
Sakit demi menjalani cinta, pernah Ayana rasakan dulu. Hari-hari yang penuh dengan duri nestapa berkeliaran, mengundang air mata tak berkesudahan.
Waktu itu hanya ada kepalsuan tanpa kepastian. Semua bagaikan ilusi semata tidak bisa menjadi nyata. Pria yang dicintainya memberikan luka bernanah tak kasat mata, mengendap dalam jiwa.
Semua itu kini hanya menjadi masa lalu yang tidak usah diungkit kembali. Ia hanya akan sesekali mengingatnya untuk mengucap syukur atas perubahan terjadi pada sang suami.
Zidan Ashraf yang dulu dikenal tak berperasaan, bermuka dua, dan egois tingkat tinggi, kini penuh perhatian, menyayanginya sangat besar, serta mencintainya begitu tulus.
Zidan sadar jika selama enam tahun dirinya hanya memberikan luka, luka, dan luka. Tidak ada satu hari pun kebahagiaan Ayana rasakan, semua waktu yang dihabiskan diisi oleh rasa sakit tak berkesudahan.
Bagaikan cerita dipenuhi air mata itu tidak pernah ada habisnya. Ia bagaikan berdiri di ujung tanduk, tidak bisa pergi ke manapun.
Terlebih saat ia di hadapkan pada kenyataan jika sang suami mendatangkan madu. Bella, wanita yang pernah menjadi teman sekelasnya menjadi istri kedua Zidan Ashraf.
Kedua pianis itu saling jatuh cinta tanpa ia sadari. Keberadaannya hanya menjadi bayangan saja, tidak pernah dianggap ada. Sampai janin yang diharapkan kedatangannya untuk memperbaiki keadaan mereka harus gugur sebelum berkembang.
Itulah kesalahan besar yang pernah Zidan lakukan dulu sampai penyesalan datang dan merubah segalanya.
Ia benar-benar telah berubah, bahkan bertaubat atas kejadian telah lalu. Ia sangat tidak berperasaan dan bertindak semaunya tanpa memikirkan istri pertamanya, Ayana.
Setelah berbicara dengan Jasmine dan Danieal di ruang baca, Ayana serta Zidan kembali ke kamarnya sendiri.
Saat ini ibu dari kedua anak itu tengah memberikan asi pada sang jagoan, sedangkan putri cantiknya sedang berada dalam gendongan Zidan.
"Aku tidak menyangka Jasmine bisa mengidap kista," ucap Zidan memulai topik bicara lagi.
"Em, aku juga tidak percaya, tetapi... kita juga harus bantu dengan doa agar Allah bisa menurunkan keajaiban untuk mereka," balas Ayana dan mendapatkan anggukan dari suaminya.
Zidan yang tengah menimang Ghaitsa di samping tempat tidur pun merenung beberapa saat. Sampai ingatannya kembali pada saat Ayana masih koma.
"Sayang... apa kamu tahu?" Ia duduk tepat di ujung kaki Ayana yang tengah selonjoran.
"Em? Tahu apa?" tanya Ayana balik sembari melirik sekilas.
"Saat kamu koma, Bella datang mengunjungimu," jelasnya.
Mendengar itu sontak bola mata bulan Ayana melebar sempurna. Ia sempat menegakkan tubuh berisi nya dan kembali bersandar ke kepala ranjang.
__ADS_1
"Be-benarkah? Apa yang dia katakan?" tanyanya penasaran, sekaligus tidak percaya.
"Aku tidak tahu. Karena dia datang tanpa kami sadari, juga-" Zidan sengaja menjeda kalimatnya semakin menambah rasa penasaran Ayana.
"Juga apa? Apa yang terjadi? Apa kalian kembali bersama?" cerocos Ayana tanpa jeda.
"APA?" teriakan Zidan membangunkan kedua bayi mungil itu yang seketika menangis kencang. Karena terkejut atas nada bicara sang ayah secara tiba-tiba.
Buru-buru ia menimang-nimangnya lagi dan Ayana pun berusaha menenangkan Ghazali yang masih anteng menyusu.
"Mas sih teriak segala. Kebangun kan anaknya," celoteh istrinya lagi.
"Maaf aku tidak sengaja. Kamu juga mengatakan hal yang tidak-tidak," racau Zidan kemudian.
Ayana hanya bergumam "hm" dan terkekeh singkat lalu memandangi wajah imut buah hatinya. Ia masih tidak menyangka bisa menjadi seorang ibu dari bayi kembar yang sangat menggemaskan.
"Bella... sudah berhijab sekarang," jelas Zidan kembali setelah beberapa saat bungkam.
Ayana menarik atensinya lagi dan langsung mendongak memandangi suaminya lekat.
"Em, itu benar. kalau kamu tidak percaya, mungkin bisa melihatnya di sosial media. Saat ini Bella sedang merangkak menjadi guru piano. Meskipun dulu banyak pianis yang mengatakan dia tidak berbakat, tetapi menurutku dia mempunyai potensial dan gayanya sendiri." Zidan mengingat sedikit masa-masa kebersamaan mereka.
Bella yang lahir dari kedua pianis berbakat ternyata tidak diakui oleh para musisi klasik. Keberadaannya hanya dihargai sebagai pasangan dari Zidan.
Apresiasi dari masyarakat yang ia terima hanya semata-mata berkat keberadaan Zidan.
Setelah berita kurang mengenakan mereka merebak, keberadaan Bella pun surut dan menghilang begitu saja.
Penyesalan serta balasan dari kelakuan yang pernah dilakukannya di masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi Bella.
Wanita itu berubah seiring berjalannya waktu dan memulai hidup baru dari awal lagi.
Ayana dan Zidan duduk berdampingan di atas tempat tidur setelah menidurkan kedua buah hati lalu meletakkannya di box bayi, sembari memantau media sosial Bella.
Mantan pianis sekaligus istri dari Zidan itu pun kini terlihat benar-benar berubah. Wajah putihnya semakin berkilau dan auranya memancarkan aura positif.
"Syukurlah, aku ikut senang Bella benar-benar telah berubah," gumam Ayana masih meng-scroll media sosial pribadi Bella.
__ADS_1
"Em, dia juga sempat menitip pesan padaku kalau... dia benar-benar minta maaf padamu, Sayang. Karena keegoisannya dan rencana busuknya, anak kita... jadi meninggal," jelas Zidan seperti menelan pil pahit kehidupan.
Ayana menghentikan pergerakan ibu jarinya lalu menoleh pada suaminya lagi. Di sana ia bisa melihat kesedihan begitu kuat memancar dari sorot mata sang pasangan hidup.
Ayana mengulas senyum simpul lalu meletakkan ponsel di atas tempat tidur begitu saja. Ia menangkup wajah tampan Zidan dan mengusapnya berkali-kali.
"Jika teringat itu lagi aku memang masih merasakan sakit, tetapi... aku sadar bagaimana kondisinya sekarang, tidak akan mengembalikan yang sudah pergi. Jadi, mari lupakan itu dan sambut masa depan lebih baik."
"Aku sudah berusaha melupakan kelakuan kalian di masa lalu. Sekarang aku hanya ingin fokus membesarkan Ghazali dan Ghaitsa bersamamu," tuturnya lagi dan lagi.
Kehangatan begitu kuat menyapa hati nuraninya. Zidan langsung menarik Ayana dan memeluknya erat seraya menggumam kan kata maaf berkali-kali.
Jengah mendengar kata yang sama, Ayana melepaskan pelukan dan sekejap mata menyambar benda kenyal kemerahan sang suami.
Zidan terbelalak, tidak percaya, sekaligus terkejut dengan inisiatif istri tercintanya. Tidak menyianyiakan kesempatan yang ada, ia pun membalas ciuman itu yang semakin kuat.
Beberapa saat berlalu, keduanya menjauhkan kepala masing-masing dengan benang saliva muncul di balik bibir mereka.
Napas keduanya terengah-engah sembari menyelami keindahan bola mata satu sama lain.
"Aku sudah menahannya cukup lama, bisakah?" pintanya dengan sorot mata penuh minat.
Ayana yang tahu keinginan suaminya pun hanya bisa mengangguk pasrah, mendapatkan lampu hijau Zidan langsung tancap gas melayangkan kembali sentuhannya.
Penyatuan kedua kalinya terjadi, membuat tubuh Ayana limbung ke belakang. Zidan yang berada di atasnya semakin intens menjamah area-area favoritnya.
Ayana pun memberikan akses lebih dan ikut masuk ke dalam permainan sang suami. Sentuhan yang diberikan Zidan begitu melenakan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Kesyahduan dan kehangatan yang tengah bermain di kamar pribadi mereka memancarkan kebahagiaan tiada akhir.
Ayana dan Zidan, benar-benar merasakan sebagai pasangan suami istri seutuhnya. Tidak ada lagi drama, tidak ada lagi luka air mata, yang ada hanyalah kesenangan belaka.
Namun, mereka pun tidak akan terlena pada kebahagiaan dan akan bersiap untuk situasi tak terduga lainnya. Untuk saat ini keduanya akan banyak bersyukur atas kelimpahan rahmat yang telah Allah berikan.
Di kamar itu suara lirih memabukkan terdengar, bagaikan dunia milik mereka berdua, Ayana dan Zidan begitu menikmati momen kebersamaan.
Tidak ada akhir bagi mereka yang terlena pada perasaan cinta. Apa pun yang terjadi keduanya akan berusaha menghadapinya bersama-sama. Karena perasaan mereka telah menyatu dan terikat benang tak kasat mata.
__ADS_1