Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 103


__ADS_3

Ketegangan masih menetap di wajah kedua wanita yang pernah terlibat dalam rumah tangga tersebut.


Ayana maupun Bella sama-sama teguh pada pendirian dan tidak ingin saling menyerah.


Sang pianis memegang keyakinan mementingkan ego untuk tidak menyerah pada Ayana. Kini kelemahannya sudah didapatkan, sekejap mata saja berita itu tersebar maka, kariernya sebagai musisi akan redup.


"Apa yang kamu inginkan, Ayana?" tanya Bella geram.


Ayana kembali menyeringai menyaksikan sorot mata ketakutan tercetus dalam irisnya. Ia mencondongkan tubuh ke depan membuat sang lawan bicara mengerutkan dahi dalam.


"Aku ingin ... kamu sadar. Itu saja," lanjut Ayana menarik dirinya lagi.


Bella terperangah dan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Aku tidak bermaksud untuk membuka aibmu, tetapi setiap tindakan pasti akan ada balasannya, kan? Jika dari bukan tanganku, Allah pasti memberikannya melalui orang lain ataupun keadaan," katanya lagi.


Bella semakin tak karuan, kepalan tangan mengerat seiring berjalannya waktu. Dadanya naik turun menahan kekesalan melanda.


Ia masih tidak menyangka Ayana yang dulu selalu polos dan menerima segala keadaan, kini berbanding terbalik.


Sosok di hadapannya kali ini bukan main-main. Ia bisa menunjukan taringnya hanya dalam sekejap dan membalas siapa saja yang mencoba menyakitinya.


"Apa kamu mendoakan ku mendapatkan hal itu?" tanya Bella lagi.


"Tidak, hanya saja bukankah itu sudah menjadi hukum alam?" Ayana kembali memberikan tatapan nyalang.


Senyum penuh makna tercetus di bibir ranumnya. Bella semakin dan semakin terkesiap, sudah tidak bisa mengatakan sepatah kata lagi.


Pandangan mereka masih saling bertemu satu sama lain. Ayana melebarkan lengkungan bulan sabit melihat sang pianis terpojok.


Tanpa mengatakan apa pun, Bella menghentakkan sebelah kaki lalu pergi dari sana.


Ayana melambaikan tangan menemani kepergiannya.


"Selamat tinggal, semoga setelah ini kamu tidak berulah lagi," kata Ayana menatap punggung itu semakin menjauh.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, cuaca di ibu kota masih terlihat kelam. Awan kelabu hadir menemani setiap aktivitas yang masih berjalan.

__ADS_1


Udara cukup dingin di mana angin berhembus kencang menerbangkan pepohonan di sisi-sisi trotoar.


Ayana masih berkutat di galerinya. Sedari tadi ia terus melayani para pengunjung yang ingin berkonsultasi mengenai lukisan. Serta mereka pun ingin memesan karyanya sesuai dengan selera masing-masing.


Mulut menawan itu tidak berhenti berceloteh menjelaskan satu demi satu gambar yang tersisa beberapa di sana.


Tidak lama setelah itu, pintu galeri dibuka. Tanpa Ayana sadari seorang wanita berambut panjang menjuntai di balik punggung rampingnya mendekat perlahan.


Ayana yang fokus kepada para pengunjung pun tidak mengindahkan keberadaannya. Sampai suara wanita itu membuat atensi mereka mengarah pada satu titik.


"Bisa kita bicara?" Suara halus mengalun.


Kedua alis tegas sang pelukis pun saling bertautan. Di hadapannya berdiri seorang wanita berambut hitam panjang, mengenakan kacamata hitam, dengan bibir merah meronanya mengulas senyum.


Wanita itu memakai turtle neck warna abu tua yang dipadukan dengan jaket kulit hitam serta rok span senada dan sepatu boots melengkapi penampilan menawannya.


Ayana memandangi sang lawan bicara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia seolah melihat wanita itu di suatu tempat.


"Tunggu! Kenapa Nyonya ini rasanya tidak asing?" benaknya berkecamuk sembari menggali ingatan dalam kepala.


"Ah aku ingat, Nyonya ini mirip dengan nona muda Saida. Apa jangan-jangan ... beliau ini-"


Seketika pemilik galeri tersebut tersentak dan langsung berpamitan kepada para pengunjungnya.


Ia lalu berjalan mendekati Sabina yang masih menyunggingkan senyum manis.


"Nyo-Nyonya Sabina?" Panggilnya membuat sang empunya mengangguk.


"Bisa kita bicara?" pinta Sabina kemudian.


Ayana pun mengiyakan tanpa menolak sedikit pun.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk saling berhadapan di kafe dekat galeri. Dua gelas kopi hangat menemani kebersamaan Ayana dan Sabina.


"Maaf sebelumnya apa Anda-"


"Langsung saja, apa alasan Nona menemui ibu dan kakak kembar saya di desa itu?" sambar Sabina cepat.


Auranya seketika berubah, tegas nan serius tercetus dalam diri Sabina. Ayana tertegun salah satu anggota presdir Han menemuinya langsung.

__ADS_1


"Apa Nyonya mengetahuinya dari nyonya besar Yara?" tanya balik Ayana.


"Tidak, saya mengetahuinya dari rekaman di rumah itu. Kamu ... menghasut mereka untuk menjatuhkan ayahnya sendiri? Apa yang kamu inginkan, hah? Apa kamu mau merusak ketenangan keluarga kami?" Sabina menyolot sedikit meninggikan suara.


Para karyawan kafe pun saling lirik dan menatap ke arah meja mereka. Menyadari tatapan itu, Ayana menoleh membalasnya satu persatu lalu mengangguk singkat, seolah mengatakan aku baik-baik saja.


Melihat kode tersebut mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan dan tetap waspada.


"Mungkin Anda sudah tahu apa yang kami bicarakan di sana, apa Anda akan tetap membiarkan presdir Han berbuat sesuka hatinya? Di sini ... sudah banyak korban yang berjatuhan. Harus berapa korban lagi agar beliau mau berubah?"


"Apa Anda ingin melihat beliau terus menerus melakukan kejahatan sampai napasnya berhenti berhembus tanpa mendapatkan hidayah terlebih dahulu? Jika itu memang keinginan Anda, saya tidak bisa berbuat apa-apa."


"Namun, yang jelas keadilan harus tetap ditegakkan. Saya tidak ingin ada korban lagi berjatuhan," ungkap Ayana panjang lebar.


Sabina diam membisu, tangan di pangkuannya saling mengepal erat. Beberapa hari lalu ia terkejut saat melihat rekaman CCTV, di mana ada orang asing datang ke kediaman saudari kembarnya.


Selama ini tidak ada orang lain yang berkunjung ke sana. Melihat dan mendengar sendiri tujuan Ayana datang, Sabina pun tidak terima.


Sampai pada hari ini ia mendatanginya untuk bertatapan secara langsung. Ia tidak menyangka jika jawaban seperti itulah yang didapatkan.


Jauh di dasar lubuk hatinya paling dalam, Sabina pun ingin melihat sang ayah berhenti melakukan kejahatan.


Namun, ia juga tidak bisa kehilangan begitu saja semua harta yang dimilikinya saat ini.


Sekarang ia sudah berkeluarga dan hidup serba berkecukupan bersama keluarga kecilnya.


"Jika tidak ada yang ingin Anda katakan lagi, saya permisi dulu." Ayana pun bangkit dari duduk.


Sebelum kakinya melangkah Sabina kembali menghentikan.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa kamu ingin memenjarakan ayah?"


Ayana menoleh, menunduk menyaksikan Sabina yang tengah mendongak menatapnya.


"Jika itu perlu, maka akan dilakukan. Apa Anda tahu apa yang sudah dilakukan beliau pada saya? Perbuatannya sangat tidak bisa dimaafkan. Sejauh ini saya mencoba untuk bertahan agar tidak mengambil langkah yang salah, tetapi ... dalam hati saya sangat marah. Saya sangat membenci orang yang sudah melecehkan seorang wanita hanya mengikuti napsu semata." Ayana meredam suaranya menahan kekesalan dalam diri.


Setelah mengatakan itu ia benar-benar pergi dari hadapan Sabina. Wanita itu cengo, kembali terkejut atas informasi yang didapatinya dari salah satu korban sang ayah.


Ia menjambak rambut frustasi seraya menggebrak meja pelan.

__ADS_1


"Ayah ... apa yang sudah ayah lakukan? Pasti, cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap," gumamnya berang.


__ADS_2