
"Jadi, bagaimana liburanmu dengan mas Danieal di Negara Q? Apa sangat menyenangkan?" tanya Ayana di kamar sang kakak yang berada di mansion orang tuanya menatap sang kakak ipar dalam.
Jasmine yang sedang membereskan barang-barang bawaannya melirik sekilas sambil mengembangkan senyum. Ia tidak tahu jika adik iparnya ini penuh dengan rasa penasaran.
Namun, meskipun begitu ia senang Ayana begitu perhatian pada pernikahan mereka. Dari awal sampai sekarang sang pelukis tidak pernah berubah.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan baik dan sangat menyenangkan," balas Jasmine lalu melangkah menuju lemari menyusun pakaian yang sedari tadi ditatanya.
Setelah menikah dengan Danieal, ia tinggal di mansion keluarga Arsyad. Karena Celia berpesan agar mereka bisa hidup bersama.
"Rumah sebesar ini siapa yang akan menempatinya jika kamu juga pergi?" Itulah yang dikatakan Celia selepas pernikahan mereka.
Mau tidak mau Danieal dan Jasmine sepakat tinggal di sana. Sesekali Ayana serta Zidan datang berkunjung dan menginap juga di rumah itu.
Setelah mendengar jawaban Jasmine, Ayana mengangguk-anggukan kepala masih duduk di ranjang besar milik dokter tampan sekaligus kakak sambungnya.
Ia senang bisa mendengar pernyataan Jasmine mengenai bulan madunya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku pikir... kamu akan merasa canggung dan tidak baik-baik saja. Pasti menyenangkan bukan jauh dari sumber rasa sakit?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, Ayana." Jasmine berbalik dan bertatapan langsung dengan wanita itu.
"Terima kasih, berkatmu aku bisa melihat dunia luar, Ayana. Kamu... adalah sumber kebahagiaanku," ungkapnya kemudian.
Manik jelaga Ayana melebar sempurna dan bangkit dari sana lalu berjalan menuju Jasmine. Ia memeluknya erat hingga perut menonjol nya terasa oleh sang kakak ipar.
"MasyaAllah, terima kasih, Jasmine," ucap balik Ayana.
Jasmine terpaku beberapa saat dan membalas pelukan itu tak kalah kuat seraya menganggukkan kepala berkali-kali.
Kedua wanita yang sempat dirundung sembilu kini mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Kisah yang dipenuhi tinta hitam tertutup rapat, tidak usah dibuka kembali.
Biarkanlah masa lalu hanya menjadi cerita kelam sebagai pelajaran agar senantiasa lebih mengandalkan Allah ke depannya.
Karena apa pun yang terjadi, sudah menjadi takdir yang harus dijalani. Allah mempercayakan ujian tersebut, sebab Dia tahu hamba itu mampu melewatinya.
Kadang harus tertatih-tatih, berderai air mata, serta penuh duka nestapa, untuk melewatinya, tetapi yakinlah suatu saat semua itu akan usai.
__ADS_1
Jika kejadian mengerikan tersebut akan berlalu dan berganti masa depan cerah. Kita tidak pernah tahu apa yang tengah Allah rencanakan di balik itu semua, tetapi percayalah jika ada kebaikan selepas kesakitan.
Itulah yang tengah dirasakan oleh Ayana dan Jasmine. Terlepas dari kejadian demi kejadian buruk menimpa keduanya, saat ini mereka merasakan balasan dari sebuah kepedihan.
Di tempat berbeda, tepatnya di taman belakang, Danieal dan Zidan tengah duduk di sebuah bangku menghadap tanaman bunga milik sang ibu.
Semilir angin sore menyapa wajah tampan mereka yang terikat oleh Ayana. Para pria yang kini memiliki status sebagai seorang suami mempunyai tanggungjawab besar untuk membuat rumah tangga mereka berjalan berlandaskan pada Allah.
Di temani segelas kopi hangat Zidan dan Danieal sama-sama menikmati senja.
"Apa selama istrimu hamil, Ayana baik-baik saja?" tanya Danieal memecah keheningan.
Zidan tidak langsung menjawab dan meneguk kopinya singkat. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan nya begitu saja.
Mendengar pergerakan barusan membangunkan rasa penasaran sang dokter. Danieal menoleh ke sisi kiri di mana Zidan tengah menunduk.
Sedetik kemudian pianis tampan itu mengangkat kepalanya lagi seraya melengkungkan kedua sudut bibir. Danieal tahu jika adik iparnya tengah memaksakan senyum.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Ayana-"
"Traumanya sempat kembali pada saat... kami hendak melakukan hubungan. Aku tidak memaksanya dan segera mengakhiri semua itu. Karena... aku tidak ingin menyakiti Ayana," ungkap Zidan sendu.
Sudah tiga tahun berlalu, kejadian mengerikan menimpa Ayana. Selama satu tahun Danieal mencoba menyembuhkan trauma dan depresi yang dialaminya.
Ia pikir setelah adiknya memberikan kesempatan kedua pada orang yang telah menyakitinya trauma itu bisa sembuh.
Namun, ia keliru hal itu bisa saja datang jika berada dalam situasi yang sama. Layaknya de javu kejadian yang terulang bisa memberikan kenangan bangkit kembali.
"Jadi... apa yang kamu lakukan malam itu?" tanya Danieal lagi.
"Aku tidur di sofa dan membiarkan Ayana tenang. Setelah itu... Ayana berinisiatif sendiri mendekatiku," jelasnya kemudian.
Danieal kembali pada Zidan melihat air muka penuh penyesalan di sana. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan sang adik ipar saat ini.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, tetapi... kamu harus sabar menghadapinya. Karena trauma seseorang tidak mudah untuk dilupakan begitu saja."
"Kadang kala satu kejadian yang sama bisa memicu trauma itu datang kembali. Aku salut bagaimana Ayana menghadapinya selama ini. Dia... benar-benar wanita yang luar biasa, adikku itu... sangat istimewa," tutur Danieal menepuk punggung adik iparnya pelan.
__ADS_1
Zidan menganggukkan kepala singkat dan kembali memberikan senyum palsu.
"Kamu benar, Ayana... luar biasa. Bahkan di saat trauma itu datang lagi dia berusaha melawannya untuk membuatku tenang."
"Itulah yang membuatku benar-benar merasa buruk. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua sumber rasa sakit yang Ayana tanggung berasal dariku, tetapi dia... masih memikirkan perasaanku?"
"Aku suami yang sangat buruk," racau Zidan mengusap wajah gusar.
Sedari tadi Danieal terus mengawasinya dan melihat penyesalan begitu apik di wajah sang pianis membuat Zidan tidak berdaya.
"Tidak apa-apa semua sudah berlalu. Sekarang tugas kamu hanya menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka."
"Jangan pernah mengulangi hal yang sama, sebab kesempatan-kesempatan lain belum tentu bisa kamu dapatkan," kata Danieal menghela napas kasar teringat bagaimana terlukanya Ayana ketika menceritakan saat kehilangan buah hatinya.
Ia bisa membayangkan bagaimana kejamnya seorang Zidan dengan tega menghabisi darah dagingnya sendiri akibat hasutan wanita lain.
Teriakan, amukan, kesedihan, turut mendampingi seorang Ayana. Ditambah hampir dilecehkan oleh pria tua membuat kepercayaan diri sang pelukis itu luntur.
Ia terus berpikir jika dunia tidak pernah berpihak padanya, sampai Ayana berada dititik terendah. Ia hampir menghilangkan nyawanya sendiri tidak tahan harus menanggung beban berat itu sendirian.
"Apa kamu yakin bisa membahagiakan adikku?" tanya Danieal lagi.
Zidan mengusap wajahnya lagi dan memandang tatapan sang kakak ipar.
"InsyaAllah, aku yakin! Aku akan membahagiakan mereka, apa pun caranya. Aku ingin menebus kesalahan masa lalu dengan kebaikan!" tegas yang kuat serta keyakinan memancar dari sorot matanya.
"Em, aku suka dengan tekad dan keyakinan yang kamu berikan. Semoga rumah tangga kalian selamanya berjalan baik-baik saja," ujar Danieal kembali menepuk pundaknya.
"Aamiin, semoga rumah tangga kalian juga baik-baik saja," balas Zidan dan diaamiin kan oleh Danieal.
Beberapa saat kemudian, Ayana dan Jasmine datang membawa makanan ringan. Mereka berbincang-bincang bersama di sana seraya menikmati senja.
Angin sejuk berhembus menambah kenyamanan. Keluarga mereka bertambah dengan keberadaan Jasmine dan calon buah hati Ayana serta Zidan.
Celia dan Adnan yang menyaksikan keempat anak-anaknya dari balkon lantai dua mengembangkan senyum.
Mereka saling merangkul satu sama lain dan bahagia melihat putra-putrinya bisa mendapatkan pasangan yang sama-sama mencintai.
__ADS_1
Keduanya mendongakkan kepala ke atas seraya berbisik lirih, "Eliza, semoga kamu tenang di sana yah nak," benak Celia dan Adnan bersamaan.