Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 71


__ADS_3

"Saat aku masih menjalani terapi di rumah sakit Desa X... aku bertemu dengan seorang wanita bernama Hana."


"Dia wanita yang sangat cantik, memiliki rambut panjang bergelombang murni, matanya berwarna kebiruan, serta kulitnya sangat putih seperti porselin."


Di tengah cerita Ayana terus memandangi keduanya bergantian. Bak anak TK yang sedang mendengarkan gurunya membacakan dongeng, Bening dan Jasmine mendengarkan secara seksama.


Mereka manggut-manggut mengerti sebagai apresiasi atas perkataan Ayana.


"Namun, sangat disayangkan dokter mendiagnosis dia menderita skizofrenia, yaitu termasuk ke dalam penyakit mental psikotik. Di mana penderitanya sulit membedakan mana kehidupan nyata atau mimpi."


"Pernah dalam satu kasus, Hana sering bercerita yang tidak masuk akal. Terkadang di saat orang lain tidak percaya pada perkataannya, Hana bisa langsung mengamuk begitu saja."


"Ada satu waktu di saat aku sedang melukis di danau dekat rumah sakit untuk melupakan masalah, Hana datang membawa alat lukis yang sama persis seperti punyaku."


"Dari sana kami menjadi teman baik, sampai beberapa hari kemudian Hana dijemput oleh pihak keluarga dan meninggalkan rumah sakit."


"Sejak Hana pergi aku tidak pernah mendengar namanya lagi. Namun, ketika aku mendapatkan penghargaan pada malam itu bersamaan dengan... aku mengungkapkan jati diri sebagai Ghazella Arsyad ada seseorang yang menghubungiku."


"Dia mengaku sebagai Tsubasa. Kalian tahu arti dari nama itu?"


Bola mata Ayana bergulir pada Bening dan Jasmine kembali. Keduanya menggeleng secara bersamaan sama sekali tidak tahu arti dari nama yang disebutkannya tadi.


"Yaps, artinya adalah sayap."


Tidak lama setelah Ayana menerima panggilan dari orang bernama Tsubasa, ia kembali dikejutkan dengan seseorang yang mengirimkan lukisan abstrak.


Tanpa nama pengirim, bak orang misterius sedang bermain dengannya Ayana hanya menerimanya tanpa memikirkan terlalu jauh.


Sejak hari itu sesekali Ayana terus mendapatkan lukisan demi lukisan aliran surealisme.


Merasakan keanehan terus menerus datang padanya, ia pun akhirnya mulai mencari tahu tentang makna dari lukisan tersebut.


Surealisme adalah aliran gaya dalam lukisan yang berkaitan erat dengan fantasi atau imajinasi. Gambarnya yang aneh serta tak masuk akal, seolah berada di alam mimpi atau khayalan.


Ayana menyambungkan penemuan tersebut dengan seseorang yang pernah ditemuinya. Hanya ada satu nama terlintas dalam pikiran, yaitu Hana.


Ia tahu wanita itu mengidap suatu penyakit yang bersinggungan dengan lukisan diterimanya.


Ayana pun mulai mengamati setiap lukisan yang dikirimkan padanya. Ia memindai setiap ujung kanvas dan seketika menemukan satu petunjuk lainnya.


Di sana ia menemukan gambar sayap berwarna putih berukuran kecil ada di setiap lukisan yang diberikan.


Ayana seketika menarik kesimpulan jika orang yang meneleponnya waktu itu dan mengirimkan beberapa lukisan adalah orang yang sama, yaitu Hana Tsubasa.


"Jadi, maksudmu... Hana Tsubasa ini adalah-"

__ADS_1


"Iya kemungkinan dia adalah orang terdekat Tuan Bagas," ucap Ayana memotong perkataan Bening.


Ia lalu beranjak dari duduk berjalan menuju pojok ruangan di mana di sana terdapat lemari besar tempat menyimpan lukisan-lukisan yang telah usang.


Ia mengeluarkan salah satu dari mereka dan kembali pada Jasmine serta Bening.


Ia meletakkan lukisan tadi ke atas meja membuat kedua wanita itu terkejut.


"I-ini?"


Bening menunjuk lukisan yang di dalamnya terdapat seorang wanita bergaun putih berambut lebat dengan sayap lebar di punggungnya tengah menaiki awan.


Wanita itu menggenggam balon berbentuk uang dengan jumlah yang sangat banyak. Background biru muda di sekitarnya menjadikan sosok tersebut bagaikan melayang di atas langit.


"Wah, benar-benar imajinasi luar biasa," kata Jasmine mengagumi lukisan di hadapannya.


"Benar, bukankah sangat bagus? Lihat ini." Ayana menunjuk tepat di pojok kanvas.


"Gambar sayap putih," kata Bening menjelaskan.


Ayana mengangguk singkat dan kembali duduk di kursinya. Ia memandangi kedua lawan bicaranya selepas menceritakan kisah yang pernah dirinya alami.


Selama ini Ayana tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya saja ia tidak mau larut dalam masa lalu.


Ia juga berpikir mungkin Hana hanya ingin menyapanya dengan cara yang unik. Ia pun senang mengetahui jika temannya yang dirinya temui di rumah sakit sudah baik-baik saja.


"Bukankah gambarnya persis seperti di undangan itu?" tanya Ayana lagi.


"Hm." Bening melipat tangan di depan dada masih dengan memandang lukisan di hadapannya.


"Jadi, kesimpulannya adalah, Hana Tsubasa... Hana... Hana... Hana-" Bening terus meracau seolah tengah mengingat arti dari nama tersebut.


"Ah, aku tahu," lanjut Bening sembari menepuk kedua tangan kencang mendapatkan ingatannya sendiri.


Ayana dan Jasmine beralih padanya memberikan tatapan penuh tanya.


"Apa yang Mbak tahu?" tanya sang pelukis.


"Hana berarti bunga. Jadi, Hana Tsubasa adalah sayap bunga. Bukankah undangan ini dipenuhi bunga berwarna putih?" Bening mengangkat undangan yang sedari tadi tergeletak di atas meja.


Ayana dan Jasmine melebarkan pandangan seraya mengangguk mengiyakan.


"Jadi, sudah pasti jika Tuan Bagas ada hubungannya dengan Hana Tsubasa, tapi... apa tujuan mereka sebenarnya? Dan bagaimana bisa mereka saling mengenal? Kenapa aku juga diundang ke pesta luar biasa ini?" tanya Ayana masih menerawang dan mencari kesimpulan atas permasalahan yang kini sedang menimpa.


Bening pun ikut berpikir, meletakkan jari telunjuk serta ibu jari di dagu dengan pandangan ke atas. Keduanya berpikir keras mencari sumbu penyambung dari kedua nama tersebut.

__ADS_1


Jasmine yang melihat keduanya seperti itu pun iseng membuka ponsel. Ia mengetikkan nama Bagas Prakasa di mesin pencarian internet dan seketika banyak web-web yang membicarakan orang nomor satu tersebut lengkap dengan fotonya.


Manik keabuan nya melebar seketika dengan bibir ranumnya membulat sempurna.


"A-Ayana... Mbak Bening." Panggil Jasmine.


Bening dan Ayana pun terkesiap, langsung sadar dari lamunan. Keduanya menoleh pada Jasmine yang tengah panik sambil melihat ke dalam ponsel.


"Apa? Ada apa, Jasmine?" tanya Ayana khawatir.


Dengan tangan gemetaran Jasmine meletakkan benda pintar miliknya ke atas meja. Layar berbentuk segitiga itu memperlihatkan potret Bagas Prakasa.


"Beliau memang Tuan Bagas Prakasa, memangnya ada apa?" Kini giliran Bening bertanya.


"O-orang ini yang menjadi pemimpin di negara kita?" tanya Jasmine menatap pada keduanya.


Ayana dan Bening mengangguk secara bersamaan.


Jasmine langsung menggelengkan kepala menutup mulut menganga nya dengan air mata tiba-tiba saja mengalir.


Ia tidak tahu harus seperti apa mengatakan kebenaran mengenai pria di dalam ponsel itu.


"Hei, Jasmine... ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba saja menangis?" tanya Ayana merangkulnya hangat yang berada paling dekat dengan sang kakak ipar.


"Tidak... tidak... tidak."


Hanya itu yang Jasmine katakan membuat Ayana dan Bening saling pandang, tidak mengerti.


"Jasmine... apa kamu tahu sesuatu?"


Pertanyaan dari Bening tadi sontak menghentikan liquid bening meluncur di pipinya. Jasmine diam kaku, dan melebarkan pandangan menatap sang informan.


Melihat ekspresinya seperti itu Bening mengerti.


"Ah, jadi kamu tahu sesuatu ternyata. Ada apa? Apa yang kamu ketahui?" desak Bening penasaran.


Ayana yang sedari tadi memperhatikannya menautkan alis lalu melihat mereka bergantian.


"Apa itu benar Jasmine? Apa yang dikatakan Mbak Bening benar? Kamu tahu sesuatu?" Ayana merundung nya dengan pertanyaan.


Tanpa diduga, kepala berhijab itu mengangguk pelan. Ayana memudarkan rangkulannya dan menarik kembali tangannya begitu saja.


Jasmine menundukkan kepala dalam sibuk mengusap air mata. Ia tidak menyangka pria dilihatnya dalam ponsel adalah sosok yang dirinya ketahui.


"Tu-Tuan Bagas Prakasa-" Kepalanya kembali menggeleng terus memberikan rasa penasaran teramat besar pada Ayana dan Bening.

__ADS_1


"Pria itu bukanlah Tuan Bagas Prakasa!" jelas Jasmine mengangkat wajahnya dengan sorot mata tegas tanpa kebohongan sedikitpun.


Ayana dan Bening melebarkan pandangan, terkejut bukan main. Mereka benar-benar tidak menduga mendengar pengakuan dari Jasmine.


__ADS_2