
Kafe terlihat ramai siang ini, banyak muda mudi, baik dari kalangan pelajar sampai pegawai kantoran menikmati makan bersama di sana.
Hiruk-pikuk terjadi, menjadi backsound keriuhan di tempat makan itu.
Para pegawai pun berlalu lalang melayani semua pengunjung dengan baik. Sesekali pelayan demi pelayan menoleh ke sudut ruangan, di mana di sana diisi dua orang wanita berhijab tengah berbincang-bincang.
Seperti waktu itu di telinga mereka terpasang earphone guna berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Keadaan tenang yang sedang dialami sang tuan tidak menyurutkan semangat para karyawan untuk tetap menjalankan tugas utamanya.
Berkali-kali manik karamel sang pelukis pun menyambut tatapan mereka. Kepala berhijabnya mengangguk memberikan kode jika semua sedang baik-baik saja.
Setelah itu ia fokus pada lawan bicaranya yang sedang menatap ke arah jendela seraya menopang dagu. Iris keabuan sang kakak ipar sekalipun tidak beranjak dari jalanan yang dilalui banyak orang.
"Aku dengar dari mas Danieal kamu... belum siap punya anak. Apa itu benar?"
Pertanyaan yang sedari tadi Jasmine hindari tercetus jua. Ia sadar lambat laun Ayana mendengar pertengkaran kecil antara dirinya dan sang suami serta akan menanyakan hal tersebut.
"Itu benar," balasnya jujur.
"Kenapa?"
Satu kata mengandung berjuta tanda tanya terlontar dari mulut ranum Ayana. Ia terus memperhatikan Jasmine yang kali ini membalas tatapannya.
Sorot mata lelah terlihat begitu jelas, Ayana sampai terkesiap, dibuat tidak percaya. Ini pertama kali Jasmine memberikan ekspresi seperti itu.
"Karena aku-" Jasmine menjeda kalimatnya beberapa saat, sampai, "Aku belum siap menjadi seorang ibu," dusta nya.
Dahi lebar Ayana mengerut, heran. "Benarkah?" tanyanya lagi.
Jasmine mengangguk beberapa kali, mencoba meyakinkan sang adik ipar.
"Kenapa? Bukankah saat bersama Ghazali dan Ghaitsa kamu terlihat sangat senang?" tanya Ayana masih penasaran.
"Senang dengan bayi, bukan berarti siap menjadi ibu, bukan?" tanya balik Jasmine, serius.
Kembali, Ayana tercengang dengan perubahan sikap Jasmine. Ia tidak pernah menduga jika sang kakak ipar sulit ditebak.
Kedua tangan di atas pangkuan meremas kuat, Jasmine berusaha menahan diri sendiri untuk tidak mengatakan hal sebenarnya.
Ia sangat kecewa dan merasa begitu terpuruk pada situasinya saat ini. Ia bagaikan gulma yang tidak ada gunanya di keluarga mereka.
Hanya sebatas beban yang tidak bisa melakukan apa pun.
__ADS_1
"Aku hanya pengganggu bagi kebahagiaan mereka. Andai aku tahu lebih awal kalau ada kista, mungkin tidak akan menerima lamaran mas Danieal. Bagaimana mungkin ini terjadi saat keadaan kami sudah baik-baik saja?"
"Ya Allah apa yang tengah Engkau rencanakan?" racau nya dalam benak.
Ayana yang sedari memperhatikan Jasmine menelaah lebih jauh. Ia ingin mencari tahu apa yang tengah disembunyikannya kali ini.
Jika bisa ia ingin membelah kepalanya itu dan melihat apa yang sedang Jasmine pikirkan. Sebagai sesama wanita, Ayana sedikit memahami dengan pertanyaan yang terus menerus datang.
Keberadaan anak memang tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri, itu adalah hak prerogatif Allah semata. Apa pun yang terjadi pada kehidupan, tidak lebih dari campur tangan Allah. Maka dari itu satu sama lain tidak bisa menjudge begitu saja.
Tidak ingin membuat Ayana lebih curiga, Jasmine pun beralih pada makanan ringan di hadapannya. Ia berusaha menikmatinya dan mengabaikan tatapan sang lawan bicara.
Ia tahu sedari tadi Ayana masih terus menatapnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Jasmine juga mengerti jika adik iparnya itu tengah berusaha membaca gerak-geriknya.
Selama mengenal Ayana, Jasmine memahami seperti apa sikap sang adik ipar. Pelukis itu penuh perhatian, kasih sayang, dan berharap orang lain tidak pernah merasakan kesakitan sama sepertinya.
Namun, apalah daya setiap manusia pasti mendapatkan ujian serta cobaan masing-masing. Begitu pula dengan Jasmine, meskipun mereka sama-sama pernah terluka dan hampir direnggut kesuciannya oleh orang-orang tak berperasaan, tetapi tetap saja ada perbedaan di antara keduanya... dan Jasmine tidak seberuntung itu.
"Apa kamu sedang berusaha menutupi sesuatu?"
Sontak pertanyaan lain dari Ayana mengejutkan Jasmine lagi. Ia tersedak makanan manisnya sendiri dan batuk beberapa kali.
Buru-buru Jasmine menyambar minuman dingin di samping cake manis dan langsung meneguknya begitu saja.
Ayana menghela napas dan melipat tangan di depan dada. Ia menoleh sekilas ke samping dan kembali memberikan sorot mata nyalang nan serius.
"Katakanlah aku orang asing yang tidak pernah mengenalmu sama sekali, dan percaya dengan semua perkataan mu, tapi... apa kamu lupa? Kita tidak saling mengenal kemarin sore, Jasmine."
"Hampir dua tahun... dua tahun. Apa itu tidak ada artinya bagimu? Kebersamaan kita?" racau Ayana, nada suaranya sedikit meninggi membuat beberapa pengunjung lain menoleh.
Namun, pelukis berbakat tersebut tidak peduli dan terus memandangi kakak iparnya.
Jasmine terperangah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kembali meletakkan gelas minuman tadi dan kini gilirannya menghela napas panjang.
"Baiklah... kamu menang Ayana. Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang? Mengakimi ku? Memakiku? Atau mengatai ku orang tak tahu malu? Kacang lupa kulitnya?" cerocos Jasmine.
Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujani sekaligus itu pun membuat Ayana terkesiap. Ia benar-benar tidak mengharapkan kata-kata seperti itu keluar dari mulut keriting Jasmine.
"Apa yang?" Ayana lagi dan lagi mendengus kasar lalu menggeleng beberapa kali.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Jasmine. Aku hanya ingin mendengar apa yang sedang kamu sembunyikan. Itu saja, karena-"
__ADS_1
"Kamu tahu Ayana? Terkadang, ada sesuatu yang tidak bisa dibagikan pada semua orang. Rasa sakit, kesedihan, kekecewaan, tidak semua harus diketahui orang lain."
"Karena orang lain hanya bisa mendengar tanpa bisa menerima keadaan yang tengah seseorang alami. Jadi, Ayana... stop memprovokasi ku untuk tetap bercerita padamu. Karena-" Jasmine bangkit dari duduk dan menatap tajam adik iparnya. "Aku tidak akan mengatakan apa pun."
Selesai mengucapkan kata-kata tak terduga barusan, Jasmine angkat kaki dari hadapan Ayana.
Sang pelukis tidak bisa berkata-kata dan melihat kepergian sang kakak ipar begitu saja. Ada sedikit nyeri di dalam dada mendengar semua yang diucapkannya.
"Apa yang... baru saja terjadi?" gumam Ayana, tidak percaya sekaligus shock teramat dalam.
Di luar kafe Jasmine menangis sejadi-jadinya. Ia membekap mulutnya sendiri berusaha menahan isakkan tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang melihatnya aneh.
Ia tidak pernah menduga dengan dirinya sendiri bisa berkata seperti itu pada Ayana.
"Aku minta maaf, Ayana. Aku benar-benar minta maaf," lirihnya.
...***...
Langit sudah berubah gelap, Ayana dan Jasmine baru saja tiba di mansion Arsyad. Keduanya masuk ke dalam dengan mulut terkunci rapat.
Sepanjang jalan pun mereka tidak ada yang mengatakan sepatah kata, hanya membiarkan kekosongan mengambil alih. Rasanya canggung dan ada sedikit kepedihan dirasakan masing-masing.
Langkah kaki kedua wanita itu sama-sama sempoyongan. Satu persatu anak tangga ditapaki mencapai lantai dua.
Setibanya di sana Jasmine melirik sekilas pada Ayana sambil berkata, "Aku masuk dulu." Lalu membuka pintu kamar mengabaikan adik iparnya begitu saja.
Ayana kembali menghela napas pelan dan hendak menuju kamarnya sendiri. Namun, baru saja kakinya melangkah, ia teringat sesuatu dengan perkataan Seruni.
Karyawan wanitanya itu mengatakan jika Jasmine menjatuhkan batu kristal di pintu masuk. Ayana tidak sempat memberikannya, sebab sibuk dengan rasa penasaran.
Ia pun berbalik menuju kamar Jasmine dan kakaknya berada. Pintu terbuka perlahan, keheningan menyambut kedatangannya.
Tidak ada siapa pun di sana, mungkin Jasmine sedang mandi, pikir Ayana melangkah masuk ke dalam.
Ia lalu meletakkan batu kristal di atas meja rias dan menarik kembali tangannya. Namun, tidak sengaja iris jelaga itu menatap tas selempang sang kakak.
Entah kenapa rasa penasaran mendorongnya untuk mengambil serta membuka tas tersebut.
Ia pun dikalahkan dengan dorongan hati dan membukanya begitu saja. Dahi lebar Ayana mengerut dalam saat melihat gumpalan kertas yang sangat mencuri perhatian.
Ia membawanya dan membuka perlahan gulungan tadi, sampai manik bulannya melebar seketika.
__ADS_1
"Ayana!"
Panggilan dari arah depan mengejutkan, Ayana mendongak dan saling tatap dengan kakak iparnya lagi.