
Awan sembilu menelisik ke relung hati terdalam memberikan hujan air mata. Luka masa lalu berdengung kembali seiring catatan kelam terbuka lagi.
Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, sekuat apa pun melupakan bayangannya pasti mengikuti. Sekeras bagaimanapun melepaskan kenangannya tetap tercetus jua.
Ayana mengusap kasar kristal bening yang tak henti-hentinya mengalir. Arfan menjulurkan selembar tissue dan langsung diambil sang lawan bicara.
Ia ikut merasa sedih dan terluka menyaksikan seorang wanita menangis tepat di hadapannya, terlebih sebagai korban keegoisan.
"Aku turut berduka ... aku tidak tahu jika kejadiannya seperti itu. Aku-"
"Tidak apa-apa, jangan mengasihani ku ... aku tidak butuh itu. Karena jika ada seseorang yang mengasihani ku itu artinya aku masih hidup di masa lalu," balasnya memotong ucapan Arfan.
Pria itu mengangguk sekilas, "Maaf. Aku tidak bermaksud-" Ia menghentikan perkataannya saat melihat sorot mata nyalang sang pelukis.
"Maaf-maaf-maaf," katanya berulang kali.
Ayana yang masih sibuk mengusap air matanya pun tertawa seketika, melihat itu Arfan juga mengikutinya. Mereka pun tertawa bersama merasa konyol atas apa yang terjadi.
Tanpa keduanya sadari dari banyaknya pengunjung yang datang, salah satu dari mereka terus memperhatikannya sejak Ayana dan Arfan duduk di sana.
Zidan meremas kedua tangan kuat menyaksikan pemandangan memilukan perasaan. Ia ingin pergi ke sana menarik Ayana dan memeluknya erat.
Ia ingin mengucapkan beribu maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat. Namun, aura mereka seolah mengatakan jangan mendekat.
Zidan pun mengurungkan niat mendekati Ayana membiarkannya bersama Arfan. Baru saja ia berbalik pandangannya langsung terpaku pada satu sosok yang membuka pintu.
Mereka saling pandang berbicara lewat sorot mata masing-masing. Namun, sedetik kemudian bola mata cokelat bening di hadapannya bergulir ke samping.
Ia menatap dua orang itu beberapa saat dan kembali menghadapnya. Sang lawan bicara terus melihat ke arah Zidan dengan wajah datar.
"Ayo bicara di luar," ajaknya. Mau tidak mau Zidan pun mengikuti ke mana ia pergi.
Di sinilah mereka berada, duduk berhadapan di luar kafe yang dekat gallery Ayana. Di temani dua gelas es cappuccino, kakak beradik itu pun saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu katakan kali ini, Gibran?" tanya Zidan langsung.
Gibran menyeringai lebar menyaksikan luka tersimpan apik di balik sorot mata sang kakak. Ia tahu apa yang tengah dirasakannya.
"Pasti sakit kan melihat wanita yang Mas cintai bersama pria lain?" ucapnya menyindir.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya balik Zidan tegas.
Gibran mendengus kasar masih memberikan seringaian. "Mbak Ayana sudah kembali ... apa yang akan Mas lakukan?"
"Mas tahu ... rasa sakit yang Mas rasakan saat ini itu tidak sebanding dengan mbak Ayana. Selama enam tahun ... enam tahu Mas dia menanggung semua kesakitan tanpa ada kepedulian darimu. Sampai mbak Ayana kehilangan satu-satunya harapan yang bisa membuat rumah tangga kalian bertahan ... yah, anak kalian berdua."
"Bayi tidak bersalah, tidak berdosa itu harus menjadi korban keegoisanmu. Mas lebih memilih wanita itu dibandingkan mbak Ayana yang jelas-jelas sudah mencintaimu dari dulu. Mas-"
Seketika Zidan pun menggebrak meja membuat atensi pengunjung dan juga para pegawai mengarah padanya.
Beberapa dari pegawai pun langsung melaporkannya pada Ayana. Sejak kedatangan Zidan dan Gibran ke sana, pria bernama Galih itu langsung merekamnya.
Di seberang sana Ayana mendengarkan apa yang diperdebatkan kakak beradik itu. Ia menyeringai seraya berkata, "lakukan tugasmu dulu, nanti jika ada keributan lagi aku akan datang ke sana," ucap Ayana.
"Kamu berbicara dengan siapa?" tanyanya to the point.
Ayana yang tengah menikmati sepiring cake pun menoleh singkat. "Aku sedang bekerja, ada seseorang di seberang sana." Arfan hanya mengangguk begitu saja tidak ingin ikut campur terlalu jauh.
...***...
Atmosfer di kafe kian memanas, Zidan beranjak dari duduk lalu bertumpu ke atas meja, mantap nyalang adik kandungnya.
Tanpa gentar Gibran memberikan tatapan yang sama. Ia mendongak melihat kilat amarah yang langsung menusuk.
"Aku tahu ... aku tahu aku salah. Tidak bisakah kamu tidak usah terus-terusan memojokkan ku seperti ini? Aku hanya seorang pendosa yang tidak luput dari kesalahan. Aku-"
Gibran naik pitam dan mencengkram kerah kemeja sang kakak. "Mudah kamu mengatakan seperti itu? Bagaimana dengan mbak Ayana yang terus-terusan kamu sakiti? Hanya sampai di sini kah rasa bersalah mu, Mas?"
__ADS_1
Zidan yang tidak terima pun langsung memberikan bogem mentah di pipi mulus Gibran. Sang adik langsung terpental dan menubruk kursi besi di belakangnya.
Para wanita yang menyaksikan itu berteriak histeris. Mereka berhamburan meninggalkan kafe dan ada juga yang merekam kejadian tersebut.
Kegaduhan semakin tercipta kala Gibran membalas pukulan kakaknya. Ia meninju wajah tampan itu membuatnya tersungkur juga.
Seketika kedua kakak beradik itu pun saling adu jotos tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Para pegawai langsung turun tangan melerai mereka.
Namun, kekuatan dua pria keturunan Ashraf itu pun tidak main-main. Mereka menghempaskan siapa saja orang yang mau memisahkannya.
Sampai tidak lama kemudian suara lembut yang mereka kenal menginterupsi.
"Hentikan kalian berdua."
Ayana datang di tengah-tengah kerumunan para pengunjung. Di belakangnya Arfan menyusul melihat Zidan dan Gibran dengan muka yang sudah babak belur.
"Ayana?" Panggil Zidan menyaksikan sang mantan istri datang.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bikin malu saja, cepat pergi dan selesaikan urusan kalian," kata Ayana menatap nyalang keduanya.
Melihat kemarahan tercetus dalam sorot mata sang mantan kakak ipar, Gibran langung berjalan mendekat. Sudut bibirnya yang sudah robek pun ia paksakan tersenyum membuatnya meringis.
"Mbak, bisakah Mbak mengobati lukaku?" pintanya memohon.
"Nona, kami harap Anda bisa mengobati luka mereka dulu," kata Galih menatap Ayana.
Mendengar kata nona, Zidan menatap Ayana lekat. Pikirannya sudah melalang buana menyambungkan apa yang baru saja terjadi.
"Nona? Tunggu tidak mungkin Ayana tahu di sini aku dan Gibran sedang berkelahi jika bukan-" Ia menoleh pada Galih yang masih menatap pada Ayana. "Jika bukan dia yang melaporkannya. Tunggu! Apa jangan-jangan." Zidan sadar dengan pemikirannya sendiri.
"Baiklah, kalian berdua ikut aku." Final Ayana, "Bersihkan kekacauan di sini dan jangan sampai mamah atau papah tahu, yah. Oh yah, laporkan saja kepada mas Danieal," katanya sebelum pergi. Galih pun mengangguk mengiyakan.
Menyaksikan hal itu baik Zidan maupun Gibran tidak menyangka. Sosok Ayana yang sekarang sangat jauh berbeda dengan masa lalu.
__ADS_1
Ayana saat ini terlihat berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, serta tegas dalam mengambil keputusan.
"Benar, wanita yang sudah disakiti bisa berubah menjadi lebih tegas. Apa yang sudah satu tahun lebih ini Mbak Ayana lakukan? Aku ingin tahu," benak Gibran seraya terus memperhatikan punggung Ayana di depannya.