
Ayana mengerutkan dahi dalam saat mendapati jika pintu galeri tidak terkunci.
Ia yang baru saja tiba terkejut bukan main dan heran menyaksikan itu semua.
Ia pun mendorongnya dan bergegas masuk ke dalam seraya memperhatikan satu persatu karyanya yang terpajang.
Tidak ada yang berubah, pikirnya.
Kedua kakinya kembali melangkah menelusuri setiap sudut ruangan apakah ada yang berbeda atau ada jejak seseorang, tetapi hasilnya nihil tidak ada apa pun.
Ayana menghela napas lega dan buru-buru ke ruangan di belakang kasir. Tangannya memegang handle pintu dan menariknya ke bawah.
Suara kunci terbuka memberikan semangat padanya untuk kembali menuangkan ide-ide terbaik.
Perlahan pintu terbuka, Ayana masuk ke dalam dengan pandangan fokus ke bawah. Sampai sedetik kemudian, di saat kepala berhijabnya mendongak ia benar-benar terkejut.
Ia berteriak sekencang-kencangnya dan hampir saja oleng jika tidak berpegangan pada pintu kayu di sampingnya akibat kedua kaki lemas.
Ia mengatur napasnya yang memburu dan terus beristighfar.
"Astaghfirullahaladzim, apa yang Mas lakukan?" pekiknya berusaha menangkan diri.
"Ayana~ adikku~" seru Danieal yang tengah duduk tepat menghadap ke pintu dan bertatapan langsung dengan sang adik.
Ayana mengerutkan dahi lebarnya dalam melihat penampilan sang kakak jauh dari kesan rapih dan dokter tampan itu terlihat sangat berantakan.
Kantung matanya terlihat berat, bibirnya sedikit pucat, kancing kemejanya terbuka sebagian, dasi yang melilit di kerah tidak terpasang sebagaimana mestinya, juga rambut yang biasanya ditata rapih sedemikian rupa kini terlihat acak-acakan.
"Ma-Mas Danieal? Apa yang terjadi?" tanya Ayana gugup dan berjalan cepat mendekat.
"Aku hancur Ayana... aku hancur," racau Danieal seperti anak kecil.
Kedua alis tegas Ayana saling bertautan erat, kembali merasa heran dibuatnya.
"Hancur? Apa yang hancur? Mas sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu di rumah sakit? Kenapa Mas tiba-tiba saja ada di galeri ku? Sejak kapan Mas ada di sini, dan bagaimana-"
Bibir Ayana yang terus menyerocos pun dihentikan oleh Danieal. Ia memegang kedua mulut itu menggunakan tangan kanannya.
Jari telunjuk sebelah kiri pria itu pun berada tepat di depan bibirnya sendiri.
"Shut, ini masih pagi Ayana dan kamu sudah berisik? Satu-satu kalau mau bertanya," keluhnya.
Ayana melepaskan tangan sang kakak dari mulutnya lalu terkekeh, malu.
"Maaf, habisnya ini pertama kali aku melihat Mas Danieal acak-acakan. Ih, jorok." Ayana menutup hidungnya kuat memindai Danieal dari atas sampai bawah berkali-kali.
__ADS_1
"Apa Mas benar seorang dokter?" sindir Ayana.
Namun, bukan jawaban yang didapatkannya melainkan pukulan pelan di puncak kepala. Ayana mengaduh pelan, sedangkan Danieal hanya menghela napas.
"Aku datang saat subuh tadi, bukankah kamu memberikan kunci cadangan padaku? Sejak kejadian kamu tidak bisa mengontrol diri sendiri, aku memegang kunci itu," racau Danieal menjelaskan keberadaannya di sana.
Ayana hanya mengangguk-anggukan kepala mengerti.
Danieal menghela napas lagi dan kembali berkata, "sudah lama aku tidak merasakan ini Ayana. Aku-"
"Apa? Apa Mas sedang jatuh cinta? Katakan... katakan... siapa wanita beruntung itu? Siapa wanita yang akan menjadi kakak ipar ku di masa depan? Apa dia cantik? Baik? Lembut? Perha-"
"Berisik Ayana, aku tidak tahu kalau kamu banyak bertanya seperti ini. Apa Zidan sudah mempengaruhi mu atau apa?" serobot Danieal membuat Ayana lagi-lagi hanya tertawa.
"Aku hanya penasaran saja, Mas," kata Ayana.
Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah gantungan kayu berada di pojok ruangan, belakang Danieal.
Ia membawa apron yang biasa digunakan untuk melukis dan langsung memakainya.
"Jadi, pada siapa cinta itu berlabuh?" tanya Ayana lagi yang kini tengah mendirikan dudukan kanvas dan meletakkan media lukisnya.
Satu persatu ia menyusun kuas yang hendak digunakan dan setia menunggu jawaban sang kakak.
Danieal menjatuhkan pandangan ke bawah seraya meremas kedua tangan erat.
"Jasmine."
Satu kata membuat Ayana terpaku, semua peralatan yang tengah berada dalam genggaman berjatuhan menimbulkan suara bergema.
Dengan gerakan patah-patah sang pelukis menoleh pada Danieal yang tengah duduk tidak jauh di samping kirinya.
"Ja-Jasmine? A-apa aku tidak salah dengar?" tanya Ayana sembari berjalan perlahan-lahan mendekati Danieal lagi.
Dokter tampan itu pun mengangguk tanpa ragu. Ayana menjatuhkan rahangnya melihat keseriusan serta malu bercampur menjadi satu.
Ia duduk di kursi kayu berbentuk bulat tepat di depan Danieal lagi.
Ia tidak bisa menahan haru mendengar serta melihat dengan jelas seperti apa perasaan kakak pertamanya untuk Jasmine.
Seketika air mata meluncur begitu cepat, Ayana menangis dalam diam seraya memandangi lawan bicaranya.
Merasakan tidak ada pertanyaan lain lagi, Danieal pun mengangkat kepala dan seketika terkejut menyaksikan Ayana menangis.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Danieal heran.
__ADS_1
"Aku senang... aku senang akhirnya mendengar Mas bisa jatuh cinta lagi, dan... wanita itu adalah Jasmine. Ini adalah rencana Allah yang sama sekali tidak pernah kita duga."
"Bisa saja dengan melalui jalan yang panjang ini, kalian akhirnya bertemu jodoh satu sama lain. Ah, masyaAllah, aku sangat terharu atas takdir yang telah Allah tuliskan untuk kalian." Ayana terus meracau dan tanpa henti kristal bening itu bercucuran.
Ia sangat bahagia dan lega mendengar pengakuan terdalam Danieal.
Melihat adiknya seperti itu, Danieal pun ikut terharu. Kedua maniknya berkaca-kaca dan sekuat tenaga menahan air mata.
"Benar, Ayana. Takdir Allah tidak ada yang tahu, dan rencana-Nya sungguh luar biasa. Di luar dugaan, aku bisa jatuh cinta pada Jasmine begitu saja."
"Awalnya aku merasa iba dan kasihan terhadap cerita kelam kehidupannya selama ini, tetapi... setiap kali kita melakukan terapi, aku mulai banyak tahu tentangnya."
"Dia sebenarnya wanita yang sangat baik... tutur katanya lembut, serta penuh perhatian. Dia... layak disandingkan sebagai calon ibu yang penuh kasih sayang. Aku... benar-benar mengguminya."
"Em, itu mungkin awalnya, tetapi lama-kelamaan aku mulai jatuh cinta padanya. Tidak... aku mencintainya," aku Danieal jujur mengungkapkan perasaan terdalam.
Ayana tercengang, perasaannya kembali terharu dan menggebu-gebu. Ia menangis sekencang-kencangnya meluapkan kebahagiaan.
Ia senang benar-benar senang mendengar semua kejujuran sang kakak.
Tidak lama setelah itu Zidan datang dan terkejut mendengar isakkan sang istri serta melihatnya menangis sesenggukan.
"Hei, ada apa ini? Kenapa Ayana menangis? Apa yang sudah kamu lakukan?" Zidan langsung menuduh Danieal seraya memberikan tatapan nyalang.
"Tidak... kamu salah paham. Aku tidak membuat Ayana menangis, istrimu... dia menangis sendiri," jelasnya memberikan pembelaan.
"Bohong! Buktinya Ayana menangis kencang seperti ini." Zidan masih melayangkan tatapan serius.
"Sayang, apa kakakmu menyakitimu?" tanya Zidan beralih pada sang istri.
Ayana pun semakin menangis kencang dan memeluk pinggang suaminya seraya menyembunyikan wajah berair itu di perut ratanya.
"Danieal!" geram Zidan menahan amarah.
"Tidak! Aku sama sekali tidak bersalah," kata Danieal lagi.
Mereka terus saling salah menyalahkan, sedangkan Ayana melihat pertengkaran itu dalam diam. Bibir ranumnya melengkung menyaksikan adu mulut sang kakak dan suaminya.
Bagaikan melihat anak kecil, ia senang mereka bisa "akur" layaknya keluarga.
"Eh akur dari mana? Bukankah mereka sedang adu mulut? Bukankah keluarga baisa melakukan itu? Aku senang melihatnya," benak Ayana seraya tertawa pelan.
Di balik pelukannya ia terus menyaksikan perseteruan mereka seperti anak-anak. Namun, di balik diamnya, Ayana bersyukur dan bernapas lega Danieal bisa jatuh cinta pada Jasmine.
Ia berharap Jasmine pun memiliki perasaan yang sama dan mereka bisa hidup bahagia bersama. Namun, semua itu menjadi takdir Allah.
__ADS_1