Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 7


__ADS_3

"Ya-yang benar kamu, Ayana. Ahli waris keluarga Mahesa ada di galeri mu? Bagaimana bisa?" tanya Danieal menggebu dengan sorot mata penuh minat, dan rasa penasaran tinggi.


Ayana yang masih menggendong Raima mengangguk cepat dan menceritakan semua rentetan kejadiannya, dari awal Jasmine menubruk jendela galerinya sampai saat ini menetap di sana.


Dokter tampan itu pun ikut terbelalak, mulut menawannya sedikit menganga dan tanpa sadar keripik kentang yang berada dalam genggaman jatuh begitu saja.


Ia sama sekali tidak menduga mendengar penjelasan sang adik. Ahli waris keluarga Mahesa berada dalam genggaman mereka, jika keduanya melapor bisa saja kakak beradik itu mendapatkan keuntungan sangat besar, mengingat kedudukan keluarga tersebut.


"Ka-kamu tahu keluarga Mahesa itu siapa?" tanya Danieal lagi gugup.


"Tidak, aku tidak pernah mendengarnya. Memang siapa keluarga Mahesa itu?" balas Ayana jujur, acuh tak acuh.


Danieal mengusap wajah gusar dan bangkit dari sofa panjang mendekati sang adik. Ia berdiri tepat di belakangnya memandangi Ayana lekat.


Ia pun menceritakan siapa itu keluarga Mahesa.


"Kamu dengar yah, Ayana."


"Keluarga Mahesa sejak zaman dulu adalah sebuah keluarga yang mempertahankan tradisi. Secara turun menurun, dari sejak nenek moyangnya dulu sampai sekarang masih mempertahankan tradisi tersebut, yaitu memahat sebuah patung."


"Seiring berjalannya waktu, patung-patung yang mereka buat pun beragam. Mulai dari batu, tanah liat, sampai batu kristal yang memiliki harga fantastis."


"Kamu bayangkan saja satu patung dikisaran berharga ratusan juta, bagaimana kalau patung tersebut terbuat dari kristal asli? Sudah pasti harganya lebih tinggi lagi."


"Namun, anehnya hanya keturunan darah murni saja yang bisa memahat patung-patung itu dan tidak sembarang anggota keluarga mempunyai kemampuan tersebut."


"Mas yakin ahli waris itu adalah wanita yang beruntung bisa mendapatkan bakat luar biasa," cerocos Danieal panjang lebar menceritakan siapa keluarga Mahesa.


"Ibarat rantai makanan yah, keluarga Mahesa menduduki tingkat kedua setelah keluarga suamimu, em... keluarga Ashraf, tetapi karena sekarang tetuanya sudah terbukti bersalah kekayaannya merosot jauh."


"Jadi, sudah jelas jika keluarga Mahesa lah yang menduduki tingkat pertama sekarang. Apa kamu mengerti bagaimana kekuasaan itu berjalan?"


"Iya tidak usah jauh-jauh, nenek mertuamu sendiri contohnya. Ia terjebak dalam gemerlapnya kesenangan dunia yang menyesatkan. Kadang kala harta bisa menjatuhkan mu pada lubang dalam ataupun mengangkat mu ke angkasa. Jadi, berhati-hatilah jika Allah sudah mengamanatkan kekayaan," celoteh Danieal lagi seraya berjalan ke sana kemari mengatakan semua pengetahuannya.


Ayana yang sedari terus diam mendengarkan tidak percaya. Ia kembali terkejut dan tidak menduga bisa berhubungan lagi dengan orang-orang luar biasa seperti mereka.


Ia yang tengah menggendong Raima, memandang lurus ke bawah menyadari satu hal.


"Mas Danieal... apa Mas percaya adanya sebuah kekuatan magic?" tanyanya begitu saja.

__ADS_1


"Apa?" Danieal mendekati adiknya lagi memandanginya lekat.


"Entah kenapa semua orang yang berhubungan denganku memiliki kisah mendebarkan. Mas... apa aku mempunyai semacam kekuatan untuk menarik mereka?" ujarnya antusias yang tanpa sadar melonjakkan kaki.


Mendengar hal tersebut Danieal menyentil dahi lebarnya sampai terdengar bunyi tak cukup kuat di ruangan.


Ayana mengusap-usap bekas sentilan itu pelan yang mulai memerah seraya berceloteh tidak jelas.


"Apa yang Mas lakukan? Sakit tahu," keluhnya.


"Dari mana asalnya pemikiran itu. Kamu... seperti anak berumur tujuh tahun yang hobi berimajinasi saja," ucap kakaknya seraya berkacak pinggang.


Ayana terkekeh pelan dan membetulkan letak Raima yang sudah tertidur pulas.


"Memang benar, apa Mas lupa? Bukankah selama ini aku mengandalkan imajinasi untuk melukis. Ish... Mas Danieal ketinggalan zaman," timpal Ayana.


"Oh iya kamu benar juga."


Setelah itu keduanya pun tertawa bersamaan, senang dengan pikiran dangkal mereka. Hubungan kakak beradik tersebut semakin terjalin erat layaknya saudara kandung.


Ayana maupun Danieal senang bisa mendapatkan sosok saudara yang bisa mengisi kekosongan. Hanya dengan candaan ringan saja, mereka sudah bisa tertawa menghilangkan segala kepenatan dalam hidup.


Jasmine Magnolia Mahesa, merupakan keturunan keluarga Mahesa ke seratus dua yang memiliki bakat murni sebagai pemahat patung.


Karya-karyanya sudah dijual ke mana-mana, bahkan menembus rekor muri sebagai wanita muda yang menghasilkan patung terbanyak pada lima tahun lalu.


Namun, sayang kehidupan gemilang itu tidak sebanding dengan faktanya. Kata orang menjadi seorang Jasmine keturunan murni keluarga Mahesa adalah sebuah keberuntungan, tetapi tidak seperti itu.


Jasmine sejak kecil selalu dikurung di sebuah ruangan khusus di mansion keluarga Mahesa. Kedua kakinya dirantai dan tidak diberi akses keluar ke manapun.


Makan selalu diantar, mandi di dalam ruangan yang terdapat toilet di sana. Kegiatan lainnya pun ia lakukan di ruangan yang sudah didesain khusus untuk ahli waris tersebut.


Gemilangnya harta dunia tidak pernah menjadikan diri Jasmine hidup serba berkecukupan. Ia dituntut membuat patung demi patung setiap harinya guna menghasilkan pundi-pundi uang untuk kepuasan tersendiri sang penguasa di sana.


Ia terus dipaksa kerja rodi yang hal itu bertentangan dengan keinginannya. Jasmine bercita-cita menjadi seorang seniman bebas tanpa terikat oleh aturan apa pun.


Bahkan ketika ia sekolah, selalu dikawal oleh beberapa pengawal. Ia sama sekali tidak bebas untuk bergerak maupun bernapas.


Bertahun-tahun berlalu, di usianya menginjak dua puluh sembilan tahun nama Ghazella Arsyad terhendus ke publik.

__ADS_1


Ia melihatnya dalam layar televisi yang pada saat itu diperbolehkan untuk melihatnya. Sang penguasa yang ikut berada di sana membiarkan Jasmine keluar ruangan beberapa saat guna menstabilkan mentalnya.


Sejak saat itu keberadaan Ayana menginspirasi seorang Jasmine yang terkurung layaknya seekor burung.


Kata-kata yang Ayana berikan pada malam penghargaan hari itu merubah persepsi Jasmine tentang kehidupan.


Ia melihat secercah cahaya dari gelapnya dunia. Ia ingin seperti Ayana yang bisa keluar dari zona terpuruk.


Alhasil di tengah kejadian tidak mengenakan menimpanya, Jasmine berhasil kabur dan sekarang ada di galeri Ayana, seorang pelukis yang telah menjadi inspirasinya selama dua tahun ke belakang ini.


"Aku akan menghadiahkan pahatan kristal ini untuk Ayana," gumamnya sibuk memahat di ruangan tersebut.


Ia mempunyai alat-alat memahat itu dibeli beberapa hari lalu. Ia diam-diam pergi ke sebuah toko untuk mendapatkan barang-barang yang diinginkannya.


Ia menyamar menjadi orang lain agar tidak diketahui oleh orang-orang Mahesa. Pada hari itu ia berhasil membeli sebuah batu kristal dari penjualan gelang yang masih melekat di pergelangan.


Ayana maupun Seruni tidak mengetahui tindakan Jasmine membuat wanita itu berhasil melancarkan aksinya.


Di tengah kesibukan, tiba-tiba saja pintu didobrak paksa. Ia menoleh ke belakang mendapati Ayana dan pria asing datang ke sana.


Napas sang pelukis tersengal-sengal seolah telah berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Seraya menggenggam gagang pintu, Ayana memandangi Jasmine dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Setelah itu ia melepaskan pegangannya dan berjalan mendekat.


Jasmine bangkit dari duduk bersitatapan langsung dengan wanita yang dikaguminya.


Kedua sudut bibirnya tertarik lebar dengan sorot mata hangat, sampai ketika Ayana mengatakan sesuatu membuat senyuman itu memudar.


"Jasmine Magnolia Mahesa." Panggil Ayana mengucapkan nama lengkapnya seraya menggenggam lengan Jasmine kuat.


"Kenapa kamu kabur? Semua orang sedang mencari mu, kembalilah, aku mohon... kembalilah."


Selesai kata-kata itu diucapkan, degup jantung Jasmine berdebar tak karuan. Manik hazelnut nya melebar sempurna dengan bibir merah muda murninya terbuka perlahan.


Kedua wanita itu saling tatap tidak ingin mengalah. Ayana dengan ketegasan di balik matanya, sedangkan Jasmine dengan keterkejutannya yang kian merundung kuat.


Ia tidak percaya bisa mendengar perkataan yang tidak ingin didapatkan dari sosok menginspirasinya ini.


Rasa kecewa semakin tumbuh membuat wajahnya dingin, sendu.

__ADS_1


__ADS_2