Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 8


__ADS_3

Misteri, satu kata mengundang kejutan demi kejutan yang tidak pernah terpikirkan.


Begitulah, tidak ada yang tahu bagaimana esok hari. Kedatangannya tak terduga dan kadang kala memberikan keistimewaannya sendiri.


Kafe dandelion tidak dipadati pengunjung. Ayana sengaja meminta para pelayan untuk tidak menerima banyak tamu siang ini. Karena ia pikir akan makan siang bersama sang suami.


Namun, tanpa ia sadari Zidan membawa seseorang bersamanya, terutama wanita itu.


Ia heran saat mendapatkan undangan makan siang dari sang suami. Sebelumnya kejadian itu tidak pernah terjadi yang membuatnya gugup tak karuan.


Itulah alasan Ayana mengatakan pada pelayan kafe. Mereka pun setuju untuk memberikan ruang kepada tuannya.


Namun, Ayana tidak pernah menyangka peristiwa mendebarkan ini terjadi di satu waktu. Baru kemarin ia bertemu dengan sosok wanita itu dan kini keadaan kembali mempersatukan.


Ia pun harus terjebak di antara suami, kakak, serta keluarganya.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Danieal berjalan melewati Kirana dan Zidan untuk mendekati Ayana. Ia pun berdiri tepat di sebelah sang adik memandanginya cemas.


“Apa kamu tahu semua ini?” tanyanya kemudian.


“Ada apa ini? Apa kamu mengundang Danieal untuk makan siang bersama kita?” tanya Zidan mengejutkan sang dokter.


“Apa? Ba-“


“Iya itu benar, aku mengundang Mas Danieal. Aku pikir lebih banyak orang lebih bagus,” balas Ayana memotong ucapan Danieal yang kembali memandanginya tidak percaya.


“Ah, syukurlah. Kalau begitu ayo kita makan,” ajak Zidan tidak mengindahkan betapa terkejutnya mereka bertiga.


“Ternyata benar, dunia ini selebar daun kelor. Bagaimana bisa aku bertemu dengan mereka di tempat ini? Dan lagi … jadi, Ayana itu istri dari CEO Zidan? Wah, ini benar-benar kebetulan yang nyata,” benak Kirana mengikuti ke mana atasannya pergi.


Tidak lama setelah mereka duduk bersama, berbagai macam hidangan tersaji di meja makan. Keempatnya makan dengan tenang berusaha menghilangkan debaran ketidakpercayaan yang terjadi.


“Apa yang kamu lakukan bersama Zidan? Apa benar kamu menjadi model perusahannya?” Di tengah-tengah menikmati makanannya, tiba-tiba saja Danieal mencela dengan menghadirkan pertanyaan tersebut.


Ia yang tengah duduk di sebelah Kirana pun menatapnya lekat sekaligus mengundang atensi Zidan. Pria itu memandang keduanya bergantian, tidak mengerti apa yang baru saja ditanyakan kakak iparnya.


“Itu benar, apa ada masalah?” tanya Kirana balik seraya membalas tatapan serius itu.


“Apa-“

__ADS_1


“Ada apa lagi ini? Apa kalian berdua saling mengenal?” Zidan mengeluarkan suaranya mencela pembicaraan mereka.


Danieal dan Kirana pun menggulirkan bola mata ke arahnya. Sang dokter mendengus pelan dan kembali memakan makanannya.


“Itu benar, mereka memang saling mengenal, tetapi Mas tidak usah khawatir. Aku yakin Nona Kirana bisa bekerja dengan baik, bukan begitu?” Ayana ikut ke dalam pembicaraan memandang lurus Kirana yang duduk di seberangnya.


Wanita itu pun langsung beralih padanya.


“Oh tentu saja, saya akan berusaha keras untuk melakukan pekerjaan ini,” balasnya mengikuti Ayana.


Zidan kembali memperhatikan mereka satu persatu merasakan sesuatu tidak beres. Ia melihat percikan api di balik manik jelaga sang istri.


“Aku yakin ada sesuatu terjadi sebelumnya,” benak Zidan dalam diam.


Atmosfer di sana pun berubah menjadi tegang. Ayana tidak menyangka mendapati Kirana sudah bekerja sama dengan suaminya. Hal yang tidak pernah terpikirkan kini terjadi.


Insting sebagai seorang istri bekerja kala mendapati keduanya bersama tadi.


...***...


“Kenapa kamu tidak membicarakan masalah ini dengan Mas sebelumnya?” Zidan mengikuti ke mana Ayana pergi.


“Aku ingin membicarakannya denganmu, Mas, tapi menunggu waktu yang tepat,” bela Ayana.


“Jika tidak ada waktu yang tepat kamu pasti tidak akan membicarakannya, kan? Sama seperti kejadian Presdir Han. Kamu melakukannya seorang diri, kenapa tidak mengandalkan ku? Apa aku tidak punya kekuatan untuk melindungi mu? Apa kamu menganggap ku sebagai suami?”


“Kenapa jadi merembet ke mana-mana? Aku hanya mencari waktu yang tepat saja,” kata Ayana lagi memandang lekat.


“Tidak ada Ayana. Tidak ada waktu yang tepat jika kamu masih mementingkan ego. Danieal dan Kirana pernah menjalin hubungan. Wanita itu juga adalah sahabat dekat adiknya yang kembali datang setelah delapan tahun?” Zidan mendengus pelan seraya menoleh ke samping singkat. “Apa yang kamu pikirkan saat dia kembali ke sini? Sudah pasti dia menginginkan posisimu itu, Ayana.”


“Apa yang kamu pikirkan setelah bertemu dengannya? Kenapa kamu tidak langsung membicarakannya padaku? Kenapa?”


“Kamu egois Ayana, sangat-sangat egois.” Zidan terus meracau mengutarakan perasaan terdalam.


Setelahnya ia melangkahkan kaki dari hadapan Ayana. Seketika itu juga air mata meluncur cepat di kedua pipi.


Ayana menangis dalam diam melihat kepergian sang suami. Kedua tangannya mengepal erat merasakan sakit teramat kuat.


Ia berusaha menenangkan diri lalu duduk di kursi kayu menghadap kanvas. Ia mengusap air matanya kasar seraya menggigit bibir bawah kuat.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata terlontar ia mengambil kuas yang tergeletak di dudukan kanvas lalu mulai menuangkan isi kepalanya.


Zidan menutup pintu galeri kasar, memandang lurus ke bawah dengan dada naik turun. Emosi yang tak terbendung membuat ia memberikan kata-kata menyakitkan kepada istrinya.


Ia hanya tidak percaya Ayana kembali menyembunyikan sesuatu darinya. Ia berpikir jika sebagai seorang suami sudah sepatutnya membimbing serta menjadi tameng untuk istrinya.


Namun, Ayana lagi-lagi menyimpan semuanya sendiri. Ia berpikir jika mereka benar-benar sudah menjadi suami istri sesungguhnya, tetapi wanita itu masih menyimpan keraguan.


“Ayana,” gumamnya.


“Tunggu! Apa yang sudah aku lakukan?” Zidan tersadar dari perbuatannya beberapa saat lalu.


Ia lalu mengusap wajah gusar dan kembali masuk ke dalam.


Di tempat berbeda, Danieal tengah bersama Kirana. Keduanya duduk di bangku taman menghadap air mancur.


Banyak anak-anak berlarian ke sana kemari menjadi background kebersamaan.


“Aku harap kamu tidak mengganggu rumah tangga mereka,” kata Danieal begitu saja.


“Apa maksudmu, Mas? Apa kamu berpikir aku wanita seperti itu? Delapan tahun … delapan tahun aku berada di negara orang untuk melupakan rasa sakit atas kepergian Eliza. Selama itu pula aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun.”


“Karena … karena aku masih mencintaimu, Mas,” ungkap Kirana.


Daniela meremas jari jemarinya yang saling bertautan.


“Cinta? Entahlah,” balasnya.


“Aku hanya tidak ingin kamu mengusik rumah tangga mereka.” Danieal pun beranjak dari duduk lalu berjalan menjauhinya.


Manik bulan Kirana terus mengamati kepergian sang mantan, matanya memerah menahan sekuat tenaga air mata yang berusaha untuk keluar.


“Jika kamu terus berkata seperti itu membuka peluang bagiku untuk melakukannya. Ayana … dia sudah merebut mu dariku, jadi bukankah adil jika aku merebut apa yang dimilikinya sekarang? Aku tidak pernah bisa melupakanmu, Mas.”


“Aku sangat mencintaimu. Aku kembali untuk membuktikan padamu jika … aku pantas untuk berada di sampingmu. Namun, kenapa ada wanita itu? Semua usahaku selama ini sia-sia.”


“Tidak, kamu bisa merebut kembali apa yang sudah kamu miliki sebelumnya, Kirana,” racau Kirana masih dengan melihat kepergian Danieal yang menghilang di balik kendaraan roda empatnya.


Kedua tangan di atas pangkuan itu pun saling mengepal kuat melampiaskan kekesalan.

__ADS_1


__ADS_2