
Tidak ada yang lebih menakutkan selain menerima kenyataan pahit melebihi empedu. Tidak ada yang tahu seperti apa misteri di balik peristiwa pada kehidupan.
Sebuah fakta mencengangkan terjadi pada wanita yang dulu pernah disia-siakan. Zidan terkejut dan tidak percaya kala mengetahui Ayana pernah hampir dilecehkan oleh orang tidak dikenal.
Air mata pun meluncur tanpa bisa dicegah saat rasa bersalah semakin memukul-mukul dadanya kuat. Bagaikan ada tangan tak kasat mata meremasnya erat, kesakitan kian tumbuh.
"Astaghfirullahaladzim," gumamnya terus beristighfar.
Danieal sedari tadi menyaksikan tingkah lakunya mengulas senyum simpul. Ia beranjak dari duduk membawa tas dokter di kursi ruang tamu.
Ia kembali ke sana dan duduk tepat di sebelah sang pemilik mansion. Ia membiarkan Zidan membawa adiknya ke tempat itu setelah mendapati perjuangan yang dilakukannya untuk Ayana.
Ia tidak sampai hati untuk melarangnya begitu saja. Karena bagaimanapun Zidan masih menjadi suami dari adik sambungnya itu.
Ia lalu mengeluarkan kapas, perban, serta obat luka untuk mengobati luka di wajah tampan sang pianis. Tanpa menolak Zidan pun membiarkan Danieal melakukan pengobatan.
"Ayana sudah sangat menderita sebelum bertemu denganku. Dia memang tidak pernah menceritakannya secara gamblang mengenai masa lalunya bersamamu, tetapi ... aku cukup tahu saat melihat lukisan yang dibuatnya."
"Ayana, benar-benar terluka. Tidak mudah memang untuk menerima seseorang dari masa lalu, terlebih begitu banyak luka yang ia terima," celoteh Danieal sembari mengoleskan betadine pada luka di wajah Zidan.
Tanpa meringis ataupun merasa kesakitan sedikit pun, Zidan terus menjatuhkan pandangan ke bawah. Ia ingat bagaimana kejamnya perlakuan yang sudah dirinya berikan pada Ayana bersama Bella.
Ia melakukan apa pun yang disuruh oleh wanita itu sampai-sampai rela membunuh janin dalam kandungan Ayana.
Ia sudah berbuat terlalu jauh tanpa memikirkan balasannya. Ia terbuai dan dibutakan oleh cinta sesaat yang menjerumuskannya pada rasa sakit serta penyesalan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ... sudah jatuh cinta padanya dan tidak mudah untuk mendapatkannya kembali. Setiap malam aku selalu bermunajat kepada Allah agar Ayana mau membuka hatinya lagi."
"Cinta ini datang terlambat dan penyesalan perlahan-lahan membunuhku. Sekarang aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Di tambah menyaksikan sendiri bagaimana pria tua bangka itu juga hampir melecehkan Ayana."
__ADS_1
"Aku tidak bisa melihatnya terus menerus disakiti meskipun ... akulah si pelaku yang melakukannya sangat parah," racau Zidan menggebu-gebu.
Liquid bening terus meluncur dengan deras tanpa bisa dicegah. Danieal seketika menghentikan kegiatannya membiarkan pianis itu menangis.
Sebagi sesama pria ia mengerti apa yang dirasakan Zidan. Ia juga pernah berada di posisinya pada saat sang adik mengalami depresi parah.
"Terus saja berdoa dan meminta kepada Allah untuk kebaikan bagi kalian berdua. Aku tidak bisa membantu apa pun, sebab ... aku tidak ingin melihat Ayana kembali terluka dan aku juga tidak bisa menyalahkan mu terus menerus. Karena bagaimanapun kamu sudah menyesali perbuatan itu dan bahkan berjuang untuknya," kata Danieal kemudian.
"Kalau begitu aku titip Ayana dulu, jika ia memberontak cukup berikan saja ini." Danieal meletakan suntikan tepat di sebelahnya.
Zidan menoleh menyaksikan benda itu tergeletak di sana. Tubuhnya terdiam kaku, bak bongkahan es tanpa bergerak sedikit pun.
Danieal yang masih membereskan barang-barang pun menyadari sesuatu, jika tidak mudah mengendalikan diri sendiri di posisi serupa.
"Aku pergi dulu," ucapnya menyambar tas dan berlalu dari sana.
Sepeninggalan dokter itu, Zidan membawa suntikan tadi dengan tangan gemetar. Ia menggenggamnya erat dan menatapnya lekat.
...***...
Pukul setengah empat dini hari, Ayana terjaga dari tidur lelahnya. Ia membuka mata lagi dan masih mantap ruangan yang sama.
Angin berhembus perlahan menyapu wajah pucat nya. Ia bangkit dari berbaring mendapati jika tidak hanya dirinya seorang di sana.
Tubuh lemas itu kembali gemetar saat bayangan kejadian beberapa jam lalu teringat. Ia mengepalkan kedua tangan erat saat satu sosok berjalan mendekat.
Kamar yang hanya diterangi lampu meja pun tidak menerangi ke segala penjuru. Ayana dibuat cemas dan takut jika peristiwa tadi kembali terulang.
"Siapa kamu?" tanya Ayana hanya melihat dada ke bawah sosok di depannya.
__ADS_1
Tidak lama berselang orang itu pun berjalan ke depan memperlihatkan batang hidungnya. Manik jelaga Ayana membola dengan jantung berdegup kencang.
"Kenapa?" Satu kata mengawali segala isi hati.
Zidan terus berjalan mendekat lalu duduk di sofa tunggal tepat di samping tempat tidur. Ayana langsung merenggut ke kepala ranjang seperti keadaan sebelumnya.
"Tenang Ayana, aku ... tidak akan melakukan apa pun padamu," ucap Zidan lembut.
Mendengar nada suaranya membuat Ayana terdiam. Di tengah kepalanya yang menunduk dalam, ia menolehkan bola mata ke samping.
Ia menyaksikan wajah berantakan sang suami yang dipenuhi plaster untuk menutupi luka. Namun, perhatiannya langsung tertuju ke arah pelipis, di mana hanya di sana saja yang dipasang perban.
Samar-samar ia mengingat jika tadi sempat melempar semua barang didekatnya. Ia tidak tahu jika botol parfum dari kaca mengenai wajah Zidan.
Saat pandangan mereka bertemu, Ayana langsung memalingkan wajah. Ia terus meremas selimut tebal yang membungkus dirinya hangat.
Tanpa ada kata yang terlontar keduanya hanya menikmati keheningan dalam diam. Zidan menelan saliva kuat membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja terasa kering.
Perkataan Danieal beberapa jam lalu kembali terdengar. Bagaimana satu setengah tahun lalu Ayana mengalami kejadian tak diharapkan setelah membawa luka ditorehkan olehnya.
Ia mengepal kedua tangan erat menyaksikan ketakutan dalam diri sang istri. Ia mengerti bagaimana terluka dan tidak percaya yang kini tengah Ayana rasakan.
"Ayana," panggil Zidan pelan. Sang empunya acuh masih memalingkan wajah ke arah lain enggan melihat padanya.
"Aku tahu mungkin ini terdengar tidak masuk akal dan ... mungkin kamu juga tidak akan percaya pada apa yang akan aku sampaikan."
"Satu setengah tahun lalu setelah kamu pergi, aku mengalami depresi dan halusinasi. Aku mendapatan perawatan berbulan-bulan di rumah sakit, bahkan sampai sekarang ... aku masih berada dalam pengawasan dokter. Aku dibenci oleh keluargaku sendiri yang sudah menyianyiakan wanita sebaik dirimu."
"Wanita yang aku puja-puja dan aku bela ternyata mengkhianati ku. Dia hanya memanfaatkan ku saja untuk kepentingannya sendiri. Aku sudah bercerai dengan Bella setahun lalu. Mungkin kamu menganggap aku tidak tahu malu mencintaimu setelah apa yang terjadi, tetapi ... inilah yang terjadi."
__ADS_1
"Saat mengetahui kamu meninggal, aku benar-benar terluka. Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan mu. Aku sangat menyesal dan berharap Allah mengembalikan mu padaku. Sampai setahun kemudian kita bertemu lagi yang mana pada saat itu kamu mengaku sebagai Ghazella Arsyad."
"Melihatmu di atas panggung dengan cahaya menerpa membuatku benar-benar jatuh hati. Aku mencintaimu dan ... aku menyesal," ungkap Zidan. Suaranya bergema di ruangan membuat Alina terpaku tanpa bisa bergerak sedikit pun.