
Semalam menjadi sebuah historis paling mendebarkan dalam hidupnya. Ayana tidak menyangka jika dirinya akan mengungkapkan siapa ia sebenarnya.
Ia melakukan itu sebab tidak ingin semua orang tahu jati dirinya dari orang lain yang bisa saja menimbulkan malapetaka.
Keputusan tersebut ia buat dengan sangat matang. Ia juga yakin lambat laun kebohongannya bisa terbongkar jua.
Namun, siapa yang menyangka jika ia akan membuka semuanya tepat di acara yang paling diidamkan. Semua sudah menjadi rahasia di atas, jika Allah sudah berkehendak apa pun bisa terjadi.
Ia yang baru saja tiba di gallery kecilnya dikejutkan kedatangan seseorang. Hentakan sepatu heels itu seketika membuat ia berbalik.
Belum sempat Ayana mengucapkan sepatah kata, wanita itu mendorongnya kuat menggunakan lengan kanan. Punggung rampingnya langsung menghantam tembok cukup keras.
"Oh-oh-oh, ada apa ini? Wah sungguh kejutan yang tidak terduga," ucap Ayana memandangi sang lawan bicara.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Ayana. Kamu sengaja kan malam tadi membuka jati dirimu yang sebenarnya untuk mempermalukan aku dan mas Zidan?" Bella, wanita itu kembali mendatanginya mengucapkan kata-kata yang membuat ia tergelak.
Ayana kemudian menyeringai lebar menatap nyalang manik berlensa hitam legam itu. Ia tahu pasti Bella akan mendatanginya cepat atau lambat.
"Kamu sudah tahu jawabannya sendiri, kan? Kenapa? Takut? Kenapa tidak mencegahku tadi malam? Apa kamu tidak mau menjadi pusat perhatian lebih lama? Bukankah itu akan menjadi kesempatan yang bagus untukmu," tutur Ayana sinis.
Bella semakin menekankan lengannya di leher Ayana. Sang empunya tidak beraksi dan menahan sekuat tenaga pengap dalam dada.
"Kamu jangan main-main denganku yah, Ayana. Kamu-"
Sekuat tenaga, Ayana mencengkram lengan Bella dan mengangkatnya ke udara. Wanita itu seketika memekik kesakitan.
"Kyaa! Apa yang kamu lakukan, hah? Lepaskan." Bella menarik tangan dan mengelus pergelangannya pelan.
Ayana sedikit mendongakkan kepala berhijabnya, masih memberikan tatapan nyalang. Sorot mata dingin nan tajam itu membuat Bella sedikit bergidik.
Ia tidak menyangka Ayana bisa seperti itu padanya. Selama satu tahun lebih mereka tidak bertemu banyak perubahan terjadi.
"Kamu pikir, aku hanya bisa diam saja? Saat kamu menyakitiku seperti tadi?" Ayana menggeleng beberapa kali. "Aku tidak akan membiarkan kamu atau siapa pun seenaknya padaku lagi. Karena-" Ia menghentikan ucapannya lalu berjalan mendekati Bella.
Kedua wanita itu saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Kobaran api penuh amarah berkobar di kedua maniknya. Ayana tidak sedikit pun gentar melawan wanita yang dulu sudah terang-terangan menyakitinya.
__ADS_1
"Karena Ayana Ghazella sudah mati satu tahun lalu."
Mendengar hal itu, Bella merinding seketika. Bulu kuduknya meremang menyaksikan kilatan emosi penuh rasa sakit di balik matanya.
Ia mengepalkan kedua tangan sekuat tenaga berusaha bertahan dari ketakutan. Ia tidak bisa goyah begitu saja menghadapi sang lawan.
"Apa kamu pikir dengan melakukan itu ... kamu sudah menang? Tidak Ayana, kamu salah. Kamu-"
"Aku memang sudah sangat salah. Kenapa aku melakukan semua ini jika tidak dengan pertimbangan yang matang? Aku sudah sangat siap dengan segala resikonya," potong Ayana cepat.
"Ah, atau kamu mau aku mengembalikan rasa sakit yang sudah kamu berikan?"
Bella terbelalak, denyut jantungnya bertalu kencang. Wanita yang kini ada di hadapannya bukanlah Ayana yang ia kenal dulu.
Ayana waktu itu hanyalah seorang wanita lemah, bisa ditindas semaunya, dan bisa dipermainkan sesuka hati. Sampai ia pun menyuruh Zidan untuk menggugurkan kandungannya, Bella tahu jika Ayana menguping pembicaraan mereka.
Ia sengaja dan ingin melihat reaksinya. Namun, siapa sangka Ayana masuk ke dalam permainannya. Ia keguguran dan seketika kehilangan harapan.
Enam tahun ... enam tahun sudah Bella membodohi Ayana. Pernikahan yang dijalaninya bersama Zidan tidak berjalan mulus.
Seiring berjalannya waktu semuanya berubah. Ayana datang kembali dengan membawa perubahan. Bella terkejut wanita itu bisa melawannya balik.
"Jaga bicaramu, Ayana. Di mana sopan santun mu, hah? Apa kamu tidak takut karma?"
Mendengar perkataan Bella, Ayana tertawa kencang. Ia lalu kembali menatapnya lekat menarik sudut bibirnya.
"Sepertinya ucapan tadi aku kembalikan padamu. Apa kamu tidak takut karma? Apa yang kamu tanam waktu itu ... kamu akan menuainya suatu saat nanti."
"Ah, aku tidak mendoakan kejelekan padamu, tetapi bukankah hukum alam itu sudah pasti berlaku?"
Senyum yang mengembang di wajah cantiknya semakin membuat Bella merinding. Ia tahu makna di balik kata-kata yang dilontarkannya.
"Kamu-"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
Di saat Bella hendak melayangkan tamparan pada Ayana, gerakannya pun tertahan oleh suara seseorang.
Kedua wanita itu menoleh ke arah pintu masuk melihat sang pengusaha tampan datang. Ia berjalan bergegas mencengkram kuat pergelangan tangan Bella.
Dua kali sang pianis mendapatkan cengkraman dari dua orang berbeda. Rasa sakit itu semakin menjalar membuat embun merembes di manik jelaganya.
"Apa yang akan kamu lakukan, hah? Apa kamu mau menyakiti Ghazella?" tuturnya tajam.
Bella menarik tangannya lagi. "Kenapa Mas Arfan datang ke sini? Apa Mas mau bertemu dengan dia?" Ia menunjuk tepat ke wajah Ayana.
"Dia sudah menipumu, Mas. Dia menipu kita semua. Dia seorang pembohong, wanita murahan, wanita rendahan yang tidak bisa mendekatimu. Dia-"
Suara tamparan bergema di ruangan gallery tersebut. Ayana tidak menyangka Arfan bisa bertindak sejauh itu dengan menampar pipi putih Bella.
"Aku tidak peduli apa yang kamu katakan," gertak Arfan.
Ayana menutup mulut menganga dan masih menyaksikan perseteruan keduanya. Ia melihat kekecewaan dari raut muka Bella.
Sang pianis itu pun memegang pipi sebelah kirinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap nanar Arfan, tidak percaya apa yang baru saja diperbuatnya.
"Selama ini kamu tidak pernah kasar padaku, Mas. Apa yang membuatmu seperti ini?" ucapnya lirih.
"Aku tidak bermaksud bersikap kasar, tetapi ... ulahmu selama enam tahu sampai saat ini menyakiti perasaan Ayana, tidak bisa ditoleransi," kata Arfan menahan kesal.
"Bertahun-tahun kita bersama, delapan tahun kita menjalin hubungan, tetapi kamu juga hanya memanfaatkan ku saja, kan? Cinta? Bulshit, kamu tidak pernah mencintaiku sedikitpun," ungkapnya lagi mengungkapkan perasaan.
Ayana yang menjadi penonton atas drama berlangsung tepat di depan matanya kembali terkejut. Ia tidak menyangka jika hubungan Bella dan Arfan sudah terjalin delapan tahun lamanya.
"Jadi, saat dia menikah dengan mas Zidan ... Bella sudah berhubungan dengan mas Arfan? Ya Allah permainan apa lagi yang sedang Bella lakukan? Aku tidak menyangka jika sekarang semuanya terbongkar satu persatu," benak Ayana memandangi keduanya bergantian.
Bella terdiam, terisak menahan tangis yang menyeruak dalam dada. Ia juga tidak menyangka jika hubungan yang sudah dibangunnya selama delapan tahun bersama Arfan kandas begitu saja.
Kesalahan yang ia lakukan membuat Arfan menyerah pada hubungan mereka. Bella terlalu terobsesi pada pencapaian diri dan tidak memikirkan perasaan pasangannya.
Bahkan di saat Bella terang-terangan menikah dengan Zidan untuk melancarkan aksinya, Arfan masih setia. Namun, penantiannya selama ini berakhir dengan kekecewaan.
__ADS_1