Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 86


__ADS_3

Angan melambung tinggi memanggil harapan untuk terus mewujudkan mimpi.


Berjuanglah selagi masih ada asha yang diharapkan. Jangan berhenti menggapai mimpi dan gantungkan cita-cita setinggi langit serta jangan pernah lupakan Allah di dalamnya.


Teruslah berharap hanya kepada Allah semata. Libatkan dan terus libatkan Allah sang pemilik kehidupan agar tidak pernah merasakan kekecewaan. Karena apa pun yang sudah Allah berikan itu pasti terbaik.


Lagi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.


"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu." (Q.S. Ya-Sin: 82)


Tidak mungkin bagi kita, sangat mudah bagi Allah. Teruslah bergantung dan melambungkan harapan sebesar apa pun hanya kepada Allah semata.


Itulah yang saat ini tengah Ayana lakukan. Berkali-kali disakiti, dikhianati, dibohongi, nyatanya takdir kembali membersamai.


Ia bertemu lagi dengan suami yang sudah tidak ingin ditemui. Ia sadar jika di balik itu semua ada rencana yang sudah Allah tuliskan terbaik untuknya.


Ia terus menggantungkan semuanya pada Allah, hingga sang pemilik kehidupan pun memberikan jalan teramat mudah baginya.


Ia bisa menjadi Ayana Ghazella seperti sekarang. Tidak mudah ditindas maupun dipermainkan lagi, ia telah berulah menjadi sosok yang tegar dan berjuang guna mendapatkan keadilan.


"Siapa pria ini?" gumam Ayana saat melihat tayangan CCTV beberapa menit lalu.


Di sana ia menyaksikan seorang pria berjas formal masuk ke dalam galeri. Benar dugaan Ayana tadi, jika seseorang sudah meletakkan kamera pengintai di kuas melukisnya.


"Apa tujuannya? Kenapa dia meletakkan kamera itu? Apa dia ingin memantau ku dari dekat? Apa tidak cukup hanya di luar saja? Siapa dalang di balik semua ini?" ucapnya terus meracau.


Ia mengigit ibu jari sebelah kanan berulang kali. Ia kembali dengan kebiasaan di kala pikiran melalang buana. Bola mata cokelat susunya bergulir memandangi sekitar.


"Aku harus mencari tahu," lanjutnya lagi.


Setelah itu ia menghubungi Bening yang saat ini tengah berada di ibu kota. Ia tinggal di salah satu apartemen mewah pemberian Ayana.


Bening awalnya menolak, tetapi Ayana terus mendesak ingin memberikan yang terbaik untuknya. Karena bagaimanapun juga wanita itu sudah membantunya selama ini, termasuk membiarkan jenazah sang putri berpura-pura menjadi dirinya.


"Halo, assalamu'alaikum, mbak. Apa mbak sibuk sekarang? Sepertinya-"


"Wa'alaikumsalam, mbak sudah mendapatkan apa yang kamu butuhkan. Seminggu ini mbak sudah mengawasi kamu dan orang-orang di sekitar. Ternyata, kamu sedang diintai oleh seseorang," jawab Bening di seberang sana memotong ucapannya.


"Em, mbak benar. Siapa kira-kira orang itu? Apa dia ada hubungannya denganku? Ada apalagi sekarang?" tanya Ayana beruntun dalam panggilan tersebut.

__ADS_1


"Seperti yang sudah kita bicarakan tempo hari jika Bella masih mengincar mu. Mbak sudah mendapatkan beberapa foto dan rekaman suara saat ia beraksi. Lihat dan dengarkan." Bening memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Tidak lama berselang ponsel Ayana bergetar beberapa kali. Ia melihat file-file yang dikirimkan Bening dengan jumlah tidak sedikit.


"Maa syaa Allah, mbak Bening benar-benar hebat," ucapnya lalu membuka satu persatu file yang dikirimkan.


Detik demi detik jam terus berdentang menemani kesendirian. Di tengah hingar-bingar ibu kota, Ayana terus memantau dokumen yang diberikan.


"Bella, siapa yang kamu temui? Dan di mana tempat ini?" Ayana membesarkan foto yang terdapat siluet Bella tengah masuk ke sebuah gedung.


Tempat itu sangat asing dan tidak pernah ia ketahui.


"Ah, aku coba telusuri saja."


Ayana memasukan gambar tersebut ke mesin pencarian. Seketika itu juga beberapa foto yang serupa muncul dan terdapat tulisan menunjukkan keberadaannya.


"Pelabuhan A70? Bukankan ini tempat di mana kapal laut berada? Kenapa Bella datang ke sana? Tunggu!"


Ayana kembali menelusuri mesin pencarian dan memasukan dua kunci yaitu pelabuhan A70.


Seketika manik jelaganya melebar sempurna, di laman utama terpampang jelas foto seorang pria baya yang beberapa minggu lalu hampir melecehkannya.


Ia meletakkan benda pintar di meja, kepala berhijabnya menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia kembali menggigit ibu jari berkali-kali.


"A-apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Apa mereka menargetkan ku lagi? Kenapa? Apa Bella bekerja sama dengan Presdir Han? Aku harus bertahan ... tenang Ayana. Astaghfirullahaladzim." Ayana berusaha menenangkan diri sendiri dengan terus beristighfar.


Setelah beberapa saat kemudian, perasaannya berangsur-angsur membaik. Ia membawa lagi ponsel miliknya dan melanjutkan pencarian.


Ia terus membuka satu demi satu web yang berada di sana. Ia mencari tahu sedalam-dalamnya kenapa pelabuhan tersebut diberhentikan.


"Aku harus mendiskusikan ini dengan mbak Bening dan juga mas Danieal," lanjutnya bergegas pergi dari sana.


...***...


Malam menjemput, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ayana baru saja pulang dari kesibukannya hari ini.


Ia disambut senyuman manis dari sang suami. Zidan berdiri di ruang depan menatap hangat wajah sayu istrinya.


"Assalamu'alaikum, aku pulang," ucap Ayana terkejut menyaksikannya di sana.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, kamu baru pulang?" tanya Zidan berjalan mendekat.


Ayana mengulas senyum simpul lalu menyalami tangannya hangat. Zidan tersentak dengan perilaku sang istri yang sama seperti dulu.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyalami tanganmu? Ah, aku lupa Mas kan tidak suka jika-" ucapan Ayana terhenti saat Zidan memeluknya erat.


"Tidak! Jangan berkata seperti itu, justru ... aku sangat senang. Itu berarti kamu masih menganggap ku sebagai suami. Terima kasih, Sayang," ucapnya bergetar menahan tangis.


Ayana terkesiap serta merasakan tubuh kekar itu sedikit bergetar. Entah sadar atau tidak ia mengangkat kedua tangan membalas pelukannya.


"Em," jawab Ayana singkat.


Zidan terbelalak dan semakin mempererat rengkuhannya.


"Tunggu! Kenapa Mas berjalan? Apa kakimu sudah baik-baik saja?" tanya Ayana menyadari.


"Em, kata Haikal aku mulai bisa meninggalkan kursi roda, tapi tidak bisa terlalu lama," jawabnya, Ayana hanya mengangguk sebagai balasan.


Selesai membersihkan tubuh, Ayana berjalan keluar dari kamar mandi dan mendapati Zidan tengah duduk di tempat tidur.


Lengkungan bulan sabit bertengger indah di wajah tampannya. Ayana terdiam di ambang pintu menyaksikan jika kini senyuman itu hanya ditujukan padanya seorang.


"Ayo tidur," ajak Zidan sembari merentangkan tangan kanan.


Ayana ragu, pandangannya beralih ke sembarang arah. Semua itu terjadi begitu cepat, ia masih belum terbiasa atas perubahan yang terjadi.


"Sayang." Panggil Zidan mengejutkan.


Ayana tersentak lalu buru-buru mendekat. Kini ia duduk di sebelah Zidan meremas selimut tebal yang membungkus setengah badannya.


"Aku tahu kamu masih belum nyaman dengan perubahan ini, tapi ... aku sangat berterima kasih kamu, mau tinggal di sini lagi. Bersamaku, untuk kita," ucap Zidan lembut sepenuhnya menghadap Ayana.


Mendengar kata-kata hangat itu pun membuat ia menoleh membalas tatapan sang suami. Tidak ada kebohongan ataupun dusta di dalamnya, yang ada hanyalah ketulusan.


Ayana terus memandangi sepasang jelaga itu dalam diam, tidak tahu harus membalasnya seperti apa.


Sedetik kemudian, Zidan menggenggam kedua jari jemarinya lalu membubuhkan kecupan hangat di punggung tangan Ayana.


Sang empunya kembali terkesiap akan sikap manis yang terus menerus Zidan berikan. Ia masih ragu dan tidak terbiasa akan sikapnya.

__ADS_1


"Ya Allah, jika memang Mas Zidan benar-benar sudah berubah maka ... yakinkan hati hamba untuk tetap sepenuhnya ada di samping dia," benak Ayana terus memperhatikan Zidan.


__ADS_2