Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 109


__ADS_3

Ketegangan masih terlihat jelas dari kedua pria berbeda usia tersebut. Dari luar ruangan pihak kepolisian dan beberapa anggota lainnya berharap-harap cemas menyaksikan kasus besar itu.


Mereka tahu siapa orang yang kini berada di ruangan. Sang penguasa benar-benar sulit untuk ditaklukan.


Sudah beberapa rekan-rekan mereka menjadi korban atas penangkapan Presdir Han yang telah dilakukan berkali-kali.


Setelah lolos dari kantor polisi dan ditetapkan tidak bersalah, pria itu malah memberikan tuntutan balik yang memberatkan.


Alhasil hukum hanya sebatas candaan saja baginya. Presdir Han tetap berkeliaran dan melakukan apa pun yang ia mau tanpa belas kasih.


Semuanya tutup mulut pada kelakuan pria baya tersebut yang mana saat bermain Han Bose selalu rapih. Karena itu tidak heran tidak banyak orang yang tahu dengan kelakuan ia sebenarnya.


"Sekali lagi saya tanya, apa motivasi Anda melakukan penggelapan? Pemerkosaan? Dan juga kejahatan lainnya?" tanya Haidan kembali serius.


Presdir Han masih menyeringai tajam sembari memandang sang jaksa lekat. Hingga beberapa detik berlalu, jari telunjuk pria baya itu mengetuk meja tepat di tengah-tengah mereka.


Hal tersebut sama sekali tidak menarik atensi sang lawan. Ia sudah tahu apa yang tengah dilakukannya, pria tua ini sedang memainkan triknya, pikir Haidan.


"Apa Anda bermaksud untuk menghipnotis saya dan seketika masalah ini selesai? Setelah itu Anda memberi saya uang untuk tidak melanjutkan masalah ini?" Suara tegas nan tenang Haidan membuat Presdir Han terkesiap.


Ia mendehem kasar lalu duduk kembali di tempatnya seraya melipat tangan di depan dada lagi.


"Apa Anda akan mengakui kesalahan Anda?" tanya Haidan untuk kesekian kali.


Mulut Presdir Han terkatup rapat. Ia tidak mengatakan sepatah kata setelah meluncurkan aksinya tadi.


Kini giliran Haidan menarik sudut bibirnya tegas.


"Ini semakin menarik saja," benaknya.


...***...


Dua belas jam setelah penangkapan Presdir Han, seluruh negeri dikejutkan dengan pemberitaan yang tidak ada habisnya.


Para korban dan juga orang-orang yang sudah percaya pada Presdir Han pun kembali bermunculan.


Sang pelaku masih berada di ruang interogasi menunggu keputusan yang hendak diberikan. Saat ini pria baya itu sudah menyandang status sebagai tersangka.


Untuk kedua kalinya Haidan datang menemuinya dan kali ini tidak sendirian, ada Ayana yang turut mendampingi.

__ADS_1


"Kenapa wanita itu ada di sini? Apa dia juga bagian dari pihak keamanan?" tutur Presdir Han geram menatap dua lawannya bergantian.


"Memang bukan, tetapi beliau adalah saksi sekaligus korban," ungkap Haidan membalasnya.


Sedari kedatangannya ke sana, Ayana menatap nyalang pada pria tua yang sudah dua kali melecehkannya.


Ia geram sangat marah pada kelakuan kejam pria baya itu. Ayana memendam semua kemarahan dalam diam.


Ia benar-benar geram dan ingin melayangkan pukulan detik itu juga. Namun, ia berusaha mengontrol emosi untuk tidak kelepasan.


Ia tidak boleh melakukan kekerasan yang bisa melibatkannya pada hukum juga. Sebelum berbicara, Ayana menutup kedua maniknya rapat seraya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Ia melakukan itu berkali-kali menahan amarah yang setiap detik datang kala bayangan dua kejadian itu menerpa.


"Astaghfirullahaladzim," gumamnya berulang kali.


Setelah beberapa saat kelopak matanya terbuka menampilkan lagi iris cokelat susu terangnya. Di bawah cahaya lampu yang begitu terang wajah putihnya semakin tegas.


Air muka serius nan tajam menatap lekat sang lawan yang tengah duduk tidak jauh di depannya.


"Anda sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pelecehan, penculikan, serta penyekapan yang dilakukan pada saya," kata Ayana lantang.


Presdir Han terkesiap dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak. Ayana yang tengah melipat tangan di depan dada sedikit mengerutkan dahi lebarnya.


Seketika sang pengusaha itu menghentikan aksi tawanya dan kembali membalas tatapan Ayana.


"Bagaimana kalian bisa menetapkan saya sebagai tersangka? Apa ada bukti saya melakukan itu pada kamu, Ayana? Saya yang akan menuntut kalian balik, karena sudah menahan saya tanpa surat penahanan resmi," timpal Presdir Han tidak mau kalah.


Ayana menggebrak meja kasar seraya meletakan kertas berukuran A4 di atasnya. Ia kembali pada posisi semula seraya mengangkat sedikit kepala berhijabnya.


"Dini hari tadi saya membuat laporan dan pihak kepolisian memberikan surat penahanan resmi atas nama Han Bose, itu Anda Tuan, dan lagi ... malam tadi Anda juga menerima surat ini dari Jaksa Haidan, apa Anda lupa?" kata Ayana menjelaskan.


Manik sayu sang presdir sedikit membola, melihat surat tersebut tergeletak di tengah-tengah mereka. Ingatannya pun berkeliaran pada tadi malam.


"Bagaimanapun kalian tidak bisa menahan saya di sini. Saya akan pastikan kalianlah yang akan mendekam di penjara. Karena sudah membuat laporan palsu dan pencemaran nama baik." Lagi dan lagi Presdir Han mengelak kebenaran.


"Oh yah? Jika Anda melihat ini ... apa yang akan Anda lakukan?" Ayana tersenyum penuh arti padanya.


Dahi mengerut itu semakin mengerut dalam. Ia tidak tahu apa yang hendak wanita muda di hadapannya ini lakukan lagi.

__ADS_1


"Bisa kalian bawa masuk?" Pinta Ayana pada orang-orang yang berada di luar.


Sedetik kemudian suara pintu terbuka, diiringi roda kecil mengalun perlahan masuk ke dalam ruangan.


Beberapa saat berlalu, kedua manik Presdir Han membola lebar. Ia tidak menyangka melihat dua orang yang selama ini terabaikan.


Ia bangkit dari duduk menatap tidak percaya pada wanita paruh baya dan muda di sana.


Ayana yang melihat reaksinya pun tersenyum puas.


"Apa Anda akan mengelak lagi, Tuan Han? Mereka adalah ... istri dan anak yang sudah Anda asingkan," ungkap Ayana.


Haidan yang penasaran pun menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita paruh baya bersanggul rapih serta di depannya terdapat wanita muda tengah duduk di kursi roda memandang ke arah Presdir Han.


Ia kembali duduk dan menatap langsung pada Ayana.


"Ba-bagaimana kamu mendapatkannya?" bisik Haidan kemudian.


"Aku mendatangi kediaman mereka," balas Ayana.


"A-apa? Kamu benar-benar wanita luar biasa, Ayana. Bagaimana bisa kamu mendatangi tempat itu sendirian? Bahkan aku saja tidak berhasil," kata pria itu lagi. "Bagaimana kamu meyakinkan mereka? Aku dengar istri dan anaknya tidak bisa dibujuk begitu saja," lanjutnya kembali.


"Insting seorang wanita, mungkin?" Ayana mengembangkan senyum lembut seraya menoleh padanya.


Haidan terkesiap menyaksikan kesungguhan di balik manik jelaga istri dari tuan mudanya ini.


Setelah pertemuan kedua mereka tadi malam, ia benar-benar menganggap Ayana seperti temannya sendiri.


Mereka sama-sama menginginkan kasus Presdir Han segera terungkap dan selesai secepat mungkin. Baik Ayana maupun Haidan berharap tidak ada lagi korban-korban selanjutnya dari keserakahan pria tua ini.


"Wah, aku tidak bisa meremehkan mu. Hei, apa kamu berniat bergabung dengan kejaksaan?" tanya Haidan tiba-tiba.


Mereka berdua masih sibuk saling berbisik mengabaikan Presdir Han yang masih sangat terkejut. Ia terguncang melihat istri dan anak kembar pertamanya ada di sana.


"Em, tidak. Aku lebih menyukai dunia lukis," balas Ayana tegas.


Haidan melebarkan pandangan lalu melengkungkan bulan sabit. "Ah, baiklah kamu memang lebih cocok menjadi seorang pelukis. Bisa-bisa pekerjaanku raib lagi nanti."


Ayana terkekeh pelan mendengarnya lalu melihat lagi ke arah Presdir Han.

__ADS_1


"Sebelum itu kita harus cepat menyelesaikannya." Ayana berada dalam mode seriusnya lagi.


"Iya kamu benar," timpal Haidan setuju.


__ADS_2