
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti dengan cepat.
Apa pun yang datang bisa saja kembali pulang suatu hari nanti.
Sama seperti kejadian demi kejadian yang menimpa kehidupan.
Tidak ada yang kekal abadi, sebab suatu hari masa akan mengubahnya menjadi lebih baik.
Kejadian kemarin bagaikan mimpi buruk yang pernah Jasmine rasakan. Ia layaknya berada di dalam delusi yang tidak tahu arah dan tujuan.
Semuanya serba hitam tidak ada harapan yang bisa diraih.
Namun, setelah tahun berganti, waktu berputar, Allah mengubah keadaan kelam tersebut menjadi penuh warna.
Ia bertemu orang-orang hebat yang bisa merubahnya menjadi lebih baik dan memperlihatkannya warna-warni dunia.
Sudah hampir tiga bulan lamanya sejak kejadian kemarin selesai, Jasmine berada di kediaman Ayana.
Ia tinggal sementara di sana, berkat usulan dari sang pelukis. Jasmine yang semula menolak pun terpaksa harus mengikuti keinginan Ayana.
Pelukis yang menjadi sosok motivasinya sudah banyak membantu. Tidak hanya Ayana saja, tetapi juga Danieal yang kembali memberikan terapi untuknya agar bisa sembuh.
Perlahan berkat dukungan dari orang-orang sekitar, Jasmine mendapatkan perubahan signifikan.
Ia sudah bisa tersenyum tulus dan mempunyai mimpi.
"Kamu yakin mau menggunakan ini?" Ayana menenteng selembar kain di balik Jasmine yang tengah duduk di depan meja rias.
Wanita berlandang di bawah mata itu pun tersenyum lebar.
"Aku yakin, Ayana. Aku... ingin menggunakan hijab sebelum terlambat. Karena sekarang aku sadar harus menjalankan kewajiban yang telah Allah perintahkan."
"Mungkin aku mendapatkan kehidupan kelam itu, sebab aku jauh dari Allah, tetapi sekarang perlahan-lahan semua berubah. Berkatmu yang telah mengenalkan ku kepada Allah. Cinta-Nya sungguh luar biasa, Ayana. Aku ingin lebih mengenal Allah lagi," tutur Jasmine menitikkan cairan bening meluncur bebas di kedua pipi.
Ayana yang mendengar itu pun turut tersenyum haru. Ia senang bisa mendapatkan jawaban yang sangat menggembirakan tersebut.
Ia pun duduk di samping Jasmine dan menggenggam kedua tangannya erat.
"Tidak Jasmine, bukan karena aku, tetapi... Allah-lah yang memilihmu untuk menjadi lebih baik dan... Allah memilihmu mendapatkan ujian ini sebab, Allah tahu kamu mampu menjalaninya. Mungkin jika itu menimpaku... aku belum tentu bisa setegar dan sekuat kamu. Karena itulah Allah memberikan ujian serta cobaan tersebut kepada mu, sebab Allah juga ingin memberikan yang terbaik."
__ADS_1
"Kamu tahu Jasmine, hidayah Allah itu mahal dan istiqamah di jalan-Nya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku pernah mengatakan bukan? Jika... aku sempat terjebak di dunia hitam, iya... aku hampir membunuh diri sendiri dan menentang ketentuan Allah."
"Namun, berkat kasih sayang-Nya dan cinta kasih-Nya, Allah memberikan kesempatan kedua padaku untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Itulah... kepada hamba-Nya yang penuh serta berlumuran dosa sepertiku saja Allah masih memberikan kebaikan-Nya. Bukankah Allah sangat baik?" tutur Ayana panjang lebar.
Kristal bening pun bercucuran teringat bagaimana kasih sayang Allah yang selama ini Ayana rasakan.
Allah memberikan kebaikan demi kebaikan selepas perginya rasa sakit. Ayana terkadang malu ketika mengingat kelakuannya yang hampir menentang kehendak di atas.
Takdir yang Allah berikan sempat ia putus dan terjebak di dalam lubang keputusasaan.
Namun, berkat bimbingan serta petunjuk yang Allah berikan ia bisa menjalankan kehidupannya lagi dan memasrahkan semuanya kepada Allah semata.
Karena ia sudah merasakan jika hidup mengandalkan rencananya pasti akan berantakan, tetapi setelah ia memasrahkan semuanya kepada Allah dan biarkanlah Allah yang mengatur semuanya, maka kebaikan demi kebaikan itu datang.
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar: 53)
"Jadi, Jasmine kamu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebab pintu maaf-Nya sangatlah luas," kata Ayana lagi.
Jasmine termenung, ikut menitikkan air mata kembali. Tatapan iris bulannya memandang pergelangan kiri Ayana yang tertutup abaya.
Melihat tatapannya sang pelukis pun menyadari itu. Ia menyibaknya pelan dan memperlihatkan bekas luka akibat perbuatannya sendiri pada Jasmine.
"A-Ayana?" Panggilnya gugup.
"A-apa tidak apa-apa kamu memperlihatkannya padaku?" tanya Jasmine tercengang.
"Sama sekali tidak, ini adalah bukti jika tidak baik memutuskan segala sesuatu yang tidak Allah ridhoi. Beruntunglah kamu Jasmine Allah memberikan hidayah-Nya," balas Ayana semakin membuat Jasmine menangis haru.
Tanpa terasa isakan pun mengalun di kamar lantai satu mansion keluarga Zidan.
Ayana langsung memeluknya erat seraya memberikan tepukan pelan.
Di tempat itulah selama ini Jasmine menata kehidupannya menjadi lebih baik.
Setiap hari ia diajarkan menjadi pribadi dan muslimah yang lebih baik lagi. Ada kalanya Ayana dan Zidan pun mengadakan pengajian untuk mengobati spritual mereka, terutama Jasmine.
Mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an membuat Jasmine lebih tenang.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya hidayah itu pun datang. Jasmine menginginkan menjadi muslimah seutuhnya.
Selepas isak tangis kedua wanita itu mengalun, Ayana membantu Jasmine mengenakan hijab.
Kerudung panjang itu dibentangkan lalu diletakkan di atas kepala Jasmine.
Dengan gerakan pelan, tapi pasti selembar kain menempel, menyembunyikan rambut berkilaunya.
Keharuan untuk kedua kali tercipta di sana. Ayana tidak kuasa menahan air matanya lagi menyaksikan betapa cantik nan anggun seorang Jasmine dalam balutan hijab dan gamis.
"MasyaAllah, kamu cantik sekali, Jasmine." Ayana menutup mulut menganga tidak percaya melihat ciptaan Allah seindah itu.
"Alhamdulillah, terima kasih, Ayana," balas Jasmine malu, rona merah pun menghiasai pipi putihnya.
"Bolehkah aku memelukmu lagi?" Pinta Ayana, Jasmine mengangguk mengiyakan.
Kedua wanita itu pun kembali saling berpelukan membagi kebahagiaan satu sama lain.
Tidak lama setelah itu, Ayana memperlihatkan wajah baru Jasmine kepada keluarganya yang lain.
Di ruang keluarga sudah ada Zidan, Danieal, Bening, serta kedua orang tua angkatnya berdatangan.
Setelah mendengar mengenai kondisi Jasmine, Celia dan Adnan ikut iba dan tidak menyangka masih ada anak yang terkekang akibat keluarga.
Mereka pun menganggap Jasmine sebagai keluarga dan mereka hidup bersama dengan harmonis.
"Semuanya lihat bidadari cantik ini," kata Ayana merangkul hangat Jasmine yang tengah menunduk, malu.
Mereka yang tengah sibuk bercengkrama pun menatap ke arahnya.
"MasyaAllah, cantik sekali," kata mereka kompak.
Bening pun berlarian mendekat dan langsung menerjang Jasmine begitu saja.
Ia mengucapkan selamat atas hidayah yang didapatkannya.
Tidak hanya Bening saja, Celia pun turut memberikan hal yang sama. Wanita paruh baya itu juga memberikan petuah-petuah yang membangun semangat Jasmine.
Wanita itu kembali menangis mendapatkan kebaikan dari orang-orang yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk bisa bertemu.
__ADS_1
Namun, ia percaya semua itu sudah menjadi takdir dan rencana Allah.
"Terima kasih, Ayana sudah memperlihatkan ku warna-warni dunia yang menyenangkan ini," benaknya memandangi Ayana yang tengah tertawa lebar menyapa satu persatu anggota keluarganya.