Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 25


__ADS_3

Hujan mengguyur ibu kota sangat deras. Petir saling menyambar, dengan kilat bersahut-sahutan.


Angin kencang pun datang, langit gelap mencekam memberikan hawa dingin kian menusuk kulit.


Di tengah cuaca ekstrem tersebut, isak tangis memilukan seorang wanita yang terjebak masa lalu bergema di sana.


Jasmine menangis, meraung, memanggil-manggil kedua orang tuanya.


Ia seperti kehilangan akal dan lupa jika ayah dan ibu sudah pergi beberapa tahun silam.


Bak seorang anak kecil, kehilangan orang berharga itu kembali datang menusuk hati, semakin kuat dan kuat.


Ia tidak bisa mengatakan sepatah kata dan terus menangis tanpa jeda.


Melihatnya seperti itu, Ayana melangkahkan kaki mendekat.


Ia duduk di samping Jasmine yang tengah bersujud seraya terus menangis kencang.


Ayana mengulurkan tangan mengusap punggung rapuh itu berkali-kali.


Tanpa ada kata terucap gerakan-gerakan impulsif itu menyalurkan kekuatan.


Ayana berharap Jasmine bisa tegar menghadapi semua yang terjadi.


Ia percaya wanita itu memiliki kekuatan di balik rasa sakit yang bersemayam dalam sedihnya.


Karena ia tahu Jasmine wanita kuat yang bisa menghadapi semuanya. Meskipun ia juga tahu pasti butuh waktu untuk sembuh dari segala luka yang melanda.


Zidan, Danieal, Bening, serta beberapa orang yang mereka bawa menatap sendu ke arah Jasmine.


Mereka merasakan betapa terpukulnya wanita itu kala tahu kebenaran yang menimpa.


Jasmine pun baru mengetahui jika jasad-jasad orang tua serta keluarganya bersebelahan dengan ruangan tempat ia di kurung.


Rasa sakit, sedih, kecewa, marah, jadi satu membentuk air mata tak berkesudahan.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit, terluka, perasaan Jasmine kala mengetahui kebenaran tersebut terungkap.


...***...


Setelah keberadaan keluarga Mahesa menghilang di temukan banyak wartawan berdatangan ke kediaman tersebut.


Mereka meliput seperti apa lokasi kejadian tempat pembantaian itu terjadi.


Satu persatu jenazah keluarga yang sudah berubah menjadi tulang belulang pun diangkut menggunakan kantung jenazah.


Tidak hanya anggota keluarga Mahesa saja, tetapi masih banyak lagi jenazah lain disimpan di sana.


Para penduduk sekitar tidak menyangka dan menduga kejadian mengerikan itu terjadi.


Bau busuk yang menyengat pun seketika menarik perhatian sekitar.

__ADS_1


Mereka tidak ada yang tahu jika di sana sudah terjadi pembantaian. Selain jarak rumah yang berjauhan, di sana pun tidak begitu dihuni oleh warga.


Tempatnya yang terpencil serta jarak ditempuh untuk bisa mencapai mansion tersebut pun tidaklah mudah.


Mereka harus melewati hutan belantara serta jalanan yang masih asing dari aspal menjadi tantangan tersendiri.


Para wartawan yang ingin meliput berita itu pun harus bersusah payah dulu agar bisa mencapai ke titik lokasi.


Ayana pun merasakan hal sama kala dibawa oleh orang-orang Alexa.


Ia terkejut melihat jalanan yang dilewatinya. Ia sempat berpikir apa dirinya dibawa ke tengah hutan? Pikiran itu terlintas ke benak Ayana.


Di sana mereka juga mendapatkan keturunan Mahesa murni tengah memandangi jasad orang tuanya di bawa untuk mendapatkan pemakaman yang layak.


Jasmine kembali menangis, dan Ayana dengan setia berada di sampingnya.


Ia membantu menguatkan supaya Jasmine bisa menghadapi semuanya dengan tegar.


Meskipun Ayana juga mengerti bagaimana hancurnya hati seorang Jasmine.


Seketika berita mengenai keluarga Mahesa menjadi tranding topik di tanah air maupun di luar.


Berita mencengangkan tersebut membuat beberapa orang yang mengagumi karya-karya keluarga Mahesa sangat kecewa.


Terlebih kala mendapati jika Alexa lah dalang dari semua itu.


Pria tua tersebut tengah berada di kantor pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Beberapa jam berlalu, selepas hiruk pikuk terjadi di sekitar, semua anggota keluarga Mahesa sudah dimakamkan di pemakaman keluarga.


Jasmine menghadiri pemakaman tersebut dengan berlinang air mata tidak kuasa menahan diri lagi.


Berkali-kali ia sempat oleng, tidak sanggup menahan berat badan sendiri melihat semua anggota keluarga di masukan ke liang lahat.


Sampai kedua kakinya menyerah kala melihat giliran ayah dan ibu dimasukkan serta dikubur.


Bersamaan dengan itu bayangan demi bayangan fakta mengejutkan itu berdatangan.


Ia pikir selama ini sang paman sudah memberikan pemakaman yang layak. Namun, nyatanya mereka digeletakkan begitu saja sampai terbengkalai.


"Mamah, ayah." Panggil Jasmine di kedua tumpukan tanah merah tersebut.


Ia tidak peduli jika gaun putihnya kotor, Jasmine memeluknya bergantian.


Ayana, Zidan, Danieal, Bening, dan beberapa orang yang menyaksikan hal itu pun kembali iba.


Mereka turut sedih atas kejadian menimpa Jasmine.


Bertahun-tahun luka itu terus tumbuh di dasar hati terdalam. Perih, pedih, nan kecewa menjadi satu membentuk gelenyar rasa pilu.


Sekian lama jasad kedua orang tua tidak diketahui, kini takdir kembali membersamai.

__ADS_1


...***...


Hujan mengguyur ibu kota, langit ikut menangisi kejadian mengerikan kala satu fakta mencengangkan terkuak.


Tidak ada yang tahu bagaimana hancur dan kacaunya perasaan Jasmine ditinggal sendirian. Kini hanya ia tersisa dari keluarga Mahesa.


Sang paman sudah diproses dan tanpa ba bi bu lagi Alexa Mahesa dijatuhi hukuman mati.


Tidak hanya pria tua itu saja, anak buahnya pun ikut terseret akibat menjadi kaki tangan yang selama ini membantunya.


Mereka dijatuhi hukuman berat yang tidak ada pertimbangan apa pun.


Jasmine sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, ia hanya berusaha untuk menyembuhkan luka hatinya.


Jasmine sekalipun tidak merasa kehilangan, sebab selama ini ia sudah tidak mendapatkan apa pun lagi dari satu-satunya keluarga.


Ia hancur benar benar hancur. Sedari tadi terus menangis tanpa sekalipun mengucapkan sepatah kata.


Ia dirundung duka, dipeluk nestapa, dan diikat kepedihan. Air mata sebagai saksi seperti apa rasa sakit itu bersemayam.


"Sekarang semuanya sudah berakhir, kamu tidak usah khawatir lagi. Tidak akan ada yang menyakitimu seperti hari itu. Kamu bebas, Jasmine," kata Ayana mengusap punggungnya berkali-kali.


"Kamu benar-benar sudah bisa terbang dengan bebas," lanjutnya.


Jasmine yang tengah duduk di sebelahnya seraya terus menunduk pun hanya mengangguk singkat.


Ia masih mencoba menahan isak tangis yang sedari tadi terus diredam.


"Keluarkan saja, jangan ditahan. Kamu berhak menangis, kamu berhak meraung, sesuka hatimu," timpal Danieal yang duduk di seberang mereka.


"Itu benar, hari ini kamu bisa puas menangis, dan sambut hari besok dengan senyuman," lanjut Bening duduk di sisi lain.


"Jangan khawatir, mulai sekarang kita adalah keluarga," kata Zidan diangguki oleh yang lain.


"Benar apa kata Mas Zidan, kamu... sekarang adalah keluarga baru kami," tambah Ayana semakin membuat Jasmine menangis.


Ia langsung memeluk Ayana erat menumpahkan segala kepenatan dalam dada.


"Aku tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana... hanya saja, sekarang aku merasa tidak sendirian lagi. Terima kasih Ayana, berkatmu aku bisa melihat dunia baru," benak Jasmine yang masih belum bisa mengutarakan perasaan.


Semua yang terjadi, semua yang menimpa, apa pun yang terlewat telah menjadi kehendak Allah.


Takdir tidak bisa dibantah, tetapi bisa dirubah dengan doa dan ikhtiar. Jalani, syukuri, sekuat apa pun, sesulit bagaimanapun, serta sesakit apa pun laluilah. Karena Allah pasti memberikan yang terbaik.


Ayana membalas pelukan Jasmine tak kalah erat dan kembali mengelus punggungnya mencoba menenangkan.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Kita percayakan semuanya pada Allah. Karena tidak ada yang terjadi jika bukan kehendak-Nya. Aku yakin selepas ini akan ada kebahagiaan yang menyertai," lirih Ayana tersenyum manis.


Danieal, Zidan, dan Bening pun ikut melengkungkan sudut bibir serta berharap Jasmine bisa mendapatkan kebahagiaan selepas perginya rasa sakit.


Luka yang tercipta pada dasarnya hanya menjadi sebuah cerita masa lalu. Kelak ketika semua sudah berubah, maka akan jadi pembelajaran berharga.

__ADS_1


__ADS_2