Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 17


__ADS_3

"Bukankah Anda Ayana Ghazella? Pelukis terkenal dengan makna-makna dalamnya?"


Pertanyaan tadi terus berdengung, mengudara belum mendapatkan jawaban.


Ayana terus memandangi pria baya di hadapannya yang tengah mengembangkan senyum. Ia memindai, memperhatikan secara detail tatapan yang sedang dilayangkan.


Perlahan kedua sudut bibir ranumnya pun ikut melengkung, menghindari kecurigaan.


Radarnya kembali bekerja untuk berhati-hati pada pria asing yang belum pernah Ayana lihat sebelumnya.


Mendapatkan pertanyaan yang mengarah pada diri sendiri, intuisinya berkata agar tidak ceroboh dalam memberikan keputusan.


"Iya itu benar," balas Ayana kemudian.


Alexa semakin tersenyum lebar dan sepenuhnya memberikan perhatian pada Ayana. Ia mengabaikan Zidan yang memandangi keduanya bergantian.


Entah kenapa sang pianis juga merasakan sesuatu tidak biasa setelah pertanyaan tadi didengungkan. Bagaikan ada kilatan api memercik dalam sorot mata mereka, Zidan mendapati ketegangan di sana.


"Apa Anda mengenal istri saya?" tanya Zidan melepaskan atmosfer pelik di sekitar keduanya.


Alexa kembali menoleh dan mengangguk singkat.


"Siapa yang tidak mengenal Nona pelukis ini? Semua orang penikmat seni sangat mengenali Ayana. Tidak hanya dari kalangan pelukis saja, tetapi para seniman lainnya," ujar Alexa tanpa kebohongan.


Ayana semakin yakin, seyakin-yakinnya jika pria baya tersebut ada kaitan dengan sesuatu yang berhubungan dengannya.


Ia bisa merasakan hal itu sangat kuat.


"Apa Anda juga salah satu pembeli lukisan saya?" tanya Ayana ikut ke dalam pembicaraan lalu duduk di sofa tunggal tersisa tengah-tengah mereka.


Alexa dan Zidan berpaling ke arah sama, sedangkan Ayana membalas tatapan teduh itu penuh minat.


Ia penasaran sekaligus ingin mencari tahu apa yang hendak di sampaikan pria baya tersebut.


"Tidak, saya mendengar dari rekan sesama penikmat seni jika lukisan yang Anda buat sangat bagus. Dia merekomendasikan untuk datang ke acara ini menggantikan dirinya."


"Dia mengatakan jika malam ini suami Ayana Ghazella melakukan konser piano di acara megah dan kebetulan istri dari pianis tersebut datang. Itu sebabnya saya ada di sini ingin bertemu dengan Nona pelukis secara langsung."


"Dan benar saja, dari auranya Nona pelukis ini memang luar biasa," puji Alexa sedemikian rupa.

__ADS_1


Ayana sama sekali tidak terkesan mendengar semua ungkapan positif darinya. Entah kenapa kata-kata yang dicetuskannya mengandung berbagai macam kedustaan.


Hal itu bisa Ayana simpulkan dari sorot mata yang masih dilayangkan, jika Alexa memiliki tujuan lain untuk menemuinya.


"Ah, benarkah? Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya, Tuan," kata Ayana mengikuti alur.


"Karena rekan saya sangat merekomendasikan Anda, saya ingin mempekerjakan Nona pelukis secara pribadi," lanjut Alexa mengutarakan niat sebenarnya.


"Panggil Ayana saja, Tuan. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Ayana masih dalam permainan.


Alexa lagi-lagi tersenyum penuh makna mengunci lekat tatapan wanita muda di sampingnya. Tatapan kedua orang itu kembali memperlihatkan ketegasan satu sama lain.


"Saya ingin kamu melukis saya. Karena saya ingin menghadiahkannya untuk keponakan tercinta. Saya harap dengan lukisan tersebut dia bisa mengenang saya selamanya... jika suatu saat nanti sudah tidak ada di dunia ini lagi," ungkapnya, kedua manik sayu itu berkaca-kaca membuat Zidan yang ikut menyaksikan pun tercengang.


"Oh Anda sungguh Paman yang baik. Kenapa pembahasannya jadi sedih begini?" ujarnya dengan sedikit candaan.


Alexa maupun Ayana pun tertawa pelan. Keduanya kembali beradu pandang, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah mendengar keinginan pria tua tersebut, Ayana semakin yakin pada firasatnya sendiri. Sebelah sudut bibir melengkung pelan seraya menyentuh benda pintar di saku gamis.


"Baiklah kalau begitu, kapan saya bisa bekerja?" tanya Ayana kemudian.


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Alexa kembali bersemangat.


"Kalau begitu silakan datang ke galeri saya di jalan sakura, berhadapan dengan sebuah kafe. Galeri saya bernama magnolia, tempatnya strategis dan mudah ditemukan," ungkap Ayana menekan nama magnolia.


Ia pun memperhatikan saat satu kata itu disebutkan. Kedua manik Alexa melebar singkat dengan alis terangkat sekilas.


Itu artinya Alexa menyadari sesuatu dan sedikit tercengang mendengar kata tersebut. Reaksi tersebut membuat Ayana puas dan terus menerus meyakinkan diri sendiri pada firasatnya.


"Baiklah kalau begitu saya akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu di sana tiga hari lagi," lanjut Alexa.


Ayana hanya mengangguk mengiyakan dan kesepakatan pun terjalin.


Sepanjang jalan kakinya melangkah keluar gedung, selama itu pula Ayana terus memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Pikirannya melalang buana meluruskan benang kusut dan mencari ujungnya guna menemukan sesuatu yang penting.


Di saat ia hendak masuk ke dalam mobil, Ayana dikejutkan oleh pikirannya sendiri. Kedua manik jelaganya melebar seraya degup jantung bertalu kencang.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan Jasmine? Dari awal aku sudah feeling jika pria tua itu ada kaitannya dengan Jasmine. Alexa, apa dia paman yang sudah menyiksanya selama ini?"


"Mas Danieal sudah menceritakan semuanya mengenai kondisi Jasmine, aku harus segera mencari tahu," benak Ayana meracau dalam diam.


"Sayang apa kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan duduk di sampingnya seraya menggenggam sebelah tangan sang istri kuat.


Ayana menoleh dan memberikan senyum menawan.


"Aku baik-baik saja, Mas," jawabnya meyakinkan.


"Jangan terlalu dipikirkan, jika kamu tidak sanggup menerima pekerjaan itu-"


"Tidak, aku sudah berjanji pada tuan Alexa untuk melukis dia di kediamannya. Mas jangan khawatir," kata Ayana lagi tanpa gentar.


"Entah kenapa aku merasa pria tua itu-"


"Shut, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti. Aku-"


Kini giliran Zidan memotong ucapan Ayana yang sudah berkali-kali menyerobot perkataannya.


"Izinkan aku berjuang denganmu lagi, Sayang. Aku tahu apa yang akan kamu lakukan. Setiap saat kamu hendak bertindak, sorot mata ini-" Zidan mengusap kedua mata Ayana yang langsung menutup rapat, "mengatakan semuanya," lanjut pianis itu lagi.


Ayana tercengang dan kembali membuka mata bersitatapan langsung dengan sang pasangan hidup.


"Apa sejelas itu?" tanyanya kemudian.


"Sangat amat jelas, Sayang. Jangan lakukan apa pun sendirian, gunakan aku. Aku sudah berjanji akan menjadi kstaria mu untuk berdiri di garda paling depan. Aku akan melindungi mu di manapun kamu berada dan sekeras apa pun badai datang menghadang."


Kata-kata hangat sang suami kembali membuatnya terpaku. Ayana tidak pernah menyangka Zidan bisa memberikan ungkapan lembut seperti itu.


"Meskipun ini tidak ada kaitannya denganku, tetapi... aku ingin melindungi wanita memiliki nasib yang sama. Aku ingin melihatnya sembuh dari rasa sakit dan bangkit dari keterpurukan." Ayana mengungkapkan keinginan terdalam.


"Kamu pasti bisa, Sayang. Karena kamu wanita hebat yang sudah memberantas dua kejahatan, tidak... tiga kejahatan termasuk apa yang sudah aku lakukan." Zidan kembali membuka memori lama.


Ayana mengulas senyum simpul dan menggenggam tangannya kuat.


"Terima kasih, berkatmu aku bisa bertahan," akunya lembut.


Zidan tidak kuasa menahan haru dan langsung memeluk istrinya erat. Ia tidak peduli jika sang supir yang sedari tadi menjadi saksi pembicaraan mereka melihat adegan tersebut.

__ADS_1


Ia hanya ingin mengungkapkan kekaguman yang selama ini mengendap dalam perasaan. Ia sangat bangga dan bahagia bisa mendapatkan istri luar biasa seperti Ayana.


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu, Sayang. Karena aku sangat mencintaimu," benaknya jujur.


__ADS_2