
Angan sudah menipis, mimpi telah terkubur bersama kenangan masa lalu kian menguap. Harapan tinggallah harapan, asha yang membentang kuat sulit untuk dicapai.
Kata bahagia bagaikan menghilang dalam kamus kehidupan. Air mata menjadi saksi bisu seperti apa luka tumbuh tanpa bisa disembuhkan.
Trauma dan depresi menjadi kondisi mental yang mengganggu kesehatan batin. Sulit untuk percaya dan membuka hati bagi yang baru adalah buah dari masa lalu kelam.
Cinta yang dimilikinya, layaknya empedu mengalirkan kepahitan menyebar ke sanubari. Tidak ada kata manis terecap dalam sejarah perjalanan kisah pernikahan yang sudah dibina selama enam tahun lamanya.
Dusta nestapa menari indah, mengejek serta menertawakan kebodohannya. Cinta bertepuk sebelah tangan menyulitkan diri untuk membuka kepercayaan lagi.
Kisah kelam itu akan terus mengikuti ke mana langkah kaki pergi. Ayana menjadi salah satu korban dari sekian banyak cerita menyedihkan di dunia ini.
Namun, Ayana membuktikan pada diri sendiri jika ia mampu bangkit dan berusaha tegar menghadapi apa yang sudah terjadi.
"Memang sulit melupakan kejadian yang hampir merenggut diri. Ya Allah, hamba banyak salah sudah berpikir untuk mengakhiri segalanya. Hamba tidak berkaca jika di balik semua ini Engkau menyiapkan berjuta kebaikan. Ampuni hamba Ya Rabb, jika selama ini terlalu banyak mengeluh dan menyerah."
"Dan ... terima kasih Ya Rabb, atas kekuatan yang sudah Kau berikan. Tanpa-Mu hamba tidak bisa kuat dan tegar menjalani semua ini. Engkau Maha pemberi taubat dan maha pemberi skenario terhebat bagi kehidupan hamba-Mu," monolog Ayana dalam benak.
Jalanan ibu kota di padati kendaraan, ia terjebak dalam kemacetan yang membuatnya harus diam beberapa saat. Namun, hal itu tidak lantas memberikan kejengkelan, sebab tepat di hadapannya sang raja siang pulang ke peraduan.
Lukisan yang Allah suguhkan begitu mendamaikan jiwa. Semburat orange, jingga, melebur menjadi satu menghadirkan senja yang sangat indah.
Ayana terperangah dan tersenyum senang bisa menikmati cantiknya langit sore yang sudah Allah suguhkan.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? MasyaAllah, begitu indah ciptaan mu ya Rabb. Senja ... aku sangat menyukainya. Terima kasih sudah menghadirkan lukisan seindah dan secantik ini ya Allah," tutur Ayana sembari memeluk stir mobil.
Kedua sudut bibirnya tidak berhenti melengkung menyaksikan betapa syahdunya pemandangan di depan. Senja sejatinya sudah menjadi obat mujarab bagi Ayana untuk menyembuhkan kepelikkan dalam batin.
__ADS_1
...***...
Kurang lebih satu jam lamanya, ia tiba di toko lagi. Ayana memarkirkan mobil dan bergegas mauk ke dalam.
Baru saja ia membuka pintu kaca, langkahnya terhenti saat seseorang beranjak dari duduk. Pandangan mereka saling bertubrukan dengan jantung berdegup kencang.
Ayana berusaha menetralkan debaran itu sembari berusaha terlihat baik-baik saja. Ia belum bisa mengakui jati diri sesungguhnya.
"Mbak Ayana?" Suara maskulin itu menyapa.
Gibran, adik Zidan pun mendatanginya. Ia tidak sadar jika di acara malam itu sang pewaris kedua keluarga Ashraf hadir di sana.
Ia hanya tahu jika Zidanlah yang turut diundang. Namun, nyatanya Gibran datang memenuhi undangan sebagai desainer pendatang baru.
"Maaf, Anda siapa yah?" tanya Ayana memiringkan kepala seraya tersenyum simpul.
Gibran mengerutkan dahi dalam. "Ah, maaf. Sepertinya saya salah mengenali seseorang," jawab pria itu kikuk.
Ayana berbalik seraya meletakan tangan kanan di pinggang. Menyaksikan senyum lembut itu Gibran pun terperangah. Ia berusaha untuk tidak terlihat terkejut kala mendapati wanita yang mirip kakak iparnya menghadirkan harapan.
"A-apa? A-anda tahu siapa saya?" tanya Gibran gugup. Ia yakin wanita itu adalah kakak iparnya, terbukti jika Ayana mengetahuinya.
Wanita berhijab itu pun kembali menganggukkan kepala. "Anda ... putra kedua dari keluarga Ashraf, kan? Em-" Ayana meletakan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagu sembari menengadah ke atas memikirkan sesuatu.
"Ah, Gibran Ashraf? Maaf, tidak menyambut Anda dengan baik. Silakan duduk, saya akan membuatkan Anda teh hangat," tutur Ayana yang membuat Gibran benar-benar kehilangan akal sehat.
Lidahnya kelu, kata-kata yang ingin dilontarkan tercekat di tenggorokan. Ia mendapati Ayana seperti orang asing yang benar-bena baru pertama kali bertemu.
__ADS_1
Ia sudah salah menafsirkan jika sang kakak ipar masih hidup. Wanita di hadapannya ini bukanlah Ayana yang ia kenal.
Ghazella Arsyad, itulah nama pelukis tersebut. Antara Ayana dan Ghazella adalah dua sosok yang bertolak belakang.
"Mbak Ayana tidak terlihat sepercaya diri seperti ini. Mbak Ayana cenderung pemalu dan tertutup, tetapi wanita ini ... sangat kharismatik dan berwibawa. Sebenarnya siapa dia? Kenapa sangat mirip sekali dengan mbak Ayana?" monolog Gibran dalam benak seraya terus memperhatikan Ayana.
Dalam diam Ayana pun berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak terlihat canggung. Ia terus beristighfar menenangkan tubuh gemetarnya.
Melihat seseorang yang memperlakukannya dengan baik membuat ia tidak bisa terus berbohong. Namun, ia melakukan semua itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Ia tidak ingin jatuh kedua kali ke dalam lubang yang sama.
"Mbak minta maaf, Gibran," benaknya.
Di tengah obrolan yang mereka lakukan, pintu toko kembali dibuka. Suara berdecit antara lantai dan pintu pun mengalihkan perhatian.
Ayana dan Gibran menoleh ke belakang mendapati pria bertubuh tinggi tegap dengan senyum menawan memandangi mereka.
Ayana beranjak dari duduk menyambut kedatangan sang kakak. "Oh iya, kenalkan beliau adalah kakak saya, Danieal Arsyad."
Mendengar dan melihat pria tepat di sebelah, Gibran mendongak bersitatap langsung dengannya. Ia pun bangkit memandangi wajah tampan itu.
"A-ah, kenalkan saya Gibran Ashraf. Se-senang bertemu dengan Anda," gugupnya lagi.
Mereka pun bersalaman berkenalan satu sama lain. Dalam diam Ayana tahu apa yang tengah dipikirkan Gibran saat ini.
Kejutan itu pun tidak hanya sampai di sana saja, kedatangan dua orang paruh baya membuat jantungnya berdegup kencang. Gibran tidak menyangka jika wanita dewasa berhijab sederhana dengan pria baya di sampingnya merupakan ayah dan ibu Ayana.
Mereka kembali saling berkenalan hingga membuat pikiran Gibran melalang buana. Ia tidak menyangka jika wanita yang mirip dengan mendiang kakak iparnya adalah orang lain.
__ADS_1
"Setahuku mbak Ayana adalah anak yatim piatu. Jadi, tidak mungkin kan dia sekarang tiba-tiba saja mempunyai keluarga? Apa benar wanita ini hanya mirip saja dengan almarhumah mbak Ayana?" benaknya berkecamuk.
Ayana melebarkan senyum penuh makna menyaksikan kemelut dari sorot mata Gibran. "Mbak terpaksa melakukan ini. Karena Mbak tidak mau kalian mengetahui jika aku masih hidup. Belum saatnya dan mungkin ... aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Terlalu sakit jika harus berhubungan dengan keluarga kalian, terutama kakakmu. Mbak benar-benar minta maaf sudah memalsukan kematian," benaknya seraya terus memperhatikan Gibran yang nampak kikuk setelah berkenalan dengan keluarga dokter tersebut.