
Embun menetes di dedaunan. Semalam hujan mengguyur ibu kota menyuguhkan udara dingin menyentuh kulit.
Cuaca yang tidak bersahabat akhir-akhir ingin mengundang pilu. Bagaikan langit pun ikut menangis pada kejadian yang menimpanya.
Perasaan gelisah terus tercipta di hati keluarga dalam menunggu kondisi Ayana yang masih sama seperti kemarin.
Sudah dua belas hari berlalu, selama itu pula sang pelukis nampak nyaman dalam buaian, tanpa terusik oleh apa pun.
Kelopak matanya seolah enggan terbuka kembali memberikan rasa gelisah kian menguap. Setiap saat Zidan selalu setia mendampingi sang istri di sana.
Setiap kali ia mendapati Ayana tetap sama, terdiam dan menutup mata dalam ketenangan. Sang istri seperti tidak ingin berkumpul bersamanya lagi.
Selama berhari-hari, Zidan terus bolak balik rumah sakit dan rumah mertuanya. Ia harus menemui kedua buah hati mereka yang sangat membutuhkan keberadaan orang tuanya.
Bayi yang sejak lahir belum merasakan pelukan ibunya pun selama dua belas hari ini berada dalam pengawasan sang nenek juga tantenya.
Celia dan Jasmine bekerja sama dalam mengurus buah hati Ayana serta Zidan. Sebagai ibu, juga calon ibu, kedua wanita itu memberikan yang terbaik untuk kedua bayi mereka.
Dibantu dengan Adnan, Danieal, juga orang tua Zidan, mereka bersama-sama mengurus si kecil.
Namun, tetap saja keberadaan ibu kandung sangat dibutuhkan bagi bayi kembar itu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, selesai melaksanakan salat ashar Zidan kembali ke ruangan Ayana.
Ia mengulas senyum singkat dan berjalan mendekat lalu duduk di kursi samping ranjang. Ia diam sebentar memandangi wajah damai sang istri, setelah itu mengeluarkan mushaf kecil dan membacanya lirih.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an bergema di ruangan. Sudah lima hari belakangan ini Zidan sering mengaji di kamar inap Ayana.
Ia berharap dengan lantunan ayat suci bisa mengembalikan kesadaran Ayana dengan cepat.
Ia pun tidak pernah putus berdoa dan meminta pada Allah yang terbaik, apa pun kondisinya Zidan akan berusaha sebaik mungkin untuk menerima.
Terkadang, Danieal serta Jasmine pun sering ikut mengaji bersama, tetapi kali ini ia kembali sendirian.
Zidan dan keluarganya bahkan rajin membagikan sedekah dan meminta doa, terutama dari anak-anak yatim maupun piatu untuk kesembuhan sang istri.
Hal itu rutin dilakukan sebelum ia datang ke rumah sakit.
Di temani alunan detak jantung Ayana, Zidan berusaha tegar melantunkan ayat-ayat Allah yang menenangkan.
Tidak ada yang tahu bagaimana sistem keajaiban Allah bekerja. Selepas melakukan serangkaian ikhtiar diiringi doa, kelopak mata yang semula enggan terbuka kini perlahan menggulirkan bola matanya berkali-kali.
Tangan yang dihiasi jarum infus sedikit demi sedikit menggerakkan jari-jemarinya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama setelah gerakan-gerakan kecil itu, Ayana sadar dari komanya selama berhari-hari. Iris jelaga yang semula bersembunyi di balik kelopak pun menampakkan diri lagi.
Wajah yang dihiasi masker oksigen memberikan uap dari napas pelan sang pelukis.
Zidan yang masih mengaji belum sadar jika istrinya telah sadar. Manik kelerengnya bergulir mendapati sang suami di sampingnya.
Ayana mencoba mengulurkan tangan yang terasa susah digerakkan. Dengan mengerahkan tenaganya yang lemah ia memberikan sentuhan kecil di punggung tangan suaminya dan membungkam pianis menawan tersebut.
Zidan diam membeku beberapa saat dan menurunkan mushaf yang menghalangi pandangannya.
Detik itu juga kedua mata mereka saling beradu. Degup jantung Zidan bertalu kencang dengan darah berdesir hebat.
Tanpa sadar air mata meluncur begitu saja di balik kelopaknya. Ia terpaku, bersyukur, Ayana bisa membuka matanya lagi.
"Maa syaa Allah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Zidan terus mengucap rasa syukur atas kesadaran Ayana.
"Aku panggil dokter."
Buru-buru Zidan menekan tombol di atas ranjang Ayana beberapa kali dan tidak lama berselang tenaga medis, termasuk kakak iparnya berdatangan.
Danieal serta Bintang terkejut sekaligus bersyukur mendapati sang pasien membuka matanya kembali. Mereka sama-sama memeriksa keadaan Ayana dan bernapas lega.
"Pasien dalam kondisi baik. Karena baru sadar, jadi pasien belum bisa banyak menerima respon, juga... untuk beberapa hari ke depan pasien akan mendapatkan serangkaian perawatan guna mengembalikan kerja otot-otot tubuhnya," jelas Bintang.
Binatang mengiyakan dan tersenyum lega, lalu melangkahkan kaki dari ruangan tersebut.
Di sana tinggallah Ayana, Zidan, dan Danieal. Ketiganya saling tatap berbicara lewat sorot mata satu sama lain.
Sampai Danieal yang tengah berdinas pun menjatuhkan tubuh ke atas kursi samping ranjang. Ia menyatukan kedua tangan dan menumpukan sikut di atas tempat tidur Ayana.
Ia meletakkan wajah tampannya di kepalan tangan tadi sambil menghela napas lega.
"Syukurlah, terima kasih ya Allah. Engkau sudah memberikan keajaiban pada kami, terima kasih..." racau nya terus mengucap syukur.
Zidan berkaca-kaca merasakan hal sama saat melihat Ayana sudah membuka mata, sedang pelukis itu hanya memperhatikan mereka dalam diam.
...***...
Di ruang inap Ayana dan Zidan kembali sendirian. Sang pianis tidak pernah melepaskan genggaman tangan dari jari jemari kekasih hatinya.
Ia terus memberikan kecupan-kecupan ringan di punggung tangan separuh napasnya. Kedua belah bibir itu sedari tadi melengkung, merasakan kelegaan tiada tara.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah kembali pada kami," gumamnya lirih.
__ADS_1
Air mata kembali menitik tak tertahankan, Zidan sangat bahagia dan benar-benar bersyukur.
Ayana yang sedari tadi memperhatikannya pun kini mengalihkan pandangan ke depan. Langit-langit kamar rumah sakit sudah tidak asing lagi baginya.
Ini kesekian kali ia berada di sana, seolah tempat itu satu-satunya bangunan yang lebih sering ia kunjungi.
"Aku-" Ayana membuka mulut mengucapkan satu kata.
Zidan terperangah dan memperhatikan sang istri dalam diam, menunggu kata apa yang hendak diucapkan selanjutnya.
"Bertemu ayah dan ibu... aku pikir... aku bisa bersama mereka selamanya," lanjut Ayana dengan terputus-putus.
Wajah pucat nya memperlihatkan aura positif, di mana hal tersebut membuat Zidan terpaku. Ia belum pernah melihat air muka Ayana seperti itu.
"Ayah dan ibu?" tanyanya balik, bingung sekaligus ketakutan.
"Em, ayah dan ibu," tegas Ayana lagi.
Hening mengambil alih, Ayana serta Zidan tidak membuka suara lagi untuk beberapa saat. Keduanya membiarkan pikiran masing-masing berkecamuk dan berkeliaran.
"Mereka sangat cantik dan tampan, aku berharap bisa selamanya bersama ayah dan ibu. Aku... sangat merindukan mereka."
Zidan kembali terkejut kala melihat kristal bening lolos di sudut mata sang istri. Ia sadar jika perkataan Ayana mengandung kepergian untuk selamanya.
"Apa yang kamu bicarakan? Apa-"
"Tapi aku mendengar satu suara yang menyadarkan." Ayana menoleh kembali pada suaminya dan memberikan senyum lemah.
"Suaramu yang menyadarkan ku, Mas. Kalau aku... harus kembali pada kalian."
Pernyataan yang syarat akan keharuan menyebar masuk ke relung terdalam. Zidan melebarkan pandangan dan seketika bulir air mata menetes kembali.
Senyum lemah yang terpendar di wajah ayu nan pucat sang istri membuatnya tak karuan. Zidan benar-benar terharu dan bersyukur bisa mendengar itu dari Ayana.
Sang pianis menangis tersedu sedan mengungkapkan semua perasaan lewat liquid bening. Ayana terpaku melihat tangisan begitu kuat dari pasangan hidupnya.
Hal itu pertama kali ia lihat dari pria yang pernah menyakitinya. Ia ikut terharu dan tersentuh akan ketulusannya saat ini.
Ayana pun ikut menangis dan menggenggam erat tangan tegap suaminya. Melalui sentuhan kecil itu mereka berharap bisa menyalurkan kekuatan satu sama lain.
"Ya Allah, terima kasih atas karunia yang telah Kau berikan. Terima kasih sudah memberikan suami terbaik untuk hamba. Terima kasih telah mengembalikan Mas Zidan dan merubahnya menjadi lebih baik."
"Terima kasih atas kesempatan kedua yang Kau berikan pada hamba. Semoga kali ini kami bisa bersama-sama membangun keluarga yang hanya berlandaskan pada-Mu," monolog Ayana dalam diam sembari memperhatikan isak tangis Zidan.
__ADS_1
..._END SEASON 3_...