
Angan masih berbisik lirih pada sebuah harapan untuk mencapai suatu tujuan. Kenyataan menampar keras jika apa yang diinginkan harus melewati sebuah perjuangan.
Memang tidak mudah, tetapi hasilnya sudah pasti jelas. Setiap perjalanan hidup mendatangkan ujiannya sendiri-sendiri, baik maupun buruk, sedih nan penuh luka telah menjadi ketentuan-Nya. Allah sebaik-baiknya pengatur kisah bagi setiap hamba.
Cerita itu sampai pada seorang Ayana Ghazella. Di mana kehidupannya penuh lika liku nan terjal. Banyak kerikil tajam memenuhi telapak kaki mendatangkan sakit tak berkesudahan.
Sejarah kelam akan masa lalu tertulis jelas dalam catatan, Ayana berusaha bangkit untuk tidak menangisinya lagi. Ia percaya Allah memberikan ujian tersebut, sebab Allah yakin dirinya mampu. Karena cobaan itu didatangkan padanya semata-mata hanya ia yang bisa melewatinya.
Itulah kata-kata penguat bagi Ayana, sebab sudah jelas dalam Al-Qur'an di surah Al-Baqarah ayah: 286 yang artinya, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Serta dalam surah At-Taghabun ayat: 11 yang artinya, "Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Dua ayat tersebut menjadi penguat Ayana untuk melalui segala cobaan yang telah menimpa. Meskipun air mata sudah banyak mengalir, serta kekecewaan menjadikan dirinya tidak percaya pada orang lain lagi, tetapi ia yakin jika Allah sudah menyiapkan yang terbaik.
Saat ini ia hanya fokus menata hati, fisik, serta mentalnya menjadi lebih baik. Ia berusaha untuk melupakan masa lalu dan memperbaiki diri dan lebih dekat pada Allah semata.
"Mbak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Gibran. Kamu pasti berpikir jika Mbak tidak mungkin kakak ipar mu, kan? itu benar ... itulah yang Mbak harapkan sekarang. Mbak tidak mau kamu ataupun dia tahu siapa aku sebenarnya. Sudah cukup, Ayana yang kalian kenal telah meninggal satu setengah tahun lalu." Ayana masih bermonolog dalam diam seraya terus memandangi Gibran.
Mantan adik iparnya itu mematung di tempat menyaksikan tiga orang di hadapannya. Mereka mengaku sebagai kakak dan juga orang tua Ayana.
Gibran mengangguk kikuk saat ketiga orang itu menyuruhnya duduk. Di tengah ruangan di penuhi dengan berbagai lukisan di dinding pun menjadi pertemuan mereka.
Ayana melipat kaki dan menatap tajam pada Gibran. Pria keturunan Ashraf itu pun membalas pandangannya dan kembali menautkan kedua alis.
"Jadi, Anda adalah keturunan keluarga Arsyad?" tanyanya memastikan kembali.
Bibir ranum Ayana melebar sempurna, "itu benar. Saya putri kedua mereka." Gibran mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Sungguh kebetulan sekali, kedatangan kami ke sini ingin mengajak Ghazella membahas pesta yang akan dilangsungkan sepekan lagi. Untuk itu kami hendak menyebarkan undangan ke beberapa kolega dan juga teman dekat," tutur Celia selaku nyonya Arsyad.
Wanita berhijab itu pun menjulurkan sebuah undangan berwarna hitam dengan cap lilin merah di tengah-tengah. Gibran terkejut dan langsung memandangi sang nyonya besar tersebut.
"Undangan ini milik keluarga Ashraf, bisakah Anda menyampaikannya kepada mereka untuk datang ke pesta kami?" tanya Celia lagi.
"Pe-pesta?" tanya balik Gibran.
"Itu benar, pesta itu dimaksudkan sebagai acara penyambutan serta memperkenalkan saya," balas Ayana membuat Gibran kembali menoleh padanya.
Senyum tegas itu mencuat lagi, Gibran tidak pernah menyangka melihat seseorang yang begitu mirip dengan mendiang sang kakak ipar.
Namun, ia juga menemukan perbedaan jika Ghazella dan Ayana tidaklah sama. Wanita di hadapannya ini penuh percaya diri dan juga memiliki tiga tahi lalat yaitu di pipi kiri, di bawah bibir serta dagu, sedangkan Ayana hanya memilikinya di pipi sebelah kiri saja.
Meskipun memiliki tahi lalat di posisi yang sama, tetapi Gibran tidak bisa memastikan jika orang itu benar-benar Ayana.
"Aku bahkan sampai harus membuat tahi lalat palsu ini untuk membuat mereka percaya jika ... aku bukanlah Ayana. Sungguh miris, nama belakangku saja mereka tidak tahu sama sekali. Pantas saja dari dulu ... aku tidak pernah diakui oleh keluarga besar Ashraf, hanya ayah, ibu, dan Gibran saja yang selalu baik," benaknya lagi.
"Ah, kalau begitu terima kasih atas undangannya. Saya akan sampaikan kepada ayah, ibu, dan lainnya," ungkap Gibran, mereka mengangguk kompak.
...***...
Sepanjang jalan pikiran Gibran masih melalang buana mengenai wanita bernama Ghazella yang baru saja ditemuinya.
Ia terus membanding-bandingkan antara dua sosok yang begitu mirip, tetapi berbeda. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk stir mobil seraya memikirkan kejadian yang begitu menakjubkan.
__ADS_1
"Shh, aku tahu jika di dunia ini kita memiliki tujuh kembaran, tetapi ... masa iya ada orang yang benar-benar mirip plek ketiplek? Bahkan orang kembar saja memiliki perbedaan, eh tunggu bukankah mbak Ayana dan Ghazella itu ada bedanya juga?"
"Arghh, aku tidak tahu." Gibran meracau lalu mengusak kepalanya kasar. "Tapi, jika memang mbak Ayana masih hidup dan berpura-pura sebagai Ghazella, aku sangat bersyukur. Karena bisa bertemu dengannya lagi dan berharap kehidupannya jauh lebih baik."
"Dia sama seperti mbak Ayana, gemar melukis. Dia pelukis terhebat yang pernah aku ketahui," gumamnya lagi. Mobil hitam mewahnya pun meluncur di jalanan ibu kota membelah angin malam.
Tidak lama berselang ia tiba di kediaman sang kakak. Setelah memarkirkan mobil ia masuk ke dalam dan mendapati Zidan tengah duduk di depan meja panjang layaknya di sebuah bar di temani segelas kopi.
Ia menghela napas pelan melihat kakak kandungnya selalu seperti itu sejak sang istri meninggal. Beberapa detik kemudian dari arah depan seorang pria berlesung pipi datang meletakan sepiring buah-buahan.
"Mas Haikal, tidak perlu mengurusi kakakku terlalu perhatian begitu," ucap Gibran membuat dokter tampan itu menoleh padanya.
"Tuan muda kedua? Ah, ini sudah menjadi kewajiban saya," jelas Haikal melihat putra kedua Ashraf duduk di sebelah Zidan.
Tanpa mengindahkan keberadaannya sang pianis itu memasukan sepotong anggur ke dalam mulut. Gibran mendengus pelan lalu mengeluarkan amplop hitam dalam saku jasnya.
"Itu undangan dari keluarga Arsyad, mereka mengundang keluarga kita ke pestanya," ungkap Gibran kemudian.
"Kenapa? Kenapa keluarga mereka mengundang kita?" tanya Zidan acuh tak acuh.
"Mereka ingin memperkenalkan putri keduanya-" Jeda sejenak Gibran memandang lekat sang kakak yang masih enggan menatap padanya. "Ghazella Arsyad, mereka ingin mengadakan pesta penyambutan bagi pelukis itu."
Seketika Zidan melebarkan pandangan dan langsung menoleh pada sang adik. Anggur yang berada dalam genggaman terlepas begitu saja.
Malam penghargaan pun berputar bak kaset kusut, di mana hari itu ia melihat seseorang yang mirip sekali dengan mendiang istrinya. Seperti bintang bersinar keberadaannya mengungkapkan siapa jati diri ia sebenarnya.
__ADS_1
Bayangan kemarin di mana Ayana datang untuk melukisnya pun hinggap dalam ingatan. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Ghazella Arsyad.
Zidan terpaku dengan degup jantung bertalu kencang saat menatap undangan hitam tergeletak tepat di depan kedua mata kepalanya.