Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 65


__ADS_3

Misteri tentang kehidupan sepenuhnya tidak ada yang tahu. Bisa saja hari ini masih berada dalam gelap gulitanya kepedihan, tetapi bisa sasa besok menghilang dan semuanya berubah secara sempurna.


Menghindar dari sumber masalah terkadang menjadi keputusan terbaik untuk memperbaiki diri. Kadang kala berada di dekat sumber rasa sakit hanya mendatangkan kepedihan lain, merugikan diri sendiri.


Pikiran negatif kadang kala datang menyuguhkan aksi untuk melukai diri sendiri. Sinar mentari yang hadir di kala siang tidak bisa menghilangkan begitu saja bagaimana kelamnya sebuah ujian.


Hujan air mata turun dalam kesendirian memeluk sebuah pengharapan.


Menerima keadaan layaknya air mengalir dan bertahan dengan kesedihan membayang membutuhkan kesabaran ekstra guna melaluinya.


Terlalu sulit, terlalu terjal, jalan yang harus ditempuh. Pikiran tanpa masa depan membuahkan ketakutan dan kecemasan. Semua itu berlabuh pada satu jeda dan berharap waktu berakhir begitu saja.


Kemelut dalam diri selama lima belas tahun Jasmine lalui kini mendapatkan titik temu. Ia bisa melihat warna-warni dunia berkat kemurahan hati seseorang.


Ia pikir dunianya hanya berada dalam kemalangan tanpa sebuah kepastian. Namun, nyatanya seiring berjalan waktu, masa memberikan kebaikan.


Semilir angin berhembus menemani keberadaannya di sana. Aroma laut terendus menelisik ke indera penciuman. Deburan ombak memecah batu karang menjadi simfoni terindah. Pasir putih yang ditapaki perlahan menyambut kedua kakinya yang bebas.


Jasmine menutup mata rapat merasakan angin menerjang keberadaannya. Sedetik kemudian kelopak mata itu terbuka menampilkan kembali sepasang iris keabuan. Tatapannya memandang lurus ke depan dengan lekat.


Langit memperlihatkan keindahannya sore ini, bak keluar dari lukisan, cakrawala penuh dengan warna-warni panorama menenangkan jiwa.


Terlepas dari semua itu, sepasang lengan kekar tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Kehangatan menyebar dari perlindungan kuat sang imam dalam keluarga.


Aroma maskulin menyambut, menyapa kuat melengkungkan bulan sabit sempurna terpendar di wajah cantiknya.


"Sudah lama aku ingin memperlihatkan senja ini padamu, Sayang. Bagaimana perasaanmu sekarang?"


Suara baritone mengalun masuk ke gendang telinga. Jantung berdebar riuh sama seperti pertama kali merasakan apa itu jatuh cinta.


Tidak ada yang bisa kita ketahui bagaimana esok hari memberikan kejutan. Keberadaan Danieal Arsyad yang tidak pernah dikenal menghadirkan bahagia tiada tara.


Sosoknya mengikis kesendirian dengan kehangatan keberadaannya di setiap saat.


"Em, Alhamdulillah, perasaanku sudah lebih baik," balas Jasmine menggenggam erat lengan melilit di perut ratanya.


Danieal ikut lega mendengarnya dan memberikan kecupan penuh kasih sayang di puncak kepala sang istri.


Beberapa hari lalu, selepas pesta pernikahan keduanya memutuskan untuk berbulan madu. Danieal membawa istri tercinta ke sebuah negara yang memiliki pemandangan laut dan matahari terbenam terindah di dunia.

__ADS_1


Sudah tiga hari mereka menetap di sana, selama itu pula telah banyak kenangan yang keduanya ambil dan dibagikan kepada sang adik di tanah air.


Ayana iri menyaksikan panorama alam yang sangat indah di sana. Ia bahkan mengomel pada Danieal agar suatu hari nanti bisa membawanya.


Dokter tampan itu hanya mengatakan iya dan mengingatkan sang adik untuk fokus terlebih dahulu dengan kehamilan keduanya.


Mengingat kebersamaan mereka membuat Jasmine tidak henti-hentinya mengembangkan senyum. Ia sangat bahagia bisa menjadi bagian dalam keluarga Arsyad.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Juga-" Sebelah tangan Danieal terangkat, masuk ke celah hijab sang istri dan mengelus leher jenjangnya.


Sang empunya seketika membeku, terpaku beberapa saat.


Danieal merasakan sebuah luka yang masih dalam penyembuhan. Perasaannya benar-benar hancur kala mengetahui Jasmine mengorbankan diri sendiri untuk melindunginya serta Ayana.


Alasan itu dicetuskan saat mereka melakukan perjalanan ke sana. Danieal sampai tidak percaya kala mendengar sendiri pengakuan itu dari Jasmine.


"Kenapa kamu harus mengorbankan diri untuk melindungi kami? Kamu tahu... aku lebih baik mati jika itu bisa melindungi mu."


Mendengar itu seketika Jasmine melepaskan kedua tangan Danieal. Ia berbalik dan mendongak membalas langsung tatapannya.


"Aku tidak suka mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu, Mas. Karena apa? Karena aku tidak ingin siapa pun mengorbankan dirinya... untukku."


Belum sempat Jasmine menyelesaikan kalimatnya, Danieal secepat kilat menyambar benda kenyal berwarna pink muda itu, gencar.


Jasmine terbelalak lebar seraya berpegangan erat pada kedua bahu lebar sang suami. Hampir saja ia terjengkang ke belakang jika tidak sigap Danieal memegang pinggangnya.


Ia terus melingkarkan kedua lengannya di sana erat dan semakin menekan penyatuan yang dilayangkan olehnya.


Perlahan, tapi pasti Jasmine terlena dan ikut terbawa suasana. Manik bulannya menutup rapat dan menyambut permainan sang suami.


Di bawah langit senja dengan gradasi warna pastel kedua insan saling mencumbu. Bak pulau pribadi, mereka menikmati waktunya sendiri di sana.


"Kamu berharga untukku, Sayang," bisik Danieal di sela-sela kegiatannya.


...***...


Selepas melihat senja, Danieal dan Jasmine kembali ke kamar villa yang sudah disewa hari-hari sebelumnya dan melanjutkan apa yang seharusnya dilakukan.


Gerakan demi gerakan impulsif itu kian bergelora. Dengan deburan ombak yang masih terdengar, keduanya gencar melepaskan keinginan satu sama lain.

__ADS_1


Hijab yang menghalangi leher putih sang istri terlepas memperlihatkan luka dalam di sana. Danieal terpaku dan menarik istrinya untuk duduk di atas pangkuan.


Jari jemari jenjang itu menelusuri jahitan di leher sebelah kanan dengan mata berkaca-kaca. Liquid bening merembes di balik kelopak siap meluncur kapan saja.


Pandangannya pun beralih ke kedua kaki di mana di sana masih terdapat bekas rantai yang membelit Jasmine waktu itu.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu bertahan selama ini? Sayang... apa kamu pernah-"


"Aku pernah meminta mati pada Tuhan. Mas tahu? Setiap hari itulah yang aku minta. Namun... Allah tidak mengabulkannya, sebab... inilah jawaban dari semua kegelisahan."


"Kamu-" Jasmine mengusap pelipis tegas sang suami lembut dan memberikan kecupan berkali-kali di sana.


Danieal menutup mata menikmati sentuhan Jasmine serta membiarkan istri tercinta melakukan yang diinginkannya.


Tidak lama berselang, Jasmine mengakhiri aksinya dan menarik diri lagi. Kedua tangan masih bertengger di bahu suaminya yang bebas.


"Kamu dan Ayana... adalah hadiah terindah yang Allah berikan," ungkapnya lagi.


Danieal melebarkan pandangan dan menegakkan tubuh seraya kedua tangan turun perlahan ke punggung Jasmine lalu menjamahnya dengan gerakan-gerakan naik turun.


Sang empunya melenguh, kepala bersurai kecokelatan nya mendongak ke atas memberikan akses sang suami untuk melihat lebih jelas seperti apa luka yang didapatinya.


Danieal meringis pelan dan sedetik kemudian mengarahkan benda kenyalnya ke sana dengan memberikan kecupan-kecupan ringan berkali-kali.


Setelah itu gerakan lembut tadi berubah dalam hitungan detik. Jasmine menjambak rambut sang suami kuat melampiaskan hasrat terpendam.


Detik demi detik berlalu, penyatuan keduanya terjadi berkali-kali. Di kamar itu hanya terdengar melodi-melodi nyaring keluar dari mulut pasangan suami istri baru tersebut.


Keheningan menjadi saksi seperti apa permainan yang dilayangkan. Senja menemani kesyahduan kian menggelora.


Seketika malam menyambut, menyuguhkan angin dingin yang menambah suasana. Baik Danieal maupun Jasmine sama-sama menikmati penyatuan mereka.


Tidak pernah keduanya bayangkan bisa mendapatkan pasangan luar biasa. Di balik kejadian serta ujian mendera terdapat kebaikan yang didapatkan.


Meskipun hari ini masih menangis kencang, bisa saja besok mendapatkan senyum kebahagiaan. Kejutan yang Allah berikan terkadang terbungkus kesedihan.


Kegelapan mengambil alih segalanya, tetapi di dalamnya mengandung cahaya yang tidak diketahui. Kebahagiaan kian bergelora, terlepas dari permasalahan menghadang, dua insan dipersatukan dalam ikatan janji suci pernikahan.


Cinta pun tumbuh seiring berjalannya waktu, baik Danieal maupun Jasmine, mereka sama-sama tidak ingin saling melepaskan.

__ADS_1


Keberadaan satu sama lain menjadi pelengkap di dunianya yang sempat runtuh.


__ADS_2