
Kecelakaan yang terjadi di jalan besar Kota K menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Pasalnya, peristiwa tersebut menewaskan tiga korban, dua orang pria dan satu wanita.
Pihak kepolisian dan medis pun datang ke lokasi dengan cepat. Mereka bekerja sama untuk membawa ketiga jenazah ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Di sana juga banyak sekali reporter meliput kecelakaan maut tersebut.
Langit tiba-tiba saja berubah menjadi kelabu dengan awan gelap mendominasi. Angin kencang datang menambah dramatis situasi yang terjadi.
Garis polisi disebar menghalau orang-orang untuk tidak mendekat ke lokasi kejadian. Masyarakat yang hadir begitu penasaran akan kondisi para korban, terutama berhembus kabar salah dari mereka adalah pianis ternama.
Ayana yang masih berada di sana tidak mengetahui jika keadaan di depan benar-benar tidak karuan. Ia masih mencoba untuk menenangkan diri sendiri dengan adegan yang dilihatnya tadi.
Sekujur tubuh terasa lemas dan bergetar hebat. Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan mengerikan tepat di depan mata kepalanya.
Selang beberapa menit kemudian jendela mobil tiba-tiba saja diketuk seseorang. Ayana yang masih merunduk terkejut seketika akan tindakan tersebut.
Tubuhnya semakin menegang kala pikirannya melalang buana ke mana-mana.
"Sayang ... Ayana, buka pintunya ini Mas." Suara sang suami menyahut.
Ayana tersentak dan perlahan menegakan tubuhnya lalu menoleh ke samping. Air mata kembali bercucuran menyaksikan kekhawatiran di wajah Zidan.
"Buka pintunya, Sayang," titahnya lagi.
Dengan tangan gemetar hebat Ayana menekan tombol untuk membuka kunci mobil. Setelah itu Zidan pun menariknya hingga terbuka lebar.
Ia bersimpuh di samping sang istri yang tengah menatapnya seraya terus menangis.
Zidan langsung menarik Ayana lembut ke pelukan hangat membuat isak tangis perlahan terdengar memilukan.
Beberapa saat kemudian, Zidan melepaskan pelukan dan menghapus jejak air mata di pipi merahnya.
Suami istri itu pun saling pandang menguatkan satu sama lain.
"Apa kamu masih bisa berjalan? Aku gendong yah?" tawar Zidan sambil menangkup rahang sang istri dan mengelusnya lembut.
Ayana langsung menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, aku masih bisa berjalan," jawabnya dengan suara serak.
"Kamu yakin?" tanya Zidan memastikan.
"Em, aku sangat yakin."
Setelah itu Zidan merangkul pinggang Ayana membawanya keluar mobil. Seketika kebisingan serta keriuhan tertangkap pandangan.
Ayana mencoba menggulirkan bola matanya lagi melihat kejadian tepat di depan. Ia kembali merasakan tubuhnya menggigil kuat, Zidan yang berada di sampingnya pun seketika merangkul hangat.
__ADS_1
Keduanya hanya bisa memandang dalam diam menyaksikan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Peristiwa tidak terduga itu secepat kilat menyambar memberikan kejadian mengerikan, khususnya pada orang-orang yang mengenalinya.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Ayana dan Zidan sudah berada di rumah sakit duduk berdampingan saling menggenggam tangan erat.
Ayana sudah jengah dan lelah harus berada di tempat yang sama untuk kesekian kali. Atensinya fokus pada ke bawah menatap lantai marmer dingin itu lekat dengan perasaan campur aduk.
Di rumah sakit, ia kehilangan sang buah hati, mendapatkan depresi dan trauma, pengakuan Zidan, dan sekarang wanita yang pernah menjadi madunya menetap di sana.
Zidan yang tengah duduk di sebelah pun menoleh menyaksikan diamnya sang istri. Bola mata Ayana bergulir memandang pagutan jari jemari mereka yang saling merangkul kuat.
"Semua akan baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir. Kita percayakan semuanya pada Allah," ucap Zidan membuat Ayana terkesiap.
Zidan benar-benar sudah berubah dan kini menjadi imam yang sangat baik untuknya. Sejak mereka kembali bersama sang suami lah yang selalu mengingatkan untuk mementingkan ibadah.
"Terima kasih ya Allah," ucapnya hanya bisa membatin.
Beberapa saat berlalu, pintu di depan mereka terbuka. Seorang pria menyembul keluar membuat keduanya langsung beranjak dari duduk.
"Bagaimana, Mas?" tanya Ayana langsung.
"Alhamdulillah, Bella selamat. Ketiga orang yang diberitakan meninggal itu dari mobil lain, jadi korban kecelakaan itu ada empat orang. Salah satunya Bella, dia ... satu-satunya yang selamat tetapi, dia mengalami patah tulang di kedua kakinya dan juga-" Danieal menghentikan ucapannya begitu saja.
"Kesepuluh jari-jari tangannya remuk dan tidak bisa digunakan lagi untuk bermain piano. Dia harus pensiun dini," jelas Danieal lagi.
"Astahgfirullahaladzim, bagaimana itu bisa terjadi?" gumam Ayana menatap ke sembarang arah.
"Kemungkinan, tangannya terjepit di antara badan mobil," ungkap sang kakak sambung lagi.
Ayana membekap mulut menganga, tidak percaya pada kondisi yang dialami sang pianis.
...***...
Setelah berada di rumah sakit cukup lama, Ayana dan Zidan pun memutuskan untuk pulang.
Sepanjang jalan Ayana diam seribu bahasa membuat sang suami semakin khawatir. Berkali-kali Zidan menoleh ke samping memperhatikannya.
Ayana sedari tadi terus memandang ke arah luar menghindari tatapan pria di sebelah.
"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan membuka pembicaraan.
"Aku yang sudah mengakibatkan Bella kecelakaan. Aku yang harus bertanggungjawab. Aku-"
__ADS_1
"Ayana!" Panggil Zidan sedikit meninggikan suara, sang punya nama terkesiap dan kembali diam.
"Kamu jangan pernah menyalahkan diri sendiri, kejadian ini murni kecelakaan. Bella memang pantas mendapatkannya. Karena dia tidak hati-hati berkendara, kami melihatnya sendiri. Mas, Bening, Gibran, dan Haikal mengikuti mu. Apa kamu tidak ingat?" ucap Zidan menggebu-gebu.
Ayana masih diam beberapa detik, hingga kemudian kepala berhijabnya mengangguk pelan. Ia baru saja teringat jika kedatangannya ke kota itu tidak sendirian.
Ada sang suami dan juga ketiga rekannya yang lain ikut mendampingi. Mereka mengawasi dari jauh tidak ingin membuat keadaan semakin genting.
Mereka juga tidak menyangka jika Bella akan melarikan diri secepat itu tanpa membiarkan Ayana menjelaskan kedatangannya.
"Kamu ingin menemui Bella, sebab peduli padanya, kan? Mas sudah memberitahumu jika masalah Bella biar pihak kepolisian saja yang mengurusinya, tetapi ... kenapa kamu tidak ingin melaporkan masalah ini?" tanya Zidan kembali.
"Karena sebagai sesama wanita dan juga ... wanita yang pernah ada di dalam kehidupanmu, aku ingin melihatnya sadar. Hanya itu ... tidak lebih," balas Ayana masih kukuh pada posisinya.
Zidan terdiam mencerna baik-baik perkataan sang istri. Ia kembali fokus ke depan seraya menyetir kendaraannya perlahan.
Hening melanda, hanya ada deru mesin mobil mendampingi keduanya. Ayana mendongak melihat awan gelap di atas langit malam.
Kepekatannya menghilangkan keindahan bulan dan bintang yang bersembunyi di sana. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Apa ... Mas tahu jika Bella pernah mengandung anakmu?" tanya Ayana tiba-tiba.
Seketika Zidan melebarkan pandangan tidak percaya. Ia menginjak gas kuat hingga kendaraan yang mereka tumpangi berhenti.
Ayana menoleh ke samping kiri di mana Zidan menatap lurus ke depan.
"Bella pernah mengandung anakmu, Mas, tetapi ... dia mengugurkan janinnya," ungkap Ayana menjelaskan.
Zidan masih diam dengan tatapan serius. Ini pertama kalinya ia mendengar berita itu dari sang istri yang sekarang sudah dicintainya.
Ia lalu menepikan mobil membuat keduanya diam di sana.
"A-ku tidak tahu," balasnya gugup membuka suara lagi.
"Em, Bella memang menyembunyikannya. Alasan dia menggugurkan bayi itu ... karena tidak ingin kehilangan popularitas karier yang tengah naik-naik nya." Ayana menengadah melihat langit-langit kendaraan roda empat tersebut.
"Anak tidak bersalah harus menjadi korban keegoisan," lanjutnya lagi.
Mendengar kata-kata terakhir, Zidan pun menengok ke sebelah menyaksikan bibir ranum Ayana melengkung begitu saja.
Ia tahu masih ada jejak masa lalu dalam diri sang istri. Karena bagaimanapun kejadian menyakitkan itu tidak akan pernah bisa terhapus begitu saja.
Zidan hanya bisa mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan sembari menunduk dalam.
__ADS_1