
Ruangan berbentuk kotak berukuran sedang itu pun di isi oleh tiga orang anak adam. Satu-satunya wanita di sana tengah mengobati salah satu pria yang terluka.
Berkali-kali Gibran meringis saat alkohol mengenai lukanya. Tanpa mengatakan sepatah kata, Ayana fokus pada pekerjaannya.
Tidak jauh dari mereka, Zidan yang tengah duduk di kursi kayu seraya melipat tangan di depan dada menyaksikan interaksi mereka.
Sampai pandangannya pun fokus pada Ayana semata. Banyak sekali pertanyaan yang mengendap dalam kepala bulatnya, tetapi ia urungkan kala emosi masih berada di ubun-ubun.
"Aw-shh, sakit Mbak," ucap Gibran untuk kesekian kali.
"Berhenti merengek seperti anak kecil, menyebalkan sekali," kata Zidan tidak suka.
Gibran menoleh padanya lalu menjulurkan lidah seperti anak kecil dan kembali pada Ayana. "Mbak," panggilnya.
"Hm?" jawab Ayana tegas.
"Bisakah Mbak mengobati hatiku juga?" ucapnya berhasil membuat Ayana mendongak.
"Apa maksudmu?" tanya Ayana kemudian.
Gibran mencengkram dada sebelah kirinya pelan, "Aku baru saja putus cinta dan butuh seseorang untuk menyembuhkannya. Bisakah Mbak menjadi penyembuhku?"
"Apa maksudmu, Gibran? Jangan bicara macam-macam," balas Zidan beringas.
"Wah, senang sekali melihat kalian akur," kata Arfan yang baru saja datang membawa empat gelas minuman. Ia juga mendengar apa yang diucapkan mereka tadi.
"Tapi tunggu dulu yah adik kecil, Ayana sudah menjadi tambatan hatiku. Jadi, kamu-" Arfan menunjuk tepat di depan wajah Gibran. "Tidak punya kesempatan," lanjutnya masuk ke dalam permainan.
"Apa? Hei, apa maksudmu?" Bukan Gibran yang naik pitam, tetapi sosok lain sedari tadi menyaksikan drama di hadapannya.
Zidan bangkit dari duduk, mencengkram kuat bahu sebelah kanan Arfan. Sang empunya otomatis menoleh ke belakang mendapati sepasang mata elang tengah memburu buruannya.
"Oh, tenang buddy apa yang Anda lakukan?" Arfan melihat emosi tertahan dari Zidan.
Ia menyeringai kala tahu apa yang sedang dirasakannya. Ia menghempaskan tangan pria itu di bahu seraya terus memandanginya.
Ia lalu menoleh pada Ayana yang tengah mengembangkan senyum. Arfan pun membalasnya tak kalah hangat membuat Zidan semakin naik pitam.
Ia ingin membawa Ayana pergi, tetapi takut membuat keadaan semakin runyam. Ia hanya bisa menelan kepedihan kala ada dua orang pria tengah memperebutkan wanita yang telat dirinya cintai.
Ia kembali duduk, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia akan menunggu giliran sampai Ayana membalut lukanya.
__ADS_1
Namun, harapan hanyalah tinggal harapan, tidak lama berselang pintu ruangan dibuka. Seorang pria berkacamata menyembul menatap para penghuni yang tengah melihat ke satu arah.
Sadar akan menjadi pusat perhatian, ia pun berdehem pelan dan masuk ke dalam lalu kembali menutup pintu.
"Mas mendapat laporan jika ada keributan, apa ini hasilnya?" tanya Danieal menatap sang adik.
Ayana mengangguk singkat, "seperti yang Mas lihat."
Danieal melihat Gibran yang hampir selesai diobati, lalu menoleh ke samping di mana Zidan sama sekali belum mendapatkan pertolongan.
Ia menarik kursi kayu tidak jauh dari keberadaannya dan duduk begitu saja di hadapan Zidan. Sang pianis itu pun mengerutkan dahi tidak suka.
"Kenapa? Kamu ingin adikku yang mengobati mu?" tanya Danieal langsung.
Kata-kata yang hendak diucapkan pun kembali ditelan. Zidan hanya bisa menghela napas pasrah dan membiarkan Danieal mengobati lukanya.
"Tenang saja, Mas Danieal adalah dokter terbaik. Yah ... meskipun kadang bisa saja ceroboh," kata Ayana menoleh ke samping kanan.
"Aw." Bersamaan dengan itu suara lengkingan Zidan bergema di sana.
Dokter tampan itu pun menatap Ayana dan tersenyum lebar. "Inilah yang dia maksud," katanya yang entah sengaja atau tidak menekan luka di pipi kanan Zidan.
Senyuman itu masih sama seperti hari-hari lalu. Senyuman yang hanya untuk dirinya seorang, senyuman yang hanya ditunjukannya pada ia saja, dan sebuah senyuman tidak lekang oleh waktu.
Namun, kini senyuman itu bukan untuknya lagi. Zidan hanya bisa menelan kekecewaan dan menghela napas berat.
Danieal yang berada di dekatnya pun menyadari itu. Ia sekilas melihat Ayana yang tengah sibuk berbincang-bincang dengan Gibran dan juga Arfan.
"Apa sulit melihat lagi istri yang sudah disia-siakan?" kata Danieal sibuk dengan kegiatannya.
Zidan yang tadi menunduk pun kini mengangkat kepalanya lagi. "Apa maksudmu?"
Danieal pun mendongak membalas tatapan pria di hadapannya. Ia tersenyum manis penuh makna tersirat di dalamnya.
"Tidak ada hanya ... tidak mudah menjadi seorang Ayana bukan?" tanyanya lagi.
Zidan menolehkan kepala ke samping memandangi Ayana dalam diam. Dadanya bergemuruh, jantungnya bertalu kencang, membuat embun merembes di kedua maniknya.
Ia pun bergumam "em," sebagai jawaban.
...***...
__ADS_1
Malam pun datang, setelah seharian berada di toko, Ayana memutuskan untuk pulang. Selesai membereskan barang-barang di dalam ia berjalan beriringan dengan satu-satunya karyawan yang bekerja di sana.
Mereka pun saling berpamitan dan mengambil jalan berlawanan. Ayana melangkahkan kaki hendak mencapai kendaraannya berada, sampai pergerakannya pun terhenti.
Tidak jauh dari keberadaannya ia melihat sepasang mata tengah menatapnya lekat. Ayana menyeringai sekilas dan buru-buru ke parkiran.
"Ayana tunggu," ucapnya sedikit berlari mendekat.
Ayana yang sudah berdiri di samping kendaraan roda empatnya pun mendongak menyaksikan wajah tampan itu lagi.
"Mau apa?" tanyanya sinis.
"Bisa kita bicara?" pintanya kemudian.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," balas Ayana hendak membuka pintu mobil.
Lagi dan lagi pergerakannya pun terhenti saat pria itu memeluknya erat. Parfum yang sudah lama tidak ia hirup kini kembali tercium.
Ayana menjatuhkan kunci mobil dan berdiri kaku saat sang mantan suami semakin mempererat rengkuhannya.
"Ayana, aku sangat merindukanmu," kata Zidan dengan suara bergetar.
Ayana mengangkat sebelah sudut bibirnya lagi. "Lepaskan, aku bukan Ayana yang dulu lagi."
"Tidak, kamu masih tetap menjadi istriku. Ayana ... aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."
Seketika itu juga degup jantung bertalu kencang. Selama mereka menikah enam tahun lamanya baru sekarang kata-kata tersebut tercetus dari bibir menawan seorang Zidan Ashraf.
Rasa sakit yang ia coba lupakan langsung menubruknya cepat. Bak film kusut, tayangan demi tayangan yang sama terus berputar dalam ingatan.
Pengkhianatan, dusta, kebohongan, bercampur menjadi satu. Ayana mencengkram kedua tangan kuat mendengar semua ungkapan perasaan Zidan.
Ia tidak pernah membayangkan akan mendengarkan kata-kata cinta keluar dari mulutnya. Sudah terlambat semuanya benar-benar terlambat.
Ayana sama sekali tidak mengharapkan perasaan menyesakan lagi. Semuanya sudah hilang bersamaan dengan hari di mana ia meninggalkan kediaman Zidan malam itu.
Semua hanya tinggal kenangan dan tidak untuk kembali lagi. Ayana hanya diam kaku dengan pikiran campur aduk.
Zidan yang merasa mendapatkan lampu hijau terus mengelus puncak kepala Ayana sayang. Ia semakin mengungkapkan kata maaf dan cinta bersamaan.
Di titik itu juga ia memperlihatkan penyesalan yang sudah dialaminya selama ini. Ia berharap Ayana bisa melihat ketulusannya dan menerimanya kembali.
__ADS_1