Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 77


__ADS_3

Asha melambung tinggi memberikan mimpi lain untuk segera dicapai. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, kesakitan bukan berarti kalah sebelum bertanding.


Luka dan air mata sebagai bukti kekuatan sebenarnya. Karena di balik itu terdapat kebaikan yang tengah Allah susun.


Fa inna ma'al usri yusroo


Inna ma'al usri yusroo


"Maka sesugguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"


"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)


Begitulah yang tengah Ayana rasakan saat ini. Di balik peristiwa yang menjeratnya untuk mengikuti permainan Bella serta terjebak peliknya kehidupan, Allah menghadirkan kemudahan.


Ia mendapatkan jalan untuk membuktikan jika dirinya tidak seperti apa yang diberitakan.


Semalam suntik ia berada di Desa X berbicara panjang lebar bersama Bening. Kedua wanita itu saling menceritakan satu sama lain akan kehidupan yang mereka jalani.


Ayana tidak menyangka jika Bening pun menjadi salah satu korban keegoisan seorang pria. Di mana pada waktu itu di saat ia mengandung Erina, sang suami kedapatan bersama wanita lain.


Sejak saat itu Bening memutuskan untuk hidup sendiri dan membesarkan Erina sebagai single parent. Cacian, makian, serta dipandang sebelah mata sudah pernah di hadapainya.


Perjalanan itu pun menginspirasi Ayana untuk tidak menyerah pada keadaan. Buktikan pada diri sendiri jika kita mampu mendapatkan kebahagiaan meskipun harus melalui jalan yang penuh liku nan terjal.


"Hadapilah, kamu pasti bisa melewatinya. Karena apa? Karena Allah senantiasa bersama kita. Lakukan apa yang menurutmu benar dan serahkan semuanya pada Allah semata. Tutup telinga untuk komentar negatif yang tidak ada kebenarannya." Kata-kata Bening tadi malam berdengung dalam pendengaran.


Ayana menutup mata beberapa detik hingga kembali membukanya. Tatapan itu berubah menjadi lebih serius saat menyaksikan orang-orang yang ingin mewawancarainya.


"Baiklah, kita mulai dari mana dulu?" tanya Ayana menyapukan pandangannya pada mereka.


Salah satu dari para wartawan itu pun mengacungkan tangan. Ayana menunjuknya dan mempersilakan wanita tersebut untuk memberikan pertanyaan.

__ADS_1


"Apa benar Anda memanfaatkan seseorang yang sudah meninggal untuk menipu semua orang?"


Pertanyaan itu lagi, pikir Ayana.


Ia beruntung pertanyaan tersebut diajukan di awal sesi. Tanpa gentar Ayana memberikan senyum manis pada wanita bername tag Fadilah tersebut.


"Iya itu benar."


Baru saja Ayana mengatakan tiga patah kata kegaduhan seketika tercipta. Masing-masing dari mereka mengajukan pertanyaan membuat bibir ranum itu kembali melengkung sempurna.


Tanpa mengindahkan mereka, Ayana mendekatkan kanvas melukisnya untuk semakin merapat pada dirinya.


Entah apa yang ada di dalamnya, Ayana menutup media tersebut dengan kain putih.


Di tengah keramian, ia pun membuka kain penutup yang seketika menghentikan kehebohan. Para wartawan terdiam membisu menyaksikan siluet seseorang di balik lukisan tersebut.


"Wanita yang ada di dalam lukisan ini adalah seseorang yang sudah membantu saya. Mungkin kalian semua heran kenapa wajahnya mirip dengan saya? Atau ada di antara kalian yang berpikir saya memanipulasi keadaan untuk mendapatkan kompensasi?"


"Saya tidak masalah, kalian berhak memiliki pemikiran apa pun. Namun, yang jelas beginilah kenyataannya. Wanta ini bernama Erina Bita, seseorang yang sangat saya hargai. Saya memang memanfaatkan beliau yang sudah wafat. Itu saya lakukan untuk memberikan sebuah pelajaran bagi orang-orang yang sudah bertindak berlebihan," tutur kata Ayana begitu halus nan lembut agar tidak memojokkan si pelaku.


Seketika itu juga perhatian semua orang mengarah padanya. Salah satu kamera pun menyoroti ipad untuk memberikan tayangan menarik kepada para penonton yang mengikuti siaran langsung tersebut.


"Ini adalah sebuah rekaman yang saya dapatkan dari seseorang ... yang mana di sini saya tidak bermaksud untuk menjatuhkan beliau atau mengangkat diri saya lebih baik. Namun, saya ingin menunjukkan jika ingin bermain siapa yang lebih unggul ... maka mainlah secara sehat." Ayana menatap kamera yang sedang menyorotinya lekat.


Lengkungan bulan sabit di wajah cantiknya semakin mempertegas tindakan. Ayana tengah menayangkan video di mana di dalamnya terdapat seorang pianis tengah berbicara dengan seseorang.


Ia mengaku jika dirinya memanfaatkan Zidan untuk mendongkrak popularitas sebagai pianis pendatang baru.


Ia ingin menutup mulut orang-orang yang selalu merendahakannya. Terlebih bagi mereka yang sudah memberikan kata-kata kurang mengenakan terhadap kedua orang tuanya.


"Delapan belas tahun yang lalu, negara kita tercinta dihebohkan dengan pemberitaan mengenai dua pianis hebat memplagiat karya pendatang baru." Ayana menampilkan berita yang pada saat itu menghebohkan jagat raya.

__ADS_1


"Kedua pianis itu dituduh sudah mencuri note-note buatan pianis muda berbakat. Namun, keduanya mengelak dan membuat diri mereka seolah menjadi korban. Sampai orang-orang pun banyak yang kontra padanya. Para netizen memberikan kata-kata kurang mengenakkan sampai membuat dua pianis berbakat di negara kita pergi tanpa kabar."


"Beberapa tahun kemudian penggantinya pun hadir di kancah internasional dengan menggandeng nama pianis berbakat yang sudah melalang buana diusia dininya ... dan beliau adalah peran utamanya waktu itu. Mereka menjadi pasangan fenomenal yang mengalahkan beberapa pasangan selebritis dan juga mendapatkan penghargaan."


"Permainan mereka sangat luar biasa sampai semua orang takjub dan menyenangi keduanya. Saya di sini untuk memberikan keadilan kepada diri saya sendiri. Saya mengakui jika saya salah sudah memanfaatkan orang yang sudah meninggal. Namun-"


Ayana kembali menjeda kalimatnya dan menayangkan video lain. Di mana di dalam layar ipad itu menunjukkan seorang wanita berhijab hitam tengah menjelaskan apa yang sudah sang pelukis lewati.


Bening mengizinkan rencana Ayana dan menceritakan bagaimana sang anak kagum terhadap sosoknya yang luar biasa.


Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lebih mereka berdiskusi mengenai apa yang Ayana tayangkan.


Setelah itu ia pun menoleh kembali pada lukisan di sebelahnya.


"Lukisan ini saya buat malam tadi. Dengan memikirkan kenangan saat-saat kita bersama, saya berharap almarhumah Erina bisa tenang di sana. Saya juga ingin memberikan yang terbaik untuknya," kata Ayana mengakhiri pertunjukkan.


Layaknya seseorang yang tengah mengadakan presentasi, ia menutup pembicaraan tersebut dengan salam.


Kejutan tak terduga itu membungkam mulut mereka. Para wartawan mendapatkan satu kesimpulan jika Ayana bukanlah seseorang yang suka memanipulatif.


Ia juga tidak memanfaatkan kemewahan kelaurga Arsyad, bahkan selama ini hidupnya sudah sangat keras menghadapi ujian demi ujian datang menerjang.


Terlebih ia tidak memanfaatkan Erina untuk kepentingan pribadi. Bahkan sang almarhumah mengizinkannya secara tidak langsung.


Setelah tayangan itu ditonton banyak orang, kini anak panah mengarah pada sang pianis. Ayana hampir bersih dari tuduhan orang yang suka terlibat dalam masalah serta memanipulasi orang-orang di sekitarnya.


Tuduhan sebagai pelukis penuh kontra dan masalah itu pun berangsur-angsur mereda. Orang-orang yang menyaksikan berita itu langsung mengarah pada sang lawan.


Para netizen semakin bergerak cepat untuk membuka siapa pianis yang Ayana maksud. Tidak butuh waktu lama mereka pun berhasil mendapatkannya.


Kini jari-jari mereka tengah bergerak aktif guna meracau di media sosial. Banyak berita demi berita terus berdatangan memojokannya.

__ADS_1


Dalam diam Ayana tersenyum lega dengan perjuangan yang dirinya lakukan sekarang.


"Erina, mari kita sambut hari esok dengan senyum cerah. Aku akan menjadi pelukis yang jujur dan mendedikasikannya untukmu," benak Ayana sembari menghela napas lega.


__ADS_2