
Melepaskan hanya satu kata yang tidak mudah untuk dilakukan. Sebuah rasa akan tetap menetap dalam hati kala perasaan itu tidak mudah untuk dibendung.
Ikatan benang merah tetap menghubungkan keduanya untuk bersama. Selagi Allah ridho dan meridhoi, maka hubungan tersebut akan berlanjut.
Tidak mudah untuk kembali pada seseorang yang telah memberikan luka teramat dalam, tetapi Ayana mencoba memberikan kesempatan kedua setelah melihat perjuangan seorang Zidan.
Bagaikan seekor ulat yang semula terjebak dalam kepompong, setelah bermetamorfosis ia akan menjadi kupu-kupu dengan sayapnya yang indah.
Bisa terbang bebas ke manapun yang ia suka melupakan kenangan sebelumnya.
Itulah yang tengah Ayana rasakan sekarang, selepas pergi dari rasa sakit dirinya bebas berekspresi melalui lukisan.
Berada di dunianya sendiri ia bisa terbang sesuka hati, tidak peduli ada rasa sakit tertanam dalam diri.
Seiring berjalannya waktu kupu-kupu itu kembali mendarat di bunga air mata. Meskipun begitu, ia tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama.
"Seperti bunga magnolia yang memiliki arti kesucian dan ketulusan dalam memberikan cinta kepada pasangan ... itulah yang saat ini tengah aku lakukan untukmu, Ayana. Aku akan tulus mencintaimu dan perasaan ini suci tanpa kebohongan. Kamu bisa membuktikannya sendiri nanti," kata Zidan kembali membuka suara.
Baik Ayana maupun Danieal yang mendengar penuturannya barusan, membulatkan manik lebar. Mereka tidak menyangka bisa menyaksikan langsung pengakuan manis dari pianis ini.
Danieal seketika tergelak dibuatnya, "wah, bro kamu benar-benar seperti pujangga, tapi lihat-lihat dulu kalau mau mengumbar kemesraan."
Ayana mengulas senyum mengerti dan membiarkan kedua pria itu saling berbicara.
"Eh, memangnya kenapa? Aku bebas melakukan apa pun pada istriku," balas Zidan tidak mau kalah.
"Iya bebas sih bebas, tapi lihat-lihat dulu siapa yang ada di hadapanmu?" Danieal masih mengatakan hal-hal yang tidak dimengerti Zidan.
"Artinya Mas Danieal masih lajang dan belum menemukan pasangan yang cocok," lanjut Ayana menengahi dan kembali menyesap minumannya.
Mendadak Zidan menoleh pada sang istri dengan tatapan lebar lalu kembali pada kakak iparnya.
"A-apa? La-lajang?"
"Iya, kenapa?" sulut Danieal emosi.
Zidan menahan senyum untuk tidak melepas tawa. Ia berusaha mengontrol diri sendiri agar tidak menyinggung perasaan dokter tampan tersebut.
"Tertawa lah sepuas mu jangan ditahan seperti itu nanti jadi penyakit," kata Danieal mengambil teh milik adik sambungnya dan meminumnya begitu saja.
Melihat hal tersebut membuat Zidan terdiam. Ia memandangi keduanya lekat seolah tengah membaca sesuatu dari gerak gerik mereka.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan kamu mencintai istriku?"
Seketika Danieal menyemburkan kembali cairan hijau itu ke depan yang hampir mengenai Ayana. Ia terbatuk beberapa kali seraya menunjuk sang pianis.
"A-a-apa maksudmu? Apa maksud perkataanmu tadi?" Danieal geram mendapati pertanyaan Zidan barusan.
"Aku hanya bertanya," jawab Zidan singkat.
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada Ayana? Dia sudah seperti adik kandungku ... bagaimana bisa aku mencintai adikku sendiri? Kamu ini yah kalau bertanya." Danieal menggeleng-gelengkan kepala sembari mengelap meja menggunakan tissue yang disodorkan Ayana.
Zidan mendengus pelan lalu mengulas senyum singkat.
"Baguslah kalau kamu tidak jatuh cinta pada Ayana," ungkapnya lagi.
"Itu tidak mungkin. Karena selama ini Mas Danieal selalu merawat ku seperti adiknya sendiri. Mas jangan berpikir yang aneh-aneh," kata Ayana kemudian.
"Iya Sayang, aku minta maaf." Zidan membalikan badannya menghadap Ayana.
Danieal memutar bola mata jengah melihat drama klasik tepat di depannya. Ia sibuk dengan pekerjaannya mengabaikan mereka berdua.
"Tunggu, dari mana Mas tahu arti magnolia?" tanya Ayana mengalihkan pembicaraan.
Zidan kembali menghadap ke depan lalu meletakkan kedua tangan di atas meja sembari menyatukan jari jemarinya.
Danieal menghentikan pergerakan dan menatap adik iparnya kembali.
"Tapi kamu tidak tahu satu hal," katanya lagi mengundang atensi penasaran Zidan.
Sang pianis beralih padanya kembali melihat sebelah sudut bibir Danieal terangkat penuh makna.
Pria keturunan Arsyad itu pun memandang pada sang adik yang sama-sama tengah memberikan sorot mata penuh arti.
"Ada apa ini? Apa yang sedang kalian rencanakan tanpa sepengetahuanku?" tanyanya semakin ingin tahu memandangi keduanya bergantian.
Kakak beradik itu masih saling adu pandang mengabaikan sorot mata bertanya-tanya dari Zidan.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Danieal kemudian.
Ayana mengangguk singkat. "Em, sejauh ini sudah delapan puluh sembilan persen. Kemungkinan berhasilnya sangat besar, seseorang akan membantu kita nanti."
"Baguslah, Mas doakan ini menjadi jalannya menuju kesadaran dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi," lanjut sang dokter lagi.
__ADS_1
"Hei-hei-hei, aku masih di sini. Apa yang sedari tadi kalian bicarakan?" Zidan kembali mencela merasa diabaikan.
Ayana dan Danieal pun memandanginya singkat lalu saling kembali bertatapan dan tersenyum lebar.
"Hei." Zidan meninggikan suaranya lagi.
"Kamu-" Danieal menunjuk tepat di depan hidungnya, kepala bersurai lembut itu pun mengangguk perlahan berharap sang kakak ipar bisa membocorkan rahasianya. "Cari tahu saja sendiri," ungkapnya lagi.
Zidan mendesah kasar seraya menoleh ke sebelah, percuma menunggu dan memaksanya untuk berbicara.
"Sudah-sudah, nanti Mas juga tahu," kata Ayana menengahi seraya menggenggam tangannya hangat.
Danieal tertawa terbahak-bahak menyaksikan ekspresi Zidan seperti anak kecil.
...***...
"Apa? Mereka mengundangku ke mana?" Suara Bella menggelegar di ruangan pribadinya.
"Tuan Zidan dan nona Ayana mengundang Anda ke syukurannya dua hari lagi," jelas Elisha sembari menyimpan undangan di atas meja.
Iris kelamnya bergulir melihat undangan tergeletak yang terdapat inisial G pada lelehan lilin di sana.
"Inisial G? Kenapa harus G? Bukankah keluarga mas Zidan biasanya menggunakan inisal A untuk Ashraf?" Bella membolak balikan undangan dalam genggaman.
Elisha hanya menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu. Sang pianis itu pun menatap lekat pada satu huruf di sana.
"Apa mungkin ini Ghazella? Cih, sungguh konyol," ucapnya melempar undangan itu kembali ke meja.
"Siapkan pakaian yang istimewa untuk menghadiri undangan ini." Bella beranjak dari duduk hendak pergi dari sana.
"Saya dengar Presdir Han juga di undang ke pesta itu," kata Elisha lagi menghentikan langkahnya.
Bella menolehkan kepala ke belakang seraya menyeringai.
"Benarkah? Pasti ini menjadi pertunjukkan yang sangat menarik."
Setelah mengatakan itu ia melangkahkan kaki lagi dengan tatapan nyalang.
"Ayana benar-benar tidak tahu apa yang akan ia hadapi. Dia mengundang pemangsanya ke kediamannya sendiri? Sungguh luar biasa, aku yakin saat ini Presdir Han sudah menyiapkan sesuatu untuk membalas kejadian tempo hari," benak Bella yakin.
Wanita itu berhasil lolos dari perbuatannya yang tidak benar. Ia tidak takut akan hukuman setelah berkali-kali terlibat permasalahan.
__ADS_1
Karena sudah berhasil bekerja sama dengan Presdir Han, Bella semakin berani. Ia tidak takut apa pun, sebab dalam genggamannya sang penguasa sudah berhasil dikuasai.