
Kirana tengah duduk di samping jendela besar seraya memangku Raima. Bayi berusia lima bulan itu nampak tertidur pulas dalam gendongannya.
Tidak peduli siapa yang tengah memangkunya, Raima begitu tenang dalam buaian.
Sedari tadi wanita berprofesi sebagai model itu pun memperhatikan wajah polos Raima. Bibir ranumnya melengkung sempurna bagaikan seorang ibu yang tengah menimang bayi mungilnya.
Sesekali tangan lentik itu mengusap surai rambut tipis sang bayi.
"Apa kamu senang datang ke sini?"
Tiba-tiba saja dari arah depan seseorang berbicara seraya berjalan mendekat. Kirana mendongak mendapati Mega mendekat seraya membawa nampan berisi minuman hangat lalu meletakannya di meja tengah-tengah mereka.
Kirana mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih.
"Saya sangat senang, terima kasih sudah menerima saya di sini," balasnya kemudian.
"Tidak usah sungkan, jangan formal seperti itu. Anggap saja ini awal dari hubungan kita, apa yang diucapkan mamah itu pasti terbaik. Mamah tidak mungkin sembarangan meminta seseorang untuk berbicara berdua saja dengannya."
"Mamah sangat teliti, dan bahkan memikirkan terlebih dahulu setiap tindakan yang hendak dilakukan," cerocos Mega tanpa jeda.
Kirana yang sedari tadi memperhatikannya pun mengulas senyum penuh makna. Sebelah sudut bibir ranumnya sedikit terangkat menyaksikan wanita di sebelah.
"Dan putri bungsunya sangat ceroboh, bagaimana bisa dia lahir dari keluarga ini? Bahkan semua orang tampak waspada," benaknya.
Ingatannya pun beralih ke beberapa saat lalu di mana Basima memintanya untuk berbicara.
Sepeninggalan anggota keluarga yang lain, Kirana duduk di sofa tunggal tepat di samping ranjang. Masih dengan memangku Raima, ia memandang ke arah Basima penuh hormat.
"Apa yang ingin Anda katakan pada saya?" pintanya langsung.
Basima menyeringai lalu bangun dari tidur dan bersandar ke kepala ranjang.
"Sepertinya kamu bukan wanita sembarangan," ucap Basima menoleh ke samping di mana tatapannya mengarah pada iris Kirana. Wanita itu hanya tersenyum menanggapi.
"Kamu tahu alasan saya meminta berbicara denganmu?"
"Tentu Anda menginginkan sesuatu dari saya," jawabnya tepat.
Basima tertawa kencang hingga suaranya bergema dan setelah itu kembali memperlihatkan wajah serius.
"Saya suka dengan wanita sepertimu, bijaksana, tahu apa yang orang lain pikirkan."
"Alasan saya meminta untuk berbicara denganmu... karena saya tahu apa yang kamu pikirkan."
"Maksud Anda, Nyonya?"
__ADS_1
"Kamu-" Basima menjeda ucapannya membuat Kirana menautkan alis kuat. Wanita baya itu menggerakkan jari telunjuknya meminta sang model mendekat.
Kirana mencondongkan tubuh sedikit ke depan mendengarkan apa yang hendak disampaikan Basima selanjutnya.
"Kamu ingin mendekati Zidan untuk alasan tertentu, kan? Saya tahu hanya dengan melihat matamu saat pertama kali kita bertemu di pesta syukuran anak ini," lanjut Basima membuat Kirana terkesiap.
Ia menarik tubuhnya lagi menyaksikan lengkungan bulan sabit penuh makna tercetus di wajah tua sang tetua Ashraf.
"Tidak usah khawatir, seharusnya wanita sepertimu yang bersanding dengan cucuku. Ayana itu, tidak sebanding," ucapnya sarkas.
"Jadi maksud Anda... Anda ingin menyingkirkan Ayana? Dan meminta bantuan saya?" kata Kirana menyimpulkan.
"Ternyata kamu cerdas juga, saya tidak akan menjelaskan detailnya lagi. Kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"
"Apa Anda yakin mau menerima saya?" tanya Kirana mencari tahu satu hal.
"Tentu saja, wanita pintar sepertimu lah yang seharusnya menjadi istri Zidan," katanya lagi meyakinkan.
"Saya anak yatim piatu, Nyonya. Apa Anda tidak keberatan?"
Mendengar penjelasan Kirana barusan Basima pun diam sejenak. Ia tertawa canggung membuat sang model menyimpulkan satu hal.
"Kesetaraan kasta, wanita tua ini hanya mementingkan status sosial. Baiklah aku tahu apa yang harus dilakukan," benak Kirana.
"A-ah tentu saja kita harus menjalankan apa yang sudah tadi dibicarakan. Bisakah kamu menyingkirkan Ayana?" pinta Basima lagi.
"Itu hal mudah, Anda tidak usah khawatir. Saya bisa melakukannya, asalkan Anda juga harus memberikan akses pada saya mengenai mas Zidan," kata Kirana memberikan persyaratan.
"Kamu juga tidak usah khawatir. Kamu bisa melakukan apa pun agar rencana kita berhasil."
Kirana mengangguk patuh lalu menyeringai kuat memikirkan sesuatu.
"Kirana. Hei, Kirana. Halo." Mega melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah cantik Kirana.
Ia pun terkesiap, sadar dari lamunan.
"Ah, iya ada apa Tante?" tanyanya kemudian.
"Kenapa kamu melamun? Sudahlah, seharusnya kamu yang menjadi istri Zidan. Kenapa harus wanita tidak tahu diri itu. Aku sebal melihatnya terus berkeliaran di sekitar kami," racaunya lagi dan lagi.
Kirana hanya mengulas senyum simpul tidak ada niatan untuk membalas ucapannya. Kepala bersurai hitam lembut itu pun menunduk menatap lagi wajah damai Raima.
...***...
Zidan masih mematung di tempatnya berdiri menyaksikan keadaan sang istri. Saat ini Ayana tidak jauh berbeda dengan seseorang yang sudah membunuh orang lain.
__ADS_1
Sorot mata nyalang bak tengah memangsa pun terus tercetus di sana. Zidan terpaku, terkejut, sekaligus takut akan kondisi istrinya.
"Sa-Sayang," panggilnya pelan.
Ayana mendengus kasar seraya kembali menyeringai lebar. Pegangan di kuas semakin kuat dan berjalan mendekat ke arah sang suami.
Pelan tapi pasti pergerakan sang pelukis menimbulkan kepanikan dalam diri Zidan. Ia merasa telah menjadi target seorang Ayana.
Hingga tidak lama kemudian ia pun menerjang suaminya dan mengarahkan kuas tepat ke samping kiri bawah perut Zidan.
Tetes demi tetes cat minyak merah pekat itu pun menetes di balik jas kerja sang pianis. Cairan itu menjadi penengah antara suami istri tersebut yang seketika mengotori sepatu keduanya.
Sang pianis sekaligus pengusaha itu pun tertohok dengan membelalakan mata sempurna dan mulut menganga lebar.
Ayana yang masih berada di dekat Zidan mendongak melihat reaksinya.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku melakukan hal ini pada orang tersayang mu?"
Pertanyaan Ayana sontak membuat Zidan menautkan alis tidak mengerti. Ia melihat ketegasan dalam manik bulan sang istri yang tak pernah luntur sedari tadi.
"A-apa yang kamu katakan, Sayang? Aku-"
"Apa kamu benar mencintaiku?" tanya Ayana memotong ucapannya cepat.
"Tentu aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu, Sayang," balas Zidan mengangkat tangan kanannya mengusap pelipis Ayana penuh kelembutan.
Sang pelukis pun mengembangkan senyum manis. Ia kembali menarik kuas dan berjalan ke arah kanvas lagi.
Ia kembali memberikan gradasi merah tadi ke atasnya yang begitu mencolok pada dasar warna hitam.
Zidan menunduk melihat bekas kuas yang tadi menempel di tubuhnya. Ia mengusapnya kasar berusaha menghilangkan noda.
Mendengar pergerakan itu Ayana melengkungkan sebelah sudut bibirnya lagi dan lagi.
"Karena kamu sangat mencintaiku, jadi... kamu tidak keberatan bukan jika aku melakukan hal tadi menggunakan senjata sebenarnya pada nenekmu?"
Ayana berbalik tersenyum penuh makna yang lagi-lagi membaut jantung Zidan hampir lepas dari tempatnya.
Ia menyadari ucapan Ayana tidak main-main. Entah apa yang terjadi sebelumnya, Zidan melihat ada kesedihan begitu kuat di balik senyum yang sang istri berikan.
Setelah perkataan tadi tercetus, atmosfer di sekitar mereka terasa begitu dingin. Udara menusuk kulit memberikan fakta tak kasat mata untuk diterima.
Tidak ada yang berjalan mulus selamanya, masa depan mempunyai jalan cerita sendiri yang tidak pernah kita sangka kedatangannya.
Teruslah melangkah sampai rasa sakit itu berubah menjadi senyuman.
__ADS_1