
Hari-hari berlalu dengan mendebarkan, setiap waktu Danieal setia menemani kekasih hatinya. Ia selalu memperhatikan Jasmine dan memberikan pengobatan terbaik.
Tidak ada sedetikpun terlewati tanpa adanya Jasmine. Ia sengaja mengambil cuti untuk fokus pada istrinya semata.
Ia begitu memprioritaskan Jasmine di atas segalanya, walaupun terkadang kekasih hati memintanya untuk bekerja mengurusi pasien, tetap saja Danieal tidak mengindahkan hal tersebut.
Ia selalu mengatakan, "bagaimana bisa aku mengurusi pasien, sedangkan istriku saja membutuhkan perawatan." Sontak Jasmine tidak bisa berbuat apa pun.
Setiap kontrol pun Danieal akan siap siaga berada di samping sang istri. Dokter yang menjadi penanggungjawab Jasmine ikut senang dengan pasangan pasiennya yang setia mendampingi.
Ia berharap pasangan itu bisa diberikan keajaiban. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Berbulan-bulan lamanya, Jasmine menjalani pengobatan. Tidak hanya sang suami, kedua mertua sampai adik ipar selalu memberikan motivasi terbaik untuk menguatkan dirinya.
Jasmine sangat bersyukur dan berterima kasih sekali diberikan keluarga yang begitu menyayanginya.
Celia, Adnan, Ayana, serta Zidan pun sering menyemangati Jasmine untuk tidak menyerah pada keadaan.
Sudah hampir satu tahun Jasmine mengidap penyakit PCOS yang mengendap dalam ovariumnya. Setiap hari pasangan itu selalu meminta kebaikan pada Allah agar bisa disembuhkan serta diberi keturunan.
Meskipun Danieal tidak menuntut Jasmine untuk hamil, tetapi ia pun terus berharap akan keajaiban yang bisa saja Allah berikan.
Hari ahad kembali mereka manfaatkan untuk menikmati waktu bersama. Siang ini keluarga besar Arsyad berkumpul di ruang keluarga.
Mereka tengah menanggapi celotehan demi celotehan bayi kembar Ayana serta Zidan di sana yang mulai bisa berbicara. Ghazali dan Ghaitsa tergelak saat semua orang mengajaknya bermain.
Suara lembut keduanya mengalun, dan bergema di ruangan. Riak kebahagiaan serta kegembiraan berada di wajah masing-masing menambah keakraban.
"Wajah mereka sangat mirip sekali dengan Zidan. Apa Mbak Ayana terlalu mencintai Mas Zidan? Sampai-sampai Ghazali dan Ghaitsa mirip ayahnya seperti itu," cerocos Gibran yang ikut berkumpul di mansion Arsyad.
Di sana juga ada Lina serta Arshan memeriahkan kebersamaan. Mereka menyambut dengan senang keberadaan putra-putri kembar menggemaskan di sana.
"Iya kamu benar, Gibran. Apa memang benar seperti itu, Sayang?" lanjut Lina menepuk pelan bahu Ayana yang tengah duduk di sampingnya.
"Ah iya, kalau diperhatikan memang benar. Ayana, apa kamu sebegitu mencintai Zidan?" Kakak sambungnya ikut bicara.
"Mamah bahkan tidak melihat wajah kamu di antara Ghaitsa dan Ghazali, Sayang," kata Celia melihat ketiganya secara bergantian.
Jasmine, Adnan, serta Arshan pun memberikan kata-kata yang sama. Mereka kompak mengatakan jika Ayana begitu mencintai Zidan sampai-sampai kedua buah hati mereka mirip sang ayah.
__ADS_1
"Sayang, apa itu benar? Kamu sangat mencintaiku?" Zidan ikut ke dalam permainan sambil mencondongkan tubuh ke samping sang istri.
Ayana menghela napas pelan dan melihat mereka semua bergantian. Sampai perhatiannya hanya pada sang suami semata.
"Kalian memang senang menggoda ku seperti ini, iya kan?"
Ayana melipat tangan di depan dada dan mendengus beberapa kali. Bibir kemerahannya mencebik, lucu membuat semua orang yang menyaksikannya pun dibuat gemas sekaligus geli.
"Untung kamu adikku, Nay-Nay. Kalau tidak aku pelintir bibir manyun mu itu," ucap Danieal sembari mengambil kue lapis tidak jauh dari keberadaannya.
"Lakukan saja, aku tahu Mas pasti gemas mempunyai adik manis sepertiku, iya kan?" balas Ayana percaya diri.
"Eh, tapi tunggu-tunggu-tunggu... Nay? Aku baru mendengar nama panggilan itu. Dari mana Mas mendapatkannya?" tanya Ayana menggebu-gebu.
Danieal tertawa kencang membuat semua orang pun ikut tergelak.
"Itu panggilan sayang, Ayana. Nay-Nay-Nay." Danieal semakin senang menggodanya.
Ayana kembali mencebikkan bibir ranumnya. Namun, jauh di dasar hati paling dalam ia sangat senang sekaligus bahagia keadaan keluarganya semakin bertambah hangat.
Di tengah kesenangan yang tengah melanda mereka, tiba-tiba saja semua orang dikejutkan dengan keadaan menimpa Jasmine.
Di dalam kamar mandi Jasmine memuntahkan semua isi perut di wastafel. Danieal yang baru saja tiba menepuk-nepuk pelan punggungnya pelan berusaha membantunya.
Beberapa menit kemudian, Jasmine berhasil menguasai diri dan membasuh sekitar mulut. Setelah itu tubuhnya limbung ke belakang dan seketika Danieal merangkul perut ratanya pelan.
Jasmine menoleh ke belakang melihat air muka khawatir pasangan hidupnya.
"Mas, jangan khawatir aku tidak apa-apa, sungguh. Mas-"
"Jangan banyak bicara sekarang kita pergi ke rumah sakit. Aku-"
Belum sempat Danieal menyelesaikan kalimatnya, Jasmine langsung tidak sadarkan diri dan jatuh terkulai lemas dalam pelukan sang suami.
Tanpa mengatakan apa pun Danieal menggendong Jasmine keluar dari kamar mandi dan membawanya ke rumah sakit.
Melihat dokter tampan itu keluar sembari menggendong istrinya terburu-buru melewati ruang keluarga, semua orang yang masih ada di sana sontak terkejut bukan main.
Ayana bergegas mendekati sang kakak dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jasmine.
__ADS_1
"Mas? Jasmine kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya khawatir.
Danieal menghentikan langkah cepat dan menoleh pada sang adik. Dengan raut yang sangat khawatir dokter menawan itu menjawab ucapannya.
"Jasmine tadi muntah-muntah hebat dan sekarang pingsan. Aku akan membawanya ke rumah sakit."
Setelah mengatakan itu Danieal melanjutkan langkah mencapai kendaraannya berada lalu memasukkan Jasmine ke jok belakang dan dan bergegas ke jok pengemudi serta langsung menjalankannya meninggalkan area garasi.
Melihat kepergian mereka, sontak Ayana serta Zidan pun menyusul keduanya, sedangkan Ghazali dan Ghaitsa dititipkan ke kedua nenek, kakek, serta pamannya.
...***...
Setibanya di rumah sakit milik keluarga, Danieal bergegas ke ruang kandungan. Kebetulan Bintang masih ada di sana dan terkejut kala rekan kerjanya meminta bantuan.
"Aku mohon periksa istriku," titahnya memelas.
Terkejut melihat ekspresi sang dokter umum itu pun membuat Bintang tidak bisa menolak. Ia langsung memerintahkannya untuk membaringkan Jasmine ke atas ranjang.
Setelah itu Bintang memeriksa kondisi Jasmine dan meminta Danieal untuk menunggu nya di luar ruangan. Karena meskipun ia seorang dokter juga, tetapi keduanya berbeda keahlian.
Mau tidak mau, rela tidak rela, suka tidak suka, Danieal mengiyakan permintaan sang sahabat. Ia keluar ruangan dan bersamaan dengan itu Ayana serta Zidan datang.
Mendapati adiknya muncul, Danieal langsung melangkahkan kaki cepat dan memeluk Ayana erat.
Ayana melirik sekilas pada Zidan di mana sang suami mengangguk singkat, pelukis berbakat itu pun membalas pelukan kakaknya seraya memberikan elusan pelan di punggung kekar tersebut.
"Tidak apa-apa, Mas. Semua akan baik-baik saja, tidak apa-apa. Tidak akan ada sesuatu pada Jasmine, percayalah. Kita doakan saja dia baik-baik saja," kata Ayana mencoba menenangkan.
Danieal hanya mengangguk-anggukan kepala, mengerti.
Selang beberapa saat kemudian, setelah melakukan beberapa prosedur pemeriksaan, Bintang keluar ruangan memanggil Danieal masuk.
Dokter tampan itu pun bergegas ke dalam seraya Ayana dan juga Zidan mengikutinya dari belakang. Di sana mereka melihat Jasmine sudah sadarkan diri.
Ia duduk di atas ranjang menyaksikan suaminya berkaca-kaca. Danieal menghampiri dan memeluknya erat. Jasmine mengulas senyum simpul dan membalas pelukan.
Bintang yang menyaksikan itu pun ikut melengkungkan kedua sudut bibir.
"Ada hal yang harus saya sampaikan!" Pernyataan Bintang menarik atensi mereka untuk beralih padanya.
__ADS_1
Keempat orang di sana melihat ke objek yang sama dengan perasaan tak menentu.