Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 98


__ADS_3

Hujan mengguyur ibu kota sejak malam tadi hingga dini hari ini. Kebanyakan orang sudah terlelap nyaman di balik selimut tebal mereka dan tengah terbuai mimpi indah.


Di tengah cuaca ekstrem tersebut, Zidan duduk sendiri di lorong lantai atas rumah sakit. Sedari tadi ia terus berada di sana menunggu kepastian sang dokter mengenai istri tercinta.


Kegelisahan terus menghantui membuat ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di sana.


Bayangan demi bayangan perjuangan Ayana beberapa saat lalu masih segar terekam jelas dalam ingatan. Kenangan itu pun berputar menayangkan satu kisah masa lalu yang ikut hadir.


Jari jemarinya saling bertautan erat, tatapan manik kelam sang pianis berpaku pada satu titik. Lantai marmer rumah sakit menjadi tumpuan seraya menyelami lamunan yang kian berputar bak benang kusut.


Sakit yang pernah ia rasakan dulu kala mendapati istrinya meninggal dunia hadir, menghantam begitu keras pikirannya.


Di bawah guyuran hujan penyesalan itu muncul secepat kilat menerjang. Zidan tidak bisa jika harus berada di posisi dulu lagi.


Ia tidak ingin dan tidak sanggup untuk menghadapinya kembali. Ia terus berharap dan berharap Ayana tidak kenapa-kenapa.


Masa lalu adalah rencana Ayana agar Zidan tidak bisa bertemu dengannya lagi. Ia memberikan kenangan terburuk dengan mematikan diri sendiri melalui orang lain.


Namun, kondisi sekarang berbeda. Tepat di hadapannya saat ini adalah istri sesungguhnya yaitu Ayana Ghazella, wanta yang kini sudah sangat dicintainya.


"Setidaknya istirahatlah sebentar, apa kamu tidak kasihan pada diri sendiri juga kedua buah hati kalian?"


Seseorang datang dan duduk di sisinya begitu saja.


Zidan melirik sekilas mendapati kakak iparnya di sana. Danieal memandang lurus ke depan di mana tembok putih itu menjadi objek perhatian.


Hening melanda, kedua pria itu sama-sama bungkam tidak mengatakan sepatah katapun. Zidan sibuk dengan ketakutannya dan Danieal pun sibuk bersama pikirannya.


Waktu terus berlalu, air yang turun dari langit masih mengguyur tanpa sekalipun memberikan jeda. Hujan begitu deras memberikan suara mengerikan menambah suasana kegelisahan.


Di balik riaknya air yang terus menghantam tanah, perasaan kalut semakin menjadi-jadi membuat degup jantung bertalu tak tertahankan.


"Apa yang akan terjadi jika Ayana benar-benar meninggalkanku?" Zidan menghela napas kasar, "Aku pasti akan gila," lanjutnya mengusap wajah perlahan dan menunduk dalam.


Danieal memperhatikannya tanpa suara, menyaksikan sendiri bagaimana terpuruknya sang adik ipar menghadapi kondisi terburuk istrinya.


"Apa seperti ini penampilanmu dulu? Saat mengetahui jika Ayana meninggal?" tanya Danieal buka suara.


Zidan membeku beberapa saat, lalu kembali menegakkan kepala dan membalas tatapan sang dokter. Danieal terperangah melihat air muka terpukul dan ketakutan di sana.

__ADS_1


"Aku yakin lebih kacau," lanjutnya.


Helaan napas berat berhembus dari celah bibir menawan sang pianis. Zidan mengalihkan pandangan ke depan menyelami ingatan yang ingin dilupakan begitu saja.


"Aku kehilangan hidupku dan berpikir lebih baik menyusul Ayana saja daripada harus... hidup dalam penyesalan," lirihnya lagi.


Danieal yang masih memperhatikannya pun mengangkat kedua sudut bibir pelan dan kembali ke posisi awal.


"Iya aku percaya... aku dengar kamu juga mengalami depresi sampai halusinasi. Aku pikir... itu sepadan atas apa yang kamu perbuat pada Ayana. Namun-" ucapan Danieal terjeda begitu saja.


Sang empunya menoleh kembali pada adik iparnya menarik atensi Zidan.


Pianis tampan itu pun tertarik dan seketika bola mata cokelat kelam mereka saling pandang.


"Bagaimana kalau sekarang kejadian itu terjadi lagi? Kamu tahu sendiri... di dalam ruangan itu adalah sosok Ayana sebenarnya dan bukan orang lain seperti masa lalu?"


Pertanyaan Danieal bersamaan dengan datangnya guntur kencang menyambar bersama kilat menerjang. Zidan membeku, tidak bisa mengatakan apa-apa dan terus saja memandang kakak iparnya lekat penuh luka lara.


Beberapa saat lalu Zidan sempat bepikir seperti itu, dan tidak menyangka bisa mendengar secara langsung dari seseorang, serta hal tersebut datangnya dari kakak sambung Ayana sendiri.


"Aku benar-benar tidak akan sanggup hidup lagi," balas Zidan kemudian.


"Bodoh! Apa kamu tidak memikirkan anak kalian? Jika Ayana mendengarnya, dia pasti akan kecewa. Karena suaminya tidak bertanggungjawab sebagai ayah," ungkapnya lagi.


Zidan hanya tersenyum simpul dan kembali menjatuhkan pandangan ke bawah.


"Benar." Hanya itu yang bisa ia katakan.


Di saat mereka tengah menyelami lamunan masing-masing lagi, pintu ruangan di samping dibuka. Buru-buru Zidan dan Danieal bangkit dari duduk dan menemui Bintang.


Butuh waktu beberapa saat untuk dokter kandungan itu menangani sang pasien. Setelah mengerahkan tenaganya sebaik mungkin Bintang keluar dan mendapati rekan kerja serta suami pasien mendatanginya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Zidan to the point.


"Ayana... dia mengalami pendarahan hebat. Saat ini dia... mengalami koma!"


Penjelasan Bintang seperti memberikan guntur bersahutan di dalam dada. Zidan terkejut bukan main mengetahui kondisi sang istri.


"Ka-kapan Ayana bisa sadar?" tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis.

__ADS_1


Dokter cantik itu menggeleng skeptis.


"Kita hanya bisa berharap pada pertolongan Allah saja. Jangan putus berdoa dan berharap, minta pada Allah untuk menyembuhkan Ayana. Saya... akan terus membantu kalian dalam menyembuhkannya, tetapi... yang menentukan hanya Allah semata. Kalau begitu saya permisi."


Setelah mengatakan hal itu Bintang melangkahkan kaki dari hadapan mereka. Seketika kedua kaki Zidan lemas tidak bisa menopang berat badannya sendiri.


Ia limbung, jatuh terduduk di lantai dingin rumah sakit dengan air mata menetes tak karuan. Dalam diam Zidan menangis, menumpahkan rasa sakit mengetahui kondisi sang istri.


Hal itu juga tidak berbeda jauh dengan Danieal. Dokter tampan menawan tersebut tidak menduga Ayana mengalami pendarahan hebat bahkan sampai koma.


"Kamu harus kuat, serahkan semuanya sama Allah. Jangan putus harapan dan berdoa pada-Nya agar memberikan yang terbaik," kata Danieal menepuk pelan pundak sang adik ipar mencoba menguatkan.


...***...


Kurang lebih satu setengah jam berada di mushola rumah sakit, Zidan melaksanakan salat sunnah hingga menunggu waktu adzan tiba.


Selepas melaksanakan salat fardhu berjamaah ia berdoa dengan sangat meminta pada Allah yang terbaik untuk Ayana.


"Ya Allah... ya rabbana, hamba mohon selamatkan lah Ayana, istri hamba. Hamba... masih membutuhkannya untuk membesarkan kedua anak kami."


"Hamba ingin menghabiskan waktu bersamanya, ya Allah. Hamba sangat mencintai dan menyayanginya."


"Ya Allah, berikanlah kesempatan kepada hamba untuk membahagiakannya. Hamba mohon ya Allah... hamba sangat mencintai Ayana... hamba tidak ingin kehilangannya lagi."


"Ya Allah... hanya kepada-Mu lah hamba memohon dan hanya kepada-Mu lah hamba memohon pertolongan."


Doa-doa penuh pengharapan terus tercetus dengan penuh linangan air mata. Kedua tangan yang sedari tadi menengadah meminta dengan sangat kepada Sang Pemilik Kehidupan.


Zidan Ashraf tidak meminta banyak hal, ia hanya ingin Ayana kembali sadar dan berkumpul bersamanya lagi juga buah hati mereka.


Ia ingin membangun keluarga harmonis, hangat, dan juga penuh cinta hanya dengan Ayana semata. Ia terus berada di sana sampai sang raja siang menampakan batang hidungnya.


Danieal, Arshan, Adnan, yang juga ikut salat berjamaah di sana pun menyaksikan betapa Zidan memasrahkan semuanya hanya kepada Allah semata.


Mereka pun ikut berdoa untuk kesembuhan Ayana dan berharap wanita itu bisa berkumpul bersama lagi.


Kondisi Ayana tidak hanya mengejutkan Zidan seorang, melainkan bagi keluarga yang lain juga rekan-rekan terdekatnya.


Ayana merupakan sosok pemberi aura positif yang bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Keberadaannya benar-benar sangat berharga dan berarti bagi orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2