
Kegaduhan yang terjadi beberapa saat lalu menyisakan Ayana sendirian lagi di sana. Bella dan Zidan sudah angkat kaki kala mendengar penjelasannya barusan.
Bella pergi seraya menghentakkan kaki kasar lalu disusul Zidan yang memandanginya dengan raut muka masam.
Ayana menghela napas saat diingatkan kembali dengan mendiang anaknya. Sedari tadi ia berusaha fokus pada pekerjaan untuk menyelesaikan lukisan. Namun, berkali-kali ingatan itu terus berputar dalam kepala, bagaimana sosok suci tanpa dosa harus pergi disebabkan kesalahan.
"Mamah minta maaf, sayang. Mamah bukannya tidak mengakuimu, hanya saja ... situasinya yang seperti ini. Mamah harap kamu mengerti," benaknya.
Ia tidak bisa mengatakan hal pribadi secara lantang, Ayana selalu berhati-hari agar ucapannya tidak terdengar orang lain ataupun terekam kamera pengawas.
"Baiklah, saatnya menyelesaikan ini," kata Ayana semangat.
Hari ini ia sengaja menutup toko agar lebih berkonsentrasi pada lukisannya yang akan dimuat di pagelaran nanti.
Di tempat berbeda, tepatnya di sebuah kafe tepat di samping toko magnolia, Zidan dan Bella tengah duduk berhadapan.
Mereka ingin menyelesaikan apa yang baru saja terjadi. Mantan suami istri tersebut masih terguncang atas apa yang diucapkan Ayana mengenai foto usg tadi.
"Aku tidak menyangka jika dia benar-benar orang lain? Seharusnya kalau wanita itu adalah Ayana, dia bisa saja terguncang melihat ini." Bella meletakan gambar hitam putih tepat di tengah-tengah meja.
Zidan termenung memandangi calon buah hatinya yang sudah ia hilangkan dengan paksa. Air mata menitik membuat ia langsung menghapus kasar.
Ia menyambar foto itu cepat dan memasukannya ke kantung jas. Zidan beranjak dari duduk lalu menatap lekat sang mantan istri.
"Aku harap kamu tidak usah menemuinya lagi. Dia ... bukan Ayana." Ada jeda di akhir kalimat membuat Bella mengerti.
"Aku tahu Mas juga masih ragu mengakuinya sebagai orang lain. Aku juga ragu jika dia orang yang berbeda. Karena-" Bella menjeda ucapannya lalu merogoh tas selempang sedangnya.
Ia mengeluarkan beberapa foto dan kembali mendongak menatap sang pianis. Kedua mata Zidan terbelalak sempurna.
Tepat di atas meja ia melihat gambar demi gambar mengenai sosok sang istri. Ayana yang tengah berada di sebuah tempat asing menyunggingkan senyum lebar membuat jantung Zidan berdentum tak karuan.
__ADS_1
"A-apa maksud semua ini?" Zidan kembali duduk masih dengan menatap foto-foto di depannya.
"Aku sudah mencari tahu semuanya dan ... inilah yang aku dapatkan. Orang suruhanku mendapatkan informasi ini di sebuah desa terpencil. Kami memperhatikan Ayana saat terakhir kali pergi di kediamanmu, Mas."
"Ayana yang tertangkap kamera CCTV menunjukkan berjalan ke sebelah kiri. Di mana arah itu menuju halte bus terdekat di daerah kediaman mansionmu," jelas Bella memperlihatkan bayangan Ayana di salah satu foto.
"Dan benar ia datang ke sana saat malam hari di kala hujan besar." Bella menunjukkan Ayana yang tengah duduk di kursi halte. Foto didapatkan dari rekaman kamera pengawas yang ada di sekitar pemberhentian bus.
"Dia lalu masuk ke bus menuju Desa X. Aku menyuruh seseorang untuk datang ke sana, dan ... siapa sangka aku mendapatkan foto ini." Bella kembali memperlihatkan sebuah foto Ayana yang sedang duduk di sebuah taman menghadap danau.
Wajah putih pucat nya menandakan kondisinya waktu itu. Saat masih berada di Desa X, Ayana lebih sering menghabiskan waktu di taman.
Taman itu dekat dengan rumah sakit di mana Danieal bekerja. Kurang lebih satu tahun mereka tinggal di sana dan fokus kepada penyembuhan.
Orang yang Bella suruh mendapatkan foto tersebut dari kamera pengawas yang berada di rumah sakit. Ia terus mengorek dan mencari tahu apa yang terjadi di sana.
Sampai orang suruhan Bella berhasil mendapatkan sebuah informasi penting. Sang pianis tertawa senang mendapatkan umpan yang sangat besar.
Manik kelam Zidan terus fokus ke atas meja di mana tangan lentik Bella menggulirkan beberapa foto yang menghalangi.
Sampai gerakannya pun terhenti pada sebuah potret yang menunjukkan interaksi dua orang di dalamnya.
"Danieal Arsyad." Bella menunjuk ke seorang pria.
Zidan terbelalak untuk kesekian kali. Ia benar-benar terkejut setelah mendapatkan informasi dari Bella. Wanita itu tanpa ia sadari sudah bergerak cepat dari rencananya.
Ia yang juga telah mencari tahu kebenaran mengenai Ghazella Arsyad tidak mendapatkan apa pun. Namun, siapa yang menyangka ia mendapatan informasi itu dari mantan istrinya.
"Apa tujuanmu mencari tahu semua ini?" tanya Zidan mengangkat kepala menatap Bella lagi.
"Aku hanya ingin membongkar kepalsuannya saja. Selama ini kita sudah ditipu dengan trik murahannya itu. Dia pikir kita akan tertipu? Tidak semudah itu." Bella menyeringai lebar percaya diri.
__ADS_1
"Apa jika memang dia adalah Ayana ... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Zidan lagi.
"Aku akan menunjukkan pada orang-orang siapa dia sebenarnya." Bella semakin yakin dengan permainannya kali ini.
Namun, tanpa mereka berdua sadari jika semua pegawai yang ada di kafe itu sudah di setel untuk mengawasi orang-orang. Mereka berada dalam naungan keluarga Arsyad yang tentu saja sebagai pemberi informasi untuk Ayana.
Selama ini mereka berpura-pura sebagai pegawai kafe dan memperhatikan setiap pengunjung yang datang ke toko Ayana.
Sudah banyak orang yang berkunjung ke sana setelah pergi dari bangunan magnolia. Mereka tidak mendapatkan apa-apa, sebab semua yang datang hanyalah orang asing, tidak ada sangkut pautnya dengan Ayana.
Mereka hanya membicarakan mengenai lukisannya yang luar biasa. Namun, sekarang para pegawai mendapatkan tambang emas.
Sedari tadi mereka terus hilir mudik di sekitaran meja Bella dan Zidan. Beberapa pegawai bergiliran seraya memasang perekam di tubuhnya. Telinga mereka pun menggunakan earphone untuk mendengarkan arahan dari seseorang di depan kafe.
"Kerja bagus, semuanya. Kalian sudah melakukan tugas dengan baik. Nanti malam aku akan mentraktir kalian makan," kata sang pelukis itu membuat mereka hanya mengangguk sebagai gesture setuju.
Ayana yang sudah menyelesaikan lukisannya pun duduk tepat di samping jendela besar. Sedari tadi ia mendengarkan apa yang terjadi di kafe.
Ia menoleh menatap bangunan itu yang dipadati pengunjung. Bibir ranumnya menyeringai lebar mendapatkan informasi besar.
"Jadi, dia benar-benar sudah mencari tahu keberadaan ku sampai sejauh itu? Terima kasih atas pemberitahuan yang kamu berikan, Bella. Informasi darimu membuatku ingin terus dan terus melihat apa yang hendak kalian lakukan," gumamnya sepelan mungkin.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Danieal datang seraya membawa makanan manis sebagai peneman.
Ayana melebarkan senyum penuh makna tidak sabar ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Danieal duduk di depannya seraya menatap sang adik penuh tanya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku mendapatkan ikan yang sangat besar. Apa Mas mau mendengarkan?" tanyanya balik.
"Tentu saja, apa itu? Apa ini tentang mantan suami dan madumu?" Danieal sudah tahu apa yang membuat Ayana bersemangat. Hal itu menyangkut sosok masa lalu yang tengah bermain-main lagi.
__ADS_1