Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 16


__ADS_3

Sedari tadi Zidan terus uring-uringan tidak mendapati jawaban apa pun dari istrinya.


Berkali-kali ia menghubungi Ayana, tetapi tidak ada satu pun panggilan yang diterima.


Ia mondar-mandir di ruang tamu dan sesekali melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Perasaannya semakin berkecamuk, tidak biasanya Ayana pulang telat seperti ini.


"Ya Allah, sayang ... kamu di mana?" gumamnya yang kembali menghubungi ponsel sang istri.


Namun, panggilan itu masih sama tidak ada jawaban apa pun dari orang di seberangnya.


"Ya Allah, kenapa kamu belum pulang juga? Tidak biasanya kamu seperti ini, sayang. Kamu membuatku sangat khawatir," racaunya terus menerus.


Ia kembali mencoba menghubungi Ayana untuk memastikan keberadaannya.


Selang beberapa saat kemudian, di saat ia masih menelepon sang terkasih dari arah pekarangan terdengar deru mesin mobil berhenti.


Buru-buru Zidan berlari membuka pintu dan mendapati kendaraan tak asing lagi terparkir di sana.


Ia berjalan mendekat lalu melihat dua orang keluar dari mobil.


"Sayang!" ucapnya lega, sedetik kemudian air mukanya berubah kala mendapati Ayana dipapah kakak iparnya dan langsung berjalan mendekat.


"Ada apa ini? Kenapa Ayana dipapah? Apa kamu sakit, Sayang?" tanya Zidan memandangi keduanya bergantian.


"Ayana-"


"Aku baik-baik saja, Mas ... hanya anemia," balas Ayana berusaha mengembangkan senyum.


"Anemia? Makanya kamu jangan memaksakan diri untuk terus bekerja. Masalah pameran bukankah Arfan juga sudah menawarkan mengambil alih sepenuhnya?" ucap Zidan menggebu-gebu.


Ayana mengulas senyum lembut lagi memandang ke arah dua pria di dekatnya.


"Aku minta maaf," balasnya lemas, Zidan menghela napas pelan seraya memandang hangat sang pujaan.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu, jangan memaksakan diri lagi. Terutama-"


"Iya Mas aku tahu. Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang." Ayana memotong ucapan kakaknya cepat mencegah pembicaraan sebelumnya tercetus.


"Baiklah, kalau begitu Mas pulang dulu. Jaga Ayana baik-baik," ucapnya sembari menepuk pelan pundak adik iparnya.

__ADS_1


Zidan hanya mengangguk lalu mereka pun melihat kepergian sang dokter.


Di balik jendela mobil, Danieal menghela napas kasar melihat kepada adik sambungnya. Ia tidak pernah membayangkan keadaan menyulitkan seperti itu akan kembali datang.


Namun, sekuat apa pun berlari menghindarinya jika takdir Allah sudah menuliskan maka akan mendatangi juga.


"Aku harap setelah ini kamu benar-benar terbuka pada Zidan," gumamnya menginjak gas meninggalkan kediaman mereka.


...***...


Ayana sudah selonjoran kaki seraya bersandar pada kepala ranjang, netra beningnya terus memindai ke segala penjuru ruangan.


Tepat di depan mata kepalanya sebuah pigura berukuran sedang memperlihatkan potret dua orang tengah berbahagia.


Itu adalah gambaran hari pernikahannya delapan tahun lalu. Di mana seorang Ayana Ghazella masihlah wanita yang naif akan cinta.


Ia tidak pernah sadar jika di balik janji suci terucap ada kebohongan di dalamnya. Ia tak menyangka cinta yang dimilikinya tulus kepada sang suami di balas dusta.


Cinta bertepuk sebelah tangan itu pun berlangsung bertahun-tahun. Bagaikan menggenggam pasir, perlahan-lahan angin menerbangkannya hingga tak tersisa apa pun.


Ayana terjebak dalam sebuah permainan konyol di antara pria tercinta dan juga sahabat yang paling dirinya kagumi.


Di tengah lamunan, pintu kamar mandi pun dibuka. Zidan menyaksikan istrinya tengah memandang lurus ke depan memindai potret pernikahan mereka.


"Apa kamu merindukan pernikahan kita?" tanya Zidan duduk tepat di sebelah Ayana.


Pertanyaan tersebut sontak membuatnya menoleh. Ia mendapati sang suami tengah memandanginya lembut.


Sangat berbeda jauh dengan tahun-tahun lalu.


"Mas ... apa aku boleh bertanya satu hal?" tanya balik Ayana tanpa membalas pertanyaan suaminya tadi.


"Tentu, kamu mau bertanya apa padaku?" Zidan merangkul bahu ramping pujaan hatinya.


"Jika ... jika kita, em, andai kata ... kita tidak punya anak, apa yang akan Mas lakukan?"


Entah kenapa pertanyaan tersebut tercetus di balik bibir ranum Ayana. Zidan terpaku, terperangah, tidak menyangka mendapatkannya.


Ia membeku dan perlahan menarik kembali tangan yang bersandar di bahu Ayana. Sang empunya menoleh memperhatikan tangan yang semakin menjauh.


Kepala berhijabnya mendongak bertatap kembali dengan sepasang jelaga dingin di hadapannya.

__ADS_1


"Ma-Mas?" Panggil Ayana kala tidak mendapati apa pun dari sang suami.


Zidan tersentak dan berusaha bersikap baik-baik saja. Ayana tahu jika saat ini, sang pianis tengah memaksakan senyum.


"A-apa yang kamu bicarakan, Sayang? Apa kamu benar tidak apa-apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak mau punya anak denganku? Apa-"


"Seandainya Mas ... seandainya, bukan berarti aku tidak ingin punya anak, tetapi, seandainya," kata Ayana, suaranya semakin pelan dan pelan saat menyaksikan bulir demi bulir air mata merembes keluar.


"Ah, Mas ... tidak tahu. Lebih baik kita istirahat saja, ini sudah malam." Zidan langsung membaringkan tubuh kekarnya dengan memunggungi sang istri.


Melihat hal itu Ayana menghela napas pelan dan terus mengamati suaminya dalam diam.


"Aku tahu ... Mas pasti kecewa dengan pertanyaanku tadi, tetapi ... bagaimana aku bisa menyembuhkan trauma ini?" benaknya berkecamuk.


Zidan membuka mata lagi saat merasakan Ayana pun berbaring di sebelah. Kedua tangannya meremas kuat selimut menyalurkan perasaan tak menyenangkan.


Pagi menjelang, Ayana yang sudah selesai menyiapkan sarapan pun bergegas meninggalkan rumah.


Zidan yang baru saja turun dari lantai dua melihat sang istri sibuk dengan berbagai barang bawaan.


Di bantu beberapa asisten rumah tangga ia mondar-mandir di sana. Zidan pun bergegas menghampiri untuk bertanya apa yang terjadi.


"Sayang, ada ap-"


Belum sempat Zidan menyelesaikan ucapannya, Ayana langsung memotongnya begitu saja.


"Oh Sayang, aku sudah menyiapkan sarapanmu di meja. Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan, hari ini rencananya kami akan mengadakan rapat untuk pameran nanti. Juga, aku membawa semua lukisan di studio. Kalau begitu aku pergi dulu yah, Assalamu'alaikum." Ayana terus berceloteh lalu menyalami tangan suaminya singkat.


Belum sempat Zidan mengucapkan sepatah kata lagi, Ayana bergegas meninggalkannya. Ia mematung di tempat mengikuti ke mana sang istri pergi.


Tidak lama berselang Ayana sudah berada di dalam kendaraan pribadinya. Orang-orang di sekitar masih sibuk membawakan barang-barang.


Manik jelaganya terus memindai ke dalam rumah di mana Zidan berjalan ke arah ruang makan. Ia meremas kuat stir mobil dan menghela napas kasar.


"Aku minta maaf, Mas. Aku hanya tidak ingin kamu membahas soal anak. Karena aku tahu bagaimana sifatmu ... kamu akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban yang akurat. Aku masih belum siap untuk itu."


Ayana menyandarkan punggung rampingnya ke jok seraya memandang ke langit-langit mobil.


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Di satu sisi, hamba tidak ingin mengecewakannya dan di sisi lain, trauma ini benar-benar menyiksa."


"Aku ... apa aku sudah benar memberikan kesempatan pada mas Zidan untuk melanjutkan pernikahan ini? Anak ... ya Allah," racau Ayana menutup kedua mata menggunakan sebelah lengan.

__ADS_1


Ia tidak pernah tahu jika permasalahan demi permasalahan akan terus mendatangi lagi dan lagi.


__ADS_2