
Danieal sebagai saksi ketegangan di antara dua wanita itu menyadari sesuatu. Jika Jasmine tidak ingin Ayana mengatakan hal seperti tadi.
Namun, nasi sudah menjadi bubur, ucapan Ayana barusan tidak bisa ditarik kembali. Entah apa yang akan direncanakan sang adik, ia sama sekali tidak tahu.
Setelah mendapatkan berita mengenai hilangnya sang ahli waris keluarga Mahesa beberapa saat lalu, Ayana menceritakan jika wanita itu ada di galerinya.
Tidak menunggu waktu lama, Danieal mengajak Ayana segera pergi ke sana. Sesampainya di galeri mereka menanyakan keberadaan Jasmine.
Seruni mengatakan jika sejak tadi pagi wanita itu tidak keluar dari ruangan. Rasa cemas bercampur takut pun dirasakan Ayana, entah kenapa sejak perjalanan ke galerinya tadi, intuisinya bekerja.
Firasat itu mengatakan ada sesuatu tidak beres pada Jasmine.
Kecurigaan serta ketakutan yang dirasakannya pun terbukti, saat ini Jasmine memberikan tanda-tanda tersebut.
Ia melihat tubuh Jasmine bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal, berkeringat dingin dan terlihat lelah.
Ayana menoleh pada Danieal yang mana kode tersebut tidak begitu ditanggapi sang dokter.
Danieal menautkan alis dalam, tidak mengerti apa yang hendak disampaikan Ayana.
"Jasmine." Panggil Ayana lagi.
"Lepaskan! Kamu sama saja dengan mereka... kamu ingin melihatku terus terpuruk dan terkurung di sana! KAMU SAMA SAJA AYANA!" Jasmine menarik tangannya kasar dan berteriak kencang.
Ia tertawa penuh luka seraya menyambar benda di atas meja. "Tadinya aku ingin memberikan ini padamu, tapi-" Kepalanya menggeleng beberapa kali dengan bibir mengerucut menahan kekecewaan.
"Kamu memintaku untuk pulang? Sungguh ironi," lanjutnya.
"Aku benar-benar kecewa padamu, Ayana," katanya lagi lalu membanting kan kristal yang sudah dibentuk bintang sekuat tenaga.
Semuanya hancur dalam hitungan detik di tengah-tengah kaki mereka. Ayana menunduk ke bawah melihat kristal itu berkelap-kelip menyapanya.
Ayana mengepal kedua tangan erat, dan menutup mata kuat. Sedetik kemudian ia membuka matanya lagi dan memandangi Jasmine kembali.
Senyum mengembang membuat Jasmine lagi dan lagi terkesiap, memiringkan kepala cemas.
"Kristal putih ini sangat cantik, cahaya matahari menyinarinya langsung membuat ia berkelap-kelip seperti bintang di langit."
"MasyaAllah, cantik sekali. Terima kasih, Jasmine sudah memperlihatkan kecantikan ini padaku." Ayana mengangkat kepala memandang lekat pada sepasang hazelnut di depannya.
__ADS_1
"Tapi... kamu tidak memperlihatkan makna sebenarnya, kembalilah Jasmine. Kembali pada dirimu sendiri, aku... tidak memaksamu untuk kembali ke rumah itu, tetapi pada diri Jasmine yang sebenarnya."
"Aku tahu saat ini kamu... bukan Jasmine yang sebenarnya. Sosok mu terkubur pada rasa takut dan cemas. Apa kamu mau bangun bersamaku?" Ayana merentangkan tangan kanan ke hadapannya.
Jasmine terpaku, bak pahatan yang baru selesai dirinya buat. Ia bagaikan berada di dimensi lain menyuguhkan harapan setinggi awan.
Namun, bayangan pada saat di bangunan megah itu mendatanginya cepat. Jasmine menggeleng-gelengkan kepala cepat dan tidak lama ia mengamuk melemparkan semua barang yang ada di sana.
Pikirannya berkata jika Ayana hanya memanfaatkan situasi yang ada. Kekecewaan itu lebih besar mengsalah artikan apa yang hendak sang pelukis sampaikan.
Sampai lukisan Ayana pun menjadi korban akibat keganasan Jasmine.
Melihat hal tersebut Danieal terkejut bukan main dan hanya melihat Ayana berdiri di tempatnya begitu saja.
"Ayana, pergi! Kamu bisa terkena amukannya, apa yang kamu lakukan?" tanya Danieal cemas melihat sang adik tiba-tiba saja berjalan mendekati Jasmine.
Tanpa ia duga Ayana memeluknya begitu erat dan mengeluarkan benda yang sama sekali tidak pernah Danieal pikirkan akan digunakan oleh adiknya.
Ayana mengeluarkan jarum suntuk lalu menusukkannya cepat ke lengan Jasmine.
Wanita yang berada dalam pelukannya perlahan-lahan kehilangan kesadaran dan ia pun jatuh pingsan.
Danieal terbelalak, berjalan mendekat memandangi keduanya bergantian.
"Tentu saja aku memberinya obat bius, aku dapatkan di tas dokter mu, Mas," akunya jujur.
"A-apa? Wah, aku benar-benar tidak bisa membaca apa yang kamu pikirkan. Kenapa kamu bertindak seperti ini?" tanya Danieal menggebu-gebu.
Ayana mengulas senyum singkat dan memandangi Jasmine di pangkuannya.
"Karena aku seperti melihat diriku sendiri. Aku tidak ingin Jasmine atau wanita mana pun terpuruk oleh perbuatan biadab seseorang. Aku ingin memperlihatkan pada Jasmine jika kita bisa bangkit dan melawan dunia."
"Kejadian mengerikan itu bukan berarti mengalahkan kita, tetapi sebagai batu loncatan untuk merubah dunia," tutur Ayana membuat Danieal terpaku.
Manik cokelat kelamnya melebar dan setelahnya mengembangkan senyum, haru.
"Aku bangga padamu. Kamu memang adikku yang luar biasa," katanya sambil menggenggam kepala sang adik dan memberikan kecupan singkat di sana.
Ayana pun terkekeh lalu mendongak penuh harap.
__ADS_1
"Bisakah Mas menghubungi ambulans? Mas mempunyai pasien baru," katanya. Danieal pun mengangguk antusias dan langsung menghubungi ambulans.
...***...
"Apa katamu? Jasmine tidak diketahui di manapun? Apa saja kerja kalian selama ini, HAH?" teriak pria baya itu.
"Kami minta maaf Tuan Alexa, tetapi... kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan nona Jasmine," balas salah satu dari tiga orang suruhannya.
Alexa, pria berumur lima puluhan itu pun melemparkan asbak keramik di atas meja pada mereka.
Ketiganya pun buru-buru menghindar dan alhasil asbak tadi mengenai tembok menghasilkan bunyi nyaring di sana.
Napas Alexa memburu meremas kepala ular di tongkatnya kuat menahan kesal.
"Aku tidak mau tahu, kalian cari sampai dapat. Kalau perlu kerahkan semua anak buah kalian ke segala penjuru kota di dunia ini!" titahnya menggeram marah.
"Baik Tuan," kata ketiganya kompak dan buru-buru meninggalkan ruangan sebelum pria tua itu semakin menjadi-jadi.
Alexa menghentakkan ujung tongkatnya kuat seraya memandang nyalang ke depan.
"Gadis itu... bisa-bisanya dia kabur. Awas saja kalau sampai dia ketemu... aku tidak akan pernah memberikan akses apa pun padanya lagi."
"Bagaimana jadinya bisnis keluarga ini kalau dia saja tidak ada? Bisa-bisa bangkrut." Alexa pun berteriak kencang sambil membanting lampu meja begitu saja.
"Dasar gadis sialan," geramnya.
Kepalanya pun kembali terangkat memandang lekat pada figura besar tepat di hadapannya. Kedua sudut bibir itu menyeringai lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi rapihnya.
"Anakmu sangat tidak berguna, Mas. Anak itu tidak tahu diri. Maaf saja, jika aku memperlakukannya seperti ini... untuk mempertahankan tradisi kita," celotehnya pada dua sosok suami istri di dalam figura.
Bak keluarga kerajaan pakaian yang tengah dikenakan pria-wanita di dalam foto seperti seorang raja dan ratu.
Tatanan rambut mereka pun ditata rapih sedemikian rupa layaknya bangsawan. Dua orang itu adalah ayah dan ibu Jasmine.
Keduanya meninggal atas peperangan yang tiba-tiba saja memberondong ke mansion mereka.
Keturunan keluarga Mahesa yang memilik bakat keseratus satu pun meninggal seketika. Mereka meninggalkan seorang putri yang sangat cantik bernama Jasmine Magnolia Mahesa.
Sejak saat itu Jasmine berada dalam pengawasan adik kandung dari sang ayah yaitu, Alexa. Dari umur lima tahun ia dibesarkan olehnya, tetapi nyatanya hanya dimanfaatkan semata.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu seperti apa kejamnya peperangan yang terjadi di mansion itu dua puluh enam tahun lalu.
"Maaf Mas, Mbak, kalian harus meninggal secara tragis," gumam Alexa lagi.