kemeriahan, suara Basima menggelegar.


"Dari awal kalian menikah pun, saya tidak pernah setuju. Kenapa harus kembali jika untuk mempermalukan keluarga? Sudah bagus kamu pergi, kenapa lagi-lagi hadir di keluarga kami?" lanjutnya menghunuskan pedang tak kasat mata tepat ke dasar hati terdalam.


"Kamu-"


"Sudah cukup Nek! Aku yang meminta Ayana untuk kembali. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Siapa pun tidak berhak menolak atas apa yang aku rasakan pada Ayana." Zidan melontarkan balasan menghentikan ucapan sang nenek.


"Lihat! Kamu berhasil membuat Zidan menjadi anak pembangkang seperti ini. Kamu benar-benar sudah berhasil!" Sepasang manik itu pun melebar memandang Ayana yang masih kukuh di tempatnya berdiri.


Kata demi kata yang terlontar barusan membuka luka lama mencuat ke permukaan. Dari awal sampai saat ini tidak ada kesempatan baginya untuk masuk ke dalam keluarga Ashraf.


"Saya minta maaf."


Setelah mengatakan itu Ayana bergegas pergi tidak sanggup terus menerus berada di sana.


Melihat hal tersebut Zidan langsung menyusul ke mana istrinya pergi. Ia khawatir benar-benar khawatir Ayana kembali terluka.


"Sayang tunggu! Sayang." Zidan berusaha menggapai Ayana yang terus berlari menuju parkiran.


Hingga tidak lama berselang ia berhasil mencengkram pergelangan tangannya. Ayana berbalik menatap nyalang pada sang suami.


"Puas Mas? Puas kamu memojokkan ku seperti ini? Kenapa kamu memperlihatkan bayi itu pada mereka, hah? Kenapa? Apa itu memang tujuanmu dari awal?"


"Oh, makan malam ini ternyata hanya alibi untuk mempermalukan ku, iya kan? Selamat yah Mas kamu sudah berhasil."


"Tidak Ayana, tidak seperti itu. Awalnya aku ingin membicarakan hal ini padamu, alangkah baiknya kita mengadopsi seorang anak untuk memancing kamu hamil. Aku-"


Ayana mendengus kasar, "memancing aku hamil? Tidak! Memancing luka itu benar, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Mas."


Ayana menghempaskan tangan Zidan kuat lalu masuk ke dalam mobil. Secepat kilat ia menginjak gas langsung meninggalkan sang suami di sana.


Zidan mengikuti ke mana kendaraan roda empat itu pergi sampai menghilang dalam pandangan.


"Ya Allah, apa lagi ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumamnya mengusap wajah gusar.

__ADS_1


...***...


Di temani deru mesin mobil Ayana menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong tanpa air mata menetes sedikit pun.


Hatinya benar-benar terluka, bagaikan ada tangan tak kasat mata meremasnya kuat, tetapi tidak ada isak tangis keluar.


Ia menggenggam stir mobil erat menimbulkan darah merembes dari balik luka menganga. Ia tidak mempedulikan hal itu. Karena baginya luka batin lebih perih daripada luka fisik.


Ia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membelah angin malam, hingga beberapa saat kemudian Ayana tiba di kediaman orang tuanya.


Ia pulang mengejutkan Celia, Adnan, dan Danieal yang baru saja menyelesaikan makan malam.


"Assalamu'alaikum, aku pulang Mah, Yah, Mas. Izinkan aku menginap di sini malam ini."


Tanpa menunggu balasan dari keluarganya, Ayana melengos begitu saja. Sontak hal tersebut semakin mengundang penasaran.


"Apa yang terjadi? Kenapa adikmu pulang dengan keadaan seperti itu?" tanya Celia pada anak pertamanya.


Danieal menggeleng singkat sembari menatap kepergian sang adik.


"Kenapa Ayana seperti menahan kesakitan? Kamu harus memastikan sesuatu Danieal," timpal Adnan membuatnya mengangguk.


Dalam diam Danieal menangkap perban di tangan kanan adiknya merah pekat. Perasaan seorang kakak terlebih dirinya adalah seorang dokter yang telah menangani Ayana bertahun-tahun pun mengetahui sesuatu.


"Aku temui dia dulu," katanya, membawa kotak P3K dan langsung berjalan menuju lantai atas.


Celia dan Adnan saling pandang, mereka khawatir sekaligus takut. Tidak biasanya Ayana pulang dalam keadaan sendu.


Sebagai seorang ibu dan ayah yang mendapati putrinya seperti itu langsung menyimpulkan jika sesuatu telah terjadi.


Mereka pun sudah pernah mengalami dan bahkan kecolongan pada saat Eliza terpuruk.


"Aku tidak ingin Ayana kembali terluka, Mas," kata Celia menahan isak tangis.


Dengan sigap Adnan merangkulnya dan mengusap pundak sang istri pelan.


"Kamu jangan khawatir, Ayana pasti baik-baik saja. Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," balasnya.


Celia mengangguk singkat dan menangis di bahu tegap suaminya. Ia tidak ingin melihat siapa pun lagi terluka akibat trauma masa lalu.

__ADS_1


Hal yang tidak pernah ia dapati adalah terpuruknya seorang anak, terutama Ayana. Bagaikan pukulan telak yang mengingatkannya akan kehilangan sang buah hati.


__ADS_2