Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 3


__ADS_3

Manik cokelat bening Ayana bergulir ke sana kemari memandangi ayah, ibu, kakak, serta wanita asing di depannya terus menerus secara bergantian.


Ia melihat ketiga orang di sebelahnya terkejut mendapati tamu yang baru saja datang. Ayana semakin mengerutkan kening tidak mengerti setelah mendengar jika wanita tidak dikenalnya menyapa keluarganya ramah, seolah mereka sudah berhubungan lama.


Ia semakin penasaran sekaligus heran melihat reaksi ketiganya.


"Anda ... wanita di makam tadi, kan?" tanya Ayana mengundang atensi yang lain.


Keheningan seketika terputus kala pertanyaan itu dilontarkan. Wanita di hadapannya mengulas senyum manis lalu mengangguk mengiyakan.


"Itu benar, dan Anda? Sedang apa Anda di sini?" tanya balik wanita yang Ayana tidak tahu siapa namanya itu.


"Ah, saya-"


"Kirana?" Panggil Danieal.


Mendengar nama asing itu disebut, Ayana menoleh cepat pada sang kakak seraya memberikan sorot mata penuh tanya.


Celia yang menyadari kebingungan putrinya pun langsung menjelaskan.


"Dia, Kirana Maisa, sahabat Eliza sekaligus mantan tunangan Mas Danieal," kata ibunya cepat.


Ayana beralih pada Celia lalu bergantian dengan Danieal.


"MasyaAllah, sungguh kebetulan yang luar biasa. Tadi, aku tidak sengaja bertemu dengan Nona Kirana di pemakaman. Apa-" Ayana menggantung ucapannya kembali memandangi sang ibu.


"Kamu mendatangi makam keluarga Ashraf lagi?" tanya balik Celia, Ayana hanya mengangguk singkat.


"Sebenarnya di sebelah makam keluarga Ashraf, ada pemakaman keluarga kami dan ... Eliza di makamkan di sana," sambar ayahnya menjawab kebingungan sang putri.


Ayana kini menoleh pada Adnan yang juga tengah menatapnya lekat.


"MasyaAllah, aku baru tahu itu." Ia lalu berbalik menghadap lagi pada Kirana. "Selamat datang di rumah kami, senang bisa bertemu dengan Anda Nona Kirana," sapa Ayana ramah.


"Em, senang bisa bertemu Anda juga. Tunggu keluarga kami?" balas Kirana lalu menggulirkan irisnya kepada ketiga penghuni rumah megah itu yang sesungguhnya.


"Jika saya boleh tahu, Nona ini siapa yah? Kenapa tadi menyebut keluarga kami?" tanyanya sopan seraya menengadahkan tangan ke hadapan Ayana.


"Ah, dia Ayana Ghazella. Em, bukan ... Ghazella Arsyad. Dia-"

__ADS_1


"Ghazella Arsyad? Tunggu! Kenapa dia menyandang nama keluarga Arsyad?" tanya Kirana bingung sekaligus shock.


"Dia sudah menjadi bagian keluarga ini. Dia adik sambung ku, juga putri sambung ayah dan ibu," jelas Danieal yang sedari tadi bungkam.


"APA?" Entah sadar atau tidak Kirana berteriak kencang.


Ayana yang melihat reaksinya seperti itu pun kembali mengerutkan kening. Sepasang irisnya memindai apa yang tengah dipikirkan Kirana.


"Kenapa reaksinya seperti itu? Seolah ... aku sudah merenggut apa yang menjadi miliknya," benaknya kemudian.


"Itu benar, saya adalah anak angkat keluarga ini," kata Ayana menjelaskan lagi.


Kirana memandanginya lekat dan berjalan beberapa langkah ke depan hingga membuat keduanya saling pandang.


Ia memberikan tatapan mata tidak percaya mendapati semua yang baru saja dirinya ketahui.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita sepertimu menggantikan Eliza? Tidak ada yang bisa menggantikan sahabatku di rumah ini. Kenapa Om dan Tante membiarkan wanita seperti dia ada di rumah ini? Kenapa kalian tega menggantikan Eliza?" cerca Kirana memandangi mereka satu persatu.


"Apa maksudmu menggantikan Eliza? Tidak ada yang menggantikan adikku, termasuk Ayana dan juga kamu!" tegas nan lugas, Danieal memberikan pernyataan telak.


Kirana terpaku, dengan iris melebar sempurna dan mulut terbuka lebar. Ia tidak menyangka mendengar kata-kata menyakitkan keluar dari mulut sang mantan tunangan.


Setelah mengatakan itu, Danieal pergi begitu saja dari sana. Ayana yang masih belum bisa memahami situasi terjadi pun menyusulnya.


...***...


Ayana membuka pelan ruang kerja sang kakak yang berada di lantai dua. Aroma kayu seketika menusuk indera penciuman serta hawa dingin pun menyambut kedatangan.


Di dalam ruangan terdapat dua rak besar yang berisi buku-buku tebal. Ayana melangkah masuk mengitari kamar besar itu yang didominasi buku.


"Wah, tidak heran jika Mas Danieal menjadi seorang dokter hebat," gumamnya kagum seraya terus menelusuri ke mana sosok kakaknya pergi.


Hingga tidak lama kemudian, langkahnya terhenti melihat Danieal tengah berdiri di depan jendela besar yang langsung menghadap taman.


Kedua tangan kekar itu dimasukan ke dalam saku celana putih dengan kemeja hitam semakin menunjang penampilan.


Ayana terkesima melihat pantulan diri sang kakak yang bermandikan cahaya raja siang.


"Mas," panggilnya langsung.

__ADS_1


Tanpa menoleh Danieal menengadah melihat pada langit biru.


"Kirana ... wanita itu adalah sahabat Eliza sejak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, sampai orang-orang mengira Kirana dan Eliza adalah anak kembar."


"Wajah keduanya yang hampir mirip satu sama lain menegaskan praduga mereka. Hingga tahun demi tahun berganti, Kirana yang sudah menjadi anak yatim piatu sejak usia dini pun membuat Eliza tergerak."


"Dia meminta Mas untuk menikahinya dan menjadikan Kirana keluarga sekaligus kakak iparnya. Saat itu dengan mata berbinar Eliza mengatakan, permintaan tersebut." ingatan Danieal berputar di hari Eliza baru saja menginjak bangku kuliah.


"Mas sebenarnya Kirana suka padamu. Aku tahu Mas juga menaruh hati kan pada dia? Bagaimana kalau kalian menikah saja? Agar kita bisa menjadi keluarga sesungguhnya. Kirana ... sahabatku sekaligus kakak ipar, bukankah itu terdengar bagus?" Eliza tertawa riang, berteriak heboh dan melompat-lompat di sebelah Danieal seraya menggenggam lengan kekarnya.


Sang kakak memandangnya lekat, tidak percaya pada apa yang disampaikan Eliza. Bertahun-tahun adiknya menjalin pertemanan dengan Kirana membuat Danieal terbiasa.


Sampai pada titik ia menyadari jika perasaan itu tidak bisa dibohongi. Namun, pernikahan bukanlah persoalan yang mudah.


Ia yang masih menempuh pendidikan kedokteran pun masih belum sanggup untuk mengemban tugas berat tersebut.


Alhasil Danieal dan Kirana hanya menggelar pertunangan. Namun, hubungan mereka kandas seiring Eliza mengalami sebuah musibah yang mengakibatkannya meninggal.


Kirana sangat terpukul atas perginya sang sahabat untuk selama-lamanya. Ia pun memutuskan untuk pindah ke luar negeri mencoba menyembuhkan luka hati.


Ia benar-benar sakit mengetahui sahabat karibnya meninggal dengan cara seperti itu. Hal tersebut pun mempengaruhi hubungannya dengan Danieal.


Kirana memutuskan pertunangan mereka begitu saja. Namun, sebelum benar-benar meninggal, Eliza sempat menitipkan sebuah pesan dan janji kepada sang sahabat.


Kirana tidak menyangka jika Eliza menginginkan hal tersebut darinya.


...***...


Ayana yang mendengar semua cerita itu pun terkejut bukan main. Ternyata selama ini orang yang sudah menolongnya mempunyai kisah menyakitkan.


Ia berjalan mendekat hingga berdiri tepat di sebelah sang kakak.


"Apa Mas masih mencintainya? Apa ini alasan kenapa Mas masih belum menikah sampai sekarang?" Ia menoleh mendapati Danieal melebarkan kedua mata.


"Aku ... tidak tahu," balasnya singkat.


"Em, aku mengerti tidak mudah menyembuhkan luka yang terus membekas. Namun, aku percaya suatu saat nanti Mas akan mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu," katanya mencoba menyemangati.


Danieal mengangguk singkat dan mengangkat kepala lagi memandang lurus ke depan. Ingatan saat bersama Kirana pun berkelebatan membuatnya mengulas senyum simpul.

__ADS_1


"Cinta? Apa dulu dia mencintaiku? Lalu, kenapa dia datang ke sini lagi setelah delapan tahun?" benak Danieal berkecamuk.


"Apa mungkin Kirana menginginkan posisi ini? Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan? Mana ada seperti itu," racau Ayana membatin.


__ADS_2