Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 80


__ADS_3

Ayana baru saja kembali setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua hari ke sebuah desa. Setibanya di rumah orang tua angkat, ia dikejutkan dengan kehadiran ketiga penghuni rumah.


Tidak hanya itu saja ia juga menangkap dua orang lain di belakang mereka. Seorang pria duduk di kursi roda didorong oleh adiknya membuat ia terperangah.


Ayana menatap mereka bergantian, sembari melengkungkan sudut bibir tegas.


"Assalamu'alaikum, aku pulang," ucapnya memberi salam.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Selamat datang kembali di rumah," balas sang ibu sambung, Celia mendekati Ayana dan menggenggam tangannya hangat.


Sang pelukis itu menyaksikan ketulusan serta kelembutan Celia. Ia lalu mengangkat kepalanya melihat empat orang pria juga sedang tersenyum.


Ada perasaan lega sekaligus haru campur aduk menjadi satu. Ingatannya berputar pada kejadian beberapa saat lalu.


"Kamu benar-benar hebat Ayana," kata sang kakak mewakili yang lain.


"Aku melakukan apa yang seharusnya di lakukan," balas Ayana kemudian.


"Mbak benar-benar hebat, aku sampai terharu melihat aksi Mbak yang luar biasa," lanjut Gibran memujinya.


Perhatian Ayana kini beralih pada sang adik ipar, "terima kasih," jawabnya singkat.


Hening menyambut semua orang menatap kagum pada sosok Ayana. Di tengah keharuan kian semarak, suara kursi roda mengalihkan atensi.


Ayana mendapati sang suami mendekat dan tidak lama berselang tepat di hadapannya menggantikan Celia.


Kedua tangan itu terulur menggenggam hangat jari jemari Ayana. Sang empunya terkesiap menyaksikan sorot mata hangat memandanginya lekat.


"Apa kamu mau tinggal bersamaku lagi? Aku tidak bisa jika harus kehilanganmu lagi, Ayana," ungkap Zidan serius.


"Aku mohon. Aku tidak mau berpisah denganmu, Sayang," lanjut sang suami lagi.


Ayana kembali menatap kedua orang tuanya dan berakhir pada sang kakak. Mereka kompak mengulas senyum lembut sembari menganggukkan kepala.


"Kenapa?" tanya Ayana gamang.


"Karena dia rela kehilangan nyawa untuk melindungi mu, Ayana." Danieal memberikan keyakinan pada adik sambungnya.


"Dia tulus mencintaimu, Sayang. Hari ini Zidan meminta kepada Mamah dan Papah untuk bisa kembali bersamamu," jelas Celia mengungkap keberadaan Zidan di sana.


"Papah melihat kesungguhannya padamu, Nak. Jika sekarang suamimu benar-benar tulus, tadi ... dia juga meminta restu Papah dan Mamah," lanjut Adnan tersenyum hangat pada putri sambungnya.


Ayana terkesima, orang-orang terdekatnya kini justru memberikan dukungan penuh. Perlahan bola mata cokelat terang itu bergulir kembali pada sang suami.

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika saat ini Zidan benar-benar memintanya dengan sangat baik.


"Apa kamu mau menjalankan rumah tangga lagi bersamaku? Kita masih bisa bersama, Ay." Zidan kembali bersuara.


"Ay?" benak Ayana mendengar panggilan itu membuat ingatannya melalang buana.


Pada saat ia berpikir jika Zidan benar-benar membalas perasaannya panggilan Ay selalu terdengar. Sampai mereka menikah dan di saat berhubungan pun sebutan itu berdengung.


Ia kira kata Ay yang disebut mengandung makna sebagai panggilan sayang. Namun, ia salah sang suami memberikan sebutan itu hanya untuk memberikan kesan kepada orang-orang jika mereka saling mengasihi.


Kenyataannya hanya ada dusta serta kebohongan yang menari di pernikahan mereka selama enam tahun. Namun, sekarang? Ia tidak tahu harus mengartikannya apa.


"Ayana?" Panggil Zidan menyadarkannya dari lamunan.


"Ah, maaf," balasnya singkat.


"Apa kamu mau tinggal-"


"Ayana!"


Panggilan dari arah belakang membuat sang empunya nama menoleh. Di sana kedua mertuanya berdiri tegak sembari menatap penuh harap.


"Ayah? Mamah?" Panggil Gibran menyadari keberadaan orang tuanya.


"Apa yang ingin Anda berdua lakukan lagi? Apa Tuan dan Nyonya ingin menyudutkan ku kembali?" tanya Ayana menggebu.


"Tidak Ayana, tidak seperti itu. Kami berdua datang ke sini untuk meminta maaf. Ayana, maafkan Mamah yang sudah percaya pada kata-kata Bella. Mamah juga terkejut saat kamu mengakui kesalahan yang sama sekali tidak pernah diperbuat," ungkap Lina berkaca-kaca.


"Ayah juga minta maaf Ayana. Selama ini menganggap kamu mau mencelakai Zidan, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Kami benar-benar minta maaf," lanjut Arshan kemudian.


Ayana melihat kesungguhan mereka pun melepaskan senyum tulus. Ia memandangi keduanya membuat mereka harap-harap cemas.


"Aku sudah memaafkan kalian, jauh ... sebelum kalian meminta maaf."


"Karena bagiku lebih baik dibenci daripada harus disanjung yang ujung-ujungnya hanya memberikan luka," timpal Ayana.


Lina dan Arshan saling pandang, lalu seketika itu juga sang ibu mertua menerjangnya cepat. Ia memeluk tubuh ramping menantunya hangat.


"Terima kasih, Ayana. Terima kasih ... karena mempunyai ketulusan serta kelapangan hati yang sangat luas. Mamah harap kita bisa menjadi keluarga lagi," bisik nya lirih.


"Terima kasih, Ayana. Ayah juga mengharapkan hal yang sama," lanjut Arshan lagi.


Sedetik kemudian Lina melepaskan pelukan, kini tatapan semua orang di sana kembali sepenuhnya pada Ayana.

__ADS_1


Sang pelukis memandangi ketujuh orang itu satu persatu. Harapan tercetus jelas dalam sorot mata.


Sampai, "baiklah, tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua."


Kata-kata itu membuat Zidan tidak kuasa membendung air mata. Pria itu menangis hingga tubuh kekarnya bergetar.


Entah sadar atau tidak ia bangkit dari kursi roda dan menerjang tubuh sang istri. Ayana pun terkejut, seketika merengkuhnya hangat.


Ia takut Zidan terjatuh sebab kedua kakinya masih belum sembuh total.


"Terima kasih, Ayana. Terima kasih, Sayang. Aku janji ... aku akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan yang kamu berikan ini," ucap Zidak menggebu-gebu.


Ayana hanya mengangguk singkat dan mengusap punggungnya pelan.


Namun, meskipun jawaban sudah diberikan Ayana tidak langsung semerta-merta pindah kembali ke kediaman Zidan.


Ia masih berada di mansion keluarga Arsyad memandangi langit malam di balkon kamar. Semilir angin hadir menerpa wajah putihnya.


Di tengah kesendirian ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia tahu siapa itu dan membiarkannya saja.


"Pasti Mas ingin bertanya sesuatu padaku," ucapnya langsung kala merasakan sang kakak sudah berada tepat di belakang.


Helaan napas pun terdengar, Danieal berjalan ke sebelahnya dan berdiri di sana.


"Kamu memang tahu apa yang ingin Mas sampaikan," katanya menjitak pelan pelipis sang adik.


Ayana berpura-pura meringis hingga keduanya pun tertawa bersama. Ia kembali meremas besi pembatas seraya mendongak menyaksikan keindahan malam.


"Kenapa aku memberikan kesempatan kedua padanya? Karena aku menyadari satu hal ... aku tidak bisa menyianyiakan kebaikan seseorang," lanjutnya lagi.


"Jadi maksudmu? Kamu menerima tawaran Zidan hanya untuk balas budi? Tidak ada cinta?" tanya Danieal beruntun.


Ayana mendengus pelan, menoleh singkat padanya. "Cinta? Apa aku bisa merasakan itu lagi?"


Danieal terperangah kala menyaksikan kehampaan di balik sorot matanya. Ia tahu tidak mudah memang bagi seseorang untuk membuka hati lagi pada orang yang sama. Terlebih ada trauma yang masih menggantung dalam dirinya.


"Mas mengerti, tapi semoga dengan kejadian ini kalian bisa sama-sama jatuh cinta lagi. Hiduplah dengan bahagia, Ayana. Selama ini kamu sudah banyak menderita, Mas doakan yang terbaik untukmu," ujar Danieal tulus.


"Terima kasih, jika bukan karena Mas Danieal ... aku tidak bisa seperti sekarang. Aku-"


"Tidak Ayana, justru berkat kekuatan serta keyakinan ... kamu bisa bertahan sampai sejauh ini."


Ayana mengangguk cepat, "Mas benar, dan Allah yang memberikan kekuatan itu." Danieal pun menyetujui ucapannya sembari melengkungkan bulan sabit sempurna.

__ADS_1


__ADS_2