
Tiga hari berlalu, sejak malam terburuk sepanjang hidupnya Ayana berusaha untuk tidak bertemu dengan Zidan.
Tidak pernah Ayana memikirkan sedikit pun jika mantan suami bisa mengungkapkan perasaan. Kata-kata cinta yang diucapkannya mengandung empedu menyebarkan rasa pahit ke seluruh sanubari.
Tidak ada kepercayaan yang bisa Ayana rasakan kala mendengar kata-kata itu terus diucapkan. Ia merasakan rasa sakit yang terus menerus datang menerjang membuatnya semakin terluka.
Pagi-pagi sekali Ayana datang ke makam keluarga Ashraf, seraya menenteng sekeranjang bunga ia terus berjalan mencari keberadaan dua makam di sana.
Sampai tujuannya pun tertangkap pandangan, ia buru-buru mendekat dan berjongkok di sisi salah satu makam.
Ia mendapati kabar jika kedua makam itu berada di pemakaman milik keluarga mantan suaminya. Ia tidak menyangka jika Gibran akan menguburkan mendiang buah hatinya di sana. Ia pikir tidak ada yang peduli akan sang anak yang masih berupa gumpalan darah itu.
Setibanya di sana ia langsung memanjatkan doa-doa untuknya, di atas nisan itu terdapat sebuah nama Bintang. Ayana terdiam menyelami satu kata itu yang dirinya yakini dari mantan adik iparnya. Karena ia yakin dia satu-satunya orang yang begitu peduli terhadapnya di masa tersulit.
"Sayang, ini Mamah nak. Mamah minta maaf baru bisa datang ke tempat peristirahatanmu sekarang. Mamah sangat menyayangimu, meskipun ... meskipun kamu berada di perut Mamah hanya dua bulan, tetapi Mamah benar-benar merasakan kehadiranmu, Sayang."
"Mamah, menyayangimu melebihi hidup Mamah sendiri. Kamu adalah segalanya bagi Mamah. Maafkan Mamah, karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Ayana menangis sejadi-jadinya merasakan kembali kehilangan yang teramat kuat. Ia sesenggukan menahan kepedihan dalam dada.
Kehilangan seorang anak yang disengaja oleh suami sendiri menjadi pukulan telak. Ia tidak pernah membayangkan jika Zidan bisa setega itu padanya.
Mungkin ia masih bisa memaafkan, tetapi melupakan butuh waktu seumur hidup. Ia amat sangat terluka, di balik pengkhianatan, Zidan juga sudah membunuh anaknya sendiri dengan berencana.
Selesai menangis, Ayana menaburkan bunga di atas makam kecil buah hatinya. Setelah itu ia berbalik menghadap makam lain yang di nisannya diberi nama Ayana.
Ia pun memanjatkan doa-doa untuk almarhumah yang selama ini sudah menggantikan posisinya. Kelopak mata itu kembali terbuka memandangi gundukan tanah di mana di bawahnya terdapat jiwa yang sudah lama meninggal.
"Erina, aku minta maaf sudah mengambil jasadmu. Aku benar-benar minta maaf telah memanfaatkan mu yang sangat mirip denganku. Sejak kamu meninggal ibumu selalu aku jaga bersama mas Danieal."
"Beliau sangat bersyukur atas kehadiran kami yang bisa mengobati kepergian mu. Semoga kamu bisa beristirahat dengan tenang di sana. Semoga penyakit yang merenggut nyawamu ... bisa membawamu ke tempat yang terbaik."
"Kamu tahu aku sedikit senang melihat namaku di nisan ini." Alina mengelus pelan nisan yang berada di sebelahnya. "Ayana, iya ... Ayana sudah meninggal satu setengah tahun lalu."
"Ayana yang polos, mudah dibodohi, mudah dimanfaatkan, mudah dipermainkan, sudah lama meninggal. Terima kasih Erina, atas kesempatan yang kamu berikan. Tenang saja aku akan mengganti namamu nanti," racau Ayana seorang diri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia pun bangkit dari sana dan memandangi dua gundukan tanah itu. Ia tersenyum hangat lalu melangkahkan kaki.
Gerbang pemakaman tertangkap pandangan, ia terus berjalan hingga konsentrasinya buyar dengan getaran ponsel. Ia pun merogoh saku gamis dan mendapati pesan singkat di sana.
"Kamu datang ke sini juga?"
Belum sempat ibu jari mengklik pesan yang masuk, suara hangat seseorang menyapa. Ayana mendongak mendapati dua orang paruh baya tengah memandanginya lekat.
Ayana memandanginya dalam diam, sedangkan mereka tersenyum lembut padanya.
"Ini dua tahun cucu kami pergi, apa kamu juga mendatanginya?" katanya lagi.
Tanpa mengelak Ayana mengangguk mengiyakan. "Sepertinya Tuan dan Nyonya Ashraf sudah mendengar jika saya memang Ayana."
Lina dan Adnan pun melebarkan pandangan. Malam itu setelah Ayana mengungkap jati dirinya, semua media masa memberitakan mengenai sosoknya.
Pemberitaan itu pun sampai pada kedua mertuanya. Mereka benar-benar terkejut dan tidak menyangka jika wanita yang mereka yakini sebagai menantunya adalah Ayana.
Keraguan mereka pun terjawab sudah, Ayana masih hidup dan memalsukan kematian. Namun, meskipun seperti itu banyak sekali dukungan berdatangan.
"Ayana, menantuku." Secepat kilat Lina langsung menghamburkan diri memeluk sang menantu.
Ia berpikir jika Ayana masihlah istri sah dari putra pertamanya, Zidan. Ia juga berharap mereka bisa kembali bersama seperti hari-hari kemarin.
"Bisakah Nyonya melepaskan saya?" pinta Ayana formal.
Seketika Lina melepaskan pelukan dan menatap lekat manik kelam wanita muda di hadapannya ini.
"Kenapa? Kenapa kamu bersikap formal pada Mamah? Ini Mamah, Nak. Mamah adalah mertuamu," jelasnya mengingatkan.
Ayana tersenyum simpul, memandangi Lina lalu Adnan bergantian.
"Saya minta maaf, tetapi ... saya bukan Ayana yang dulu lagi. Saya bukan Ayana yang kalian harapkan lagi. Saya-"
__ADS_1
Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya, lagi dan lagi Lina memeluknya erat. Wanita paruh baya yang waktu itu sudah dianggap sebagai ibu kandungnya pun kembali merengkuhnya hangat sama seperti hari-hari lalu.
"Tidak! Kamu masih tetap Ayana yang kami sayangi. Kamu datang ke sini untuk mengunjungi Bintang, kan? Kami memberinya nama seperti itu agar anak kalian seperti bintang yang bisa menemani setiap malam orang tuanya. Ayana, meskipun kamu berubah, tetapi kasih sayang Mamah maupun Ayah tetap sama."
"Kamu masih menjadi menantu ah, tidak ... anak kami," ungkap Lina begitu saja.
Ayana tersenyum manis dan membalas pelukannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia terdiam dengan perasaan campur aduk.
...***...
Lina tidak sedikit pun melepaskan pegangan di tangan Ayana. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran seraya terus berbicara satu sama lain.
Adnan yang berada di belakang kedua wanita itu menyunggingkan senyum. Pria paruh baya tersebut senang bisa melihat menantunya lagi.
"Ayana, Ayah senang jika ternyata kamu masih hidup. Kenapa kamu pergi, Nak?" tanya Adnan kemudian.
Ayana menoleh padanya dan mengulas senyum simpul. "Terlalu banyak luka yang aku rasakan, kalian juga mengerti." Adnan dan Lina pun mengangguk paham.
"Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama? Mamah ingin sekali bisa makan bersamamu lagi, Sayang," ungkap Lina menatap penuh harap.
Ayana kembali beralih padanya lagi. "InsyaAllah, jika tidak banyak pekerjaan aku akan mampir."
"Janji yah?" ujar Lina memastikan.
Ayana menganggukkan kepala dua kali dan melepaskan pegangan tangannya dari cengkraman Lina pelan. Mau tidak mau nyonya besar itu pun merelakan.
"Kalau begitu aku pergi dulu ... nanti aku hubungi lagi," katanya lalu mengangguk sekilas dan bergegas pergi dari hadapan Lina serta Adnan.
Kedua paruh baya itu pun memandangi sang menantu dalam diam. Mereka berharap dan terus berharap Ayana bisa kembali menjadi keluarganya.
Sepanjang jalan, Ayana terus mencengkram stir mobil kuat. Pandangannya lurus ke depan dengan sorot mata tajam.
Ia teringat ada sebuah pesan yang belum sempat dibaca. Ia lalu menggapai ponsel tergeletak di jok sebelah.
__ADS_1
Ia membuka dan membaca pesan itu. Sebelah sudut bibirnya pun terangkat melihat pemberitahuan yang diberikan oleh sang kakak.
"Aku tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan bagus seperti ini. Semuanya benar-benar berjalan lancar," gumamnya. Mobil itu pun melaju kencang membelah angin di jalanan ibu kota.