
Seperti hari-hari yang telah lalu, kini Ayana bertugas sebagai istri sesungguhnya. Ia menyiapkan sarapan untuk suami dibantu beberapa asisten rumah tangga.
Aroma menggugah selera itu pun mengalir ke segala penjuru mansion. Zidan yang tengah berpakaian di kamar mengendusnya pelan membuat kedua sudut bibir melengkung sempurna.
"Apa Ayana memasak lagi?" gumamnya dan cepat menyambar jas kerja yang menggantung di luar lemari.
Secepat kilat ia keluar kamar dan buru-buru menuruni anak tangga satu persatu.
Hingga tidak lama kemudian ia menampakan batang hidungnya di ruang makan. Sontak hal itu membuat beberapa maid saling pandang lalu bergegas meninggalkan tempat memberikan kesempatan kedua tuannya bersama.
Ayana menyadari hal itu pun hanya mengembangkan senyum, menoleh sekilas ke belakang.
Sepeninggalan para asisten rumah tangga, Zidan mendekat melingkarkan lengannya di perut rata sang pujaan.
"Senang sekali melihatmu setiap hari memasak seperti dulu. Bagaikan mimpi ... bagaimana aku harus mengekspresikan kebahagiaan ini?" Zidan mengendus pelan ceruk leher istrinya yang terhalang hijab.
Ayana hanya tersenyum tidak membalas sepatah kata dan hanya membiarkan Zidan melakukan sesukanya.
"Sebentar lagi sarapannya selesai, Mas bisa menunggunya di meja makan," titahnya kemudian.
"Aku lebih suka seperti ini." Zidan enggan pindah dan terus memeluk istrinya dari belakang.
Ayana mendengus pelan seraya menggelengkan kepala singkat.
Hingga tidak lama berselang sarapan pun selesai dibuat. Kedua insan tersebut berpindah ke meja makan dan menikmatinya bersama.
Berkali-kali Zidan menoleh pada Ayana sembari melebarkan senyum. Pelukis itu membalasnya dan memaklumi sikap kekanakan sang suami.
Tidak lama berselang, mereka sudah selesai sarapan. Keduanya bersiap untuk pergi melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Benar? Kamu tidak mau Mas antar ke galeri?" tanya Zidan mengusap rahang istrinya lembut.
Dengan tegas Ayana mengangguk mengiyakan. "Benar Mas, aku bisa bawa mobil sendiri. Tidak usah khawatir," jawabnya yakin.
Zidan menghela napas kasar dengan bibir mengerucut. "Kamu benar-benar sudah berubah, lebih mandiri dan selalu-"
"Aku hanya tidak ingin membebani mu, Mas. Aku juga ... tidak ingin menjadi Ayana yang dulu. Selalu dimanfaatkan dan ... berakhir pengkhianatan." Ayana kembali membuka luka lama membuat Zidan terperangah membulatkan manik lebar.
Ia memeluk istrinya erat mengusap punggung ramping itu berkali-kali. Dagu tegasnya mendarat di bahu kiri Ayana seraya menghirup aroma manis menguar dalam tubuh pasangan hidupnya.
"Maaf." Satu kata mewakili semua perasaan.
__ADS_1
Ayana membalas pelukan sambil mendongak melihat langit cerah pagi ini.
"Em, aku tidak bermaksud mengingat masa itu. Hanya saja-"
"Iya aku mengerti, Sayang," potong Zidan cepat.
Mereka pun saling mendekap satu sama lain menyalurkan kehangatan. Sang mentari menjadi saksi bagaimana perasaan terdalam tersampaikan lewat gerakan-gerakan impulsif.
Beberapa saat kemudian keduanya saling melepaskan, Ayana menyalami punggung tangan suaminya singkat dan Zidan memberikan kecupan hangat di dahi lebarnya.
Pemandangan menentramkan jiwa itu pun menjadi tontonan menarik bagi sebagian asisten rumah tangga yang tidak sengaja melihatnya.
Mereka saling pandang ikut lega, hubungan tuan dan nyonya mudanya sudah baik-baik saja.
Setelah itu Ayana dan Zidan pun meninggalkan pekarangan menuju mobil masing-masing dan pergi menemui kesibukannya.
...***...
"Mamah di sini lagi, sayang," ucap suara lembut wanita berhijab hitam di pemakaman keluarga.
Ia menaburkan bunga di atas gundukan tanah kecil lalu memberikan doa terbaik. Netranya bergulir melihat makan di sebelah sang buah hati.
"Mbak datang lagi, sayang. Apa kalian di sana bertemu?" tanyanya kemudian.
Ia pun mengulas senyum lembut dan mendoakannya kembali.
Tidak lama berselang, Ayana pun bangkit dari sana lalu berjalan meninggalkan area pemakaman.
Pada saat keluar gerbang, ia tidak sengaja bertubrukan bersama seseorang. Ia yang sedari tadi sibuk berbalas pesan dengan kakak sambungnya pun tidak menyadari keberadaan orang lain di sana.
"Astaghfirullah, maaf-maaf, Mbak. Apa Mbak tidak apa-apa?" tanya Ayana pada seorang wanita berambut sepinggang mengenakan pakaian serba hitam di sebelahnya.
Wanita itu menoleh membuat mereka saling pandang.
"Ah, em, saya tidak apa-apa."
"Saya benar-benar menyesal. Sekali lagi saya minta maaf tidak sengaja menubruk Anda," kata Ayana lagi menyesal.
"Tidak apa-apa, saya juga kurang berhati-hati. Kalau begitu saya permisi dulu," balas wanita itu yang langsung melenggang pergi.
Ayana berbalik melihat sosoknya semakin menjauh. Ia mengikuti ke mana kaki itu melangkah lalu mengerutkan kening, heran.
__ADS_1
"Apa dia keluarga Ashraf? Kenapa aku belum pernah melihatnya? Eh tunggu!" Ayana berjalan beberapa langkah ke samping melihat area pemakaman lagi.
"Oh, ternyata ada makam lainnya juga di sini. Mungkin dia ingin berziarah," celotehnya acuh tak acuh lalu melanjutkan perjalanan.
Ayana tengah berkendara membawa mobilnya ke kediaman orang tua sambung. Di saat ia masih berada di pemakaman keluarga Ashraf, sedari tadi Danieal terus menghubunginya.
Dokter tampan itu meminta Ayana pulang ke rumah untuk sarapan bersama. Ia pun membalas jika sudah makan bersama Zidan, tetapi sang kakak tidak mau tahu dan terus memintanya untuk datang.
Ayana pun menuruti keinginan tersebut yang juga permintaan dari ayah dan ibunya. Di perjalanan ia menghubungi Seruni untuk menghandle dulu galeri.
Kurang lebih tiga puluh menit berselang, kendaraan roda empat Ayana pun tiba di pekarangan. Salah satu maid di sana membukakan pintu mobil dan membawakannya untuk diparkir.
Ayana mengulas senyum manis dan mengucap terima kasih. Setelah itu masuk ke dalam mansion mendapati beberapa asisten rumah tangga menyambut kedatangannya.
"Akhirnya kamu pulang juga," ucap sang ayah yang baru turun dari lantai dua.
Ayana bergegas mendekat dan menyalami tangannya singkat.
Ia mengangkat kepala berhijabnya lagi sambil terkekeh pelan. "Maaf Ayah, banyak pesanan yang harus aku urus."
"Bilang saja kamu sedang menikmati honey moon lagi bersama Zidan." Suara sang kakak mencela membuat perhatian putri dan ayah itu menoleh ke samping kompak.
"Mas Danieal? Apaan sih tidak," balas Ayana malu-malu.
"Tidak usah malu, Sayang kami mengerti. Kakakmu hanya cemburu ... karena belum mendapatkan pasangan," kata Celia yang langsung merangkul putri sambungnya.
Mereka pun saling pandang dan tertawa bersama.
"Makanya Mas cepat nikah, supaya tidak mengganggu adiknya terus," balas Ayana menggodanya.
Danieal menggerak-gerakan bibirnya tidak tahu apa yang sedang dicelotehkan. Celia, Adnan, dan Ayana kembali tergelak.
Di tengah kebersamaan mereka, suara langkah kaki berhak tinggi bergema di lorong. Hal tersebut membuat keempat tuan rumah menoleh ke arah yang sama.
Di sana mereka melihat seorang wanita tengah menggenggam tas kecil mengembangkan senyum.
Kedua alis tegas Ayana saling bertautan seolah tidak asing dengan sosok di depannya ini.
"Anda-" Ayana menunjuk tepat ke hadapannya.
"Assalamu'alaikum Om, Tante, Mas Danieal. Apa kabar?" sapanya ramah membuat Ayana menatap mereka bergantian.
__ADS_1
"Siapa dia?" benaknya bingung.