Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 32


__ADS_3

Senja datang, lukisan ciptaan Allah yang begitu berkilau menyuguhkan pemandangan eksotis.


Hangatnya sinar sang surya menemani setiap pemilik kehidupan. Setiap orang mempunyai ceritanya sendiri-sendiri yang begitu menakjubkan.


Ujian yang kerap kali datang, serta cobaan menerjang menyuguhkan pembelajaran berharga.


Jasmine Magnolia Mahesa, sudah melewati asam, pahit, hidup yang selama bertahun-tahun ditanggungnya.


Tidak ada yang tahu seperti apa kisah kelam memeluknya erat.


Kehilangan orang tua di usia muda serta kedua mata menjadi saksi seperti apa nyawa mereka direnggut pun memberikan kesan mendalam.


Butuh waktu untuk sembuh dari luka menganga di dasar hati. Rasa perih nan pedih mempunyai tempat tersendiri di relung terdalam.


Terlalu banyak air mata yang pernah tumpah di masa lalu, kehidupannya bukanlah milik Jasmine seorang.


Ia tidak mempunyai kebebasan untuk memilih jalan mana yang harus diambil.


Haknya sebagai seorang manusia direnggut paksa oleh tangan tak bertanggungjawab.


Ia dikurung serta dipaksa melakukan hal yang tidak disukainya.


Selama dua puluh tujuh tahun, Jasmine harus hidup dalam bayang-bayang pembantaian keluarganya.


Kerap kali rasa rindu itu datang, mengalirkan air mata yang tidak ada seorang pun tahu. Meskipun pada saat itu jasad keluarganya bertepatan berada di samping kamar, tetapi semua itu seolah jauh dalam jangkauan.


Kenyataan yang tiba-tiba saja mencuat memberikan luka tak berkesudahan.


Kedua kaki yang dirantai, bagaikan binatang buas membahayakan orang lain.


Ia iri setiap kali mendengar gelak tawa dari orang-orang di mansion. Meskipun ia putri dari pemilik bangunan megah tersebut, tetapi ia tidak pernah merasakan kenikmatan yang ada di sana.


Ia disiksa secara verbal maupun fisik oleh keadaan.


Sekarang ia hanya bisa tersenyum pilu dan membiarkannya begitu saja.


"Saat ini, aku benar-benar bebas dan... apa yang harus aku lakukan? Apa semuanya berhenti di sini?" gumamnya memandangi luar.


Jendela kamar yang terbuka memperlihatkan keadaan sekitar. Semburat jingga melebur menjadi satu dengan warna biru muda serta pastel memperlihatkan keindahan alam semesta.


"Allah begitu sempurna menciptakan sesuatunya. MasyaAllah, ya Rabb... terima kasih sudah memperlihatkan kepada hamba lukisan sempurna ini," gumam Jasmine memandang lekat senja tepat di depannya.


Kurang lebih dua puluh menit kemudian, ia berbalik memperhatikan ruangan tempat bernaungnya saat ini.


Perhatiannya pun tertuju pada meja rias yang di atasnya tergeletak sebuah buku sketsa.


Kedua kaki rampingnya melangkah mendekat. Sesampainya di sana tangan kanan Jasmine terulur mengelus lembut cover buku tersebut.

__ADS_1


Ia lalu membukanya memperlihatkan desain demi desain yang sudah dituangkan olehnya ke sana.


Bibir ranum itu melengkung membentuk bulan sabit. Kedua matanya berbinar-binar menyaksikan sendiri karyanya tercipta.


"Apa kamu sebahagia itu?"


Pertanyaan dari suara lembut yang sudah tidak asing lagi mengejutkan.


Jasmine terpekik singkat dan mengangkat kepala memandang ke arah pintu masuk.


Di sana ia melihat sang pelukis tengah menyunggingkan senyum ramah.


"Ayana? Kamu sudah pulang?" tanya Jasmine yang tahu jika wanita itu dan suaminya pergi ke rumah orang tua mereka.


Ayana mengangguk dan membuka pintu lebar.


"Apa aku boleh masuk? Apa aku mengganggu mu?" tanya Ayana kemudian.


"Tentu saja boleh, kamu sama sekali tidak menggangu ku Ayana," balas Jasmine.


Ayana terkekeh pelan lalu masuk ke kamar Jasmine. Ia duduk di samping ranjang memandangi wanita itu berjalan mendekat.


Jasmine mendudukkan diri di sofa tunggal samping Ayana.


"Jadi, ada apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu senang? Wajahmu menunjukkan semuanya, Ayana," kata Jasmine melipat kedua kaki anggun.


"Jasmine, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya balik Ayana tanpa menjawab pertanyaan Jasmine barusan.


"Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" Jasmine penasaran.


"Apa... ada sesuatu yang ingin kamu lakukan sekarang? Tadi aku tidak sengaja mendapatimu melihat-lihat buku sketsa itu. Apa selama ini kamu sedang melukis sesuatu?" tanya Ayana lagi.


Jasmine beranjak dari duduk dan berjalan menuju meja rias. Dahi lebar Ayana mengerut dalam seraya terus memperhatikan setiap langkah wanita itu.


Jasmine membawa buku sketsa miliknya dan membuka halaman demi halaman lagi.


Seraya berjalan ke arah Ayana kembali, wajahnya berseri-seri.


"Aku memang sedang melakukan sesuatu. Sejak kamu mengajakku tinggal di sini... aku mendesain bentuk-bentuk perhiasan. Juga, batu kristal. Karena aku sadar memahat sebuah patung bukanlah pilihanku."


"Semua itu hanyalah paksaan, sebab aku tidak menyukai pekerjaan tersebut. Aku ingin mendapatkan passion ku sendiri."


"Sejak masih kecil, aku senang menggambar perhiasan, mulai dari cincin, gelang, dan lain sebagainya. Dulu, aku sering menggambarnya bersama ayah dan ibu."


"Sebenarnya... aku ingin menjadi seorang perancang perhiasan, Ayana. Karena itulah aku menggambar ini." Jasmine memperlihatkan karyanya kepada Ayana.


Sang pelukis pun membawa buku sketsa tadi dan melihat-lihat bentuk perhiasan yang Jasmine buat.

__ADS_1


Ia juga menyaksikan raut semangat kala Jasmine menceritakan sedikit masa lalunya bersama mendiang ayah dan ibu.


Ia terkagum-kagum melihat karya menakjubkan dari seorang Jasmine.


"MasyaAllah, ini cantik sekali Jasmine. Aku yakin kamu bisa menjadi seorang desainer perhiasan terkenal."


"Sekarang kamu bisa merealisasikan cita-cita mu itu," kata Ayana menggenggam kedua tangan Jasmine.


Sang empunya memandangi jari jemari ramping itu penuh makna.


Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali.


"Aku... tidak percaya diri, Ayana," akunya tersenyum pahit.


"Jasmine, tidak ada yang tidak mungkin. Semua butuh proses dan tekad serta niat yang kuat. Aku yakin kamu bisa mewujudkannya. Kamu mau memulainya bersama ku kan?" Ayana memberikan sorot mata hangat dan penuh pengharapan.


Jasmine menggulir iris keabuan nya, wajah cantik itu terpaku menyaksikan kepercayaan diri seorang Ayana.


"Kamu tahu? Dulu, aku juga sempat tidak percaya diri untuk memperlihatkan lukisanku pada dunia, tetapi... jalan yang Allah kasih sangatlah sempurna."


"Memang tidak ada yang serba instan, butuh proses yang tidak mudah juga, tetapi ketika kita yakin dan memasrahkan semuanya pada Allah, tidak ada yang tidak mungkin Allah berikan. Ketika kita mau berikhtiar, berjuang, tanpa putus asa dan diiringi dengan doa, yakinlah... Allah tidak mungkin membiarkan perjuangan hamba-Nya begitu saja," tutur Ayana hangat.


Jasmine berkali-kali tercengang. Ia senang mendengar semua petuah yang diberikan sang pelukis.


Ia tidak salah mengagumi wanita luar biasa seperti Ayana.


"Kamu benar, Ayana. Sekarang aku sadar, baiklah bismillah... aku harus mencobanya dulu," kata Jasmine membuat Ayana mengangguk dan tersenyum senang.


Hening beberapa saat, Ayana membiarkan Jasmine menikmati waktu sendirinya terlebih dahulu.


Sampai beberapa saat kemudian, Ayana kembali memecah keheningan di antara mereka.


"Boleh aku bertanya lagi, Jasmine?" katanya kemudian.


"Tentu saja, jangan ragu mengatakan apa pun padaku," balas Jasmine sibuk membuka buku sketsanya kembali.


"Kalau ada... seorang pria yang benar-benar baik, bertanggungjawab, insyaallah shaleh, dan calon imam serta suami baik, ingin melamar mu, bagaimana pendapatmu, Jasmine?"


Pertanyaan barusan membuat Jasmine terpaku. Pegangan di buku sketsanya melemah dan terlepas begitu saja.


Kedua maniknya perlahan melebar dengan mulut ranum terbuka pelan. Ia lalu tertawa canggung dan menggaruk pangkal kepalanya singkat.


"Kamu pasti bercanda, Ayana. Bagaimana bisa ada orang yang-"


"Tentu ada, Jasmine. Jangan merendahkan dirimu sendiri. Kamu berhak dicintai dan disayangi. Kamu juga berhak bahagia," ungkap Ayana lagi.


Jasmine benar-benar terpaku, tidak tahu harus berbuat apa dan berkata bagaimana mendengar itu semua.

__ADS_1


__ADS_2